
Siang hari setelah kepergian Nathan, Olivia tiba-tiba kembali berwajah murung. Gadis itu benar-benar tak bisa menutupi perasaan di hatinya, jika memang tidak sedang baik-baik saja.
Alzam belum menyadari hal tersebut karena dia masih disibukkan dengan pekerjaannya. Hingga tiba adzan maghrib, Alzam pun mengajak Olivia untuk sholat berjamaah di masjid kampus sekalian mencari makan malam.
Dia tahu kalau nanti malam harus menemani Leon ikut pengajian, sehingga Alzam memutuskan mengajak Olivia makan lebih awal.
Mereka makan di pinggir jalan, di warung tenda yang banyak menyediakan menu makanan lezat dengan harga murah meriah.
Olivia memilih nasi goreng, sementara Alzam memesan nasi putih dengan ayam goreng panas lengkap dengan sambal dan lalapnya.
Saat makan, barulah Alzam menyadari bahkan sang istri kembali murung. Makanan yang biasanya akan raib dengan cepat, kini terlihat hanya diaduk-aduk saja.
“Nggak enak ya?” tanya Alzam tiba-tiba dan membuat Olivia tersadar.
“Ehmm... Oh... nggak kok. Enak kek biasanya,” ucap Olivia.
Perempuan itu pun langsung menyuapkan satu sendok penuh nasi ke mulutnya dan memaksa gigi-gigi itu mengunyah yang ada di dalam sana.
Setelah selesai makan, Alzam kembali berjalan ke arah kedai, akan tetapi dia memutuskan untuk duduk terlebih dahulu di salah satu bangku yang ada di tepi jalan.
Olivia masih berdiri dan akhirnya Alzam menepuk bangku si sampingnya. Perempuan itu pun duduk di sana dengan patuh.
“Kenapa duduk di sini dulu, Mas?” tanya Olivia.
“Pengin cari udara segar aja bareng kamu. Nggak suka ya?” tanya Alzam balik.
“Suka kok,” sahut Olivia.
Perempuan itu kembali diam dan membuat Alzam semakin penasaran.
“Kamu kenapa sih, Liv? Aku perhatiin hari ini kok kek murung banget. Kemarin pas dari rumah ibu juga gitu, tapi tiba-tiba baik lagi. Hari ini juga tiba-tiba gitu lagi. Cerita dong sama aku. Aku khawatir lho, Liv,” ucap Alzam.
__ADS_1
Olivia nampak memainkan kuku jarinya, mencukilnya hingga lapisan atasnya mengelupas. Dia dilema. Dia bingung antara mengungkapkan atau tetap berbohong pada sang suami.
Tapi, saat melihat sikap Alzam kepada Nathan yang begitu bersahabat, membuatnya kembali merasakan sakit hati. Dia tak mau terus-terusan hidup dalam ketakutan seperti ini.
Ya Allah. Gue serahkan semuanya sama Elu. Gue yakin Elu nggak bakal biarin orang cerai kan? Gue cuma nggak mau bo'ong terus sama laki gue. Please, bantu gue, batin Olivia.
Saat Olivia tengah mengalami perang batin dalam dirinya, Alzam tiba-tiba meraih tangan sang istri dan merasakan bahwa tangan tersebut begitu dingin.
Dia lalu mengangkat kedua tangan Olivia dan menempelkannya ke pipi, agar perempuan itu merasakan sedikit kehangatan.
Melihat kasih sayang yang diberikan Alzam setiap saat kepadanya, membuat Olivia tanpa sadar menitikkan air mata.
“Liv, kenapa kamu nangis? Apa aku udah maksa kamu ya? Maaf ya. Aku nggak maksud gitu. Aku cuma pengin tau kamu kenapa. Aku khawatir sama kamu,” tanya Alzam khawatir.
Olivia tertunduk dan tak mampu menatap mata sang suami. Bibirnya bergetar. Ingin rasanya dia ungkapkan semua kepada Alzam, namun selalu terasa begitu berat.
“A... A... Aku...,” suaranya seolah tercekat di tenggorokan, hingga membuat Olivia gagal dan tak bisa berbicara dengan jelas.
“A... Aku... Em... Minta... Maaf...,” ucap Olivia terbata.
“Maaf? Kenapa? Kamu nggak ngelakuin kesalahan apa-apa kok? Kenapa tiba-tiba minta maaf begini sih?” tanya Alzam tak paham.
Pemuda tersebut mengusap lelehan bening yang terus keluar dari mata sang istri dengan ibu jarinya. Alzam merasa, ada sesuatu yang ingin diungkapkan oleh sang istri akan tetapi terasa begitu berat bagi Olivia.
“Sayang, kalau emang belum bisa bilang, jangan dipaksa. Aku nggak papa...,” ucap Alzam.
“Nathan itu mantanku,” sela Olivia.
Perempuan itu akhirnya mengakui hal tersebut. Dia tak mau terus menerus menyembunyikan masa lalu, yang bisa saja menjadi kartu mati yang dimiliki Nathan untuk merusak rumah tangganya dengan sang suami.
Mendengar pengakuan sang istri, Alzam seketika membeku. Otaknya masih mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh perempuan itu.
__ADS_1
“Nathan, cowok yang tadi sore ke kedai, dia itu mantan aku, Mas. Kamu pernah bilang kan kalau dia mau coba dapetin mantannya lagi? Dia udah beberapa kali samperin aku di kampus, tapi selalu gagal buat ngobrol sama aku karena ada Leon. Dia bahkan kirim mata-mata buat ngawasin aku, dan ngelaporin setiap hal kecil yang bisa jadi bahan aduan dia ke Mamah. Dia tuh deketin kamu, karena ada misi tersembunyi. Aku yakin pertemuan kalian bukan sebuah kebetulan. Dia itu gila, Mas. Aku takut dia semakin nekad dan ngelakuin segala cara demi misahin kita. Aku takut,” ungkap Olivia.
Mendengar hal itu, seketika otak Alzam menyambungkan kejadian demi kejadian. Bagaimana sang istri yang tiba-tiba seolah meminta ditemani terlebih dahulu saat di kampus, sampai Leon datang dan bergantian menemaninya, bagaimana secara kebetulan apartemen Nathan bersebelahan dengan apartemen Leon, yang sampai sekarang dikira Alzam adalah apartemen istrinya, dan bagaimana Mamah Ros selalu membandingkan Alzam dengan mantan Olivia, yang ternyata adalah Nathan itu.
Pemuda tersebut mendadak diam seribu bahasa, dan hal itu membuat Olivia benar-benar takut sang suami akan marah kepadanya.
Namun, sebuah usapan lembut mendarat di puncak kepala Olivia, dan membuat hati perempuan itu sedikit merasa lega. Akan tetapi hal itu tak berlangsung lama, karena Alzam seolah menghindar untuk membahas hal tersebut lebih lanjut.
Dia justru mengajak Olivia untuk segera kembali ke kedai, tanpa memberikan tanggapan tentang apa yang baru saja diungkapkan oleh istrinya.
Hal itu membuat perempuan tersebut merasa kecewa, karena sang suami tampak tak peduli dengan usaha kerasnya untuk mengungkapkan hal tersebut.
“Ayo kita balik. Kali aja Leon udah dateng,” ajak Alzam.
Pemuda itu bahkan bangun lebih dulu dan berjalan di depan, tanpa menoleh dan memastikan sang istri juga berjalan mengikutinya atau tidak.
Hal itu membuat hati Olivia sangat sakit. Perempuan itu pun akhirnya pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, dengan rumah tangga yang baru saja ia bangun bersama suaminya itu.
Bahkan hingga di jalan menuju ke rumah Bu Aminah pun, tak ada obrolan di antara pasangan tersebut yang biasanya selalu ramai dengan lelucon konyol yang mengiringi perjalanan mereka.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
__ADS_1