
"Ini milik suami Oliv, Alzam,” jawab Nurul.
“Apa?!” tanya Leon terkejut.
“Kamu nggak tahu? Oliv nggak pernah cerita sama kamu?” tanya Nurul.
“Kalau tahu, aku nggak akan sekaget ini dong,” jawab Leon.
Pantesan, tadi dia langsung lari pas gue kasih tau di mana Nurul. Dia pasti lihat Nurul lagi sama Alzam, makanya tadi dia marah banget. Tapi, kenapa Oliv malah lari? Biasanya juga dia malah masuk dan ngelabrak ceweknya. Aneh. Apa jangan-jangan gara-gara..., batin Leon menerka.
“Kamu kuliah di kampus Harapan Bangsa Juga ya, makanya jam segini ada di sini?” tanya Nurul.
Hal itu sontak membuat Leon tersadar dari pikirannya sendiri.
“Ehm, oh itu. Kebetulan aja lewat deket sini pas jam makan siang, jadi cari resto atau caffe gitu buat rehat. Hehehehe... Kebetulan banget malah ketemu kamu,” kilah Leon.
Dia berbohong pada Nurul, karena sebenarnya Leon memang sedang mengejarnya dan berusaha mendekati gadis tersebut.
“Iya, kebetulan banget,” sahut Nurul.
Mereka kembali menyedot es dari gelas masing-masing.
“Oh iya, tadi ada apa sih sebenarnya? Kenapa si Oliv sampe lari gitu?” tanya Leon penasaran.
“Oliv salah paham lagi kayaknya. Tadi aku lihat lengan Alzam luka. Terus aku cariin kotak P3K di dalem,” ucap Nurul memulai ceritanya.
Setelah menemukan kotak P3K itu, Nurul tadinya ingin meminta tolong salah satu pegawai pria di kedai untuk membantunya mengoleskan obat ke luka Alzam.
Akan tetapi, kondisi kedai yang sangat ramai membuat Nurul terpaksa meminta Alzam sendiri yang mengoleskan obat sebelum lukanya infeksi.
Tapi, Alzam terus menolak dan bilang nanti dan nanti. Nurul gemas dan ingin bertindak sendiri. Namun, dia tak mau muncul fitnah karena terlihat berdekatan dengan suami orang.
Tapi siapa sangka, Olivia tiba-tiba muncul dan melihat Nurul yang saat itu sedang berdiri tak jauh dari posisi Alzam.
Dia merasa bersalah, terlebih karena melihat Olivia yang berlari meninggalkan kedai dalam keadaan emosi.
Namun dalam hati, Nurul merasa senang saat melihat reaksi Alzam yang segera berlari menyusul sang istri yang pergi karena kesal. Hal itu menunjukkan bahwa ada kepedulian di hati Alzam, saat melihat istrinya cemburu dengan wanita lain.
Itu menandakan bahwa mulai tumbuh perasaan di hati pemuda tersebut untuk Olivia.
“Kayaknya, aku emang mesti agak jaga jarak deh sama Alzam. Hah, udah kebiasaan dari dulu sih. Kalau habis kemana-mana, pasti mampirnya kesini. Terus, pasti ngobrol lama sama anak itu,” ucap Nurul.
__ADS_1
Dia lalu melihat ke arah Leon yang sedari tadi terus memperhatikan ekspresi saat Nurul bercerita.
“Eh, maaf yah. Aku jadi ngelantur. Jangan mikir aku lagi cari simpati ya. Aku cerita ke kamu karena kamu temennya Oliv. Mungkin aja kamu bisa bantuin Alzam buat klarifikasi masalah tadi,” ucap Nurul.
“Nggak papa kok. Tenang aja,” sahut Leon.
Dia kembali meminum es kopinya. Saat itu, muncul ide untuk bisa lebih dekat dengan Nurul.
“Oh iya, gimana kalau sekarang kita temenan?” tawar Leon.
“Maksudnya?” tanya Nurul.
“Ya, kan tadi kamu bilang kalau sekarang harus jauhin Alzam kan, jadi kamu nggak ada temen deket lagi. Aku bisa kok gantiin Alzam buat jadi temenmu,” jawab Leon.
Seketika, Nurul tersenyum sambil menahan tawanya, saat mendengar ucapan penuh modus dari pemuda di depannya itu.
Nurul bukan gadis polos yang bod*h. Dia sudah sering menghadapi remaja labil yang penuh dengan akal bulus penuh modus.
Dia seketika tahu maksud dari ajakan pertemanan Leon, hingga dia hampir saja menyemburkan es kopi dari mulutnya, saat mendengar hal tadi.
“Siapa bilang aku nggak punya temen lagi? Stok temen ku masih banyak kok. Tadi, aku cuma bilang kalau aku keseringan kemari dan ngobrol lama sama Alzam. Tapi kalau ke tempat temenku yang lain ya ngobrol lama juga sama mereka,” sahut Nurul.
Hal itu sontak membuat Leon mati kutu, karena ditolak secara halus oleh gadis incarannya.
Keduanya lalu berbincang seputar keseharian mereka. Dari sana, Leon tahu bahwa Nurul adalah seorang guru yang mengampu mapel pendidikan kewarganegaraan di salah satu sekolah menengah kejuruan negeri di sekitar situ.
Namun, Leon hanya memberitahu Nurul bahwa dia adalah seorang mahasiswa semester empat akhir, dan tidak mengatakan siapa identitas aslinya.
Dia mengubah strategi pendekatannya dengan tidak membawa nama besar keluarganya, karena merasa bahwa Nurul adalah perempuan yang sedikit sulit didekati dengan cara arogan dan penuh modus.
...☕☕☕☕☕...
Di lain tempat, nampak sepasang suami istri muda sedang duduk di meja yang berada di depan sebuah swalayan di tepi jalan raya.
Si perempuan terus diam, sementara sang suami mencoba menjelaskan sesuatu.
“Liv, aku udah ngomong semuanya ke kamu lho. Tadi itu Nurul cuma pegangin kotak P3K, dan nyuruh aku pake obat sendiri. Dia sama sekali nggak seperti yang kamu kira,” ucap Alzam kembali membujuk.
Oliv nampak diam, dengan tangan yang masih memegangi kantong plastik berisikan obat luka yang dibelinya dari apotek.
Alzam meraih tangan Olivia yang sedari tadi disembunyikan di bawah meja berpayung besar di sana, dan menariknya ke atas meja.
__ADS_1
“Liv, bisa nggak sih kamu percaya sama aku?” tanya Alzam.
Olivia menoleh. Dia melihat luka Alzam yang semakin basah. Bahkan ada cairan bening yang menggenang di sana dan hampir meleleh keluar.
Luka itu bukan lecet biasa, namun dibiarkan begitu saja oleh Alzam.
Olivia pun akhirnya berdiri. Dia melepaskan tangannya dari genggaman Alzam, dan meletakkan kantong palstiknya di atas meja. Dia mulai mengambil sebuah kasa dari bungkusnya dan menuangkan alkohol ke atasnya.
Dengan kasar, Olivia menarik lengan Alzam yang terluka, dan mulai membersihkan luka tersebut. Alzam sempat memekik kesakitan, karena luka yang terkena alkohol terasa begitu perih.
“Kamu tahu sendiri kan kalau aku nggak suka lihat kamu deket-deket sama cewek lain, tapi masih aja lihat dia bareng kamu. Terus kamu juga tadi pagi nggak ngebolehin aku buat ikut ke kedai 'kan? Apa aku nggak boleh marah dan mikir kalau kamu janjian sama tuh cewek ganjen,” ungkap Olivia.
“Aku udah bilang berapa kali ke kamu, aku sama Nurul itu cuma temen. Dia juga sama sekali nggak nganggep aku lebih dari itu,” ucap Alzam.
“Kamu kira aku beg*? Mana ada cewek sama cowok beneran temenan tanpa ada rasa suka,” sahut Olivia.
“Buktinya kamu sama temenmu itu juga bisa kan? Dia temen masa kecil kamu. Tapi bukannya naksir dia, kamu malah ngejar aku. Dia juga biasa aja ke kamu. Ehm... siapa itu namanya? Le...,” tutur alzam.
“Sok tau,” gumam Olivia.
“Aku ini sama-sama cowok, Liv. Aku tahu mana tatapan orang yang suka dan mana tatapan orang yang biasa-biasa aja,” jawab Alzam.
“Kalau kamu, gimana cara mandang kamu ke aku?” tanya Olivia cepat.
Alzam gelagapan. Dia tak bisa menjawab pertanyaan itu karena dia masih belum tahu isi hatinya sendiri.
Melihat Alzam yang tiba-tiba diam, Olivia pun semakin keras menekan luka Alzam hingga membuat pemuda itu meringis kesakitan.
“Kamu lagi ngobatin aku apa mau bikin luka ku tambah parah sih?” gerutu Alzam.
“Nggak usah protes. Udah mending aku mau obatin luka kamu,” keluh Olivia.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
__ADS_1
terimakasih 😁