CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
What?!


__ADS_3

Malam menjelang, selepas sholat isha, Alzam memilih menonton TV sementara Olivia terlihat memainkan ponselnya. Entah apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu dengan gawainya.


Awalnya, Alzam berencana untuk meminta Olivia memijitnya, setelah semua pekerjaan rumah yang ia lakukan seharian ini, ditambah berbelanja kebutuhan sejak tadi sore.


Namun, keisengannya sendiri yang bermaksud menggoda Olivia, dengan menunjukkan sebuah gaun malam pada gadis itu, mendapat respon biasa saja dari sang istri. Olivia bahkan balik membuat Alzam menganga dan tak bisa lepas dari bayang-bayang gaun malam yang lebih seksi, yang Olivia miliki di rumah mereka bahkan tanpa sepengetahuannya.


Setiap kali Alzam membayangkannya, hanya dengan berandai-andai rupa benda seksi tersebut, angry bird nya mendadak tegang dan membuat celananya penuh sesak. Dia pun akhirnya urung meminta Olivia memijitnya, karena khawatir tak bisa menahan hasratnya.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Alzam memutuskan untuk menyudahi acar nonton TV, yang bahkan acaranya sama sekali tak ia perhatikan sejak tadi.


Karena sudah kebiasaan, Alzam pun pergi ke kamar mandi dan mengambil air wudhu sebelum tidur. Tak lupa juga dia menggosok giginya.


Saat baru saja masuk ke kamar, netra Alzam belum bisa melihat jelas di remangnya cahaya ruangan tersebut.


Dia pun mencoba diam sejenak, membiasakan matanya dengan pencahayaan yang minim, yang Olivia paling suka untuk suasana tidurnya. Karena hanya ada satu lampu di dalam kamar, sehingga saat dimatikan, hanya ada pantulan cahaya dari lampu teras yang menjadi bantuan penglihatan.


Setelah merasa jelas, Alzam pun berjalan ke arah tempat tidur. Baru saja dia duduk di tepi ranjang, ujung jarinya sudah bisa menyentuh tubuh sang istri.


Dia baru ingat jika ranjang mereka kali ini lebih kecil, dan bisa dibilang jauh lebih sempit dari ranjang Olivia yang ada di rumahnya. Memang bukan hal baru mereka tidur di ranjang berukuran seperti ini, karena di rumah Bu Aminah pun mereka tidur di ranjang Alzam yang berukuran hampir sama kecilnya.


Namun, semua ini gara-gara gaun malam super seksi yang dikatakan oleh Olivia, membuat pemuda itu menjadi tak tenang kembali.


Alzam pun kembali bangun dari duduknya dan hendak keluar dari kamar, lalu tidur di kursi depan, akan tetapi baru saja satu langkah menjauh dia ingat kembali kata-katanya pada sang istri, bahwa dia akan memperlakukan Olivia dengan baik selayaknya seorang istri.


Kalau aku tidur diluar, pasti Olivia bakalan nanya macem-macem deh. Duh... Bro, bisa tenang nggak sih? Batin Alzam, sambil melihat ke bagian tubuhnya yang sejak tadi terus bangun.


Alzam pun mengusap wajahnya dan menarik nafas dalam. Dia berusaha beristighfar beberapa kali dan akhirnya memutuskan untuk tidur bersama Olivia.


Karena ranjang yang sempit, Olivia yang sebelumnya tak pernah menyerang wilayah kekuasaan Alzam, malam ini terus saja bergerak, mendusel-dusel di lengan, memeluk dan bahkan sebelah kakinya pun ikut naik, layaknya sedang memeluk sebuah bantal guling.


Sementara Alzam, terus menyingkirkan kaki dan tangan Olivia, namun gadis itu seolah enggan dan terus memeluk suaminya semakin erat.


Kepalanya terus bergerak di pundak Alzam, sementara lengannya memeluk sang suami. Yang lebih membuat Alzam tak tenang, lutut Olivia yang naik ke atas perutnya, bergerak menggesek bagian tegang yang sudah membuat pemuda itu gelisah sejak sore tadi.


Alzam pun hanya bisa berbaring kaku dengan posisi telentang ke atas. Matanya tak bisa terpejam karena kelakuan tidur Olivia.

__ADS_1


...☕☕☕☕☕...


Keesokan harinya, Alzam yang semalaman tidak bisa tidur pun merasa sangat mengantuk. Sampai pukul empat pagi, dia hanya sesekali terlelap dan kemudian kembali bangun karena gerakan Olivia yang membuat dirinya tak nyaman. Akhirnya, Alzam memutuskan bangun dan sholat malam, kemudian dilanjut dengan membaca Al-Quran hingga menjelang subuh.


Adzan berkumandang cukup keras, mengingat rumah tersebut berada dekat dengan masjid perumahan. Berbeda dengan rumah keluarga Abimana, yang hanya bisa mendengar sayup-sayup dari kejauhan suara panggilan sholat tersebut.


Alzam pun kemudian membangunkan sang istri untuk sholat subuh. Dengan lembut, Alzam mengguncang pundak sang istri yang tertutupi selimut.


“Liv, bangun. Udah subuh. Oliv, ayo bangun,” seru Alzam.


Olivia mengerang kecil sambil ngulet, meregangkan ototnya yang kaku setelah tidur semalaman.


“Udah subuh ya, Mas?” tanya Olivia.


Mata gadis itu masih terpejam, akan tetapi tubuhnya sudah duduk di atas tempat tidur. Matanya berusaha menyesuaikan cahaya di sekitarnya, karena Alzam telah menyalakan lampu sejak sholat malam tadi.


Olivia menoleh ke kana dan kiri, mencoba mencari ikat rambutnya yang ia lupa diletakkan di mana.


Alzam seolah tahu kebiasaan sang istri yang akan mengikat rambutnya saat bangun pagi pun, mengambilkan benda bulat itu dari atas meja rias yang bisa dijangkau tangannya.


“Makasih, Mas,” sahut Olivia.


Setelah mengikat rambutnya, Olivia kemudian berdiri dan hendak menuju ke kamar mandi. Sementara itu, Alzam menyiapkan sajadah dan juga mukenah untuk sang istri.


Tak berapa lama, Olivia sudah kembali dan terlihat lebih segar. Gadis itu mengenakan mukenahnya yang menutupi seluruh tubuh.


Entah kenapa, Alzam selalu merasa berdesir setiap kali melihat kepala Olivia tertutupi seperti itu. Rasanya, kecantikan sang istri bertambah berlipat-lipat dari sebelumnya, membuat jantungnya berdegup kencang.


Alzam tak pernah sanggup berlama-lama memandangi wajah istrinya yang seperti itu. Dia tak mau nanti sholatnya tak khusuk, karena terus terbayang wajah Olivia yang membuat dadanya berdebar tak menentu.


Hal itulah yang membuat Alzam tak pernah melewatkan momen selepas sholat, di mana Olivia akan mencium punggung tangan Alzam, dan saat itulah dia mengecup dalam-dalam kening sang istri, menyalurkan getaran yang ia tahan sejak tadi.


Tiba-tiba saja, gadis itu melontarkan beberapa pertanyaan sepasca sholat subuh, yang membuat Alzam hampir tergelak.


“Mas, aku perhatiin kok pemimpin sholat malah sering lupa gerakan sholat sih?” tanya Olivia dengan polosnya.

__ADS_1


“Ehm? Maksdunya?” tanya Alzam bingung.


“Iya, lupa. Nih ya, tadi aja kamu cuma 2 kali berdiri lho, giliran siang ehm... Duhur maksudku, kamu berdiri empat kali. Sore juga sama empat. Giliran maghrib cuma tiga. Habis itu malemnya balik lagi empat. Kemarin pas di rumah Papah juga Mang Udin gitu. Lupa juga kayak kamu,” ungkap Olivia.


Alzam mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan dari sang istri yang menurutnya sangat konyol. Dia hampir tergelak mendengar hal tersebut, namun Alzam menahannya mengingat pengetahuan Olivia tentang ilmu agama yang nyaris tak pernah didapatkan sejak kecil.


Awalnya, Alzam hendak langsung menjawab, namun dia seketika mendapat ide bagus untuk mengisi kekosongan ilmu Olivia akan ajaran agama Islam.


Dia pun kemudian mencondongkan wajahnya ke depan sang istri, dengan senyum yang mengembang sempurna.


“Gimana kalau kamu mulai ikut pengajian mingguan aja?” ucap Alzam.


“What? Pengajian? Noooooo!” elak Olivia.


.


.


.


.


Hai bestie ku semuanya 😁maaf baru bisa nyapa kalian🙏 karena kesibukan real life yang luar biasa padat, jadi kemungkinan aku up nggak tentu waktunya😅


Tapi, aku bakal usahain buat up tiap hari buat kalian yang udah sudi ngikutin cerita receh ku ini😘


untuk next nya, tiap sabtu minggu dan tanggal merah aku cuma bisa up sekali aja buat sempetin ngurus bocil di rumah🙏


Untuk hari-hari lainnya, aku usahain doble up atau kalau memungkinkan triple up👏👏👏👏


so, tungguin terus cerita eneng Oliv sama mas Al yes bestie 🥰


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁

__ADS_1


__ADS_2