
Alzam tak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Dia terjatuh, dan orang itu pun juga ikut terjungkal karena kerasnya benturan.
“Innalillahi!” pekik Alzam.
“****!” Sedangkan orang tersebut mengumpat.
Alzam melihat sikunya yang tadi terasa terbentur jalanan batako. Rupanya ada lecet di sana hingga berdarah.
Dia lalu melihat ke depan. Seorang pria berusia sekitar seusianya sedang terduduk di atas jalan. Dia memiliki kulit putih dan berambut hitam. Hidungnya terlihat mancung, dan dia terlihat seperti seorang blasteran.
Rupanya orang yang tertabrak itu pun sama. Alzam mencoba melihat kondisinya. Orang tersebut nampak memegangi pergelangan kakinya. Sepertinya ada dislokasi di sana.
“Maaf, Mas. Tadi saya kurang hati-hati,” ucap Alzam.
“Ah, ya it's ok. Aku cuma sedang si*l saja. Sudah ditinggal menikah, sekarang malah terkilir,” ucap orang itu.
Alzam merasa orang yang saat ini bersamanya, sedang mengalami situasi yang berat dalam hidupnya. Dia tak enak hati karena sudah ceroboh dan membahayakan orang lain seperti ini.
Melihat dari pakaiannya, jelas dia bukan orang yang berniat olahraga, karena mengenakan celana jeans panjang, kaus abu-abu dengan lengan sesiku serta sebuah sweater yang melingkar di lehernya.
“Mari saya bantu cari tempat duduk,” tawar Alzam.
Pemuda itu pun lalu mengulurkan tangannya ke arah si pria tadi, dan segera diraih oleh orang tersebut.
Mereka berdua berjalan ke arah sebuah bangku taman yang ada di dekat lokasi mereka terjatuh.
“Boleh saya lihat, Mas? Kebetulan saya tau sedikit cara memijat,” tawar Alzam.
Pria yang masih terlihat meringis kesakitan itu pun hanya mengangguk. Alzam lalu turun dan berjongkok, dengan sebelah lutut yang tertekuk ke atas dan lainnya menempel di tanah. Dia membuka sepatu serta kaus kaki orang itu dan lalu melihat memar di sana.
Dengan hati-hati, Alzam mulai memijat area yang terkilir. Pria itu memekik dan membuat Alzam berhenti sejenak, kemudian melanjutkannya lagi.
Setelah beberapa saat, pria itu tak lagi menjerit dengan keras, hanya tersisa desisan saja.
“Bagaimana, Mas? Mendingan nggak?” tanya Alzam.
“Well, I think your hand has a magic, dud (Aku rasa tanganmu punya sihir, kawan),” sahut si pria tadi.
“Alhamdulillah kalau sudah mendingan. Apa Anda tinggal di sekitar sini? Mungkin perlu saya antar pulang?” tawar Alzam lagi.
“Ehm... No, I don't (Nggak). Saya kebetulan baru saja datang dari luar negeri. Do you know Germany? (Kamu tahu Jerman?)Tadi malam, aku baru aja landing dan langsung ke mari. Tapi... Yah... I don't get anything, but disappointed (Aku nggak dapet apa-apa, cuma kecewa aja),” jawabnya.
Mendengar hal itu, Alzam semakin yakin bahwa pria yang ditemuinya secara tak sengaja itu, sedang memiliki sebuah masalah, dan rasanya orang ini ingin bercerita kepada seseorang tentang masalahnya itu.
“kenalin, saya Alzam. Kebetulan, saya baru pindah kesini kemarin,” ucap Alzam sambil mengulurkan tangan ke depan pria itu
“My Name is Jonathan Hadiwinata. Just call me Nathan (Namaku Jonathan Hadiwinata. Panggil aja Nathan),” sahut pria bernama Nathan itu.
__ADS_1
“Tadi, Anda bilang...,” ucap Alzam.
“Oh, please (Ayolah)! Jangan terlalu kaku dong pas bicara sama aku. Panggil nama aja biar lebih santai,” sela Nathan.
“Maaf, Nathan. Kamu baru aja dateng dari Jerman dan langsung kemari. Apa memang sengaja datang di taman ini?” tanya Alzam.
“No. I have a girlfriend here (Tidak. Aku punya seorang pacar). Aku jauh-jauh kesini cuma buat ketemu sama dia. Aku langsung ke rumahnya, but they said that she just got married. I'm so sad (Tapi mereka bilang dia baru aja nikah. Aku sangat sedih),” jawab Nathan.
“Maaf. Aku turut prihatin dengernya. Tapi, cobalah untuk iklas. Mungkin aja dia emang bukan yang terbaik buat kamu,” ucap Alzam.
“But I love her so much (Tapi aku sangat mencintainya). Rasanya sulit kalau harus merelakan gadis itu,” sahut Nathan.
“Yah, tapi dia sudah menjadi milik orang lain. Bukankah tidak baik kalau merebut yang sudah menjadi milik orang?” tanya Alzam.
“Kamu bisa bilang begitu, karena kamu tidak di posisiku,” sahut Nathan kesal.
“Oke, maafkan aku. Baiklah, aku doakan semoga kau mendapatkan bahagiamu,” ucap Alzam.
“Thanks, dud,” sahut Nathan.
Mereka kembali berbincang sesuatu yang lebih ringan. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Sinar matahari pun sudah semakin terik bersinar.
Dari obrolan mereka, Alzam tahu bahwa Nathan adalah seorang pebisnis sukses, yang berhasil meneruskan usaha orang tuanya di luar negeri. Bisnis yang bergerak di bidang retail itu cukup terkenal, bahkan memiliki cabang di dalam negeri yang sudah tersebar di beberapa daerah.
Alzam masih bersama Nathan di taman. Dia menunggu mobil jemputan pria itu datang, barulah dia kembali pulang ke rumah mertuanya.
Tak lama kemudian, yang ditunggu pun akhirnya tiba. Nathan berpamitan pada Alzam dan meminta nomor ponsel pemuda itu.
“Kalau kamu butuh tempat untuk usahamu, bilang saja sama aku. Aku bakal sediain satu tempat strategis di setiap mall ku buat kamu,” ucap Nathan sebelum pergi.
“InsyaAllah. Terimakasih sebelumnya,” sahut Alzam.
“You're wellcome. See ya,” ucap Nathan.
Pria itu melambaikan tangan dari dalam mobil, dibalas oleh Alzam yang juga melambaikan tangan ke arah Nathan. Kaca mobil pun naik seiring dengan melajunya mobil yang semakin jauh meninggalkan Alzam.
Setelah itu, pemuda tersebut pun bersiap untuk kembali ke rumah sang mertua, karena pasti semua orang telah bangun dan mencari keberadaannya.
...☕☕☕☕☕...
Di rumah Tuan Abimana, Olivia bangun saat matahari sudah meninggi, dan sinarnya menelusup ke celah tirai yang menutupi jendela kamarnya.
Dia menggeliat dan meregangkan kedua tangannya yang terasa kaku setelah tidur semalaman.
“Eeeeehhhhmmmm... Jam berapa sih?” tanya Olivia.
Dia meraba nakas di sampingnya dan meraih ponsel yang ada di sana. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, dia melihat jam yang ada di layar.
__ADS_1
“Udah siang ternyata,” gumam Olivia.
Dia kemudian bangun, dan melihat ke arah sofa. Dia ingat bahwa tadi malam, sang suami tidur di sana. Akan tetapi, sekarang di sana sudah tak ada siapa-siapa lagi.
Bahkan, selimut yang semalam ia berikan pun sudah dilipat dengan rapi, dan diletakkan di atas sofa tersebut.
“Kemana Mas Al?” tanya Olivia.
Dia lalu bangun, dan berjalan ke luar kamar. Olivia turun ke bawah dan mencari suaminya di sana.
Saat itu, tampak sang ayah sedang membaca koran, ditemani oleh ibunya yang terus membahas tentang mode saat ini di ruang tengah. Kebiasaan Rosaline setiap pagi, yang berlanjut pada acara perburuan di mall bersama dengan teman-temanya.
Kedua asisten rumah tangga mereka pun terlihat sedang menyiapkan sarapan dan mulai menata beberapa yang telah siap saji di meja makan.
Olivia berjalan menghampiri kedua orang tuanya dan bertanya tentang keberadaan suaminya.
“Pah, Mah, Mas Al mana? Aku lihat di kamar nggak ada,” ucap Olivia.
“Coba cari di halaman belakang,” seru Papah Abi, tanpa melepas pandangannya dari koran.
“Mungkin aja dia sadar diri, terus mutusin pulang ke rumah orang tuanya,” seloroh Mamah Ros.
“Mamah! Gitu banget sih ngomongnya,” keluh Olivia.
“Rosi,” panggil papah Abi pada sang istri.
“Cuma nebak aja kok, Pah,” sahut Mamah Ros datar.
“Mas Al itu tanggung jawab orangnya. Dia nggak mungkin ninggalin Oliv gitu aja,” seru Olivia.
“Ya udah, kalo gitu sana cari aja suami hebatmu itu,” sahut Mamah Ros.
Olivia merasa kesal dengan perkataan ibunya. Dia pun berbalik dan hendak menuju ke halaman belakang, di mana ada sebuah kolam renang besar dan tempat bersantai.
Namun, saat dia baru hendak melangkah, matanya menangkap kehadiran seseorang yang membuatnya menghentikan langkah kakinya.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
__ADS_1