
"Nik, kamu yakin gak akan ngontak orang tua kamu? aku khawatir lho sampai kamu diinfus begini", wajah Laras tampak cemas melihat Anika terbaring lemah di atas brankar.
Anika mencoba tersenyum, "Gak perlu, Ras. Orang tuaku di luar kota dan mereka sangat sibuk. Aku bisa kok urus diri aku sendiri".
"Ya tapi kan Nik, gak ada salahnya kabari mereka. Kalau sampai terjadi apa-apa, repot nanti", terang Laras bersikukuh.
Anika menggelengkan kepalanya. Dia lebih memilih dirawat tanpa teman daripada harus menghubungi ayah dan ibunya yang memang kelewat sibuk di tempat mereka tinggal.
"All be fine, Ras. Kalau kamu gak repot, aku mau ditemani kamu aja, ya", pinta Anika lirih.
Laras yang sebetulnya sudah tahu banyak seperti apa kondisi keluarga dan orang tua Anika akhirnya memilih menganggukkan kepala. Dia tak ingin memaksa Anika di tengah kondisinya yang sakit seperti ini.
"Oh ya, aku ada asuransi. Jadi, semua urusan perawatanku di sini bisa pakai asuransi itu. Kalau kamu repot, kamu bisa kontak Kak Diva, agen asuransiku. Nomornya ada di ponselku", lanjut Anika lagi.
"Ok, Nik".
Tak lama, seorang dokter beserta seorang perawat datang menghampiri Anika dan Laras.
"Selamat siang, bagaimana kondisinya sekarang?", tanya dokter Putra.
"Seperti yang dokter lihat", jawab Anika pendek.
Dokter Putra tersenyum tipis, "Hasil tes lab sudah keluar dan kamu sakit thypus. Jadi, beberapa hari ke depan kamu harus dirawat dan ada di bawah pengawasan saya dan juga suster Dina", terang dokter Putra sambil menunjuk suster cantik yang berdiri di belakangnya.
"Ok, terimakasih, Dok", jawab Anika. Dia tersenyum kepada dokter Putra dan suster Dina.
"Oh ya, ini teman kamu?", dokter Putra melirik ke arah Laras yang sedari tadi diam menyimak.
"Iya, Dok, aku Laras, temannya Anika", jawab Laras cepat.
Dokter Putra tersenyum ramah, "Tolong dijaga dan diperhatikan makanan juga asupan nutrisi untuk Anika, ya", pesan dokter Putra sebelum ia dan suster Dina berlalu.
"Siap, Dok", jawab Laras sigap.
Sepeninggal dokter Putra, suster Dina menyimpan beberapa obat dan menjelaskan aturan minumnya kepada Anika juga Laras. Laras menyimak dengan baik penjelasan suster Dina.
"Sebentar lagi makan siang datang, nanti jangan lupa obatnya mulai diminum setelah selesai makan siang dan setiap tiga jam sekali saya akan datang ke sini untuk memeriksa infus juga kondisi Anika, ya", pesan suster Dina.
"Baik, Sus, terimakasih", jawab Laras dan Anika bersamaan. Suster Dina pun berlalu.
.
.
Jam menunjukkan pukul empat sore saat ponsel Narendra berbunyi.
"Hallo, Ras".
"Dra, Anika sakit dan sekarang dirawat rumah sakit X".
"Apa? sakit? Anika sakit apa, Ras?".
"Thypus. Kalau ada waktu luang, kamu datang ya ke sini, tengokin dia".
"Ok, nanti aku ke sana".
"Sip, jangan lupa bawa buah atau makanan apa gitu buat Anika".
"Ok. Makasih Ras udah kabari aku".
Selepas telepon itu usai, Narendra segera mengambil jaketnya dan kunci motor kesayangannya.
"Rendra, mau kemana? kok buru-buru begitu", tanya Mama Atia pada putranya.
__ADS_1
"Rendra izin sebentar ya, Ma. Mau jenguk teman yang sakit", jawab Narendra cepat setelah mencium kilat punggung tangan sang mama.
"Hati-hati dan jangan ngebut", teriak Mama Atia sesaat sebelum Narendra hilang dari pandangannya.
.
.
"Abi, kita ke rumah sakit yuk", ajak Jaka tiba-tiba.
Abimanyu mengernyitkan dahinya, "Mau ngapain, Jak? lo sakit?".
"Ck, bukan, gue sehat kok. Tadi gue dengar kalau Anika dirawat di rumah sakit X. Teman-teman di kelasnya tadi rame pada cerita", terang Jaka.
Raut wajah Abimanyu berubah cemas saat mendengar nama Anika disebut.
"Ok, kita mampir dulu beli makanan ya sebelum ke sana", Abimanyu segera berdiri dari tempat duduknya.
Jaka menganggukkan kepala. Dia memilih membersihkan diri sebelum dirinya dan Abimanyu pergi menjenguk Anika.
.
.
"Ras, kalau kamu capek, kamu pulang aja ke kosan. Aku gak apa-apa kok sendirian di sini", Anika menatap wajah Laras yang nampak lelah.
"Enggak, Nik. Aku gak capek kok, cuma pegal aja karena sedari tadi belum rebahan", jawab Laras jujur.
Ya, di ruang tempat Anika dirawat hanya tersedia satu kursi tanpa senderan dan penunggu pasien dilarang menggunakan brankar kosong untuk istirahat.
"Sorry ya, aku jadi repotin kamu, Ras. Udah gih balik ke kosan", pinta Anika lagi. Laras menggelengkan kepalanya.
"Hai", sebuah sapaan membuat Anika dan Laras memalingkan kepala mereka ke arah datangnya suara.
Di dekat pintu nampak wajah Abimanyu dan Jaka yang menatap Anika juga Laras.
Abimanyu dan Jaka memasuki ruang rawat itu.
"Maaf, kita baru jenguk", ucap Abimanyu.
"Gimana kondisi kamu, Nik?", lanjutnya lagi.
Anika tersenyum tipis dengan wajah yang terlihat pucat, "Aku baik-baik aja kok, Bi. Makasih ya kamu sama Jaka udah datang ke sini".
Abimanyu tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
"Kalian tahu dari mana Anika sakit dan dirawat di sini? perasaan tadi aku ngasih kabar cuma ke Narendra deh", ujar Laras keceplosan.
"Tahu lah, teman-teman di kampus pada bahas Anika yang udah gak masuk kuliah beberapa hari ini", Jaka yang merespon.
Laras mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti kenapa Abimanyu dan Jaka ada di rumah sakit itu.
"Ras, maksud kamu kasih tahu Narendra, apa?", tanya Anika heran.
Wajah Laras tampak terkejut, "Oh, eh itu ... tadi dia ngontak aku, Nik nanya soal kelanjutan urusan aku sama dia gitu. Nah aku bilang kalau sekarang aku gak bisa ketemu dia karena lagi jagain kamu yang sakit di sini", terang Laras gelagapan dan asal.
"Kalau kamu memang ada urusan, beneran deh, Ras, aku gak apa-apa kok ditinggal di sini. Ada suster Dina yang bisa jaga aku", ucap Anika tanpa curiga.
Laras hanya menunjukkan cengirannya.
"Oh ya, sorry aku potong, ini aku sama Jaka bawa sedikit makanan buat kamu juga Laras", Abimanyu menunjukkan kantong kresek yang sedari tadi dibawanya.
"Wah makasih banyak, Bi. Tahu aja kalau kita kelaparan", seloroh Laras sambil menerima kantong kresek itu.
__ADS_1
"Makasih banyak ya, Bi, Jaka juga", ucap Anika tulus.
"Santai aja, Nik. Abimanyu khawatir banget lho pas aku kasih tahu kalau kamu dirawat. Dia nih yang belanja semuanya", terang Jaka yang mendapatkan sikutan dari Abimanyu.
"Tuh orangnya nyikut aku", lanjut Jaka sok polos.
Anika dan Laras tertawa kecil melihat tingkah Jaka dan Abimanyu.
"Hallo, boleh aku masuk?", terdengar suara seseorang dari dekat pintu ruang rawat yang terbuka. Narendra yang datang.
"Eh Rendra, masuk sini", ajak Laras lagi.
Narendra melangkahkan kaki dan tersenyum kepada semua orang yang ada di sana.
"Hai Anika. Gimana kondisinya sekarang?", tanya Narendra.
"Kondisi aku baik, makasih udah datang ke sini", jawab Anika.
Narendra tersenyum, "Oh ya, ini aku bawa sedikit makanan dan buah. Nanti kamu makan ya biar cepat sembuh".
"Wiihh Nik, lihat, kita panen makanan", seru Laras senang.
"Iya. Makasih lagi ya, Dra", jawab Anika.
Suasana di dalam ruangan itu sejenak berubah kaku. Narendra sekilas melirik ke arah Abimanyu dan Jaka, dia seolah bertanya-tanya kenapa kedua teman sekelasnya itu ada di sini?.
"Kita datang buat jenguk Anika dan sekalian kirim makanan juga", terang Jaka yang seolah paham maksud lirikan Narendra kepadanya juga Abimanyu.
Narendra tersenyum tipis. Ada rasa tak senang dalam hatinya melihat keberadaan kedua temannya itu di sana, terlebih melihat keberadaan Abimanyu.
"Hei daripada kalian bengong, aku kupasin mangga dan puding ya, biar kita makan bareng-bareng", Laras yang peka dengan situasi di ruangan itu berusaha mencairkan suasana tanpa menunggu persetujuan.
Keadaan berubah sedikit lebih rileks saat Laras menceritakan beberapa lelucon yang membuat semua orang tertawa kecil.
"Bi, udah mau jam sembilan nih, kita pamit yuk", ajak Jaka setelah melirik jam di tangannya.
Abimanyu menganggukkan kepala, "Anika, kita balik dulu ya. Semoga kamu lekas sembuh dan kalau butuh sesuatu jangan sungkan kabari kita".
"Laras, Narendra, kita pamit duluan, ya", Abimanyu menatap Anika, Laras, dan Narendra bergantian.
"Makasih ya udah jenguk dan makasih juga buat makanannya", jawab Anika ramah.
"Aku juga sekalian pamit, udah malam", sambung Narendra yang kini sudah berdiri sari tempatnya duduk.
Setelah berpamitan pada Anika dan Laras, ketiga lelaki itu meninggalkan ruangan.
Sepanjang perjalanan ke tempat parkir tak ada satu pun yang bersuara.
"Tunggu", Narendra menahan langkah kaki Abimanyu dan Jaka ketika mereka bertiga sampai di basement rumah sakit.
"Kenapa, Dra?", tanya Abimanyu.
"Apa kamu tertarik pada Anika?", tanya Narendra to the point.
"Maksudnya?", Abimanyu heran.
Narendra tersenyum sinis, "Kita ini sama-sama lelaki, Bi. Gue bisa lihat dari cara lo memandang Anika. Lo ada rasa kan sama dia?".
"Ck, masalah buat lo?", Jaka yang merespon ucapan Narendra.
"Shut up, Jak. Gue cuma ada urusan sama Abimanyu", jawab Narendra dengan tatapan tidak suka ke arah Jaka.
"Benar kan tebakan gue?", lagi, Narendra memandang Abimanyu.
__ADS_1
Abimanyu tersenyum tipis, "Urusan hati dan perasaan gue itu mutlak urusan gue, bukan urusan lo, sorry", jawab Abimanyu santai.
Dia memberikan kode kepada Jaka untuk segera menuju motor mereka dan membiarkan Narendra mematung sendiri di tempatnya.