CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Episode 11


__ADS_3

"Hallo, Bu, Alhamdulillah Abi sudah selesai sidang hari ini", Abimanyu menghubungi sang ibu yang semenjak kemarin selalu memberinya semangat dan do'a.


"Syukurlah, Nak. Ibu ikut senang", jawab sang ibu di ujung telepon.


Ibu dan anak itu larut dalam perbincangan.


"Bu, Abi tutup dulu ya teleponnya. Setelah ini semua peserta sidang harus berkumpul di aula".


"Iya, Nak. Kamu baik-baik ya di sana".


"Iya, Bu. Ibu juga harus sehat terus, ya".


Telepon pun berakhir.


Jaka yang sedari tadi duduk tidak jauh dari Abimanyu segera mengajak sahabatnya itu untuk memasuki aula.


Beberapa dosen penguji juga ada di sana. Mereka mengumumkan hasil ujian sidang dan Abimanyu menjadi mahasiswa peraih IPK tertinggi di fakultas. Dia berhak mendapatkan predikat cum laude.


"Selamat ya Bi, kamu hebat", ujar Anika sesaat setelah pengumuman hasil sidang selesai.


"Terimakasih. Selamat juga nilai kamu bagus", jawab Abimanyu tulus.


Anika tersenyum, "Ya, tapi tidak sebagus nilai kamu. Oh ya, aku hampir lupa berterimakasih untuk boneka lebah yang kamu kasih waktu aku sakit beberapa waktu lalu itu".


"Iya, jaga kesehatanmu biar gak sakit lagi", respon Abimanyu.


"Ehm, Anika, yuk kita berangkat sekarang. Mama udah nunggu kita di butik buat fitting", tiba-tiba Rendra datang membuyarkan perbincangan Abimanyu dan Anika.


Anika menatap Rendra datar, hatinya kesal dengan tingkah calon suaminya itu.


"Bi, aku pamit duluan, ya", Anika menatap Abimanyu yang masih berdiri di depannya.


"Iya, hati-hati", jawab Abimanyu.


Anika berjalan menghampiri Rendra.


"Tunggu", Rendra meminta Anika menunggunya. Dia melangkah mendekati Abimanyu.


"Berhubungan undangan pernikahan gue sama Anika masih diproses, jadi gue sampaikan secara lisan dulu. Hari Sabtu pekan depan, gue undang Lo sama semua sahabat Lo itu buat datang ke pernikahan gue sama Anika. Lokasinya, di Gedung X, ya", ujar Rendra sambil menepuk bahu Abimanyu.


Rendra menatap sejenak wajah Abimanyu, seolah dia ingin menegaskan kemenangannya mendapatkan Anika. Lalu kedua matanya melirik ke arah Jaka yang baru saja datang hendak menghampiri Abimanyu.


Anika yang mendengar dan melihat tingkah Rendra merasa semakin kesal. Hatinya merasa tak enak kepada Abimanyu.


"Abi, maaf ...", belum selesai Anika bicara, Rendra sudah menarik tangannya agar menjauh dari Abimanyu yang masih tertegun.


"Kuatkan hati Lo, Bi", Jaka menepuk pundak Abimanyu.


Abimanyu mencoba tersenyum. Ada perih yang dalam di hatinya. Dia tidak menyangka jika Rendra benar-benar berhasil membuktikan ucapannya untuk bisa memiliki Anika.


"Ras, tunggu", Abimanyu menahan langkah kaki Laras yang terlihat mendekati pintu keluar fakultas.


"Ya, kenapa, Bi?", Laras menatap Abimanyu.


Abimanyu dan Jaka berjalan beriringan menghampiri Laras.


"Bisa kita bicara di taman, Ras?", tanya Abimanyu serius.


Laras menganggukkan kepalanya. Akhirnya mereka bertiga pergi ke taman fakultas yang tampak sepi sore itu.

__ADS_1


"Ras, beneran Rendra sama Anika mau nikah?", Jaka langsung angkat bicara setelah mereka bertiga duduk bersama.


"Iya, kalian tahu dari mana?".


"Tadi Rendra sendiri yang bilang. Dia mengundangku dan Jaka ke pesta pernikahannya hari Sabtu depan", terang Abimanyu sendu.


"Kok bisa sih perempuan sebaik Anika nikah sama lelaki model Rendra gitu?", lagi, Jaka bertanya.


Laras menarik nafas dalam, akhirnya dia menceritakan semua kepada Abimanyu dan Jaka.


"Wah gila, kok tega banget sih orang tuanya Anika maksa anaknya?", seru Jaka.


"Huss, Lo gak boleh bicara kasar begitu kalau ngomentarin orang tua", Abimanyu menyikut Jaka.


"Eh ya maaf, Bi, habisnya gue gak habis pikir. Kok tega sih, kasihan kan Anika", jawab Jaka.


"Iya, aku juga gak habis pikir sebetulnya. Tapi ya mau gimana lagi, itu sudah jadi keputusan Anika dan kedua orang tuanya", sambung Laras sedih.


Abimanyu terdiam. Dia mencoba mencerna semua informasi yang didapatnya tentang Anika dan lebih dari itu, dia berusaha menutup luka di hatinya.


"Bi, aku mau tanya, please jawab yang jujur. Apa kamu suka sama Anika?", tatap Laras serius.


Abimanyu sedikit terhenyak dengan pertanyaan itu. Sebuah pertanyaan yang sejujurnya tak pernah ingin dia dengar dan jawab.


"Hei, Abi, jawab dong", lanjut Laras lagi.


"Ya ampun Ras, udah kurang kelihatan apa kek mana perasaan sahabat gue ini sama Anika?", Jaka yang merespon.


"Iihh, Jaka jawab aja sih. Biarin Abimanyu kek yang jawab", protes Laras. Jaka terkekeh melihat ekspresi kesal Laras.


"Jadi gimana, Bi?", Laras beralih menatap Abimanyu lagi.


"Ok, aku simpulkan kalau kamu suka sama Anika. Kamu diam aku anggap jawabannya iya", todong Laras.


"Ras, sorry. Aku hanya bingung harus jawab apa. Aku ...", ucapan Abimanyu menggantung.


"Bilang aja Bi, iya aku suka sama Anika, gitu aja kok susah sih", seloroh Jaka.


Abimanyu melirik sahabatnya itu. Ya, apa yang Jaka bilang memang tidak salah.


Abimanyu menganggukkan kepalanya pelan, "Ya, aku suka sama Anika. Aku gak tahu ini perasaan apa. Kalian tahu sendiri aku gak terlalu intens berinteraksi dengan Anika, tapi entah kenapa bagiku dia segalanya", kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Abimanyu.


Laras dan Jaka tersenyum bersamaan, "Seenggaknya, Bi, kamu udah jujur sama diri kamu sendiri meskipun ya, kesempatan tuk dapatkan Anika udah gak ada", ujar Laras.


Jaka menepuk-nepuk sebelah bahu Abimanyu. Dia berusaha menguatkan sahabatnya itu.


"Iya. Aku hanya bisa berdo'a semoga Anika bahagia bersama Rendra", ucap Abimanyu tulus meski hatinya semakin perih karena ucapannya sendiri.


"Aamiin ... tapi feeling gue bilang kalau suatu saat Anika pasti jadi milik Lo, Bi", ucap Jaka asal.


Abimanyu menyikut Jaka, "Jangan asal ngomong, calon istri orang itu".


Tawa Jaka meledak, "Bro, kita gak pernah tahu takdir Tuhan meski Anika itu calon istri orang, ya gak Ras?", Jaka melirik Laras yang juga terkekeh.


"Iya betul itu. Siapa tahu kan ya", ujarnya penuh makna.


Sore itu menjadi perbincangan terakhir antara Laras dengan Abimanyu dan Jaka.


.

__ADS_1


.


Hari Sabtu yang ditunggu pun tiba. Abimanyu tampak merapikan kemejanya di depan cermin.


"Bi, Lo yakin mau datang ke nikahannya Anika sama Rendra? itu hati apa aman, Bro?", tanya Jaka yang sebetulnya juga sedang berkutat merapikan penampilannya.


Abimanyu tersenyum tipis, "Gak ada alasan buat gue gak datang, Bro. Gue pastikan hati gue aman, tenang aja".


"Ok kalau gitu. Pokoknya nanti di sana kita fokus aja sama makanan ya, gue lapar gila", Jaka mengusap perutnya yang memang sudah berbunyi sejak tadi.


Abimanyu tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu.


Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Abimanyu dan Jaka untuk sampai di Gedung X, lokasi pernikahan Rendra dan Anika.


Abimanyu dan Jaka sengaja hadir saat jam resepsi. Ada banyak tamu yang hadir di sana.


"Abi, Jaka, sini", terdengar suara seseorang berteriak sesaat setelah Abimanyu dan Jaka memasuki area gedung utama.


Rupanya Laras yang tengah bertugas menjadi Braid maid tampak sumringah menyambut kedatangan kedua teman kampusnya itu.


Jaka menyunggingkan senyum yang lebar melihat sambutan Laras, begitupun dengan Abimanyu.


"Kalian mau salaman dulu apa makan dulu nih?", tanya Laras setelah dia bertemu dengan dengan Abimanyu dan Jaka.


"Makan dulu boleh kali ya", jawab Jaka yang berusaha menenangkan suara konser di perutnya.


"Heh, salaman dulu lah. Gak sopa, datang langsung makan", protes Abimanyu.


Laras terkekeh melihat perilaku kedua lelaki di depannya itu.


"Ya udah, ayo kita salaman. Aku dampingi", ajak Laras semangat.


"But, make sure your heart is fine, ok", lirik Laras kepada Abimanyu.


Abimanyu tersenyum tipis, dia paham dengan maksud Laras.


Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam antrian untuk bersalaman dengan kedua mempelai. Dari jauh Abimanyu bisa melihat Anika yang tampil begitu cantik dan anggun dengan gaun berwarna pink yang dipadukan dengan jilbab warna senada. Tapi dari ekspresinya tidak bisa disembunyikan, ada raut kesedihan meski Anika berusaha tersenyum di depan para tamu undangan.


Hati Abimanyu berdesir melihat pemandangan itu. Rasa kagum bercampur dengan rasa sakit dan kesedihan bercampur aduk di benaknya. Tapi dia sudah berkomitmen untuk tegar menerima ini semua, toh selama ini juga dirinya tidak pernah mengutarakan isi hatinya pada Anika.


"Selamat ya atas pernikahan kalian. Semoga menjadi keluarga yang langgeng", ucap Abimanyu saat dirinya sudah berdiri di depan Rendra dan Anika.


Rendra menunjukkan senyum kemenangannya di depan Abimanyu, "Makasih. Gue gak nyangka Lo berani datang ke sini".


"You lost", bisik Rendra di telinga Abimanyu.


Rasa sesak kembali menyeruak dalam benak Abimanyu karena ucapan itu. Ya, dia paham betul maksud ucapan Rendra. Tapi dia juga tidak ingin terpancing dengan hal itu, Abimanyu berusaha untuk tetap tenang, menstabilkan emosinya.


Jaka memberikan ucapan selamat dengan wajah masam kepada Rendra. Dia sempat mendengar ejekan Rendra pada sahabatnya.


"Selamat ya, Nik. Aku ikut bahagia dengan pernikahan kamu", ucap Abimanyu pada Anika.


Gadis itu menatapnya dengan mata nanar. Terlihat ada air mata yang berusaha ia tahan.


"Terimakasih, Bi", hanya itu jawaban yang bisa Anika berikan. Entah kenapa hatinya terasa sesak melihat kehadiran Abimanyu sebagai tamu di acara pernikahannya.


Laras yang sangat tahu ekspresi Anika merasa haru. Dia yakin sahabatnya begitu berat menahan perasaan.


"Nik, aku tahu kamu pasti tersiksa. Kedua matamu gak bisa bohong, kamu cinta sama Abimanyu", bisik hati kecil Laras melihat tatapan nanar Anika di pelaminan.

__ADS_1


__ADS_2