
Nurul berjalan ke dalam ruangan dan melihat sekerumunan jamaah, yang sedang melihat sesuatu. Dia pun mencoba mendekat dan mendapati Olivia yang ikut berada di sana. Perempuan itu memegangi salah satu jilbab dan menanyakan harganya.
“Yang ini berapa?” tanya Olivia.
“Yang itu lapan puluh aja, Ukhti. Mau ambil yang itu?” tanya si penjual.
“Nggak ambil yang bercorak aja, Liv?” tanya Nurul
“Cckk! Rame. Aku nggak suka,” jawab Olivia ketus.
Dia lalu mengambil selembar uang pecahan seratus ribu, dan memberikannya kepada si penjual.
“Aku ambil ini aja. Tolong dibungkus,” seru Olivia.
“Siap, Ukhti,” sahut si penjual dengan girang karena dagangannya laku lagi.
Dia membungkus milik Olivia dan memberikan kembaliannya.
“Makasih,” ucap Olivia cepat.
“Sama-sama, Ukhti. Sering-sering beli ya,” sahut si penjual.
Olivia kembali ke tempat duduknya yang tadi ditinggalkan, dan diikuti oleh Nurul yang juga duduk di sampingnya. Gadis itu melihat raut wajah Olivia yang terlihat murung. Sebelumnya, meski perempuan itu selalu bersikap ketus padanya, namun baru kali ini Nurul melihat Olivia diam dengan aura yang suram.
“Liv, kamu nggak papa? Kok kayaknya lagi ada masalah?” tanya Nurul.
“Harus ya gue cerita ke elu? Kepo banget sih,” sahut Olivia ketus.
“Aku nggak minta kamu buat cerita. Aku cuma khawatir sama kondisi kamu dan siapa tahu kamu memang butuh teman curhat,” ucap Nurul.
“Gue pikir-pikir dulu deh,” sahut Olivia yang lagi-lagi ketus.
Pengajian kali ini di isi tausiah dari Ustadzah Inayah, yang kebetulan berkesempatan hadir pada sore hari ini.
Beliau memberikan kajian materi sebuah keiklasan dalam diri setiap muslim.
“Agama islam mengajarkan bahwa segala perbuatan amal ibadah tidak akan diterima Allah, jika tidak disertai dengan sikap penuh keikhlasan. Hal ini disebutkan pada surat Q.S. Al-bayyinah ayat lima yang berbunyi 'Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.'"
__ADS_1
“Sikap ini merupakan tindakan tulus hati yang bisa memberikan ketenangan, kedamaian bagi diri pribadi dan orang lain. Sikap Ikhlas mempunyai kaitan erat dengan niat. Karena adanya sifat ikhlas tergantung pada niatnya."
"Penting untuk memahami apa yang dimaksud dengan sikap ikhlas tersebut, supaya kita terhindar dari perbuatan melakukan ibadah atau perbuatan baik dengan niat selain karena Allah SWT.” ucap Ustadzah Inayah.
Olivia seolah tertampar oleh kata-kata perempuan yang tengah berbicara di depan semua jamaah tersebut. Dia mengingat kembali apa yang sudah ia lakukan selama ini.
Semua perubahannya, tak ada satu pun yang benar-benar ikhlas karena Allah. Semua ia lakukan demi mendapatkan perhatian dan simpati dari sang suami.
Selama kajian kali ini, Olivia terlihat lebih pendiam. Bahkan saat sang ustadzah membuka sesi tanya jawab, perempuan yang biasanya selalu menyampaikan banyak pertanyaan kritis, kini diam dan tertunduk.
Dia tahu betul apa yang disampaikan oleh sang ustadzah, tanpa harus menanyakan detailnya. Semua sudah jelas. Bahkan Bu Aminah pun meminta Alzam untuk tidak memaksa Olivia berubah, kecuali atas dasar keikhlasannya sendiri.
Namun saat sang ulama hendak menutup sesi tanya jawabannya, tiba-tiba Olivia mengangkat tangannya dengan lemas.
“Oh, ternyata ada yang masih mau bertanya. Silakan berdiri terlebih dahulu dan sampaikan pertanyaannya,” seru Ustadzah Inayah.
“Ustadzah, bagaimana jika selama ini, apa yang sudah kita lakukan bukan semata-mata karena Allah, melainkan demi seseorang yang kita cintai. Misalnya suami. Apa suami kita ikut berdosa dengan apa yang kita lakukan? Lalu, apa kita masih bisa ikhlas karena Allah, meski awalnya karena hal lain? Apa Allah bisa percaya sama apa yang kita rasain?” tanya Olivia.
“MasyaAllah. Ini pertanyaan yang mewakili banyak di antara kita. Saya yakin bukan hanya satu dua orang saja yang pernah merasa seperti itu, akan tetapi hampir semua orang pernah melakukannya.”
“Ada kalanya kita mengawali suatu perbuatan baik dengan niat selain karena Allah. Misalnya, sholat jamaah karena ingin dipuji atau karena ingin terlihat lebih taat. Atau hal lain yang diniatkan bukan karena Allah."
“Namun, seiring berjalannya waktu, seseorang bisa saja berubah. Hatinya bisa saja terketuk hidayah dan menjadikannya hamba yang selalu berserah diri kepada Sang Pencipta. Ikhlas dalam melakukan segala hal dan diniatkan semata-mata karena Allah."
“Dari pertanyaan akhwat tadi, InsyaAllah, Allah tahu apa yang akhwat lakukan selama ini dan tidak menutup kemungkinan bahwa hidayah telah masuk, sehingga membuat diri kita merasa malu dan ingin kembali ke niat awal, yaitu berserah sepenuhnya, menjalankan perintah Allah dengan seikhlas-ikhlasnya."
“InsyaAllah, suami kita pun terhindar dari dosa, karena bagaimanapun lewat merekalah jalan kebaikan kita di mulai. Dan perlu diingat, Allah Maha Kuasa, dan tak ada keraguan sedikit pun atasnya. Jadi, jangan ragu jika kita ingin berubah. Jangan takut Allah tak tahu maksud hati kita, karena Dia lah yang paling tahu isi hati hambanya,” jawab Ustadzah Inayah.
Setelah menanyakan hal tersebut, Olivia kembali diam sampai pengajian selesai. Ketua Majelis taklim kemudian naik ke podium dan memberitahukan bahwa setelah ini, mereka akan bersama-sama menghadiri acara pernikahan salah satu rekan hijrah mereka, yang minggu lalu mendapatkan wejangan pra nikah dari Umi Afiyah.
“Kamu udah chat Alzam belum, Liv?” tanya Nurul.
“Kepo amat sih,” sahut Olivia ketus.
“Bukan kepo. Habis ini kita kan mau ke nikahan salah satu temen kita, kalau belum chat Alzam, kamu bisa ikut motor aku. Kita ke sana barengan,” ajak Nurul.
“Ck! Serah elu aja deh. Gue belum sempet chat Mas Al,” sahut Olivia kesal.
__ADS_1
Dia masih belum mau dekat dengan teman suaminya itu yang terus berusaha berteman dengannya.
Seusai pengajian di tutup, semuanya keluar dan menuju kendaraan masing-masing. Mereka kemudian bersama-sama menaiki sepeda motor melewati jalanan dan menuju ke acara pernikahan rekan mereka.
Sesampainya di sana, Olivia yang memang tidak terlalu dekat dengan yang lain hanya duduk sambil melamun. Sejak tadi, Nurul pun memperhatikan memang ada yang berbeda dengan Olivia bahkan sejak di tempat pengajian.
Setelah selesai dari acara pernikahan, mereka semua berpencar dan pulang ke rumah masing-masing. Saat di jalan, Nurul melewati sebuah toko yang saat itu didatanagi oleh Alzam dan Olivia.
“Nur, berenti!” seru Olivia.
Perempuan itu bahkan menepuk pundak Nurul dengan keras beberapa kali, hingga gadis itu menarik tuas rem dengan kuat.
“Ada apa, Liv?” tanya Nurul panik.
“Aku mau mampir ke situ,” sahut Olivia sambil menunjuk ke arah toko busana muslim itu.
Nurul menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Olivia. Dia nampak bingung dengan apa yang akan dilakukan istri sahabatnya di tempat itu.
“Kamu nggak salah tunjuk kan?” tanya Nurul memastikan.
“Bawel. Buruan ikutin gue atau tunggu aja di sini,” seru Olivia.
Perempuan itu pun kemudian turun dari motor Nurul, sementara sang guru muda itu mau tak mau mengikuti Olivia dan masuk ke dalam toko tersebut.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
Mari mampir ke novel keren teman ku yuk bestie 👇
__ADS_1