CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Kedatangan Keluarga Leon


__ADS_3

Bulan merangkak semakin tinggi di atas sana, menyinari setiap jengkal kehidupan yang ada di bumi, yang membuang muka pada sang matahari.


Alzam masih setia menunggui istrinya yang belum sadarkan diri di ruang rawat rumah sakit.


Matanya enggan terpejam. Meski raganya begitu lelah. Yang ada dipikirannya hanyalah kesembuhan Olivia.


Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah luar, dan seseorang membuka pintu ruangan tersebut, membuat Alzam seketika menegakkan punggungnya dan menoleh ke arah pintu masuk.


Nampak tiga orang menyerbu ke dalam, satu diantaranya adalah sahabat dari sang istri, Leon.


Seorang wanita paruh baya seusia Mamah Ros dan terlihat anggun, segera menghampiri ranjang Olivia dan melihat kondisi perempuan malang tersebut.


“Ya ampun Oliv. Kenapa kamu bisa sampe begini?” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


“Apa mertuamu sudah diberi tahu?” tanya seroang laki-laki bertubuh tinggi besar dengan suara yang begitu bulat.


“Be... Belum. Tapi maaf, Anda berdua siapa yah?” tanya Alzam.


“Ini bokap sama nyokap gue, Bang. Mereka langsung minta kesini begitu tau kalo Oliv habis dapet musibah,” sahut Leon.


Pemuda itu melemparkan dirinya ke atas sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.


“Kita udah denger semuanya dari Leon. Maaf kalo tiba-tiba dateng dan ngagetin kamu. Tapi, apa mertuamu sudah di kasih tahu?” tanya wanita yang tak lain adalah ibu Leon, Dewita.


Alzam menggeleng pelan.


“Sebaiknya, kamu kasih tau mereka. Mereka juga berhak tau apa yang sudah terjadi sama anak mereka,” bujuk Tante Dewi.


Melihat Alzam yang diam, Leon pun kembali bersuara untuk membatu suami sahabatnya itu.


“Keknya jangan sekarang deh, Mah. Seenggaknya nunggu sampe si brengs*k itu terbukti bersalah, baru kita kasih tau Oom Abi sama Tante Ros,” ucap Leon.


“Kenapa, Yon? Bukannya lebih bagus kalau mereka tahu sekarang, jadi mereka juga kan bisa ikut mencari solusi tentang masalah ini,” sahut Tuan Agung.


“Mamah sama Papah belum tau kan kalau Tante Ros itu justru dukung si Nathan balikan sama Oliv, dan malah mau misahin Oliv dari suaminya?" ucap Leon.


Tuan Agung dan Tante Dewi terlihat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh putranya itu.


"Kalo Tante Ros tahu masalah ini, yang ada dia bakalan cari Nathan dan minta penjelasan. Kalo Nathan manfaatin Tante Ros dan ngarang cerita yang salah gimana? Tante Ros itu percaya banget sama cowok itu. Jadi mending pending dulu deh ngomong ke merekanya, sampe Oom Yusman berhasil nyelesein kasus ini,” jelas Leon.

__ADS_1


“Ya ampun, Rossy. Kamu kok gitu banget sih. Aku nggak nyangka,” gumam Tante Dewi.


Alzam melihat wanita itu begitu perhatian kepada sang istri. Berbeda jauh dengan dengan ibu mertuanya sendiri yang adalah ibu kandung dari Olivia.


Alzam pun lalu mempersilakan Tante Dewi untuk duduk di kursi yang sejak tadi di dudukinya, sementara dirinya berpindah duduk di samping Leon, begitu pun dengan Tuan Agung.


“Kamu yang sabar ya, Zam. Kita tunggu beberapa saat lagi. Semoga ada kabar baik tentang perkembangan kasus ini,” ucap Tuan Agung.


“Makasih, Oom,” sahut Alzam.


“Oh ya, gimana kata dokter? Oliv sama bayinya baik-baik aja kan?” tanya Leon.


“APA?!” sahut Tante Dewi dan Tuan Agung bersamaan.


Keduanya terkejut mendengar perkataan putra mereka tadi.


“Kamu tadi bilang apa? Bayi? Oliv... Oliv hamil?” tanya Tante Dewi.


“Iya, Tante. Usianya hampir dua bulan. Oliv keukeuh nggak mau kasih tau orang tuanya masalah kehamilan pertamanya ini. Jadi, aku cuma bisa nurutin maunya dia,” ucap Alzam.


“Ya Tuhan, Liv. Kasian banget kamu, Nak. Dapet musibah kek gini pas lagi hamil pula. Pasti berat banget buat kamu,” ucap Tante Dewi.


Kali ini wanita paruh baya itu bahkan sampai menitikkan air matanya, karena merasa sangat kasihan dengan kondisi perempuan malang yang masih tertidur di depannya.


“Udah. Kata dokter nggak ada pemerkosaan, tapi ada tindak kekerasan di sana dan indikasi yang menjurus ke hal tersebut. Laporannya ada di dalam laci sana,” jawab Alzam.


Leon pun lalu berdiri dan berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh Alzam tadi. Dia membuka laci nakas dan mengambil dokumen yang disimpan Alzam di dalam sana.


“Good! kalo gitu, biar gue bawa ke Oom Yusman sekarang. Pasti dokumen ini bakal ngebantu banget,” ucap Leon.


“Kamu hati-hati di jalan. Nggak usah ngebut,” pesan Tante Dewi.


“Siap, Nyonya,” sahut Leon.


Dia pun mencium pipi sang bunda dan kemudian pergi ke luar dari sana, untuk menemui pengacara perusahaan ayahnya.


Tak berapa lama, Tuan Agung dan istrinya pun pamit. Tapi sebelum itu, Alzam meminta keduanya untuk tetap merahasiakan masalah ini dari siapapun, sampai semuanya bisa diatasi. Terlebih mengingat Olivia sebagai korban, dan dia masih dalam kondisi psikis yang belum stabil.


Alzam tak mau sang istri semakin tertekan, karena pasti akan menjadi pemberitaan di mana-mana jika sampai kasus ini terungkap ke publik, meskipun dia tau suatu saat pasti akan terungkap juga nantinya.

__ADS_1


Keduanya pun berjanji untuk menutupinya sementara waktu ini, dan mencoba yang terbaik untuk membantu pasangan muda tersebut.


Seperginya Tuan Agung dan istrinya, Alzam kembali duduk di samping ranjang Olivia. Dia kembali meraih tangan perempuan itu dan menempelkannya di pipi. Entah kenapa, Alzam begitu merindukan Olivia yang saat ini bahkan berada di depannya.


“Kamu cepat pulih ya, Sayang. Aku pengin pulang ke rumah bareng kamu, masak bareng kamu, digangguin kamu, aku pengin ngerjain kamu lagi, aku pengin kita kayak sebelumnya. Baru beberapa jam aja aku udah kangen masa-masa itu, Liv. Kamu yang kuat ya, Sayang. Demi aku, demi anak kita,” ucap Alzam lirih.


...☕☕☕☕☕...


Di tempat lain, di dalam sebuah mobil, terlihat pasangan pria dan wanita yang tengah berbincang serius perihal sesuatu yang kini sedang menimpa anak sahabatnya.


“Pah, kalo nggak salah yang namanya Nathan itu kan anaknya pemilik retail X deparmen store itu kan?” tanya seorang wanita paruh baya yang cantik, sekaligus ibu dari Leon, Dewita.


“Kenapa emang?” tanya Tuan Agung.


“Nggak sih. Cuma kok Mamah kek pernah denger dari temen arisan Mamah, kalo dia tuh sering nongol di apartemennya CEO XYZ grup. Itu lho, pengusaha muda yang baru-baru ini masuk berita, dan didaulat sebagai enterpreneur muda berbakat,” jawab Tante Dewi.


“Maksud kamu, anaknya Pak Hartawan itu? Mia?” tanya Tuan Agung.


“Iya bener. Yang itu,” sahut Tante Dewi.


“Masa sih, Mah? Cuma gosip kali. Mia itu kan udah dijodohin sama orang lain. Lagi pula, Tuan Hartawan itu keras. Sekali anaknya bikin salah, semua yang udah didapet bakal dicabut lagi, kecuali kalo kesalahan itu menguntungkan pihaknya,” ucap Tuan Agung.


“XYZ grup itu kan bergerak di industri fashion kan, Pah? Kalo Mia ada hubungan sama pewaris X departemen store, bukannya bakal nguntungin dia yah? Mereka kan jadi bisa masaran produk dengan mudah di sana. Tempat bagus kek gitu,” timpal Tante Dewi.


“Iya, bener yang kamu bilang. Tapi, kenapa kita malah bahas masalah orang lain, dan bukannya cari solusi buat masalahnya Oliv?” tanya Tuan Agung.


“Duh si Papah. Justru itu solusinya. Mamah punya rencana bagus biar si Nathan itu berenti ngejar Oliv,” ucap Tante Dewi.


“Apaan, Mah?” tanya Tuan Agung.


“Hehehehe...,” sahut Tante Dewi dengan tawa anehnya.


.


.


.


.

__ADS_1


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁


__ADS_2