
Halusnya rambut Olivia, begitu terasa di kulit Alzam. Dia kemudian mendekat, dan semakin mendekat hingga tanpa terasa bibirnya hampir mendarat di kening sang istri.
Tiba-tiba, gerakannya terhenti dan Alzam pun membeku seketika.
Dia melihat mata Olivia terbuka perlahan, dan membuatnya salah tingkah. Tanpa disadari, Alzam hampir saja mencium kening gadis yang sudah halal bahkan untuk ia setubuhi itu.
“Mas,” panggil Olivia dengan suara serak.
Alzam pun segera menjauhkan diri dan mencoba mencari alasan, untuk menjelaskan apa yang baru saja ia lakukan.
“Ehm... Tadi... Ehm... Nyamuk! Ya, tadi ada nyamuk di wajah kamu. Aku cuma bantu kamu buat nyingkirin nyamuknya,” kilah Alzam.
“Oh...,” gumam Olivia.
Dia lalu menggeliat dan kemudian berbalik. Gadis itu kembali tidur dan membuat Alzam menghela nafas lega.
Pemuda itu memukul kepalanya sendiri, karena sudah tergoda untuk menyentuh Olivia, meski dia selalu berusaha keras menolak pesona gadis tersebut.
Kamu kenapa begini sih, zam? Jangan-jangan kamu udah terpesona ama tuh cewek, batin Alzam merutuki kekhilafannya tadi.
Dia lalu kembali membereskan peralatan sholatnya, dan menyimpan semua di dalam lemari.
Jam masih menunjukkan pukul empat pagi. Alzam pun meraih ponselnya, dan mencoba mencari sesuatu di sana sambil menunggu waktu subuh.
Biasanya, Alzam akan membaca Al-Quran di antara waktu ini. Tetapi, dia lupa untuk membawa satu dari rumah ibunya.
Alhasil, dia hanya bisa mencari kegiatan lain untuk mengisi waktu. Sebenarnya, di jaman yang serba canggih seperti sekarang ini, aplikasi Qur’an pun banyak ditawarkan pengembang platform digital, dan Alzam pun memiliki satu di ponselnya. Namun, pemuda itu lebih suka membaca dari kitabnya langsung.
Dia memasang headset ke ponselnya, dan memutar sebuah vidio tausiah, dari seorang ustadz yang selalu ia ikuti ceramahnya.
Pemuda itu mengikuti kajian virtual ini dengan tenang, hingga alarm waktu sholat subuh di ponselnya menyala.
Alzam pun segera menyudahinya, dan menyimpan benda pipih itu kembali ke dalam tasnya.
Karena sempat batal saat menyentuh sang istri tadi, Alzam pun harus mengambil air wudhu lagi, dan baru menunaikan sholat subuh setelahnya.
Namun, saat hendak mengambil wudhu, dia menoleh ke arah Olivia. Karena dia sudah berjanji ingin menjadikan Olivia seorang istri yang sholehah, maka dia pun harus sedikit demi sedikit merubah pola hidupnya.
Alzam mendekati sang istri yang masih tertidur lelap. Meski pada awalnya ragu, namun Alzam tak mau menunggu nanti-nanti. Dia kemudian meraih lengan Olivia, dan menggoyangkan tubuh gadis itu beberapa kali, sambil memanggil-manggilnya.
“Liv! Oliv! Ayo bangun! Kita sholat subuh dulu,” seru Alzam.
Dia terus mencoba membangunkan Olivia, yang seolah enggan untuk menyudahi petualangan di alam mimpinya.
__ADS_1
“Oliv, bangun! Kita sholat subuh dulu,” seru Alzam lagi.
Kali ini, Olivia menggeliat. Alzam menarik tangannya dan hanya berbicara dengan gadis, yang masih memejamkan mata tersebut.
“Ayo bangun! Sudah waktunya sholat subuh,” ajak Alzam.
“Eeeehhhhhmmmmm...,” Olivia meregangkan kedua lengannya dan semakin menggeliat.
“Sholat apaan sih, Mas? Masih ngantuk nih. Ck! Rese banget deh ah,” keluh Olivia.
Meski sudah bisa berucap, namun matanya masih begitu rapat seolah dipasangi lem super anti copot.
“Sholat apa? Ya sholat subuh lah. Ayo bangun, kita jama’ah,” ajak Alzam lagi.
“Jama’ah apaan lagi sih aaaahhh? Aku nggak ngerti. Mas aja deh yang sholat. Oliv ntar aja, masih ngantuk,” sahut Olivia.
Gadis itu meraih sebuah bantal guling dan memeluknya erat, sambil menarik selimutnya kembali yang tadi sempat terbuka.
“Oliv!” panggil Alzam sedikit keras.
Mendengar sang suami bicara dengan nada yang meninggi, Olivia pun bangun meski dengan malasnya.
“Mas, kalau mau sholat, sholat sendiri aja sih. Nggak usah ngajakin orang. Lagian, aku juga nggak ada mukena buat sholat. Udah ah, aku mau tidur lagi. Masih pagi banget juga,” gerutu Olivia.
Pemuda itu lalu meninggalkan Olivia yang memilih untuk tidur lagi. Dia mengambil wudhu dan melaksanakan sholat subuh seorang diri.
Seusai sholat dan membereskan peralatan sholatnya, Alzam keluar dari kamar, mencoba mencari udara segar di luar.
Seperti kebiasaannya ketika masih tinggal bersama sang bunda, seusai sholat subuh dia pasti mengajak kedua adiknya untuk berolahraga barang sebentar.
Dia biasanya akan berlari memutari satu RT, dan kemudian senam dasar di halaman rumahnya. Barulah setelah itu dia membantu Bu Aminah, untuk menyiapkan dagangan yang akan dibawa ke kiosnya di pasar.
Semua itu Alzam lakukan untuk menjaga kebugaran tubuhnya, di sela kesibukan yang selalu memadati kesehariannya.
Seperti saat ini, Alzam keluar dari kamarnya dan melihat para asisten rumah tangga telah bangun dan mulai beraktifitas. Dia pun lalu menghampiri mereka dan memberi salam.
“Assalamu’alaikum,” sapanya.
“Waalaikumsalam. Eh, Mas Al. Pagi amat bangunnya? Biasanyakan pengantin baru bangunnya kesiangan,” goda Bi Ijah.
“Nggak sholat subuh dong, Bi,” sahut Alzam santai.
“Iya yah. Hehehe... Maaf, Mas Al. Bi Ijah cuma becanda. Oh ya, Mas Al mau olah raga?” tanya Bi Ijah.
__ADS_1
“Cuma mau lari-lari sekitar sini aja kok,” jawab Alzam.
“Ke taman komplek aja, Mas Al. Biasanya orang sini kalo olah raga pada ke sana,” seru Bi Marni.
“Gitu yah? Ya udah deh, saya coba lihat ke sana. Assalamu’alaikum,” pamit Alzam.
“Waalaikumsalam,” sahut keduanya.
Alzam pun kemudian pergi meninggalkan kedua asisten rumah tangga itu.
“Duh, Mas Al. Beber-bener suami idaman banget ya, Mar. Udah ganteng, sholeh, baik, sopan, aduh... Pokoknya paket komplit deh,” puji Bi Ijah.
“Hus! Jangan ngiler, Jah. Laki majikan itu,” seru Bi Marni.
“Bukan ngiler. Cuma muji doang. Beruntung banget Neng Oliv, bisa dapet suami kek begitu,” ucap Bi Ijah.
“Iya ya, Jah. Semoga aja, Neng Oliv bisa berubah, dan beneran jadi istri yang sholehah. Nggak solehot lagi kek dulu-dulu,” sahut Bi Marni.
“Amiin,” ucap keduanya serempak.
...☕☕☕☕☕...
Di taman komplek, Alzam sedang berlari berkeliling. Rupanya, masih jarang orang yang bangun pagi, dan berolahraga di sekitar sini.
Dengan mengenakan sebuah celana trening pendek di bawah lutut, dan kaus berkancing dua di bagian kerahnya, Alzam mulai berolahraga di sana. Tak lupa ia mengencangkan tali sepatunya sebelum memulai.
Suasananya lumayan sejuk, dengan banyaknya pepohonan yang rindang. Sinar mentari pagi pun mulai muncul dan menghangatkan dunia.
Keringat mulai mengucur dari tubuh Alzam, membasahi kaus yang dipakainya. Pemuda itu nampak berhenti sejenak, dan menyeka keringatnya.
Setelah mengatur kembali nafasnya, Alzam pun kembali berlari mengitari taman tersebut. Namun, saat hendak berbelok di salah satu tikungan, dia tak sengaja menabrak seseorang. Alzam pun terjatuh, begitu juga dengan orang tersebut.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
__ADS_1