
Beberapa saat yang lalu, sebuah motor matic melaju memasuki kawasan kampus Nusa Bangsa. Si pengendara terlihat menuju ke parkiran samping, di mana tempat tersebut dikhususkan untuk parkiran sepeda motor.
Sesampainya di sana, dia matikan mesin motornya dan menaikkan kaca helm. Pengendara tersebut kemudian membuka tas dan terlihat mengeluarkan ponsel dari sana.
Dengan menyeliokan benda tipis itu ke sela helmnt, dia kemudian menelepon seseorang dari tempat tersebut. Sebelum dia menyapa, orang di seberang sudah menyapa lebih dulu.
Dia menanyakan keberadaan orang yang sedang diteleponnya. Setelah mengetahui keberadaan orang tersebut, dia pun segera mematikan telepon, dan turun dari sepeda motornya. Tak lupa dia melepaskan benda pelindung di kepala, dan menggantungnya di kaca spion motor.
Orang tersebut kemudian berjalan menuju ke sebuah arah, yang tadi di beritahukan oleh orang diseberang telepon.
Sesampainya di sana, dia melihat seorang gadis yang sedang asik berbincang dengan pemuda, di salah satu caffe yang berada di sekitaran kampus tersebut.
Dia pun kemudian mendekat ke sebuah kaca jendela besar, yang menjadi sekat pembatas antara gadia tersebut dengan luar ruangan.
Diketuknya kaca tersebut, dan seketika membuat gadis itu berdiri saat melihat siapa yang datang ke tempatnya berada.
“Mas Al,” pekik Olivia, si gadis yang saat itu sedang bersama dengan sahabatnya Leon.
Wajah senangnya tak bisa disembunyikan lagi. Senyum terus mengembang dan dia pun segera berlari ke arah luar, menghampiri suaminya yang sudah datang jauh-jauh untuk menemuinya.
“Mas, kok nggak ngomong kalau mau ke sini sih?” tanya Olivia.
Gadis itu serta merta merangkul lengan sang suami dengan manja. Dia bahkan bisa saja langsung memeluk erat pemuda tersebut, jika saja hubungan mereka tidak lagi berjarak seperti sekarang ini.
Alzam hanya membiarkan Olivia bertindak semaunya saja, dan justru tersenyum melihat kelakuan sang istri yang sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Dia lalu mengulirkan tangan dan segera di raih Olivia untuk disalami.
Meskipun belum ada satu bulan mereka menikah, namun Alzam mulai terbiasa dengan kelakuan manja dan seenaknya dari Olivia. Dia bahkan mulai mencari siasat untuk melawan sikap istrinya dan merubahnya perlahan-lahan, demi kebaikan gadis itu sendiri.
“Aku ke sini mau ngajakin kamu sholat duhur bareng,” jawab Alzam.
Olivia yang sejak tadi menggelayut dan mendusel-dusel di lengan Alzam, tiba-tiba mendongak kaget.
Matanya berkedip-kedip, seraya bertanya tentang perkataan yang diucapkan sang suami tadi.
Alzam yang melihat tatapan kebingungan Olivia pun, seolah tahu apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh gadis tersebut.
Dengan gemas, dia mencubit hidung Olivia hingga membuat gadis itu memekik kesakitan.
“Kamu kan lagi mulai belajar sholat, jadi aku mau mastiin supaya kamu nggak kelupaan,” jawab Alzam.
“Kan kamu bisa ingetin aja lewat telepon. Ngapain susah-susah ke sini? Jauh lagi,” rengek Olivia.
Bukannya langsung menjawab, Alzam justru tersenyum lebih dulu ke arah gadis yang sedang merengek itu.
__ADS_1
"Jadi nggak suka nih kalau suaminya dateng jauh-jauh? Padahal cuma buat nemuin kamu lho," tanya Alzam.
"Bukan gitu maksud ku, Mas," sahut Olivia semakin merengek.
Alzam semakin gemas. Jika saja Olivia adalah sebuah squishy, ingin rasanya dia mereams-remas sampai gemasnya hilang. Akhirnya, dia kembali menarik hidung mancung Olivia, dan membuat gadis itu semakin mengeluh kesakitan.
“Hem... Aku ke sini cuma buat mastiin. Aku belum bisa yakin kalau kamu beneran bakalan sholat sendiri. Ayo ke masjid, bentar lagi waktunya sholat duhur. Kita sholat berjamaah,” seru Alzam.
“Tapi, Mas,” rengek Olivia.
“Udah sana. Masuk, terus ambil tasmu atau titipin aja sekalian ke Leon,” seru Alzam.
Pemuda itu mendorong pelan pundak sang istri, agar Olivia segera kembali masuk ke caffe dan mengambil tasnya, atau sekedar menitipkan tas kepada Leon.
Namun, Olivia terus menoleh dengan wajah memelas. Akan tetapi, Alzam sama sekali tak menghiraukannya dan malah terus mengibaskan tangan agar Olivia segera masuk.
Akhirnya, mau tak mau gadis itu pun kembali masuk dan menghampiri meja yang tadi ditempati oleh dirinya dan sang sahabat.
Sesampainya di sana, Leon yang melihat langkah Olivia yang gontai, dan alzam yang masih berdiri melihat ke arah mereka, kekepoannya pun meronta.
“Kenapa laki lu bisa kemari, Liv? Ngajakin pulang? Apa ngajakin makan? Apa ngajakin ngadon dedek?” cecar Leon asal.
Seketika, sebuah sendok meluncur mengenai kepala pemuda tersebut. Leon pun memekik sementata okivia terlihat mengemasi barangnya.
“Gue pergi dulu,” ucap Olivia cemberut.
“Sholat!” sahut Olivia ketus.
Seketika, semburan kopi keluar dari mulut pemuda tersebut, saat mendengar jawaban singkat dari Olivia. Matanya membola tak percaya dengan apa yang didengarnya tadi.
“Apa tadi lu bilang?” tanya Leon lagi.
“Laki gue ngajakin sholat. Budeg amat lu,” jawab Olivia.
Gadis itu pun lalu pergi membawa tas dan juga binder map nya. Tawa Leon pecah mengiringi kepergian Olivia.
“Hahahaha... Selamat, Liv. Akhirnya hiduplu berfaedah juga. Hahahaha...,” kelakar Leon.
Olivia tak menyahut dan hanya mengacungkan jari tengah, tanpa menoleh ke arah Leon. Dia pun keluar dan kembali menghampiri sang suami.
Dengan wajah ditekuk dan bibir mengerucut, Olivia menghadap kepada suaminya. Alzam yang melihat hal itu pun merasa ingin ikut tertawa seperti yang dilakukan oleh Leon.
Namun, dia tak mau membuat perasaan sang istri jatuh, dan memilih untuk mengusap lembut puncak kepala Olivia.
__ADS_1
Gadis itu mendongak dengan wajah yang masih cemberut.
“Istriku haruslah seorang wanita sholehah, dan wanita sholehah harus rajin beribadah, salah satunya adalah sholat. Masih mau jadi istri ku nggak nih?” tanya Alzam.
Meski cemberut, Olivia tetap mengangguk mengiyakan perkataan sang suami.
Dengan gemas, Alzam akhirnya mencubit pipi Olivia yang sedikit tembem.
“Senyum dong,” seru Alzam.
Olivia pun tersenyum paksa. Namun, Alzam tak menghiraukan sikap protes sang istri. Dia justru merangkul pundak Olivia, dan segera mengajaknya pergi ke masjid.
Tiba-tiba, Olivia berhenti dan membuat Alzam pun ikut berhenti.
“Kenapa? Jangan bilang alasan haid lagi,” tanya Alzam.
“Aku nggak bawa mukenah. Sholatnya gimana, Mas?” tanya Olivia.
“Ada di tas. Mas udah bawain. Nggak usah banyak alasan lagi. Ayo!” jawab Alzam.
Dia pun kembali menggiring Olivia menuju ke masjid kampus, untuk menunaikan sholat dzuhur berjamaah di sana.
Sementara itu, Leon yang melihat hal itu terus saja tertawa. Dia tak menyangka jika Olivia bisa senurut itu kepada Alzam, pria obsesi yang membuat gadia tersebut rela melakukan hal gila, demi mendapatkannya.
Mata Leon sampai berair karena menurutnya, apa yang terjadi pada Olivia adalah sesuatu hal yang sangat lucu. Betapa tidak, gadis yang biasa selalu liar, tukang mabuk, berpenamlilan urakan, tiba-tiba saja menjadi penurut, meskipun Leon tahu jika semua itu terjadi bukan murni sifat bawaan lahir Olivia, melainkan karena suatu hal di masa lalu.
Karena tawanya, dia bahkan sampai tak sadar jika ada seseorang yang dari tadi melihat semuanya dalam diam, dengan wajah memerah dan penuh amarah.
Terlebih saat melihat Olivia yang dengan manjanya merangkul Alzam, dan bahkan mencium punggung tangannya saat pertama kali menghampiri pemuda tersebut.
Dia lalu berdiri dan berjalan ke luar caffe. Di luar, dia terus memandangi kepergian pasangan Alzam dan Olivia dengan tatapan tak suka.
Ternyata itu suamimu, Liv? Sehebat apa dia, sampai kamu sama sekali nggak mandang aku lagi? Aku mau lihat, seberapa kuat cinta kalian. Aku nggak akan berhenti sampai kalian berpisah, batin orang tersebut yang tak lain adalah Nathan.
Pemuda itu pun lalu pergi dari sana, dengan sejuta kekesalan di hatinya.
.
.
.
.
__ADS_1
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁