
“Sekarang terserah sama kamu, Mas. Aku udah lawan rasa takut aku buat ungkapin semua ke kamu. Aku akan terima apapun keputusan kamu. Aku akan coba ikhlas sekalipun itu yang terburuk,” pungkas Olivia.
Perempuan itu sudah tak mau berharap terlalu banyak. Dia yakin jika saat ini, Alzam pasti marah dan kecewa mendengar masa lalunya yang seperti itu
Meski semua itu bukan sepenuhnya kesalahannya, akan tetapi itulah yang terjadi, dan akan selalu membekas di ingatan Olivia sampai kapanpun.
Olivia tertunduk. Dia tak sanggup jika harus menatap wajah suaminya, yang mungkin saat ini sedang merah padam menahan emosi.
Namun, tiba-tiba Alzam mengurai pelukannya dan sedikit menjauhkan wajah dirinya dari sang istri, agar bisa melihat dengan jelas rupa perempuan yang beberapa saat lalu, dengan beraninya mengungkap masa lalunya yang begitu menyakitkan.
Pemuda itu meraih dagu Olivia, dan menuntun sang istri agar mengangkat wajahnya. Tanpa kata-kata, Alzam seketika mengecup bibir perempuan itu, dan membuat Olivia terkejut bukan main.
Dia tak menyangka, jika Alzam akan menjawab semuanya dengan sebuah kecupan. Bahkan kecupan itu tak langsung lepas, melainkan Alzam berlanjut memagut bibir Olivia.
Pagutan itu semakin lama semakin panas dan dipenuhi h*srat. Alzam terus melumaaat bibir atas dan bawah Olivia, hingga keduanya terasa kebas. Belum lagi lidahnya yang bergerak semakin lincah dan liar di dalam rongga mulut perempuan itu. Olivia sampai dibuat kepayahan karena merasa permainan Alzam berbeda dari biasanya. Dia hanya bisa mengimbanginya, dan memeluk erat leher sang suami, sambil sesekali meremaaaas rambut belakangnya.
Tangan Alzam pun bergerak menggerayangi setiap inci kulit mulus sang istri, hingga tak terasa piyama atasnya telah terbuka dan memampangkan dada yang masih terbalut bra itu.
Alzam melepas pagutannya di bibir Olivia. Dia kemudian mulai menjelajah turun ke bawah, mengecup dagu, dan semakin turun menyerang lehernya. Gigitan kecil bak sengat, Alzam berikan hingga jejak merah kehitaman tertinggal di sana. Tak hanya satu, namun banyak ia ciptakan jejak merah di atas kulit sang istri.
Olivia berkali-kali mengerang lirih setiap kali Alzam berhasil mengukir jejak kepemilikan di atas tubuhnya.
Pemuda itu lalu kembali naik dan menjilati daun telinga sang istri, hingga membuat Olivia merasakan getaran yang hebat, antara geli namun juga nikmat.
__ADS_1
“Malam ini, aku bakal hapus semua jejak laki-laki br*ngsek itu di tubuh kamu, sampai kamu hanya akan melihat jejak ku saja saat kamu bercermin, Sayang,” bisik Alzam dengan nafas yang memburu, hangat menerpa permukaan kulit Olivia yang sensitif, membuat wajahnya semakin merona.
Alzam kembali turun dan menghujani setiap jengkal kulit Olivia dengan ciuman serta jejak-jejak merah yang begitu indah. Erangan dan rintihan terus keluar dari mulut perempuan itu, membuat Alzma semakin kesetanan.
Perempuan itu pasrah. Dia hanya bisa menerima semua perlakuan sang suami malam ini.
Kedua gundukan sintalnya yang telah bebas dari belenggu, bahkan sampai tak tersisa warna putih sedikitpun. Semua nampak merah kehitaman karena ulah Alzam. Puas bermain di sekitar dada dan perut, Alzam membalik tubuh Olivia, hingga perempuan itu sedikit membungkuk membelakangi alzam, dengan kedua tangan yang bertumpu di depan.
Dia kembali beraksi, dengan mengecupi pundak, tengkuk, dan turun ke punggung, hingga ke pinggang.
Saat sampai di bawah, Alzam menurunkan celana tidur sang istri hingga nampaklah segitiga yang menutupi area inti Olivia.
Alzam susah payah meneguk salivanya, dan segera melepas kain tersebut dari tubuh sang istri, hingga dia bisa melihat dengan jelas milik Olivia yang telah basah, dengan hutan rimbun yang menutupi sisinya.
Alzam mengecup puncak kepala sang istri sambil merapalkan doa, sebelum ia menggaahi perempuan itu.
Dengan perlahan, Alzam mulai mendorong masuk sobat kecilnya, dan bergerak maju mundur berirama, mengguncang tubuh Olivia yang berada di bawah kungkungannya.
Rasa cemburu, amarah, kecewa, rindu, sedih, takut, dan bersalah, melebur menjadi satu dalam g*irah yang saat ini coba mereka salurkan.
Semakin lama gerakan Alzam semakin cepat, menghentak, menabrak dinding rahim sang istri, membuat Olivia terus mendesaaaah dan merintih penuh kenikmatan.
Hingga sampailah mereka di ujung nirwana, dan melepaskan seluruh h*srat yang membebaskan kekalutan jiwa keduanya.
__ADS_1
Alzam ambruk di atas tubuh sang istri setelah mencapai pelepasannya, dan menciumi wajah perempuan itu bertubi-tubi, sambil mengucapkan kata cinta berkali-kali.
Dia melepas penyatuan mereka dan berbaring di samping Olivia. Dengan lengan kekarnya, Alzam membawa sang istri ke dalam dekapannya dan memeluknya dengan erat.
Nafasnya masih terasa memburu, dengan degupan jantung yang begitu cepat. Dia mencium kening sang istri sambil mencoba meredakan debaran di dadanya, dan mengatur nafasnya agar kembali normal.
“Mulai sekarang, setiap kamu melihat tubuhmu, kamu hanya akan ingat sama aku aja, karena aku udah ganti semua jejak mereka dengan milikku,” ucap Alzam.
Olivia tertegun mendengar penuturan sang suami. Alzam yang melihat Olivia hanya diam pun kembali mengecup kening sang istri dan memeluknya semakin erat.
“Maafin aku ya, Liv. Maafin aku,” ucap Alzam.
Olivia pun membalas pelukan sang suami tak kalah erat. Dia merasa benar-benar bahagia. Rasanya benar-benar begitu ringan, setelah dia mengungkapkan semua hal yang menjadi beban pikirannya selama ini kepada sang suami.
Malam ini, keduanya memutuskan untuk tidak lagi membahas masalah Nathan, dan melewatinya dengan penuh kemesraan.
.
.
.
.
__ADS_1
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁