
Malam harinya, Olivia yang baru saja selesai mencuci piring, duduk bersama sang suami di depan TV. Dia ingat masalah Leon tadi siang dan bermaksud membicarakannya dengan Alzam.
Sudah menjadi kebiasaan Olivia untuk bermanja-manja dengan sang suami di rumah, dan hal itu membuat Alzam senang serta selalu tak tahan untuk menggoda perempuan itu.
Kali ini, Olivia berinisiatif memijat pundak Alzam ala kadarnya. Dia tak punya keahlian memijat dan hanya asal tekan saja, membuat sang suami kegelian.
“Hehehe... Geli, Liv. Kamu ngapain gelitikin aku sih?” tanya Alzam.
“Siapa yang gelitikin sih? Aku lagi mijit tau!” sahut Olivia tak Terima.
“Oohhh... Hehehe... Tapi geli, Liv. Jangan di situ,” seru Alzam.
“Terus di mana dong?” tanya Olivia manyun.
“Pukulin punggungku aja,” jawab Alzam.
“Hah? Pukul punggung?” tanya Olivia tak paham.
“Iya, pukul punggung. Tapi pake pukulan sayang biar nggak kerasa sakit. Hehehe...,” sahut Alzam.
Sontak sebuah pukulan langsung mendarat di punggungnya.
“Nih pukulan sayang. Nih,” ucap Olivia sambil memukuli punggung suaminya
Bukannya kesakitan, Alzam justru semakin terkekeh karena sang istri yang kesal karena lagi-lagi berhasil digoda olehnya.
Namun, Olivia terus menuruti permintaan sang suami untuk memukul-mukul bagian tersebut, dan rasanya cukup nyaman.
Tiba-tiba, Olivia membuka suara dan menanyakan sesuatu kepada Alzam.
“Mas, aku denger kalau kamu ikut kelompok pemuda gitu ya?” tanya Olivia.
“Kata siapa?” tanya Alzam balik.
“Kata Umi Fifitt. Namanya kalo nggak salah... Ehm... Pemuda...,” jawab Olivia.
“Padepokan pemuda hijrah?” tanya Alzam.
“Ah, iya itu. Bener kan yang itu?” tanya Olivia lagi.
“Hooh. Kenapa emang? Kok tiba-tiba tanya?”cecar Alzam.
“Di sana ada kajian rutin juga nggak?” tanya Olivia.
“Ada. Rutin tiap minggu,” jawab Alzam.
“Kok aku nggak pernah lihat kamu ikut sih?” tanya Olivia.
“Dulu sering ikut, tapi sekarang cuma ngecek markas sesekali doang,” sahut Alzam.
__ADS_1
“Kok gitu?” tanya Olivia.
“Pengajiannya malem minggu, Liv. Aku kan kalo malem nemenin kamu di rumah. Emang kamu mau aku tinggal sendiri di rumah? Selesainya malem banget lho,” ujar Alzam.
“Kan aku bisa nginep di rumah Ibu. Malam minggu ini kan waktunya?” sahut Olivia.
Alzam merasa ada yang aneh dengan perbincangannya kali ini dengan sang istri, seolah ada maksud tersembunyi di balik itu semua.
Dia pun berbalik dan membuat Olivia berhenti memukuli punggungnya.
“Keknya kamu nggak asal nanya soal ini deh? Ada apa sih?” tanya Alzam penasaran.
“Yee... Kepo. Hihihi...,” sahut Olivia.
“Tuh bener kan. Pasti ada apa-apanya. Istri ku mana ada ngomong nggak penting. Pake acara gelitikin segala lagi. Ada apa sih?” tanya Alzam lagi.
“Siapa juga yang gelitikin sih? Aku tuh tadi mau mijit cuman nggak tau caranya,” gerutu Olivia.
“Hehehe... Iya deh iya. Mijit kan ya. Hehehe...,” Alzam terkekeh melihat sang istri yang dibuatnya manyun.
Dengan gemasnya, Alzam menarik hidung Olivia sampai membuat perempuan itu mengerutkan pangkal hidungnya.
“Jawab dong pertanyaan yang tadi. Ada apa sih nanya-nanya soal pengajian?” tanya Alzam lagi.
“Aku nanya buat si Leon,” jawab Olivia.
“Leon? Kenapa emang sama tuh anak?” tanya Alzam.
“Ehm... Bisa aja sih. Tapi artinya, aku mesti dampingin dia dulu sampe terbiasa sama lingkungan seperti itu. Kek kamu yang didampingi sama Nurul,” ucap Alzam.
“Malam minggu kan? Aku bisa nginep di rumah Ibu kok kalo kamu khawatir ninggalin aku sendiri di rumah. Gimana?” tanya Olivia.
“Beneran nggak papa?” tanya Alzam balik.
“Nih ya, Mas. Kata Umi Fifit ‘kita itu harus berlomba-lomba dalam kebajikan' ngajakin orang jadi bener kan juga kebajikan. Jadi, aku jelas nggak papa dong,” jawab Olivia mantap.
Alzam mengacak rambut sang istri dengan gemas.
“Istriku emang pinter banget. Ya udah, sabtu nanti kamu ngomong ke Leonnya. Oke,” seru Alzam.
“Oke suamiku sayang,” jawab Olivia centil.
Sebuah cubitan kembali mendarat di hidung Olivia dan membuat dia mengerutkan pangkal hidungnya.
Alzam lalu berbalik, dan berbaring dengan kepala di atas pangkuan sang istri. Olivia dengan lembut mengusap rambut hitam legam suaminya yang sedikit lebih panjang dari sebelumnya.
Mereka asyik menikmati siaran televisi yang kala itu menyiarkan proses audisi sebuah ajang pencarian bakat. Berbagai macam bakat dan kemampuan yang hebat disajikan. Namun tak sedikit pula yang seolah hanya asal bisa masuk TV saja, sedangkan kemampuannya tidak begitu baik.
Olivia dan Alzam tertawa setiap kali kontestan yang maju justru menyuguhkan lelucon ketimbang penampilan yang baik.
__ADS_1
“Cuma buat masuk TV aja mereka rela konyol dan mau diketawain. Bener-bener aneh,” ucap Olivia.
“Buat mereka, masuk TV itu sebuah impian lho, Liv. Mereka mau menunjukkan kesemua orang kalau mereka itu ada dan siapa tahu itu bisa jadi awal rejeki mereka karena bisa viral,” sahut Alzam.
“Iya, sih. Cuma aneh aja sama cara pikir mereka,” ucap Olivia.
“Ya itulah manusia. Macem-macem jenisnya,” sahut Alzam.
Mereka kembali menyaksikan lagi penampilan kontestan lainnya. Tak jarang Olivia dan Alzam tertawa terpingkal-pingkal, namun kadang juga ada cerita dari salah satu peserta yang membuat keduanya mendadak melow.
Salah satunya, saat seorang penari cilik yang sangat berbakat, yang memiliki keterbatasan fisik, dan hidup sebatang kara di salah satu yayasan panti asuhan yatim piatu.
Olivia terlihat berkali-kali menyeka matanya yang berair dan membuat Alzam memeluk perut sang istri sambil menepuk-nepuk punggungnya.
“Sedihkan kalau nggak punya orang tua. Makanya kamu yang sayang sama Mamah,” ucap Alzam.
“Nggak usah bahas Mamah lagi deh. Ngerusak momen aja. Ibu kamu kan ada. Aku lebih care sama Ibu dari pada Mamah sendiri. Ibu itu penyayang, penyabar, pengertian, nggak pernah maksa apalagi nuntut meskipun aku bukan menantu impiannya. Tapi sedikitpun dia dan kedua adik mu nggak pernah tuh nyinyirin aku. Nggak kayak Mamah,” sanggah Olivia.
Perempuan itu masih terlihat mengusap sudut matanya dengan punggung tangan sambil sesenggukan.
“Oh iya, aku jadi inget pas kamu ngomong soal Ibu,” ucap alzam.
“Bukannya pas bahas pengajiannya si Leon, aku juga nyinggung soal Ibu ya, Mas?” tanya Olivia.
“Iya sih. Cuma aku baru inget. Ibu bilang, besok kamu suruh ke rumah habis kuliah,” ucap Alzam.
“Ehm... Tumben, Mas? Ada apa?” tanya Olivia.
“Rumah Ibu ketempatan buat pengajian rutin mingguan ibu-ibu di sana. Kamu diminta bantuin nyuguhin snack sama air minum ke jamaah yang dateng. Cuma, aku bilang sama Ibu kalau kamu pulang jam 3, pasti capek. Jadi Ibu bilang nggak papa. Nggak usah,” ungkap Alzam.
“Iiihhh... Kok ngomongnya gitu sih? Aku bisa kok. Besok aku bisa bolos mata kuliah terakhir. Paling cuma dengerin presentasi mahasiswa lain doang. Masuk juga cuma nyari nilai tambahan aja. Ngomong lagi ke Ibu kalau aku bisa. Gih telpon Ibu,” seru Olivia.
Perempuan itu menggoyang bahu suaminya yang masih betah memeluk pinggang sang istri.
“Iya... Iya... Nanti aku chat Ina. Sekarang lagi pewe. Ehm...,” sahut Alzam sambil terus mendusel-dusel di perut sang istri.
Hal itu membuat Olivia geli, namun dia senang melihat suaminya bermanja-manja seperti ini.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
jangan lupa mampir ke novel keren punya temen aku ya 👇
__ADS_1