CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Pelaminan


__ADS_3

Seusai ijab qobul, penghulu meminta Olivia untuk mencium tangan Alzam, sebagai bentuk penghormatan pertamanya sebagai istri dari laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya.


Kain berenda itu telah dilepaskan oleh si perias pengantin, dan Olivia pun menghadap ke arah Alzam.


Dia mengulurkan tangan ke depan, dan meminta agar Alzam memberikan tangannya pada sang istri.


Dengan ragu-ragu, Alzam pun mengulurkan tangan dan segera diraih oleh Olivia. Dengan lembutnya, gadis itu mencium punggung tangan sang suami. 


Entah dorongan dari mana, Alzam pun mendekat dan mengecup kening Olivia yang tertutup sider.


Semua orang melihat hal itu dan bahkan tertangkap oleh mata kamera yang mengabadikan momen tersebut. Akan tetapi, hal itu justru tidak diketahui oleh Olivia, karena bibir Alzam tak menyentuh kulitnya secara langsung.


Sebuah senyum mengembang di bibir semua orang terdekat Alzam, tak terkecuali juga Tuan Abimana. Dia merasa bahwa pemuda itu akan benar-benar memperhatikan putrinya dan menjaga Olivia dengan baik, serta mampu menjadi imam yang akan bisa menuntun sang putri ke jalan yang benar, yang belum mampu ia berikan pada gadis itu.


Akan tetapi, ada satu orang yang nampak tak suka dan bahkan mendengus kesal melihat kejadian penuh cinta itu. Siapa lagi kalau bukan Mama Ros, yang masih belum rela putri semata wayangnya menikah dengan seorang laki-laki miskin yang jauh dari standar menantu idamannya.


Sesuai ijab qobul, Alzam dan juga Olivia bergantian menyalami orang tua mereka. Bu Aminah terlihat begitu menyayangi Olivia, dan membuat gadis itu merasa nyaman saat berada bersama keluarga suaminya.


Begitu pun dengan Tuan Abimana, yang dengan lapang dada menerima Alzam sebagai menantunya, meski laki-laki itu sangat jauh berbeda dengan keluarganya. Jangan tanyakan tentang sikap yang ditunjukkan oleh Mamah Ros, karena semua orang tau bagaimana pendapat dia tentang pernikahan tersebut.


Setelah sungkeman, kedua mempelai duduk bersama di atas pelaminan kecil, dan mendapat ucapan selamat dari semua kerabat yang hadir di acara tersebut. Nampak mereka semua berbaris mengantri, untuk bertemu dengan pasangan tersebut dan menyalami sekaligus memberi selamat kepada keduanya


Tampak juga Kanina dan Zahra, kedua adik Alzam, yang juga ikut naik ke pelaminan dan menyalami kakak sekaligus kakak iparnya.


“Selamat ya, Mas. Selamat, Kak Oliv,” ucap keduanya.


“Sama-sama. Makasih ya, Ina, Zahra,” sahut Olivia.


Setelah kedua remaja itu, selanjutnya adalah Nurul. Kemunculan guru muda itu di atas pelaminan, membuat Olivia seketika merangkul lengan suaminya dengan erat. Alzam sampai tertarik ke arah sang istri karena rangkulan gadis itu.


Dia masih merasa insecure dengan keberadaan Nurul di sekitar Alzam. Sementara gadis itu sendiri, tak merasa terganggu sedikitpun dengan sikap posesif yang ditunjukkan oleh Olivia terhadap sang sahabat.


“Selamat ya, Zam. Akhirnya kamu udah nggak jomblo lagi,” ucap Nurul.


Dia sama sekali tak meminta berjabat tangan dengan Alzam, dan justru mengulurkan tangan ke arah Olivia.

__ADS_1


Namun, pengantin wanita itu tak meraih uluran tangan nurul, dan membiarkannya mengambang di udara.


“Iya, terimakasih. Udah sih gantian ama yang lain,” seru Olivia ketus.


Nurul hanya tersenyum, kemudian mengucapkan selamat sekali lagi sebelum akhirnya turun dari pelaminan.


Setelah sahabatnya turun dan mendapat perlakuan seperti tadi, Alzam pun berkata lirih kepada Olivia, yang masih berlendotan di lengannya. 


“Bisa nggak sih nggak kurang ajar sama Nurul? Dia salah apa coba sama kamu?” tanya Alzam.


“Aku cuma nggak suka aja kalau dia masih ganjen ke kamu,” sahut Olivia.


“Siapa yang ganjen? Kamu nggak nyadar kalau kamu yang terus nempel seperti lem, sejak pertama kali kita bertemu? Lepas! Banyak orang yang melihat kesini. Aku nggak mau punya istri yang nggak tau malu di depan umum,” ucap Alzam.


Olivia pun seketika melepaskan lengan Alzam yang tadi terus dirangkul olehnya. Dengan wajah kesal, dia pun kembali menemui tamu yang naik ke pelaminan dan menyalami dirinya serta sang suami.


Leon belum terlihat naik ke pelaminan, karena terus mengikuti kemana arah Nurul berjalan. Dia sampai harus di tegus oleh ayahnya, Tuan Agung Andromeda, untuk ikut naik dan mengucapkan selamat kepada kedua pengantin.


“Ayo naik! Ucapkan selamat kepada sahabat kecil mu itu,” ucap Agung Andromeda.


 


Akhirnya, Leon pun melepaskan pandangannya dari Nurul dan naik ke atas, memberi selamat kepada Olivia dan juga Alzam.


“Selamat ya, Liv. Akhirnya nikah juga lu,” ucap Leon.


“Makasih, Yon. Oh iya, Mas Al. Kenalin ini Leon, sahabat aku sejak kecil. Leon, ini suami gue. Ganteng kan?” kata Olivia memperkenalkan keduanya. 


“Leon,” ucap Leon.


“Alzam,” sahut Alzam.


“Semoga kalian bahagia selalu ye. Jangan lupa buka kado yang dari gue,” ucap Leon sambil menaik turunkan kedua alisnya. 


“Kado apaan? Jangan aneh-aneh deh lu,” sahut Olivia. 

__ADS_1


“Ada deh. Dijamin keren abis. Hahaha... Gue turun dulu. Keburu target lepas,” ucap Leon.


 


“Oke deh. Moga lu cepet nyusul gue deh ya.  Good luck!” seru Olivia.


 


Leon turun meninggalkan panggung pelaminan, dan kembali mencari sosok gadis yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya.


Namun, Nurul sudah tak terlihat lagi di antara kerumunan orang-orang yang hadis di sana. Dia pun nampak kecewa dan duduk sambil menikmati es buah manis yang tadi di tawarkan oleh Nurul.


Cewek ini lumayan jual mahal. Lihat aja, apa dia bakal tahan nolak pesona duit gue, batin Leon.


Acara pernikahan Olivia berlangsung hingga sore hari. Tidak ada resepsi malam hari, sehingga setelah selesai, Alzam pamit kepada sang bunda dan ikut bersama Olivia pulang ke rumah orang tuanya.


Tuan Abimana meminta pengantin baru itu untuk tinggal di rumahnya, hingga mereka bisa memiliki tempat tinggal sendiri. Awalnya Alzam menolak dan menginginkan Olivia untuk tinggal di rumah ibunya, akan tetapi Bu Aminah menasehati Alzam untuk tidak terlalu memaksakan kehendaknya kepada sang istri di awal pernikahan mereka.


Bu Aminah berpesan kepada sang putra untuk memperlakukan Olivia dengan baik. Bukan tanpa alasan bu Aminah berpesa seperti itu, karena selama ini, wanita tua itu melihat jika sang putra selalu bersikap kasar dan ketus terhadap Olivia.


“Jaga dan bimbing istrimu dengan lembut dan penuh kasih sayang, Nak. Ingat, orang tuanya sudah menitipkan dia padamu. Jangan sekali-kali kamu berbuat kasar padanya, karena baik orang tuanya maupun ibu tidak akan pernah rela,” pesan Bu Aminah.


Meski enggan, Alzam hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan sang bunda. Dia sudah tak bisa mundur lagi. Walaupun terpaksa, akan tetapi pernikahan sudah terjadi, dan pantang bagi Alzam untuk menganggapnya hanya sekedar main-main.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁

__ADS_1


__ADS_2