
“Apa? Jadi kamu juga pernah taarufan sama Nurul?” pekik Olivia.
Melihat sang istri yang langsung kesal, membuat Alzam kembali menariknya dan hendak memeluk perempuan itu. Namun, Olivia menolak dan menahan dada Alzam dengan kedua tangannya.
“Jawab dulu. Jadi bener kamu pernah ada sesuatu sama tuh cewek?” cecar Olivia.
Bukannya langsung klarifikasi, Alzam malah mencubit pipi sang istri dengan gemas.
“Kamu nih, selalu aja langsung cemburu gitu. Cinta banget ya sama aku?" goda Alzam.
"Pede banget. Au ah. Aku mau ngambek," gerutu Olivia.
"Sayang, Dengerin dulu ceritaku dong,” seru Alzam.
“Ya udah buru,” sahut Olivia kesal.
Pipinya bahkan sudah menggelembung seperti ikan buntal. Terlihat semakin tembem saja hingga Alzam pun gemas sampai mencubitnya dulu lagi, sebelum menjelaskan maksud kata-katanya.
“Jadi ceritanya, dulu itu pas jaman masih SMA, aku pernah main ke rumah Nurul. Itu pertama kalinya aku ke sana. Niatnya cuma mau pinjem buku paket, karena waktu itu aku nggak bisa beli buku. Ibu dan Bapak nggak ada uang lebih buat beliin aku buku paket.”
“Pas aku ke sana, kebetulan Nurulnya baru aja pergi sama ibunya, dan nggak tau kemana, nggak tau sampai jam berapa,” ucap Alzam.
“Lah, emang nggak janjian dulu gitu? Telepon kek, chat kek,” tanya Olivia.
“Kejadiannya itu hampir sepuluh tahun yang lalu, Liv. Handphone belum kek sekarang yang mudah dibeli pake kredit. HP dulu juga Cuma yang layarnya kuning doang udah. Buat beli buku aja nggak ada apa lagi beli HP, kan?” ungkap Alzam.
“Ehm... Masuk akal juga sih. Anak generasi jadul ya, Mas. Hehehe...,” ledek Olivia.
Alzam yang kembali gemas pun mencubit hidung sang istri.
“Makanya, kan nggak tau kalau Nurulnya lagi pergi. Adanya cuma bapaknya itu. Awalnya pas tau Nurul nggak ada, aku mau langsung pulang aja. Mau apa coba lama-lama di sana. Tapi, bapaknya Nurul malah nyuruh masuk dulu. Minum dulu katanya. Mau nolak nggak enak dong, akhirnya aku masuk deh.”
“Nah, pas itu aku cuma ngobrol biasa aja, ditanya namaku siapa? Kenal Nurul di mana? Kegiatannya sehari-hari ku ngapain aja? Gitu-gitulah. Nah habis itu tiba-tiba Pak kyai minta aku baca Al-quran, setelah aku bilang biasa ngisi pengajian gitu. Ya udah kan, kenapa nggak. Akhirnya aku ngajilah.”
"Habis itu, kebeneran banget udah hampir adzan ashar. Pak kyai nyuruh aku buat adzan di masjid deket rumahnya sana. Ya aku sih mau-mau aja. Nggak mikir apa-apa juga dan udah biasa juga.”
“Lalu sholat jamaah, terus habis itu nggak langsung pulang ke rumah. Pak kyai ngajakin aku ngobrol dulu di masjid. Waktu itu dia nanya soal kodrat antara laki-laki dan perempuan. Ya aku jawab sengerti aku aja. Terus habis itu karena udah sore juga, akhirnya aku pamit pulang. Zonk deh. Nggak ketemu Nurul, nggak dapet bukunya, tapi malah nemenin bapaknya doang,” tutur Alzam.
“Oh... Habis itu?” tanya Olivia.
“Habis itu ya aku pulang. Pas besoknya di sekolah, Nurul datengin aku dan kasih buku paket yang mau ku pinjem. Lagian juga aku bilang ke bapaknya kalo mau minjem buku doang. Terus Nurul tanya, kemarin aku diapain aja sama bapaknya? Karena aku nggak tau, jadi ya aku bilang nggak diapa-apain.”
“Terus dia nanya lagi, aku disuruh ngaji nggak? Disuruh adzan nggak? Disuruh sholat jamaah nggak? Ditanya soal laki-laki perempuan nggak? Ya aku jawab aja iya. Lah dia malah ngakak."
“Ternyata, setiap kali ada cowok yang main ke situ sendirian, atau yang emang ada niatan sama Nurul, selalu dites sama bapaknya. Mungkin kalo yang lain, sehari bisa selesai kek bukan lagi di tes. Cuma karena Pak kyai tahu Leon masih belajar, jadi dikasih waktu buat persiapan. Makanya kelihatan banget kaya orang lagi di tes,” pungkas Alzam.
__ADS_1
“Ehm... Gitu yah. Hoaaammmm...,” sahut Olivia sambil menguap.
“Udah ngantuk?” tanya Alzam.
“Eeh,” sahut Olivia malas.
“Yah, padahal pengin ngajak nengokin dede,” keluh Alzam.
“Hah? Maksudnya?” tanya Olivia.
Alzam melihat Olivia sambil menaik turunkan kedua alisnya dengan seringai nakal. Olivia seketika mengerti maksud dari sang suami.
Dia pun kemudian berbalik memunggungi Alzam sambil berkata, “Ya udah nih, aku pasrah, Mas.”
Alzam sontak terkekeh geli dan mendekat, lalu memeluk sang istri dari belakang. Dia pun mengecup rambut sang istri lalu memejamkan matanya.
“Tidur aja deh. Aku juga capek. Nengoknya entar aja. Hehehe...,” ucap Alzam.
...☕☕☕☕☕...
Tiga hari berlalu, Leon pun kembali bertandang ke rumah keluarga Nurul. Namun kali ini, ada yang aneh karena bukan hanya orang tua Nurul saja yang berada di sana, melainkan cukup banyak orang juga ada di rumah tersebut.
Leon sayup-sayup mendengar percakapan mereka yang terdengar begitu bergembira. Pemuda tersebut pun mengetuk pintu dan tak berapa lama pintu terbuka.
“Assalamu’alaikum. Maaf, Pak kyai ada?” tanya Leon.
“Waalaikumsalam. Siapa yah?” tanya wanita yang bertubuh sedikit gemuk dan memakai abaya besar.
“Saya temennya Nurul,” jawab Leon.
“Oh... Diundang ke acara ini juga? Ayo masuk. Bentar lagi rombongan pengantin laki-lakinya dateng. Ayo... Ayo...,” serunya.
Leon pun seketika membeku. Dia mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh wanita tersebut.
Pemuda itu tak ada pilihan selain ikut masuk. Begitu melangkahkan kakinya ke dalam, nampak ruangan telah disulap menjadi begitu indah dengan dekorasi bunga yang berada di setiap sudut ruangan.
Sebuah karpet besar membentang di tengah ruang tamu. Terdapat sebuah meja kecil panjang dengan empat bantal duduk di sana. Mejanya pun dihias taplak meja putih berenda, serta hiasan dari untaian bunga melati yang begitu cantik.
Semua orang terlihat mengenakan pakaian yang begitu indah seolah akan terjadi acara yang penting di sana. Leon masih mencari-cari seseorang yang dia kenal, namun keberadaan ayah, ibu dan bahkan juga Nurul sendiri pun tak nampak di tengah keramaian itu.
Seorang asisten rumah tangga yang mengenali Leon, meminta pemuda itu untuk mengambil minuman dan mencari tempat duduk.
Baru saja Leon hendak bertanya kepada sang asisten rumah tangga, namun suara dari arah pintu depan, membuatnya kembali membeku dan suaranya seolah tercekat di tenggorokan.
“Penghulunya sudah datang,” seru seseorang.
__ADS_1
Leon pun seketika menoleh. Dia bertanya-tanya, Pernikahan siapa nih? Kenapa Nurul sama keluarganya nggak kelihatan sama sekali?
Dia masih berdiri di tempat sambil mencoba melihat situasi. Keramaian di depan kembali membuat hatinya semakin tak tenang.
“Rombongan pengantin prianya sudah datang. Cepat panggil Pak kyai nya buat nyambut calon besan,” seru seseorang.
Leon pun seketika lemas. Kakinya tiba-tiba tak bisa berdiri tegak di atas lantai, dan hampir ambruk jika saja dia tak berdiri didekat dinding.
Pemuda itu berpegangan pada salah satu sisi meja prasmanan, sambil terus mencoba melihat sebenarnya pernikahan siapa ini.
Apa mungkin ini nikahannya Nurul? Tapi kenapa Pak kyai nyuruh gue buat ke sini? Apa cuma mau nunjukin ke gue, kalau Nurul tuh sebenernya udah jadi milik orang Lain? Apa Pak kyai mau kasih tau gue kalau aku nggak pantes buat anaknya? terka Leon dalam hati.
Semua pertanyaan muncul di benaknya, kenapa tiba-tiba ada sebuah pernikahan di sini. Rombongan mempelai pria pun sudah masuk ke rumah. Seorang pemuda gagah dan juga terlihat begitu berwibawa, nampak menyalami Ayah Nurul dan memakai setelan jas pengantin. Sebuah kalung untaian melati juga tersemat di lehernya.
Pria itu pun lalu duduk di depan penghulu dan juga Ayah Nurul, serta ditemani oleh dua orang saksi dari masing-masing pihak.
Dada Leon berdegup dengan kencang. Tanpa terasa matanya pun mulai berkaca-kaca dan tak bisa ia bendung lagi lelehan yang turun ke pipinya.
Sementara pemuda itu sibuk menyembunyikan tangisnya, ijab qobul pun selesai diucapkan. Kata "sah" menggema di seluruh ruangan tersebut dari mulut para hadirin yang ada.
Leon sakit. Dadanya sesak dan teriris. Dia tak menyangka jika perlakuan keluarga Nurul padanya akan sekejam ini.
Di tengah kesedihan hati Leon, seseorang mengatakan sesuatu yang membuat Leon mau tak mau mengangkat wajahnya.
“Pengantin wanitanya sudah turun,” seru salah satu orang.
“Wah... cantiknya,” timpal yang lain.
Mendengar hal itu pun, Leon seketika menyeka sisa lelehan di wajahnya, dan mencoba melihat sosok pengantin cantik yang dikatakan oleh orang-orang.
Dia sudah siap menerima kenyataan pahit ini, dan mencoba meneguhkan hati. Namun, kakinya semakin lemas saat melihat sosok pengantin perempuan itu, hingga membuatnya jatuh terduduk ke tanah, karena sudah tak sanggup lagi berdiri di atas kakinya sendiri.
Nggak mungkin,
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
__ADS_1