CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Sholat malam


__ADS_3

“Hai, Pah. Assalamu’alaikum, Mas Al,” sapa Olivia.


“Waalaikumsalam,” jawab keduanya bersamaan.


“Kenapa Papah nggak dikasih salam juga, Liv?” tanya Papah Abi.


“Emang Papah mau dikasih salam juga? Dari dulu juga nggak pernah minta kok,” jawab Olivia enteng.


Papah Abi sampai geleng-geleng, melihat anak gadisnya yang kini telah berstatus istri, berjalan melewatinya dan duduk di samping Alzam.


Alzam melirik sekilas ke arah Olivia. Baju tidur berbahan halus dan mengkilap itu, tampak mencetak beberapa bagian tubuh Olivia, yang membentuk lekuk indah yang bisa menaikkan h*srat seseorang.


Hal itu membuat Alzam kembali teringat akan kejadian tadi saat di kamar.


Dia beristighfar lirih, sambil menghela nafas panjang. Dalam hati, dia merutuki dirinya sendiri, karena sejak tadi terus berpikir liar, setiap kali melihat atau bahkan hanya sekedar membayangkan Olivia.


Gadis itu mengambil bantal duduk dan menaruhnya di atas paha, sementara punggungnya ia sandarkan di sofa yang begitu nyaman dan empuk.


“Mamah mana, Pah?” tanya Olivia.


“Masih di kamar. Bentar lagi juga turun,” ucap Papah Abi.


“Oh,” gumam Olivia.


“Papah kira kalian bakal langsung istirahat,” terka Papah Abi.


“Tadinya juga Oliv pikir gitu. Mas Al juga tadi kelihatan capek banget. Eh, taunya malah lama banget di luarnya. Mas, tadi kenapa keluar lagi sih pas lihat aku selesai mandi?” tanya Olivia begitu saja di depan sang ayah.


Hal itu sontak membuat Papah Abi tersenyum, karena tahu apa yang sedari tadi membuat Alzam tersipu malu.


“Ehem! Ya udah. Karena udah pada keluar, mending makan malam bareng, baru lanjut istirahat,” seru Papah Abi, menghentikan interogasi Olivia, yang pasti akan membuat Alzam semakin malu.


Makan malam kali ini adalah makan malam pertama setelah Alzam menjadi suami Olivia. Nampak Olivia mengikuti gerakan sang ibu, saat melayani ayahnya.


Mulai dari mengambilkan nasi, menyendok lauk, dan juga mengambilkan air minum, semua Olivia tiru dari sang ibu.


Papah Abi sampai terus menahan senyumnya melihat sang putri manja, tiba-tiba berubah dan mau belajar menjadi seorang istri yang baik.


Berbeda dengan Alzam, pemuda itu nampak canggung dengan perlakuan Olivia terhadapnya. Pemuda yang lama membujang dan selalu mengurus dirinya sendiri, kini untuk makan pun harus dilayani oleh seorang istri.


Dia pun memilih untuk diam dan menunggu sampai Olivia selesai melayaninya. Sementara itu, Mamah Ros terlihat tak suka, saat melihat putri kesayangannya harus melayani pemuda miskin, yang terpaksa ia terima sebagai seorang menantu.

__ADS_1


Setiap saat di depan Alzam, Mamah Ros terus saja bersikap tak acub dan dingin. Bahkan selalu saja diam dan seolah tak menganggapnya ada.


Semuanya tahu, tak terkecuali Alzam bahwa Mamah Ros tidak setuju dengan pernikahan ini. Akan tetapi, Alzam yang masih mengira bahwa dialah yang telah menodai Olivia, hanya bisa menerima semua perlakuan Mamah Ros dengan lapang dada, sambil terus berdoa agar wanita itu mau merubah pandangan sinisnya pada Alzam.


Seusai makan malam, Papah Abi dan Mamah Ros memilih untuk duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Sedangkan Alzam pamit dan masuk ke kamar.


Awalnya, Olivia berkata ingin ikut ke ruang tengah, namun saat Alzam berkata ingin ke kamar, Olivia pun mengurungkan niatnya dan menyusul sang suami ke atas.


Saat dia masuk ke dalam kamar, nampak Alzam sedang menepuk bantal sofa, dan meletakkannya di salah satu ujung. Dia lalu berbaring di sana dengan sebelah lengan yang menutup kedua matanya, sedangkan yang lainnya ia biarkan di atas perut.


“Mas, kok tiduran di situ?” tanya Olivia.


“Aku ngantuk,” jawab Alzam ketus.


“Iya, tapi kenapa di situ? Kamu kan bisa tidur di kasur,” tanya Olivia lagi.


Namun, Alzam tidak menjawab lagi. Pemuda itu berpura-pura tidur, dan mengacuhkan istrinya.


Olivia mendengus kesal, dengan sikap Alzam yang bahkan sampai saat ini masih terus menolaknya.


Sabar, Liv. Sabar. Elu udah sejauh ini. Dia udah jadi suami lu. Pasti lama-lama hatinya juga bakal bisa elu dapetin, batin Olivia.


Dengan perlahan, dia menyelimuti tubuh suaminya yang tidur berbaring di sana.


Setelah itu, dia berjalan ke arah kasur empuknya dan naik ke atas. Dia tarik selimut hingga menutupi sampai ke dada, dan Olivia pun tidur menghadap ke arah yang berlawanan dengan Alzam.


Setelah tak mendengar suara gerakan di ruangan tersebut, Alzam pun membuka matanya. Dia melihat ke bawah, dan menyentuh selimut yang diberikan oleh Olivia.


Ada rasa hangat yang tiba-tiba menjalari hatinya, akan tetapi segera ditepis kuat-kuat olehnya.


Dia kembali mencoba memejamkan mata, dan melewati malam pengantinnya dengan tidur terpisah dari sang istri.


...☕☕☕☕☕...


Malam harinya, Alzam yang sudah biasa melakukan tahajud, terbangun tepat di pukul tiga pagi.


Dia duduk terlebih dahulu di atas sofa, sambil mengumpulkan kesadarannya. Sekitar lima belas menit kemudian, dia bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi.


Alzam mengambil air wudhu, dan bersiap untuk sholat.


Saat keluar dari kamar mandi, dia melihat tubuh sang istri yang meringkuk di bawah selimut. Dia menghela nafas sejenak, lalu kemudian kembali melangkah menuju ke lemari.

__ADS_1


Dia melihat tasnya telah kosong. Semua barang-barangnya telah dikeluarkan dari sana, dan bahkan sudah tertata di dalam lemari tersebut.


Dalam hati, Alzam bertanya-tanya siapa yang telah melakukan hal ini. Dia pun menoleh dan melihat ke arah sang istri. Helaan nafas kembali terdengar dari mulut sang pria.


Dia pun mengambil kain sarung dan juga baju ganti serta sajadah. Pemuda itu mengganti pakaiannya yang tadi ia pakai saat tidur, dan mulai menggelar sajadah, di dekat ranjang yang saat ini di tiduri sang istri.


Rakaat demi rakaat ia jalankan dalam amalan sholat malamnya. Di akhir, dia memanjatkan doa, agar selalu dilindungi dari hal-hal buruk, dan selalu didekatkan dengan ridho Allah.


Alzam tak pernah meminta hal berbau duniawi. Yang dia minta selalu agar hidupnya dan juga orang-orang tercintanya selamat dunia akherat, selalu menjadi hamba yang taat, tanpa ada keraguan sedikitpun dalam hatinya.


Namun, akhir-akhir ini semenjak kejadian pagi itu bersama Olivia, Alzam selalu meminta ampun kepada Tuhan-nya, dan meminta jalan terbaik atas masalah yang saat ini tengah dihadapai oleh dirinya.


“Ya Allah. Aku terima keadaan ini dengan iklas. Aku terima dia menjadi istriku, jika memang ini sudah menjadi ketetapanMu. Aku percaya bahwa pemberianMu adalah yang terbaik bagi hamba.”


“Hamba mohon satu hal, ijinkan hamba menjadi imam yang baik untuk istri hamba, dan ijinkan hamba merubah pribadinya menjadi seorang istri yang sholehah. Hamba memohon padaMu, Wahai Dzat Yang kuasa membolak balikkan hati manusia. Amiiin,” do'a Alzam di ujung tahajudnya.


Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan beristighfar beberapa kali hingga perasaannya menjadi lebih tenang.


Tak sengaja, tatapan mata Alzam menoleh ke arah Olivia. Dilihatnya gadis yang saat ini telah sah menjadi istrinya, masih pulas tertidur di atas kasurnya yang empuk.


Entah dorongan dari mana, Alzam bangun dari duduknya, dan mendekat dengan perlahan ke arah tempat tidur.


Dia berjalan memutar, dan kini berada tepat di depan Olivia. Ditatapnya wajah cantik yang tengah terlelap itu. Meski ditengah cahaya temaram, namun masih jelas terlihat bagaimana rupa gadis itu di mata Alzam.


Tangannya terulur. Meski sempat ragu, namun dia kembali meraih kepala Olivia dan mengusap lembut surai coklat gelapnya.


Halusnya rambut Olivia, terasa di kulit Alzam. Dia kemudian mendekat, dan semakin mendekat hingga tanpa terasa bibirnya hampir mendarat di kening sang istri.


Tiba-tiba, gerakannya terhenti dan Alzam membeku seketika.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁

__ADS_1


__ADS_2