CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Tangan kasar


__ADS_3

Sore hari, Olivia terlihat duduk di ruang tamu. Dia nampak kelelahan setelah mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. Bukan hanya mencuci pakaian saja, namun juga mengepel lantai dari bagian depan rumah hingga belakang. Setelah itu, dia juga menyirami tanaman yang ada di halaman depan dengan menggunakan selang air.


Sayup-sayup kumandang adzan ashar terdengar saling bersahutan dari masjid satu dan masjid yang lain, mushola satu dengan yang lainnya.


“Udah adzan aja. Cuciannya udah wangi belum ya?” gumamnya pada diri sendiri.


Saat ini, hasil cucian Olivia sedang masuk ke tahap akhir, yaitu direndam dengan cairan pewangi.


Namun yang dia ingat, Alzam selalu merendamnya dari malam sampai selepas subuh. Dia tak tahu jika lima belas atau tiga puluh menit saja sudah cukup untuk merendamnya.


“Entar aja deh. Biasanya juga lama. Mending mandi dulu. Biar pas Mas Al pulang, udah wangi dan seger,” sahutnya.


Perempuan itu pun lalu membersihkan diri dan juga menjalankan sholat ashar. Setelah itu, dia baru bersantai dengan menonton TV. Akan tetapi, matanya tak menyaksikan siaran di layar datar tersebut, melainkan fokus pada layar ponselnya sendiri.


Sebuah berita di laman internet, menampilkan sesosok wanita karir yang sukses menduduki kursi direktur di perusahaan keluarganya, dan mampu membawa bisnis tersebut naik ke puncak.


Namun, tatapan yang diberikan Olivia bukanlah sebuah kekaguman. Perempuan itu nampak datar memandangi berita tersebut.


Helaan nafasnya terasa berat, dan Olivia pun akhirnya menggeser layar dan mencari berita lainnya.


Saat ini, dia bermaksud mencari nara sumber untuk tugas  lapangan selanjutnya, yaitu mewawancaai seorang pengusaha muda, sebagai ajang mencari inspirasi bagi para mahasiswa agar termotivasi dalam hal dunia ekonomi dan bisnis.


Tanpa terasa, suara motor sang suami terdengar memasuki pelataran rumah kontrakan mereka. Olivia pun serta merta bangun dan berjalan cepat ke arah pintu.


Dia membuka papan kayu tersebut bahkan sebelum Alzam mematikan mesin motor matic-nya.


“Mas,” panggil Olivia.


Perempuan itu pun berjalan menghampiri Alzam dan menyalaminya.


Sebuah senyum mengembang dari bibir sang suami, saat melihat sambutan hangat dari istrinya.


“Assalamu’alaikum,” salam Alzam.


“Waalaikumsalam,” sahut Olivia dengan senyum super manisnya.


“Seger bener istri ku,” puji Alzam.


“Iya dong. Kan udah mandi,” sahut Olivia.


“Udah sholat?” tanya Alzam.


“Udah tadi,” jawab Olivia.


“pinter,” puji Alzam sambil mengacak rambut Olivia, hingga nampak berantakan.


“Sini aku bawain tasnya, Mas,” tawar Olivia.


Alzam pun melepas tas ranselnya dan menyerahkan kepada Olivia. Dia menuntun motornya naik ke teras rumah dan masuk ke dalam bersama.


Dia melihat lantai yang telah bersih seolah baru saja di pel. Alzam kemudian masuk ke kamar dan mengambil baju ganti lalu pergi ke kamar mandi.


Saat dia hendak mengambil handuk di jemuran, dia melihat satu bak penuh cucian yang sedang direndam. Dia pun mendekat dan mencium airnya. Bau harus yang pekat menyeruak ke dalam hidungnya.


Dia kemudian menoleh ke kanan dan kiri mencari sesuatu. Alzam pun mendekat ke tempat sabun cuci berada dan mengambil kemasan refill pewangi pakaian tujuh ratus mililiter. Dia melihat wadah itu hampir kosong, padahal baru saja kemarin dia beli yang rencananya akan dipakai semalam.


“Pantes wangi banget. Satu wadah mau habis,” gumam Alzam.


Pemuda itu pun urung ke kamar mandi, melainkan menjemur terlebih dahulu pakaian yang sudah sejak tadi direndam dengan pewangi.


Karena sudah sore, Alzam pun menjemur pakaian tersebut di teras belakang rumah, agar tidak terkena hujan bila mana hujan turun di malam hari.

__ADS_1


Olivia yang sejak tadi di kamar, melihat kamar mandi masih terbuka. Pintu belakang rumah mereka juga terbuka dan membuat Olivia berjalan ke arah sana.


“Lho kok malah njemur? Katanya mau mandi?” tanya Olivia.


“Biar sekalian keringetan,” jawab Alzam.


“Ya biar aku aja sih yang jemur,” sahut Olivia.


“Jangan. Kan kamu udah capek nyuci. Jadi gantian dong aku yang jemur,” ucap Alzam.


Pemuda itu memang tidak mau membuat sang istri kerepotan sendiri dalam mengurus rumah. Dia ingin wanitanya merasa nyaman hidup bersama dengannya.


Hal ini dia pelajari dari sang ayah yang begitu perhatian dan mengerti istrinya. Meskipun seorang laki-laki, akan tetapi ayah Alzam tak segan untuk melakukan pekerjaan perempuan.


Almarhum bahkan berpesan kepada putra sulungnya itu, agar selalu memperlakukan perempuan dengan sebaik-baiknya. Meskipun tidak mengambil alih sepenuhnya tugas mereka, setidaknya bantulah meringankan pekerjaan rumah tangga para wanita yang sudah setumpuk.


Hal inilah yang mendasari bagaimana Alzam memperlakukan Olivia saat ini.


Gadis itu terus bersandar di kusen pintu sambil memperhatikan suaminya yang bertelanjang dada, menjemur cucian di sore hari ini.


“Mas, seksi deh,” goda Olivia.


Mendengar perkataan Olivia, Alzam mengerutkan keningnya dan menoleh ke arah sang istri.


Dia lalu melihat dirinya yang tak memakai baju, dan seketika menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


“Mesum,” ucap Alzam.


“Iihhh... Apaan sih. Bilang gitu aja dibilang mesum,” keluh Olivia.


Alzam pun terkekeh. Dia kembali menjemur semuanya sampai selesai, ditemani oleh sang istri yang tak bosan memandangi wajahnya, yang bahkan masih terlihat kucel.


Setelah itu, dia pergi membersihkan diri dan bersantai dengan sang istri sambil menunggu adzan maghrib.


“Tadi siang bosen nggak di rumah sendirian?” tanya Alzam.


“Nggak sih. Oh iya, Mas. Aku tadi siang makan rujak sayur lho. Enak ya ternyata. Aku baru tahu lho kalo ada makanan kek salad gitu pake saus kacang. Udah gitu murah lagi,” tutur Olivia.


“Beli di mana?” tanya Alzam.


“Deket warung di ujung sana,” tunjuk Olivia.


“Oh... Syukur deh kalau kamu bisa keliling sendiri. Tadinya, aku pikir kamu bakal diem di rumah, dan nggak tahu buat pergi ke warung,” ejek Alzam.


“Enak aja. Kan kamu udah pernah ajakin buat belanja di warung, jadi aku nggak bingung. Hehehe...,” sahut Olivia.


“Pinter banget istri ku ini. Kalo diajarin cepet bisanya. Tapi...,” ucap Alzam.


“Tapi apa?” tanya Olivia penasaran.


“Ehm... Nggak jadi deh,” goda Alzam.


“Apaan?” tanya Olivia.


Gadis itu sampai melepas rangkulannya dan duduk berhadapan dengan sang suami.


“Nggak jadi. Batal,” sahut Alzam.


“Apaan bilang,” seru Olivia.


“Nggak ada. Nggak jadi,” ledek Alzam.

__ADS_1


“Iihhh... Mas Al mah gitu. Sebel,” gerutu Olivia.


Alzam terkekeh. Dia pun lalu mencubit gemas kedua pipi Olivia. Sebuah kecupan mendarat di bibir perempuan itu dan membuat pipi Olivia merona.


“Buat aku, kamu itu nggak ada tapi nya. Semuanya luar biasa,” puji Alzam.


“Gombal,” sahut Olivia.


“Nggak percaya?” tanya Alzam.


“Nggak!” sahut Olivia cepat.


“Mau bukti? Ngamar yuk,” ajak Alzam.


Sontak saja, sebuah pukulan mendarat di dada pria itu.


“Mas Al, iiihhh... Mau maghrib juga masih sempet mikir begituan. Mesum,” keluh Olivia.


Alzam tertawa melihat raut kesal di wajah sang istri. Dia pun kembali merangkul pundak perempuan itu dan memeluknya dari samping.


Namun, dia tak sengaja menggenggam tangan Olivia, hingga membuat perempuan itu mengaduh. Alzam pun segera melihat apa yang telah ia lakukan pada tangan istrinya.


“Ini... Kamu nyuci sampe kek gini?” tanya Alzam.


Dia terkejut melihat jari-jari Olivia lecet dan bahkan nampak masih basah. Ditambah telapak tangan Olivia yang terasa kasar, membuat hati Alzam sakit.


Pemuda itu pun mengecup lembut kesepuluh jemari istrinya, dan menangkupkan tangan itu di kedua pipinya.


“Lihat? Kamu luka kayak gini gara-gara nyuci. Udah ku bilang kan kalau aku aja yang nyuci, kamu yang jemur. Kenapa nggak nurut sih?” tanya Alzam.


“Aku cuma mau belajar, Mas. Kamu aja yang selalu nyuci nggak pernah lecet-lecet kek aku gini kok. Bisa aja ada yang salah sama prosesnya, jadi kek gini deh,” jawab Olivia.


“Emang ada yang salah. Deterjen kebanyakan bikin tangan kamu panas dan akhirnya jadi kasar, merah juga lagi. Udah gitu cara kamu ngucek pasti salah, makanya sampe lecet begini. Pasti perih banget yah?” cecar Alzam.


Bukannya merasa kesal karena hasil kerja kerasnya di marahi sang suami, Olivia justru tersenyum. Perempuan itu mendekat dan mengecup kening Alzam dalam-dalam.


Ibu jarinya mengusap pelipis pemuda itu dengan penuh kasih sayang.


“Kamu nggak lagi marahin aku gara-gara ngabisin deterjen kan, Mas?” goda Olivia.


Alzam tak menyahut lagi. Dia langsung memeluk sang istri dan mendekapnya erat.


“Lain kali, jangan coba lakuin apapun sendiri sebelum tahu cara yang bener yah. Hati aku sakit lihat kamu luka kek gini tahu,” keluh Alzam.


“Iya, Mas. Aku janji. Makanya kamu juga ajarin aku dong,” sahut Olivia.


“Iya,” jawab Alzam.


Keduanya pun saling berpelukan, menghabiskan waktu santai mereka hingga adzan maghrib menyeru keduanya menghadap Sang Pencipta.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


Mampir ke novel teman aku yuk bestie 👇

__ADS_1



__ADS_2