
Dua bulan kemudian, setelah proses lamaran Leon pada Nurul, hari ini adalah acara ijab qobul serta resepsi pernikahan keduanya. Tuan Agung Andromeda telah menyiapkan semua keperluan pesta pernikahan sang putra tunggal dengan sangat meriah.
Sebelumnya saat acara lamaran, Ayah Nurul sama sekali tak menyangka jika Leon berasal dari keluarga yang kaya raya. Awalnya mereka mengira Leon adalah pemuda biasa saja, tapi ternyata diluar dugaan, sang calon menantu adalah pewaris tinggal salah satu perusahaan besar di tanah air.
Tuan Agung merasa sangat senang dan berterima kasih kepada Nurul, karena memang tak dipungkiri, berkat kehadiran gadis itu di hidup Leon, pemuda yang selalu akrab dengan maksiat itu akhirnya mau berubah.
Semua orang menyambut gembira pernikahan tersebut, tak terkecuali sang mak comblang Olivia. Dia lah yang sejak awal meminta Leon mendekati Nurul, demi membuat gadis itu menjauh dari Alzam.
Dia sampai rela menghadiahkan mobil sport kesayangannya sebagai kado pernikahan sang sahabat, sesuai perjanjian tak tertulis yang mereka buat dulu.
Saat ini, ibu hamil itu sedang bersiap menuju ke tempat acara. Sejak tadi, sudah beberapa kali dia terlihat bolak balik ke kamar mandi, hingga membuat Alzam bingung.
“Kamu kenapa sih?” tanya Alzam.
“Nggak tau nih. Perut ku lagi aneh. Dari tadi kerasa mules, tapi pas udah di toilet malah nggak jadi,” jawab Olivia.
“Sekarang masih mules nggak?” tanya Alzam.
“Nggak sih. Udah ilang lagi,” sahut Olivia.
“Ya udah kamu duduk di depan aja dulu, biar aku ambilin tas kamu di kamar. Taksinya bentar lagi dateng. Kita nanti sekalian jemput ibu sama adik-adik yah,” seru Alzam.
“Ya udah aku ke depan dulu,” sahut Olivia.
Tak berselang lama, taksi pun sampai. Keduanya masuk ke dalam dan segera menuju ke rumah Bu Aminah.
Di sana, nampak ketiga perempuan itu sudah bersiap dan segera masuk ke dalam taksi. Perlu sekitar empat puluh menit perjalanan untuk sampai di gedung tempat resepsi Leon dan Nurul digelar.
Mengingat ini adalah pernikahan antara anak ulama besar dan pewaris perusahaan besar, maka sudah pasti tamu undangan pun bukan dari kalangan sembarangan.
Rombongan Alzam lalu masuk ke dalam. Di sana sudah banyak tamu undangan yang hadir, yang kebanyakan adalah keluarga dekat kedua mempelai, mengingat acara pertama adalah ijab qobul. Baru setelah itu pada tengah hari, akan dilanjutkan acara resepsi hingga malam.
“Mas, anterin ke kamar rias pengantinnya yuk. Aku mau lihat Nurul sama Leon,” punya Olivia.
“Bentar aku pamit dulu sama Ibu,” Alzam pun lalu berjalan ke arah ibunya, dan pamit ke belakang.
Pasangan itu pun kemudian pergi meninggalkan tempat acara dan menuju ke bagian belakang. Olivia masuk ke salah satu ruangan, yang ternyata adalah ruangan untuk keluarga Leon.
Di sana, sang sahabat sudah berpenampilan rapi layaknya pengantin pria pada umumnya. setelan kemeja dan celana berwarna putih dengan aksen kain di bagian pinggang, serta songkok putih yang bertengger di kepalanya, membuat pemuda itu tampil sangat menawan.
Namun, Leon terlihat terus mondar mandir tak tenang, dengan mulut yang terus berkomat kamit.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum,” sapa Olivia saat masuk ke dalam.
“Waalaikumsalam. Eh, bang. Kebeneran lu kesini. Gue butuh bantuan lu nih,” ucap Leon.
Pemuda itu langsung menarik lengan Alzam dan membuat Olivia kesal.
“Eh, kupret! Laki gue tuh. Main tarik aja,” seru Olivia kesal.
“Bentar doang napa sih. Pelit amat jadi bini,” sahut Leon tak kalah ketus.
Olivia kesal, namun dia kembali merasakan sesuatu tak nyaman di perutnya, yang membuatnya kembali harus pergi ke kamar mandi.
Sementara sang suami, ditodong oleh Leon untuk berlatih ijab qobul.
“Bang, lu dengerin yah. Kata-kata gue ada yang salah apa nggak,” seru Leon.
Pemuda itu pun lalu mengucapkan ijab qobul sekali di depan Alzam.
“Udah bener kok, Yon. Grogi yah? Wajar. Waktu gue juga grogi. Pede aja. InsyaAllah pasti bisa kok,” seru Alzam.
“Gue nggak bisa tenang nih. Pengin cepet-cepet dimulai biar gue bisa tenang,” ucap Leon.
“Sabar, Yon. Penghulunya bentar lagi nyampe kok. Nih Oom Yusman udah chat Mamah, katanya lima menit lagi nyampe,” sahut Tante Dewi.
Alzam yang melihat hal itu pun seketika menghampiri sang istri.
“Kamu nggak papa? Perutnya mules lagi?” tanya Alzam.
Olivia hanya mengangguk.
“Emang habis makan apa sih? Kok jadi diare gini?” tanya Alzam.
“Nggak tau. Tadi mules banget tapi tiba-tiba ilang lagi,” sahut Olivia.
“Mau pesen kamar nggak buat istirahat?” tawar Alzam.
“Nggak usah. Lagian udah nggak papa kok. Yuk ke tempat Nurul,” ajak Olivia.
Alzam pun menuruti permintaan istrinya dan menuju ke ruangan yang berada di sebelah. Namun, baru saja hendak keluar dari kamar Leon, seseorang datang ke tempat tersebut dan mengatakan bahwa acara akan segera dimulai.
“Penghulunya udah dateng. Pengantin laki-lakinya siap-siap!” seru orang itu.
__ADS_1
Hal itu pun membuat Olivia dan Alzam urung ke tempat Nurul, kemudian segera kembali ke tempat acara.
Prosesi ijab qobul berjalan lancar. kini, Leon dan Nurul resmi menjadi sepasang suami istri. Setelah prosesi sakral tersebut, saatnya untuk acara selanjutnya yaitu resepsi pernikahan.
Sejak tadi, Olivia terus merasa tak nyaman dengan perutnya, akan tetapi ia anggap sebagai mules biasa. Dia tak mau repot pergi ke kamar mandi lagi, karena ujung-ujungnya mules itu akan hilang.
Namun, semakin lama durasi mulesnya semakin panjang dan terasa begitu menyiksa. Dia sampai mencengkeram pinggiran kursi yang dia duduki, sambil menahan rasa sakitnya.
Peluh dingin pun terus keluar dari pelipisnya. Alzma berkali-kali mengajaknya pulang, namun Olivia masih ingin merasakan momen bahagia sang sahabat.
“Pengin yah nikahannya kek gitu? Makanya diajakin pulang dari tadi nggak mau,” tanya Alzam iseng.
“Siapa coba yang nggak mau pesta kek gini? Tapi bukan itu yang penting. Buat aku, asal sama kamu, semaunya pasti bakalan indah. Hehehe... Ehm....” kekehan Olivia tertahan, karena dia kembali merasakan sakit di perutnya.
Alzma pun melihat hal itu dan kembali mengajak Olivia untuk pulang, karena tak mau istrinya sampai kenapa-kenapa.
Tiba-tiba, Olivia yang tak tahan lagi menahan sakitnya, menjerit begitu keras hingga membuat semua orang menoleh ke arahnya, tak terkecuali sang pengantin yang sedang berada di atas panggung.
Papah Abi dan juga Mamah Ros yang saat itu sedang berbincang dengan kolega bisnis yang kebetulan turut hadir pun, segera menghampiri anak perempuannya itu. Begitu pula dengan Bu Aminah yang masih berada di sana.
“Kenapa Oliv, Zam?” tanya Papah Abi.
“Kayaknya Nak Oliv mau lahirnya deh. Perutnya mules banget ya, Nak?” tanya Bu Aminah.
Olivia hanya mengangguk sambil terus menahan sakit yang dia rasakan.
“Lahiran? Kalo gitu cepat bawa Oliv ke rumah sakit, Zam!” seru Mamah Ros.
“I... Iya, Pah,” sahut Alzam.
Pemuda itu nampak bingung karena dia bahkan tak tahu jika sejak pagi, sang istri sudah menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
__ADS_1
terimakasih 😁