
Keesokan harinya, Alzam kembali dibuat pusing dengan apa yang terjadi pada Olivia. Pagi hari, setelah malamnya dia membuat rujak tengah malam atas permintaan istrinya, hingga dia harus tidur dini hari, Olivia tiba-tiba muntah-muntah hebat hingga beberapa kali bolak balik kamar mandi.
Saat itu, sang istri baru saja menyiram tanaman di halaman depan, sambil menemani suaminya yang juga menyapu di sana. Setelah itu, Alzam menuju ke dapur dan bersiap membuat sarapan. Seperti biasa, Olivia pasti akan mengikuti kemana sang suami pergi dan membantu apa yang sedang pemuda itu lakukan.
Pagi ini, Alzam ingin membuat nasi gurih simpel dan telor dadar untuk sarapan mereka. Semua bahan sudah siap dan kini mereka tinggal mencuci beras dan memcampur bumbu ke dalam wadah, lalu menanaknya dengan menggunakan rice cooker.
Olivia menawarkan diri untuk membuat telor dasarnya. Menurutnya, telor dadar lebih mudah dari pada telor mata sapi, karena setiap kali ingin membuat telor mata sapi, dia pasti akan merubahnya menjadi dadar.
Alzam pun mengiyakan sambil terus memberikan arahan, agar proses memasak sang istri aman dan mendapatkan hasil yang mendekati baik.
Dia kemudian menyiapkan bahan untuk membuat sambal bawang kesukaannya. Namun, saat dia sedang mengupas bawang putih untuk bumbu dasarnya, tiba Olivia menutup mulut dan hidungnya rapat-rapat dengan telapak tangan.
Alzam masih belum menyadari hal itu. Dia masih mengupas beberapa siung bawah putih dan berlanjut ke bawang merah.
Olivia mencoba menahannya, namun rasanya perutnya sudah tak bisa lagi diajak kompromi. Semakin lama semakin mendesak naik dan membuat dia seketika berlari ke arah kamar mandi.
HOEEEKKK! HOEEEEKKKK!
Alzam seketika meboleh dan melihat sang istri yang sedang membungkuk di dalam sana, sambil memuntahkan isi perutnya. Dia pun segera mematikan kompor dan mencuci tangan, lalu kemudian menghampiri sang istri.
Dia melihat rujak semalam telah keluar dari perut Olivia dan memenuhi lantai kamar mandi mereka.
Dengan telaten, Alzam mijit tengkuk Olivia agar perempuan itu merasa sedikit nyaman. Namun, dorongan dari dalam perutnya masih saja tak mau berhenti dan seolah terus meremaaaas lambungnya hingga benar-benar kosong.
Peluh dingin pun keluar deras dari pelipis Olivia dan membuat tubuhnya melemas. Setelah merasa sedikit membaik, dia pun mencoba berdiri dan menyiram sisa muntahannya agar keluar melewati saluran pembuangan.
Alzam meraih gayung dari tangan sang istri dan meminta sang istri untuk duduk lebih dulu di depan.
“Biar aku yang beresin ini. Kamu duduk di sana dulu aja,” ucap Alzam.
Pemuda itu memapah sang istri untuk duduk di kursi yang ada di rumah tamu, lalu pergi ke kamar mengambil minyak kayu putih. Alzam lalu membalurkan minyak tersebut ke permukaan perut, tengkuk dan juga pelipis Olivia.
“Gimana? Mendingan nggak?” tanya Alzam.
Olivia hanya mampu mengangguk. Rasanya tak ada tenaga untuk bicara. Tubuhnya benar-benar lemas.
Alzam lalu pergi ke belakang dan membersihkan kamar mandi dari sisa muntahan sang istri, lalu membuatkan air jahe hangat untuk meredakan mual yang dialami Olivia.
Namun, belum juga Alzam selesai membuat air jahenya, Olivia kembali berlari ke kamar mandi dan muntah kembali.
__ADS_1
Kali ini, tak banyak yang bisa dia keluarkan karena hampir semuanya sudah ia muntahkan sebelumnya. Tenggorokannya terasa terbakar karena cairan lambung yang ikut naik ke atas dan membuat mulutnya terasa pahit.
Alzam kembali meninggalkan dapur dan membantu Olivia di kamar mandi, memijit tengkuknya lagi agar sang istri merasa lebih baik.
Setelah merasa muntahnya berhenti, Alzam kembali memapah Olivia duduk. Dia cepat-cepat menyelesaikan air jahenya dan segera meminumkan kepada sang istri.
“Kamu minum dulu biar perutnya mendingan,” seru Alzam.
Olivia menurut dan meminumnya sedikit demi sedikit. Wajahnya sudah pucat dengan keringat dingin yang terus membanjiri tubuhnya, hingga pakaian yang dia gunakan pun ikut basah.
Olivia bersandar di kursi dengan Alzam yang setia memberikan pijatan di pelipis Olivia.
“Kita ke dokter aja ya habis ini,” seru Alzam.
Olivia menggeleng. Dia tak mau merepotkan Alzam hanya untuk urusan seperti ini.
“Tapi kamu pucet banget. Aku khawatir sama kamu,” ucap Alzam.
“Paling cuma masuk angin doang, Mas. Udah beberapa ini hari kita selalu bobo nggak pake baju lho. Bisa aja kan,” jawab Olivia.
“Apa jangan-jangan gara-gara rujak semalam? Kamu kan makannya banyak banget kek nggak makan berhari-hari aja,” terka Alzam.
“Bisa jadi sih. Tapi kan udah keluar semua. Paling bentar lagi juga udah baikan,” sahut Olivia keukeuh.
“Tapi...,” sanggah Olivia.
“Ngak ada tapi-tapian. Aku bakal terus ngawasin kamu di rumah sampe kamu beneran baik-baik aja,” sela Alzam cepat.
Bukannya kesal, Olivia justru tersenyum dan menggelayut di lengan sang suami dengan manja.
“Asiiikk... Mas Al mau nemenin aku bolos kuliah. Hihihi...,” sahut Olivia.
“Dasar kamu nih. Ya udah, kamu duduk sini dulu biar aku lanjutin masaknya,” seru Alzam.
“Maaf ya, Mas. Aku jadi nggak bisa bantuin,” sahut Olivia.
“Nggak papa, Sayang. Kamu istirahat aja dulu yah. Habisin jahenya biar seger lagi,” seru Alzam.
Olivia mengangguk dan membiarkan sang suami menyelesaikan membuat sarapan sendiri.
__ADS_1
Alzam pun kembali menyelesaikan apa yang tadi dia tinggalkan. Dia kembali mengupas bawang dan lalu memblendernya. Bau khas bawang pun tercium semakin pekat di udara dan mencapai rumah tamunya.
Olivia yang berada di sana, lagi-lagi merasakan perutnya kembali bergejolak hebat dan membuatnya berlari ke kamar mandi untuk ke sekian kalinya.
Alzam pun kembali harus meninggalkan acara memasaknya dan menemani Olivia yang kembali muntah. Sudah tak ada lagi makan di perut sang istri. Hanya ada air jahe yang tadi di minumnya dan semunya pun ikut keluar.
Perempuan itu benar-benar kehilangan tenaga hingga dia pun tak bisa berdiri tegap dengan kakinya.
Alzam dengan cekatan langsung mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke tempat tidur. Dia mendudukkan perempuan itu di atas ranjang dan kembali membalur perut serta tengkuknya dengan minyak kayu putih.
“Kenapa bisa muntah lagi?” tanya Alzam.
“Nggak tahu. Tiba-tiba aja mual,” ucap Alzam.
“Udah ya. Kamu nurut. Kita ke dokter habis sarapan,” seru Alzam.
“Tapi...,” sanggah Olivia.
“Nggak ada tapi-tapian, Liv. Kamu harus diperiksa. Kalo perlu biar di kasih cairan infus sekalian,” sela Alzam.
“Mas...,” panggil Olivia.
“Liv, lihat diri kamu. Kamu pucet banget lho. Pokoknya kamu harus nurut. Nasinya udah matang. Telornya juga hampir. Kita sarapan sekarang terus pergi cari dokter. Oke,” seru Alzam.
Olivia tak bisa menolak. Dia tak punya pilihan lain selain menurut. Lagipula, perempuan itu pun merasa sudah tak ada tenaga lagi. Jika nanti dia muntah lagi, bisa-bisa dia benar-benar akan diopname di rumah sakit, dan itu pasti akan lebih menyusahkan Alzam.
Karena perutnya yang masih belum sepenuhnya baikan, Alzam pun tak memaksa perempuan itu untuk makan banyak seperti biasanya.
“Kalo makan telur ini tambah enek, ku bikinin tempe goreng aja yah,” tawar Alzam.
Olivia menggeleng. Dia tak mau merepotkan sang suami lagi. Setelah berusaha memakan sarapannya, Olivia dibantu Alzam berganti pakaian dan bersiap untuk pergi ke dokter.
.
.
.
.
__ADS_1
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁