CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Chat unfaedah


__ADS_3

Alzam nampak sudah datang ke kampus Nusa Bangsa, saat kaset murottal diputar dan berkumandang dari speaker masjid kampus tersebut.


Dia masih duduk di atas motornya, dan mengambil ponsel dari dalam tas. Pemuda tersebut berusaha menelepon istrinya hendak menanyakan keberatan Olivia sat ini.


Namun, berkali-kali dia menghubungi nomor sang istri, namun tak ada jawaban sama sekali. Dia pun kemudian menoleh ke kanan dan kiri, depan dan belakang, berharap melihat keberadaan istrinya.


Setelah cukup lama menunggu, Alzam pun akhirnya turun dan melepas helmnya, lalu berjalan ke arah gedung perkuliahan kampus Nusa Bangsa.


Namun, baru saja dia masuk dan berjalan di sekitar lobi, dia melihat dua orang yang sedang diam, dengan salah satunya berjongkok dalam diam dan satunya berdiri sambil mengacak rambutnya hingga acak-acakan.


Alzam seperti mengenal keduanya, dan dia pun berjalan perlahan mendekat ke arah keduanya.


Setelah semakin mendekat, rupanya orang yang sejak tadi di teleponnya ternyata sedang berada di sana dan entah sedang apa.


“Liv,” panggil Alzam.


Mendengar seseorang memanggil Olivia, kedua orang itu pun sontak menoleh. Olivia serta merta berdiri dan berlari memeluk sang suami.


Leon yang melihat sang sahabat menangis di pelukan suaminya pun merasa semakin iba. Dia lah yang paling tahu kondisi psikologis Olivia saat ini.


Alzam yang tak tahu menahu apa yang terjadi, mencoba melihat ke arah Leon, dengan tatapan penuh tanya.


“Tadi dia dimarahin sama dosen. Mending sekarang, kamu bawa dia pulang deh, Bang. Lagian, kita juga udah nggak ada kuliah lagi,” jawab Leon.


Pemuda itu terpaksa membantu Olivia untuk berbohong, karena dia tahu bahwa sang sahabat pasti tak mau jika suaminya sampai mengorek masa lalu, yang sudah susah payah ia hilangkan dari benaknya.


Mendengar perkataan Leon, Alzam pun memilih percaya, tanpa menaruh kecurigaan apapun lagi. Dia menepuk-nepuk punggung Olivia yang masih tampak berguncang kecil.


“Kita pulang yah. Kita sholat di rumah aja,” ajak Alzam.


Olivia mengangguk meski masih bersembunyi di dada suaminya. Alzam pun merangkul Olivia dan menuntun gadis itu menuju ke parkiran motor.


Dia membiarkan Olivia berjalan sambil terus memeluk pinggang Alzam. Saat sang suami mengurai pelukan Olivia agar bisa naik ke motor, dia melihat wajah gadis itu telah basah oleh air mata.


Alzam pun mengusap puncak kepala sang istri, yang masih terdengar sesenggukan.


“Kita langsung pulang, atau mau ke suatu tempat dulu biar kamu tenang?” tawar Alzam.


“Aku mau ke rumah ibu,” ucap Olivia.


“Ibu? Maksud kamu, ibu aku?” tanya Alzam.


Olivia mengangguk pelan.


“Ya udah, tapi kita pulang dulu buat ambil baju ganti, sama ijin juga,” bujuk Alzam.


“Nggak mau. Aku mau pulang ke rumah ibu aja sekarang,” pinta Olivia.


Alzam terlihat menghela nafas panjang, menghadapi sikap Olivia yang tiba-tiba merenngek seperti ini.


“Ya udah. Tapi coba kamu telepon orang rumah dulu biar nggak nyariin kamu,” seru Alzam.


Olivia pun kemudian mengambil ponselnya, dan mengetik sesuatu di sana. Tak lama kemudian, dia kembali menyimpan benda tersebut di dalam tas.

__ADS_1


“Udah. Aku udah chat Papah. Aku nggak mau Papah denger suaraku yang kaya orang habis nangis. Nanti dia ngira aku kenapa-kenapa,” ucap Olivia.


Alzam pun tak bisa membantah. Dia lalu memakaikan helm bogonya ke kepala sang istri, dan meminta Olivia untuk segera naik ke atas motor matic tersebut.


Mereka pun lalu pergi meninggalkan kawasan kampus Nusa Bangsa, dan menuju ke rumah Bu Aminah.


...☕☕☕☕☕...


Keesokan harinya, Alzam seperti biasa mengantarkan Olivia kembali ke kampus, baru setelah itu dia akan pergi ke kedai.


Namun, karena kejadian kemarin, Olivia menjadi malas ke kampus dan justru pergi menjauh dari tempat tersebut setelah memastikan suaminya pergi.


Dia tak mau jika sampai Nathan datang lagi dan mengganggu dirinya.


Di tengah jalan, saat Olivia baru berdiri di teli jalan menghadang taksi, seseorang tiba-tiba menarik lengannya dan membuat Olivia berbalik seketika.


“Mau kemana lu, Liv?” tanya Leon.


Olivia sempat takut, bahwa yang datang adalah sang mantan, namun rupanya sang sahabatlah yang menghampirinya. Dia pun bernafas lega.


“Gue lagi males kuliah,” jawab Olivia.


"Kenapa nggak ikut suami lu ke kedai aja tadi?” tanya Leon.


“Udah. Tapi, Mas Al terus nanyain kenapa gue nggak mau kuliah? Kenapa gue nggak mau ke kampus? Gue musti jawab apa?” tanya Olivia.


“Pala lu beneran udah nggak bisa kerja ya, kalo udah urusannya sama mantan lu yang brengs*k itu?" batin Leon.


Olivia mengusap keningnya sembari memijit bagian tersebut.


“Gue lupa, Yon,” sahut Olivia.


“Tuh kan. Tenang dong, Liv. Kemarin aja lu bilang mau labrak dia, biar nggak gangguin hidup lu lagi. Giliran dia tiba-tiba nongol di depan lu, lu malah kayak orang linglung gini,” ucap Leon.


“Gue juga nggak tau, Yon. Ternyata, gue masih aja kayak dulu. Pengecut di depan dia. Padahal, gue udah bertekad mau buang dia jauh-jauh dari hidup gue, tapi tetep aja gue nggak bisa lawan ketakutan gue itu,” sahut Olivia.


“Mending sekarang, kita balik ke kelas dulu aja deh. Gue nggak mau suami lu mikir yang nggak-nggak, pas dia kesini terus lu nya nggak ada. Yuk ikut gue,” ajak Leon.


Pemuda itu pun lalu menarik Olivia kembali ke dalam area kampus, dan menuju ke gedung perkuliahan.


Olivia melewati harinya dengan terus diam. Pikirannya masih saja tak tenang dengan kehadiran Nathan, setelah bertahun-tahun menghilang.


Dia bahkan memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya lebih awal, dan meminta ijin kepada Alzam untuk pulang sendiri menggunakan taksi. Dia pun berkata akan meminta Bi Ijah atau Bi Marni untuk menemaninya sholat dzuhur di rumah. Alzam setuju.


Leon pun tak bisa mencegah lagi, dan hanya bisa mengantar Olivia, sampai gadis itu masuk ke dalam taksinya dan bergerak perlahan menjauh.


Sesampainya di rumah, Olivia segera masuk ke dalam kamar, dan merebahkan tubuhnya yang lelah. Bukan karena aktifitasnya seharian ini, melainkan karena beban pikirannya.


Saat gadis itu sedang mencoba menenangkan pikirannya, tiba-tiba sebuah chat masuk ke dalam Ponselnya. Dengan malas, Olivia meraih tas dan mengambil ponsel dari dalam sana.


Saat melihat nama si pengirim pesan, Olivia pun segera bangun dan duduk di atas ranjang.


[Udah nyampe?] tanya Alzam.

__ADS_1


Rupanya, pemuda itu mengkhawatirkan Olivia. Dia masih bertanya-tanya tentang kejadian kemarin, ditambah Olivia yang hari ini meminta ijin pulang sendiri.


Mendapat pesan chat dari sang suami, membuat sebuah senyum tipis muncul di bibir Olivia. Bak semilir angin yang berhembus dikala terik, benar-benar membuat hati gadis itu terasa sangat sejuk.


Dia pun kemudian mengambil foto dirinya, dengan latar kondisi kamarnya. Dia kemudian menulis sesuatu di caption foto tersebut.


[Udah. Baru aja nyampe] balas Olivia.


[Alhamdulillah. Udah adzan dzuhur, kamu jangan lupa sholat ya. Aku tahu lho kalau kamu bohong] seru Alzam.


[Iya, suamiku. Suamiku ini cerewet banget ya🙄🤭] jawab Olivia.


[Ya udah. Kalau gitu aku mau diem aja, biar nggak dibilang cerewet lagi] ucap Alzam.


[Dih... Ngambek. Nggak banget ih. Masa cowok ngambekan 🙄🤣] balas Olivia.


[😅nggak banget ya?] tanya Alzam.


[Nggak banget. Ntar gantengnya ilang lho] ucap Olivia.


[Ya udah, aku nggak jadi ngambek deh, biar tetep ganteng kata istriku] sahut Alzam.


Olivia terkekeh membaca pesan balasan Alzam. Begitupun dengan Alzam di seberang sana, yang ikut terkekeh dengan obrolan mereka yang semakin tak jelas namun menurutnya sangat lucu.


[Ya udah. Aku sholat dulu ya, Mas. Takutnya, Bi Ijah sama Bi Marni udah sholat duluan. Ntar aku sholat sama siapa?] ucap Olivia.


[Ya udah deh. Jangan lupa doakan kita yah] pesan Alzam.


[Iya. Love you, Mas] ucap Olivia.


[Harus di jawab?] tanya Alzam.


“Ck! Nih cowok nyebelin banget deh,” gumam Olivia kesal, namun dia pun tersenyum dengan pertanyaan menyebalkan sang suami.


[Nggak usah. Nggak penting. Dah ah, aku ke bawah dulu. Assalamu’alaikum] ucap Olivia.


Gadis itu pun kemudian meletakkan ponselnya di atas kasur begitu saja, tanpa menunggu balasan chat dari Alzam.


Dia berjalan ke arah kamar mandi dan mengambil air wudhu. Saat dia masih di dalam sana, sebuah bunyi notifikasi pesan masuk terdengar. Sebuah pesan chat balasan dari Alzam pun masuk.


[Love you, too 😘]


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁

__ADS_1


__ADS_2