
Dia pun menoleh dan melihat istrinya sudah berdiri tepat di belakangnya.
“Ngagetin aja sih. Dateng-dateng bukannya salam, malah bikin orang jantungan,” gerutu Alzam.
“Lagian, siapa suruh tebar pesona di sini," keluh Olivia.
Alzam mengerutkan keningnya, karena tak paham dengan perkataan sang istri.
Dia lalu melihat ke sekeliling. Rupanya beberapa mahasiswi nampak memperhatikan dirinya. Sebuah senyum tipis pun muncul di bibir Alzam.
Dia yang melihat Olivia cemberut karena kesal, benar-benar gemas dan ingin mencubit pipinya yang dibuat menggembung.
Alzam lalu mengambil helm dari gantungan depan, dan memakaikannya ke kepala Olivia.
“Udah, jangan cemberut lagi. Kita mampir makan dulu yuk sebelum pulang,” ajak Alzam.
“Kemana?” tanya Olivia masih memasang wajah kesal.
“Ikut aja. Yuk!” ajak Alzam.
Pemuda itu pun bersiap menyalakan mesin motornya. Olivia pun segera naik, begitu mesin telah menyala. Kali ini, ada yang lain dari Alzam. Pemuda tersebut tak lagi memakai tas punggung, melainkan tas selempang yang bahkan ia simpan di depan dada, sehingga punggungnya bebas tanpa ada penghalang.
“Pegangan yang kenceng!” seru Alzam.
Gadis itu pun lalu meraih sisi jaket Alzam, karena tak mau suaminya tersebut marah akibat Olivia yang lancang memeluknya.
Akan tetapi siapa sangka, Alzam justru meraih tangan Olivia, dan menuntunnya untuk melingkarkan lengan gadis tersebut di pinggang Alzam.
Olivia sampai membeku, karena tak percaya bahwa Alzam kini mau disentuh olehnya. Gadis itu pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia segera memeluk pinggang Alzam dengan erat, dan menyandarkan kepalanya di punggung kekar sang suami.
Tanpa banyak berkata, keduanya pun pergi meninggalkan area kampus tersebut.
Dari kejauhan, nampak seorang pemuda yang sejak tadi melihat interaksi antara pasangan suami istri tersebut.
Gue seneng lihat lu pelan-pelan lepas dari bayangan Nathan, Liv. Semoga suami lu bisa jadi obat buat lu, batin pemuda tersebut yang tak lain adalah Leon.
...☕☕☕☕☕...
Hari demi hari silih berganti, dan hubungan antara Alzam dengan Olivia semakin mencair, meski rasa gengsi masih membuat pemuda tersebut enggan untuk secara terang-tetangan mengungkapkan perasaannya pada sang istri.
Mereka bahkan masih belum tidur bersama di satu ranjang, karena Alzam terus menghindar dan memilih tidur di sofa.
Sudah dua minggu sejak pernikahan mereka berlangsung. Alzam pun rutin mengantar jemput sang istri kuliah. Olivia pun sering main ke rumah Bu Aminah, jika dia ikut Alzam pergi ke kedai.
__ADS_1
Sementara Nurul, gadis itu benar-benar sudah tak pernah muncul lagi di kedai Alzam, karena tak mau terjadi kesalah pahaman lagi antara dirinya dan Olivia. Dia tak mau dicap sebagai seorang pelakor, sekalipun dia berusaha keras untuk menyangkalnya.
Suatu ketika, Alzam tidak mengantar Olivia ke kampus. Gadis itu mengatakan bahwa dosennya memberi tugas lapangan, dan dia berencana untuk pergi pada siang hari dengan sahabatnya, Leon.
Awalnya Alzam keberatan, karena rekan satu tim Olivia adalah seorang lawan jenis. Dia tak mau ada setan di antara keduanya, dan membuat suatu kekhilafan.
Akan tetapi, Olivia kemudian memberikan nomor kontak Leon, yang akan diangkat pada sekali deringan, sesibuk apapun kondisinya.
Nomor tersebut didapat saat kejadian beberapa tahun yang lalu, ketika Olivia berada dalam situasi genting dan tak bisa menghubungi siapapun.
Beruntung ada Leon yang bisa menemukan keberadaan Olivia, dan segera menolong gadis tersebut. Sejak saat itulah, Leon memiliki satu nomor, yang tidak akan pernah mati, sekalipun di tempat yang sulit terdapat jaringan seluler, khusus untuk situasi darurat.
Alzam pun lalu mencoba menghubungi nomor tersebut, dan benar saja, dalam sekali deringan, panggilan pun diangkat.
“Ya, Liv. Kenapa lu?” sahut Leon panik.
“Assalamu’alaikum. Ini aku, Alzam. Suami Oliv,” jawab Alzam.
“Oh, Hai. Kenapa lu bisa dapet nomer gue? Oliv nggak papa kan?” tanya Leon khawatir.
Mendengar nada bicara Leon yang seolah panik, seketika membuat Alzam bertanya-tanya. Akan tetapi, dia urung memikirkan hal yang tidak-tidak, dan mengutarakan maksudnya menelepon pemuda tersebut.
“Oliv bilang, hari ini kalian ada tugas lapangan bareng?” tanya Alzam.
“Aku cuma mau bilang, tolong jaga Olivia baik-baik. Kalian berdua laki-laki dan perempuan asing. Aku nggak mau kalau sampai ada fitnah, dan membuat nama baik istriku rusak. Tolong ingat itu,” seru Alzam.
Leon melongo mendengar perkataan Alzam yang menurutnya sangat kolot itu. Dia tak habis pikir, jika pertemanannya dengan Olivia, akan terhalang oleh kehadiran Alzam.
“Halo,” panggil alzam.
“Ah... Oh... Ehm, yah. Oke. Gue bakal jaga Oliv seperti biasa. Lu, tenang aja,” sahut Leon.
“Syukurlah. Kalau begitu, terimakasih sebelumnya,” ucap Alzam.
“Iya, sama-sama,” sahut Leon.
“Assalamu’alaikum,” salah Alzam.
“Wa... Waalaikumsalam,” sahut Leon.
Panggilan pun berakhir. Alzam lalu mengijinkan sang istri untuk pergi bersama sahabatnya, dan kemudian dia berangkat ke kedai seorang diri.
Setelah pamit dengan istrinya, pemuda itu pergi dengan menggunakan motor matic-nya. Saat Alzam keluar dari rumah seorang diri, Mamah Ros yang sejak tadi melihat dari jauh pun terlihat sedang menelepon seseorang.
__ADS_1
“Halo,” sapa Mamah Ros.
Dia terlihat sedang mendengarkan seseorang di seberang berbicara.
“Baik. Oh, iya. Katanya mau main ke sini. Kebetulan hari ini Oliv libur,” ucap Mamah Ros.
Dia kembali diam, sambil manggut-manggut mendengarkan ucapan dari seberang.
“Oke kalau gitu. Tante tunggu ya,” ucap Mamah Ros lagi.
Telepon pun dimatikan. Dia kemudian menuju ke dapur, dan meminta Bi Ijah dan Bi Marni untuk menyiapkan masakan istimewa untuk tamu yang telah diundangnya.
Satu jam kemudian, bel berbunyi tanda seseorang datang bertamu. Mamah Ros yang sejak tadi terus memberi komandi di dapur, bergegas menuju pintu depan dan membukakannya untuk sang tamu kehormatan.
Tampak seorang pemuda tinggi, berkulit putih dengan mata abu kehitaman, berdiri di depan pintu dengan membawa sebuket bunga mawar dan satu buah shoping bag besar yang entah berisikan apa.
Mamah Ros menyambutnya dengan penuh antusias, dan senyum yang lebar, terlebih saat buah tangan itu diberikan kepadanya.
“Selamat siang, Tante,” sapa pemuda tersebut.
“Oh, Nathan. Finally you are comming (akhirnya kamu datang juga),” sahut Mamah Ros, sambil bercipika cipiki ria dengan tamunya.
Pemuda tersebut lalu dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamu. Mamah Ros meminta Bi Ijah untuk membuatkan minuman untuk tamunya tersebut.
Nathan terlihat menoleh ke kanan dan kiri, seolah sedang mencari sesuatu. Mamah Ros pun bisa mengerti dan tersenyum sambil bangkit berdiri.
“Pasti cari Oliv kan? Tunggu sebentar yah. Tante panggilkan dulu,” seru Mamah Ros.
Wanita itu pun kemudian naik ke lantai dua dan menuju ke kamar sang putri. Di sana, Olivia tengah mempersiapkan keperluan yang akan dibawanya untuk tugas lapangan bersama Leon.
Pintu diketuk dan Mamah Ros pun memanggil Olivia dari luar.
“Oliv! Liv! Ada tamu nih. Keluar dulu yuk temuin dia,” panggil Mamah Ros.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
__ADS_1
terimakasih 😁