
"Hai Anika, ini, ada titipan buat kamu dari Narendra", Ayu tiba-tiba datang menghampiri dan memberikan beberapa lembar photo copy bahan tugas.
"Ok, makasih, Yu", jawab Anika pendek sambil tersenyum. Ayu menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi.
Anika menarik nafas panjang dan seperti biasa, dia memilih untuk pergi ke taman fakultas untuk memeriksa lembar photo copy itu.
.
.
Flashback
"Ok, tugas makalah ini dikumpulkan tiga hari lagi, ya", ucap Bu Murni sebelum ia meninggalkan kelas.
"Baik, Bu", jawab mahasiswa serentak, termasuk Anik.
Setelah kelas Bu Murni usai, sesuai dengan pembagian kelompok besar yang sudah ditentukan, semua kelompok berkumpul untuk membagi kelompok besar itu menjadi beberapa kelompok kecil.
"Guys, kita kumpul di lorong", Narendra menatap satu per satu anggota kelompok besarnya.
Tak butuh waktu lama, sepuluh orang anggota kelompok besar sudah berkumpul di lorong dekat kelas mereka tadi.
"Ok, jadi sistem pembagian kelompok kecilnya pakai gulungan kertas kecil ya seperti arisan. Nanti tiap putaran ambil dua kertas dan itu jadi kelompok kecil satu dan seterusnya", Narendra menjelaskan sambil membuat potongan kertas kecil dibantu Ara yang mengisi kertas itu dengan nama semua anggota kelompok.
Semua anggota kelompok besar itu, termasuk Anika nampak menganggukkan kepala.
"Siap ya, aku kocok nih", Ara mulai mengocok semua gulungan kertas yang ada di tangannya.
Dua gulungan pertama keluar, ada nama Amalia dan Yanti. Lalu gulungan kedua keluar, ada nama Maya dan Bagus, kemudian dua gulungan ketiga, ada nama Anika dan Ara. Dua gulungan keempat, ada nama Putra dan Arni, hingga akhirnya gulungan terakhir keluar, ada nama Narendra dan Siska.
"Ok, diingat-ingat ya nama pasangan kelompok kecilnya", pesan Ara setelah selesai mengocok semua kertas.
"Tunggu, aku minta diulang", sergah Narendra.
"Kenapa, Ren?", tanya Putra heran.
"Pokoknya diulang aja. Tadi kan sempat ada kertas yang lama keluar ya. Seharusnya begitu dikocok, ya langsung keluar dua gulungan", ujar Narendra beralasan.
"Gak perlu, udah jelas ini kok nama-nama di kertas itu", ucap Siska yang tampak keberatan jika harus diubah lagi formasi kelompok kecil itu.
"Aku ketua kelompok besar, jadi please, ulang lagi kocokannya", instruksi Narendra otoriter.
Semua anggota kelompok yang sudah terpilih itu menghela nafas, begitu pula dengan Anika yang sebelumnya sudah senang bisa sekelompok dengan Ara.
__ADS_1
"Ck, ya udah kita ulang lagi", jawab Ara yang memang tidak ingin ribut hanya karena hal kecil. Teman-teman yang lain pun pasrah.
Ara kembali mengocok gulungan kertas sebelumnya dan sesuai dengan instruksi Narendra, sekali kocok harus ada dua kertas langsung yang keluar.
"Ini kertas terakhir, isinya Narendra dan Anika", ujar Ara sesaat setelah membuka dua gulungan kertas di depannya.
"Ok, fix", jawab Narendra cepat dengan wajah sumringah, sedangkan Anika hanya menarik nafas dalam.
.
.
"Serius amat, Nik. Lagi apa?", tanya Laras yang baru saja datang menyusul Anika.
Ya, kelompok Laras masih berkutat dengan pembagian kelompok kecil, jadi Anika selesai lebih dulu.
"Lagi cek ini, Ras", Anika menunjukkan beberapa lembar kertas photo copy yang tadi diberikan Ayu.
"Oh, bahan tugas Bu Murni, ya?", tanya Laras memastikan. Anika menjawabnya dengan anggukkan.
"Aku juga dapat nih. Tapi untungnya aku sekelompok sama Jaka, dia lumayan encer juga kan isi kepalanya", seloroh Laras sambil menunjukkan kertas photo copy miliknya.
Anika tersenyum tipis, "Enak ya sekelompok sama Jaka. Coba aku, sekelompok sama Narendra", keluh Anika.
Meski agak malas, tapi akhirnya Anika menceritakan pembagian kelompok yang tadi dia ikuti. Laras menyimak dengan seksama.
"Wah, jangan-jangan ada maksud tuh si Narendra sama kamu", celoteh Laras asal.
Anika mengernyitkan dahi, "Enggak lah, Ras. Sial banget aku sekelompok sama dia. Masa dia kasih bahan buat makalahnya yang susah gini, padahal aku udah tandai loh bahan yang serupa tapi lebih simpel dari ini", keluh Anika.
Ya, di kelas Bu Murni memang diisi oleh gabungan mahasiswa kelas A dan juga kelas B, jadi wajar saja jika Anika terpaksa harus sekelompok dengan Narendra.
Laras terkekeh, "Narendra pasti ngerjain kamu, Nik. Aku gak nyangka dia seniat itu".
Anika mengerucutkan bibirnya, kesal.
"Eh tapi Nik, percaya deh, dia pasti totalitas bantu kamu menyelesaikan tugas ini", lanjut Laras.
"Tahu ah, malas aku. Mana tadi dia pakai nyuruh si Ayu lagi buat kasih ini ke aku. Sok kecakepan banget sih dia", Anika masih kesal.
Tawa Laras pun meledak, "Kenapa, Nik? cemburu?", goda Laras.
"Idih siapa yang cemburu, aku juga kesal aja, Ras. Udah kelompok kecil dia atur ulang, bahan makalah seenaknya dia ganti, pakai nyuruh si Ayu lagi yang kasih, bukannya dikasih langsung. Kan aku jadi mempelajari ini sendirian, Ras", omel Anika.
__ADS_1
Laras menahan tawanya. Ya, pemandangan seperti ini jarang dilihatnya.
"Iya deh sorry. Hmm...tapi percaya deh Nik, Narendra pasti gak akan biarin kamu ngerjain tugas ini sendiri. Lagian ya, kamu enak bisa sekelompok sama anak cerdas kek dia", Laras masih saja membela Narendra.
"Ih gak gitu juga, Ras. Justru biasanya mahasiswa yang cerdas itu suka seenaknya", protes Anika tak setuju.
"Gak semuanya kek gitu. Kali aja si Narendra beda, Nik. Lagian kan ini kali pertama kamu sekelompok sama dia. Udah, jalanin aja dulu", seloroh Laras santai.
"Jalanin aja dulu, dikira kita apaan. Ya, semoga aja deh dia bisa berpartner dengan baik sama aku", harap Anika pasrah.
"Pasti bisa, secara dia aslinya perhatian kok sama kamu".
"Maksudnya, Ras?", Anika heran.
"Eh, enggak. Maksud aku, dia kan aslinya anak baik, pasti perhatian lah sama teman sekelompok cuma pembawaan dia aja yang kadang dingin", Laras melarat ucapannya.
Anika mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Huufftt hampir aja kelepasan", bisik Laras dalam hati.
Hari semakin siang, Anika dan Laras memilih kembali ke kosan bersama-sama.
"Hai, kalian mau pulang", sapa Abimanyu saat Anika dan Laras melewati parkiran.
"Hai, Bi. Iya nih kita mau pulang", jawab Laras cepat.
Anika tersenyum manis ke arah Abimanyu. Ada desiran tak biasa di hati Abimanyu saat melihat senyuman itu.
"Ras, besok kita garap ya makalah kelompok", sahut Jaka yang juga ada di sana.
"Sip. Nanti kontak aku aja, biar kita cocokkan waktu. Aku sama Anika pamit duluan, ya", jawab Laras.
"Ok", respon Jaka cepat.
Anika tidak berbicara sepatah kata pun. Dia juga hanya tersenyum ke arah Jaka yang sudah siap menunggangi kuda besi miliknya itu.
"Hei, Bi, ayo naik", Jaka menyikut lengan Abimanyu yang masih terpaku melihat kepergian Laras dan Anika.
"Oh, iya, bentar", jawab Abimanyu terperanjat.
"Ngapain sih, Lo? serius amat lihat Anika sama Laras", Jaka ikut mengalihkan pandangannya ke arah dua teman wanita yang sudah berlalu itu.
Abimanyu tersenyum tipis, "Cantik", ucapnya lirih hampir tak terdengar oleh Jaka.
__ADS_1