CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Episode 10


__ADS_3

Enam bulan kemudian


"Hei Bro, sukses ya buat sidangnya besok", Jaka yang baru saja masuk kamar menepuk pundak Abimanyu yang baru saja menutup laptopnya.


Abimanyu tersenyum, "Iya, sukses juga buat, Lo. Gak kerasa ya Bro, kita udah di penghujung masa kuliah", tatapan Abimanyu menerawang. Sejenak dia bernostalgia, mengenang masa awal dirinya dan Jaka kuliah.


"Iya, perasaan baru kemarin kita masuk kampus. Eh, tahunya besok udah jadi calon mantan mahasiswa aja nih".


"Oh ya, Bi, soal Anika, gimana?".


Abimanyu menatap Jaka, "Gimana apanya, Jak?".


"Ck, jangan pura-pura lupa deh. Yakin tuh hati udah berubah?".


Abimanyu tersenyum tipis. Ya, dia tidak bisa menyangkal perasaannya selama ini pada Anika meski terakhir kali dia berinteraksi dengannya enam bulan yang lalu, saat gadis itu sakit.


Masa empat tahun kuliah tentu bukan waktu yang sebentar. Meski dirinya tidak terlalu dekat dengan Anika, tapi entah kenapa gadis itu terasa begitu spesial untuk Abimanyu.


"Gue gak tahu, Jak. Gue gak berani berharap banyak sama perasaan gue sendiri", Abimanyu menghela nafas panjang.


"Bi, sebentar lagi kita kelar kuliah. Gue yakin lo punya kesempatan besar tuk dapat hatinya Anika. Nikahin aja langsung", seloroh Jaka enteng.


Abimanyu melemparkan pulpen di tangannya, "Jangan gila deh Jak. Lo kira nikah itu kek beli kacang goreng apa, gak semudah itu. Lagi pula, gue sama Anika, rasanya jauh berbeda dalam segala hal".


Jaka mengernyitkan dahinya, "Ck, maksud lo apa? urusan harta? percaya sama gue, Bi, Anika itu bukan tipe perempuan macam itu. Gue yakin".


Abimanyu hanya tersenyum tipis. Ya, dirinya sebetulnya tahu hal itu. Anika memang berbeda dengan kebanyakan perempuan yang dia kenal. Gadis itu selalu tampil sederhana dan tidak pernah membeda-bedakan orang. Tapi Abimanyu tidak cukup yakin untuk memperjuangkannya, apalagi ada Rendra, lelaki yang juga ia tahu sangat menginginkan Anika, sama seperti dirinya.


.


.


"Nik, ada Rendra tuh", Laras menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar Anika.


Anika yang sedang membaca draft skripsinya menatap Laras dengan bingung, "Rendra? cari aku?".


Laras menganggukkan kepalanya.


"Ada urusan apa Ras dia ke sini?", tanya Anika lagi masih enggan beranjak dari tempatnya duduk.


"Mana aku tahu, Nik. Gih sana, dia nunggu di ruang tamu, kasihan lho", jawab Laras.


"Temenin aku ya Nik. Aku gak mau ketemu berdua aja", Anika berdiri dari duduknya.


Lagi, Laras menganggukkan kepalanya. Kedua gadis itu kemudian berjalan beriringan menuju ruang tamu.

__ADS_1


Rendra nampak duduk dengan tenang. Sesekali dia menatap ke arah luar jendela untuk menenangkan hatinya.


"Sorry nunggu lama, Dra", Laras yang pertama kali bersuara.


Rendra memalingkan wajahnya dari arah jendela, dia menatap kedatangan Laras dan Anika dengan sumringah.


Anika dan Laras duduk bersebelahan di sofa seberang Rendra.


"Kamu cari aku, Dra? ada perlu apa?", tanya Anika langsung.


"Aku ..."


"Eh sorry, aku ke dapur dulu ya buatin minum", Laras memotong ucapan Rendra.


Anika tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Laras pun pergi dari ruang tamu itu.


"Eee ... gini, Nik. Sebelumnya aku minta maaf kalau ini mungkin sangat mendadak buat kamu dan ya, waktunya gak tepat. Tapi aku gak bisa menunda ini lebih lama lagi", Rendra mulai membuka percakapan.


Anika menatap dengan serius, menunggu kalimat selanjutnya.


"Ada apa sih, Dra?", tanya Anika tidak sabar.


Rendra terlihat menarik nafas panjang, "Nik, kamu mau gak nikah sama aku?".


Anika terkejut dengan pertanyaan yang baru saja didengarnya.


Lagi, Rendra menarik nafas panjang, "Iya, maksud aku, aku tanya, kamu mau gak nikah sama aku?. Jujur ya Nik, aku udah lama suka sama kamu. Aku gak terpikir buat deketin kamu terus kita pacaran, aku ingin saat ada kesempatan seperti ini, aku ngajak kamu serius tuk nikah", terang Rendra penuh keyakinan.


Anika terdiam, kepalanya sedikit menunduk. Dia terkejut dan tidak paham dengan situasi yang dihadapinya saat ini.


"Ehm ... sorry ganggu, ini diminum dulu, Dra", Laras datang dan menyajikan dua cangkir teh di meja.


Rendra tersenyum tipis, "Makasih, Ras", dia menyeruput teh di cangkir itu.


Laras memilih tak bersuara karena sebetulnya dia sudah mendengar perkataan Rendra tadi.


"Nik, maaf, aku tahu ini sangat tiba-tiba. Tapi aku serius dengan ucapanku, Nik. Sebentar lagi kita lulus kuliah dan aku juga sudah menemui kedua orang tuamu untuk menyampaikan hal ini. Mereka tidak masalah dengan maksud baikku, mereka mengembalikan semuanya sama kamu", terang Rendra lagi.


Perasaan dan pikiran Anika mendadak kalut. Rasanya seperti disambar petir singa bolong. Kedatangan Rendra yang tiba-tiba dan semua perkataannya membuat dirinya tidak tahu harus berkata atau merespon apa.


Sejenak, suasana di ruang tamu itu hening sampai dering telepon membuyarkan kesunyian itu.


Laras yang paling dekat dengan telepon di meja segera mengangkatnya.


"Hallo, oh iya, Om. Iya, ada di sini, sebentar Laras panggil dulu ya", Laras tampak meletakkan telepon itu di meja.

__ADS_1


"Nik, Ayah kamu nelepon tuh", ucapa Laras menghampiri Anika.


Anika melirik Laras sejenak, lalu beranjak mendekati telepon.


Suasana kembali hening. Hanya terdengar suara Anika yang sesekali menjawab 'iya' dan 'tapi'. Cukup lama dia menerima telepon dari ayahnya.


"Iya, Ayah, baiklah. Salam buat Bunda ya Ayah. Do'akan sidang Anik besok lancar", ucap Anika di akhir teleponnya.


Setelah panggilan itu selesai, Anika kembali duduk di sofa yang sama dengan Laras. Di depannya Rendra masih duduk dengan tenang, menatap Anika dengan serius.


Anika terlihat menghela nafas panjang, "Maaf sudah membuat menunggu. Barusan Ayah sudah menjelaskan semuanya padaku. Aku baru tahu kalau kedua orang tua kita bersahabat baik. Ayah juga bilang kedua orang tuamu juga sudah menemui mereka dan ...", suara Anika menggantung.


Laras melirik ke arah sahabatnya itu, sedangkan Rendra yang sebetulnya sudah tahu semuanya masih tampak tenang di depan Anika.


"Dan aku sebenarnya sangat terkejut dengan ini semua. Tapi aku tidak mau mengecewakan Ayah dan Bunda. Jadi, baiklah, setelah kelulusan, kita akan menikah", jawab Anika berat.


Laras membelalakkan kedua matanya. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.


"Nik, serius? kamu mau nikah sama Rendra?", pekiknya tak terkontrol.


Anika melirik ke arah Laras, dia mencoba tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Secepat itu? kamu yakin?", lagi, Laras masih tidak percaya.


Anika hanya bisa menjawabnya dengan anggukan kepala. Dia menahan sesak di dadanya.


"Syukurlah, aku senang mendengar jawabanmu. Aku janji akan mempersiapkan pernikahan kita secepat mungkin dan aku janji kelak akan menjadi suami yang baik buatmu. Terimakasih sudah memberiku kesempatan", ujar Rendra sumringah.


"Iya", hanya jawaban pendek itu yang bisa Anika berikan.


.


.


Sore ini langit mendung dan gerimis. Kejadian tiga jam yang lalu masih membayang-bayangi pikiran Anika, bahkan air matanya meleleh membasahi wajah manisnya.


"Nik, kalau kamu emang gak ada rasa sama Rendra, kenapa kamu gak nolak aja sih pernikahan itu?", Laras menatap Anika dengan sendu.


"Aku gak mungkin nolak, Ras. Seperti yang kamu dengar tadi, kedua orang tuaku bersahabat baik dengan orang tua Rendra dan mereka sudah banyak membantu usaha Ayahku yang kemarin sempat bermasalah. Ayah dan Bunda berharap besar aku bisa membalas jasa baik keluarga Rendra", Isak Anika.


"Membalas jasa baik? dengan cara maksa kamu nikah sama dia? itu yang disebut balas jasa? aku gak ngerti pikiran kedua orang tua kamu, Nik", ujar Laras frontal.


Sejujurnya Anika juga tidak habis pikir dengan keadaan ini. Baru kali ini kedua orang tuanya begitu menekan dirinya untuk sesuatu hal yang tidak dia sukai. Tapi karena Anika berpikir kasih sayang kedua orang tuanya selama ini melebihi apapun, sedikit berkorban baginya tak mengapa.


"Ras, kamu do'akan aku ya biar aku kuat menjalani semuanya ke depan", Anika menggenggam erat tangan Laras. Sangat terlihat dia begitu butuh dukungan.

__ADS_1


Laras membalas genggaman itu dan memberikan pelukan pada Anika.


"Aku pasti selalu dukung kamu, Nik. Apapun yang terjadi, aku selalu ada buat kamu", ucap Laras tulus dalam pelukannya.


__ADS_2