CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Gadis Awam


__ADS_3

Saat berada di kamar sang suami, bisa dilihat dengan jelas bahwa karakter agamis Alzam sangat terasa di kamarnya. Olivia sering melihat kamar teman lelakinya, dan hampir semua memiliki poster idola dan foto diri mereka yang terpasang dengan skala besar.


Pernak perniknya pun tak lepas dari apa yang mereka gemari, seperti deretan koleksi kaset musik, bola basket, gitar, vidio game, dan lain-lain. Bahkan untuk cat dinding pun kebanyakan mereka memilih warna gelap.


Namun di kamar Alzam, dindingnya bersih, tanpa ada satu lembar poster atau foto dirinya maupun orang lain. Hanya ada kaligrafi Tuhan sembahannya dan sang Rosul. Dindingnya pun berwarna putih. Di meja dan di rak buku yang menempel di dinding, terdapat banyak koleksi buku yang sudah dibaca oleh pemilik kamar tersebut, kebanyakan buku-buku islami.


Ada pula meja belajar serta lemari pakaian dua pintu yang berada di dekat jendela, dan lampu kamar yang terang benderang. Tak tampak apapun lagi di sana.


Saat mendekat ke arah meja untuk mencari sisir, Olivia melihat sebuah kitab, yang penuh dengan tulisan Arab. Dia sama sekali tak tahu kitab apa itu.


Dengan penasaran, dia pun mengambilnya dan membuka halaman demi halaman. Tak ada yang bisa ia baca dari sana. Sama sekali, tak sehuruf pun.


Suami gue baca buku apaan? Tulisannya Arab semua, batin Olivia.


Saat dia membolak-balikan kitab tersebut, Alzam masuk dan melihat apa yang dilakukan Olivia pada kitab sucinya. Dia pun berjalan dan menghampiri sang istri.


Alzam menarik laci mejanya dan mengambil sebuah sisir dari dalam sana, kemudian menyerahkannya kepada sang istri.


“Ini yang kamu cari,” ucap Alzam.


Olivia menoleh dan melihat sisir di tangan sang suami. Dia pun meraih benda tersebut, sementara Alzam mengambil kembali kitabnya.


“Baru lihat ini?” tanya Alzam sambil menunjuk ke arah kitab tadi.


Olivia hanya mengangguk.


“Ini namanya Al Qur’an. Kitab suci seluruh umat muslim di dunia,” jawab Alzam.


Olivia masih terlihat tak paham dan terus melihat kitab yang dipegang oleh suaminya.


Melihat ketidaktahuan Olivia akan benda suci tersebut, ada rasa nyeri di hatinya. Dia merasa kasihan dengan Olivia, yang sejak kecil kurang sekali mendapatkan pengetahuan agama dari keluarganya.


Tanpa terasa, tangannya terulur dan meraih kepala sang istri. Dengan lembut, Alzam mengusap surai coklat gelap itu dengan tatapan sendi.


“Nanti kita belajar sama-sama ya,” ucap Alzam.


Olivia terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Alzam. Fokusnya bukan apa yang diucapkan sang suami, akan tetapi perlakuan lembut Alzam padanya saat ini.


Seolah terhipnotis, Olivia hanya mengangguk tanpa tahu apa yang dimaksud dari kata-kata Alzam.


Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib berkumandang, di masjid yang berada tak jauh dari rumah Bu Aminah.

__ADS_1


“Kamu di rumah sendiri nggak papa?” tanya Alzam.


“Hah? Kenapa sendirian? Emang kalian mau kemana?” tanya Olivia bingung.


“Kita semua mau ke mesjid buat sholat maghrib berjama'ah. Tadi siang kamu bilang kalau lagi haid kan? Jadi ya kamu ditinggal,” jawab Alzam.


“Oh... Ehm... Iya, aku emang lagi nggak sholat,” jawab Olivia terbata.


Dia hampir lupa dengan kebohongannya itu. Olivia masih enggan untuk sholat. Dia malu karena sama sekali tak tahu caranya dan harus bagaimana saat sedang melakukan sholat.


Dia tak mau mendapat malu di depan umum, sehingga dia selalu menghindar setiap kali Alzam mengajaknya untuk beribadah. Dia ingin belajar, tapi tak punya teman satu pun yang agamanya beres. Semuanya cuma tahu dugem, mabuk dan **** bebas.


Alzam lalu mengambil sebuah sajadah yang ada di lemari, dan menyampirkannya di pundak. Sebelum keluar, Alzam kembali berpesan pada sang istri.


“Jaga rumah baik-baik. Tunggu kami pulang ya,” seru Alzam.


Olivia pun mengangguk, dan kemudian Alzam menghilang di balik pintu kamar tersebut.


...☕☕☕☕☕...


Selepas sholat isha, semua berkumpul bersama di ruang tengah sambil menikmati camilan khas yang dibuat oleh Bu Aminah, kecuali Alzam yang sedang mengaji di dalam kamarnya selepas sholat isha tadi.


Janda beranak tiga itu memiliki usaha camilan berupa kue kering, dan memiliki sebuah kios di pasar terdekat. Setiap hari, Bu Aminah memproduksi sendiri basreng dang cipeng yang menjadi andalan kiosnya.


Dari usaha itulah, Bu Aminah dan suami mampu menghidupi ketiga anaknya, dan menguliahkan Alzam hingga sarjana, serta mencari biaya berobat sang suami yang sudah sakit sejak bertahun-tahun lalu.


“Ini Ibu yang buat sendiri?” tanya Olivia, saat menikmati cipeng buatan Bu Aminah.


“Iya. Biasanya ibu bikinnya pagi-pagi. Makanya kemarin-kemarin waktu Nak Oliv main ke sini cuma lihat yang basreng aja. Ini ibu spesial buatin untuk menantu ibu, yang malam ini lagi main ke sini,” sahut Bu Aminah.


“Makasih lho, Bu. Ini enak banget. Pedes. Oliv suka,” ucap Olivia.


“Sukur kalo suka,” sahut Bu Aminah.


“Kak Oliv mau nginep di sini kan?” tanya Zahra.


“Ehm, tanya sama Mas kamu dulu ya, Zahra. Kakak nggak berani mutusin. Bisa-bisa...,” sahut Olivia.


“Bisa-bisa apa?” sela Alzam.


Semua menoleh ke sumber suara. Rupanya, pemuda itu telah selesai membaca kitab sucinya, dan kini telah berganti pakaian dengan yang biasa ia pakai untuk bersantai.

__ADS_1


“Kamu udah selesai, Zam?” tanya Bu Aminah.


“Sudah, Bu,” sahut Alzam.


“Mas, Mas Azam sama Kak Oliv mau nginep di sini 'kan?” tanya Zahra lagi.


Alzam menoleh ke arah sang istri. Olivia justru mengedikkan bahunya tanda tak tahu, dan membuat Alzam paham dengan ucapan istrinya yang ia sela tadi.


“Nanti kita tanya ke orang tuanya Kak Oliv dulu ya, Ra,” jawab Alzam kemudian.


“Ya udah deh,” sahut Zahra kecewa.


Alzam kembali melihat sang istri, yang sejak tadi terus mengambil cipeng buatan ibunya. Entah sudah berapa banyak makanan pedas itu masuk ke perut Olivia.


“Jangan makan itu terus. Kamu belum makan malam, nanti perutmu sakit kebanyakan cipeng pedes,” seru Alzam.


“Habis enak sih,” sahut Olivia.


“Dasar,” keluh Alzam.


Pemuda itu pun beralih kepada ibunya yang duduk di kursi, yang ada di sampingnya.


“Bu, Alzam belikan nasi goreng di depan ya. Belum pada makan kan?” tanya Alzam.


“Ibu nggak usah. Masih ada sisa lauk sedikit,” sahut Bu Aminah.


“Ya udah, Alzam beliin buat Ina sama Zahra,” kata Alzam.


“Maaf ya, Nak Oliv. Makan malamnya jadi cari sendiri. Ibu nggak ada persiapan, karena kalian datangnya mendadak, dan nggak ngabarin dulu,” ucap Bu Aminah.


“Nggak papa kok bu. Jadi bisa jalan-jalan bareng Mas Al deh. Hehehe...,” sahut Olivia.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

__ADS_1


terimakasih 😁


__ADS_2