
“Gimana kalau kamu mulai ikut pengajian mingguan aja?” ucap Alzam.
“What? Pengajian? Noooooo!” elak Olivia.
“Kenapa No?” tanya Alzam.
“Pengajian itu kan buat ibu-ibu, Mas. Masa kamu suruh aku buat gabung sama ibu-ibu sih? Nggak banget sumpah. Lagian nih ya, aku tuh cuma nanya gitu doang, kenapa mesti sampe suruh aku buat ikut pengajian segala sih?” keluh Olivia.
“Siapa bilang pengajian cuma buat ibu-ibu? Buat remaja dan gadis seusia kamu juga ada kok. Lagian, lumayan kan kamu jadi bisa dapet temen baru sambil belajar ilmu agama,” ucap Alzam.
Olivia nampak menautkan alisnya hingga nyaris menyatu.
“Beneran ada pengajian yang isinya cewek seumuran ku?” tanya Olivia.
“Beneran. Kalau mau, nanti sore habis kuliah aku bisa anterin kamu ke sana. Kebetulan tempatnya deket sama rumah Ibu,” jawab Alzam.
“Ina ikut juga nggak?” tanya Olivia.
“Ina ikutnya pengajian di sekolahnya. Zahra juga. Tapi aku ada temen di sana yang bakal dampingin kamu selama ikut pengajian itu. Tenang aja,” jawab Alzam meyakinkan.
Olivia masih terlihat ragu. Dia sama sekali tak tau bagaimana acara dalam pengajian itu. Apa saja yang harus dia lakukan selama acara tersebut berlangsung.
Dia bahkan terus mencecar Alzam dengan pertanyaan seputar hal yang masih mengganjal di pikirannya.
Alzam pun sampai kepayahan menjawab semuanya, karena terus dibombardir pertanyaan tentang hal yang sebenarnya sama sekali tidak penting untuk dijawab.
Akhirnya, Alzam pun menangkup kedua pipi sang istri dan menatap lekat bola mata Olivia.
“Oliv sayang, intinya kamu cukup dateng, duduk dan dengerin apa kata ustadzah yang bicara saat itu. Nanti aku bakal tanya ke kamu, apa kamu beneran dengerin pelajarannya apa nggak,” seru Alzam.
“Ustadzah? Bukannya kalau guru ngaji itu namanya ustadz ya?” tanya Olivia.
Alzam pun hanya bisa menghela nafas panjang, seraya mencoba sabar dengan keluguan atau lebih tepatnya keb*dohan Olivia.
“Itu hanya perkara jenis kelamin, Liv. Ustadz itu kalau laki-laki. Ustadzah itu untuk perempuan. Kenapa aku tadi bilang yang ngasih materi itu ustadzah, karena semua anggota pengajiannya adalah remaja perempuan. Paham?” jelas Alzam.
“Kenapa kalau anggotanya cewek semua nggak boleh yang ngajar ustadz?” tanya Olivia.
Alzam gemas dan akhirnya mencubit pipi Olivia.
__ADS_1
“Kalau emang mau tau banget, tanyain aja langsung sama ustadzah-nya yah,” sahut Alzam.
Olivia pun mengaduh sakit, namun Alzam hanya terkekeh kecil dan berdiri dari duduknya. Dia lalu membereskan semua peralatan sholat, dibantu oleh sang istri yang masih manyun, karena pipinya terasa sakit.
Alzam yang melihat hal itu pun mendekat dan meraih sajadah yang dilipat oleh sang istri. Dengan lembut, dia mengecup pipi Olivia yang masih nampak merah akibat ulahnya, hingga membuat gadis itu membeku seketika.
Bukan hanya sebelah, namun kedua pipi Olivia dicium secara bergantian oleh suaminya.
“Masih sakit?” tanya Alzam.
Olivia mengedip-ngedipkan matanya, sambil merasakan sentuhan bibir Alzam, yang masih terasa di kulit wajahnya.
“Bisa ulang lagi nggak, Mas? Kayaknya masih agak sakit deh,” ucap Olivia.
Seketika, Alzam menarik hidung Olivia gemas dan membuat gadis itu mengaduh.
“Udah berani nakal kamu yah,” ucap Alzam.
“Aduuuhhh.... Sakit, Mas,” keluh Olivia.
“Lagian kamu, ditanya masih sakit apa nggak malah minta lagi. Jawaban macam apa itu?” keluh Alzam.
“Hehehe... Ya kan kapan lagi coba kamu nyium pipiku kayak tadi. Hayo,” sahut Olivia.
Dia dengan sengaja menjeda ucapannya, sambil mengulum bibir bawahnya dengan gerakan menggoda. Hal itu sontak membuat Olivia membulatkan mata dan menutup wajahnya dengan mukena karena malu.
“Iiiihh.... Mas Al!” pekik Olivia dari balik persembunyiannya.
Alzam terkekeh kembali melihat tingkah malu-malu dari Olivia. Dia pun berjalan ke arah kamar mandi, meninggalkan sang istri yang masih menutupi wajahnya.
Mendengar tawa sang suami menjauh, Olivia pun kemudian membuka wajahnya dan mencebik kesal.
“Ck! Sejak kapan Mas Al jadi semesum Leon? Hiiii...,” gumamnya pada diri sendiri sambil bergidig ngeri.
Dia pun lalu melepas mukenahnya dan menyimpannya kembali di dalam lemari.
Pagi itu, Alzam nampak sibuk di dapur. Olivia yang melihatnya pun mencoba memperhatikan apa yang dilakukan sang suami di belakang sana.
Alzam sengaja diam, sambil terus memberi contoh kepada istrinya agar Olivia bisa belajar. Mulai dari cara mengunakan rice cooker, membuat lauk sederhana seperti telur mata sapi, menggoreng tahu dan tempe serta memasak air lalu menyimpannya di dalam termos.
__ADS_1
Pemuda itu memang sengaja tak membeli water dispenser, melainkan dia hanya membeli alat pompa galon untuk mengisi teko air, sehingga untuk air panas mereka hanya bisa mengandalkan kompor untuk membuatnya dan termos untuk menyimpannya.
Alzam tidak akan memerintah Olivia untuk melakukan semua tugas rumah, jika gadis itu memang tidak mengajukan sendiri. Karena baginya, istri bukanlah seseorang yang harus diperlakukan seperti pengurus rumah, melainkan partner hidup bersama.
Terlebih Olivia yang sejak kecil belum pernah melakukan pekerjaan rumah tangga sama sekali, sudah pasti gadis itu tak tau bagaimana melakukannya dan mengatur waktu agar semua pekerjaan selesai tanpa mengganggu jadwal kampusnya.
Meski begitu, Alzam yakin bahwa Olivia bukanlah gadis pemalas. Meski baru sebulan menikah, namun pemuda itu seakan sudah bisa membaca watak asli istrinya.
Buktinya saat tadi dia memegang sapu, Olivia segera meraihnya dan mengajukan diri untuk melakukannya sendiri. Meski masih belum bisa benar-benar bersih, namun setidaknya ada usaha dari gadis itu dan Alzam pun menghargainya.
Dia tahu bahwa Olivia selalu tertarik dengan hal-hal baru. Sehingga gadis itu pasti akan belajar sedikit demi sedikit sampai bisa. Tinggal bagaimana membuat sang istri tidak cepat bosan dengan hal-hal tersebut dan selalu mau melakukannya.
Sejak tadi Alzam mulai mencuci beras sampai lauk pauk sederhana itu selesai dibuat, Olivia terus berada di sampingnya. Sesekali dia mengulurkan tangan mengambilkan sesuatu yang tak bisa dijangkau sang suami dari posisinya.
Dia pun membantu Alzam menyajikan masakan itu ke atas karpet yang sudah ia gelar di ruangan kosong di depan kamarnya. Bunyi tombol 'cook' di rice cooker berbunyi klek, dan lampu indikator berubah warna menjadi warm.
Itu pertanda bahwa nasi sudah hampir matang. Olivia pun melihat hal itu, namun tak tau harus berbuat apa saat melihatnya.
Kemudian, Alzam beralih ke alat penanak nasi elektrik tersebut, dan membukanya. Dia mengaduk nasi di dalam sana hingga ke bawah, lalu menekan tombol cook sekali lagi.
Hingga semua selesai, Olivia terus memperhatikannya. Kini semuanya sudah tersaji. Tinggal minuman yang belum ada.
“Mas, mau aku bikinin apa?” tanya Olivia.
“Ehm... Yang kamu bisa aja deh,” jawab Alzam.
“Yang aku bisa? Apa yah? Mas mau apa?” tanya Olivia balik.
“Kalau kopi gimana? Bisa nggak?” tanya Alzam lagi.
“Ajarin dong,” pinta Olivia.
.
.
.
.
__ADS_1
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁