
“Nyonya Olivia,” panggil seorang perawat
“Ya, saya,” sahut Olivia.
Saat ini, Alzam dan Olivia sedang berada di salah satu puskesmas yang kebetulan berada dekat dengan komplek perumnas mereka.
Alzam awalnya ingin membawa Olivia ke rumah sakit, akan tetapi Olivia tak mau karena berpikir hanya akan membuang uang suaminya saja.
Ditambah dia bukan salah satu golongan penerima bantuan pemerintah dalam hal kesehatan, mengingat latar belakang dirinya yang adalah anak seorang pengusaha kaya.
Olivia ingat betul bahwa Alzam sudah banyak berkorban sampai melepas mimpinya membuka cabang baru untuk kedainya, karena semua tabungannya ia pakai untuk menikahi dirinya.
Alhasil saat ini mereka pun berada di puskesmas setelah sempat berdebat beberapa saat di jalan.
Setelah mendapat panggilan dari sang perawat, Olivia ditemani Alzam pun masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
Dokter umum yang bertugas langsung mengarahkan Olivia untuk naik ke ranjang pasien untuk diperiksa.
“Keluhannya apa, Bu?” tanya sang dokter sebelum memulai pemeriksaan.
“Mual muntah, Dok. Kayaknya salah makan deh,” jawab Olivia.
Dokter itu kemudian memeriksa perempuan tersebut dengan menggunakan stetoskop dari dada hingga ke bagian perut. Dia lalu menepuk-nepuk permukaan perut Olivia beberapa kali dan kemudian kembali ke tempat duduknya.
Olivia pun bangun dibantu oleh Alzam, dan duduk di depan meja dokter tersebut.
“Gimana kondisi istri saya, Dok?” tanya Alzam
“Perutnya nggak papa. Semuanya baik-baik saja. Ini hanya kemungkinan, tapi saya sarankan Anda untuk melakukan cek lab dan minta tes urin kepada petugas labnya,” seru dokter.
“Cek lab? Apa separah itu?” tanya Olivia khawatir.
Dokter itu terlihat sedang menulis sesuatu di selembar kertas. Dia kemudian memberikan kertas tersebut kepada Alzam selalu wali Olivia.
“Lakukan pemeriksaan lab dulu untuk memastikan kondisi istri Anda, Pak. Saya tidak bisa mengatakannya sekarang, sebelum hasil lab keluar,” seru sang dokter.
Akhirnya mau tak mau Alzam pun keluar bersama Olivia dan menuju ke laboratorium yang masih berada di dalam area puskesmas.
Olivia diminta mengambil sample urin dan menyimpannya di dalam sebuah tabung kecil. Dia lalu memberikan benda tersebut kembali kepada sang petugas untuk diujikan.
Tak berselang lama, petugas lab keluar dan membawa kertas berisi hasil cek lab yang dilakukan oleh Olivia. Namun, petugas tersebut tidak mengarahkan Alzam dan Olivia untuk kembali ke ruangan dokter umum, melainkan mereka diminta pergi menemui bidan yang sedang bertugas.
__ADS_1
Tanpa banyak tanya, Alzam pun memapah Olivia menuju ke tempat yang ditunjukkan.
Sesampainya di sana, mereka harus mengantri sebentar, karena ada dua ibu hamil yang sedang menunggu giliran pemeriksaan.
Melihat kondisi di sekitarnya, Alzam seolah memiliki firasat bahwa ada kabar baik yang akan mereka dapatkan di sana. Dia mulai berharap bahwa apa yang dipikirkannya benar-benar terjadi. Alzam menggenggam tangan Olivia erat, hingga perempuan itu menoleh dan melihat bingung ke arah sang suami.
“Kamu kenapa, Mas? Kok kek tegang gitu sih?” tanya Olivia.
“Nggak papa kok. Aku cuma lagi bayangin aja, kalo kamu hamil bakalan kek giman ya?” sahut Alzam.
“Yang jelas bakalan gendut kayak ibu itu,” ucap Olivia sambil menunjuk ke arah ibu hamil yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.
Kali ini, giliran Olivia tiba. Dia pun masuk dan sama seperti sebelumnya, dia diminta berbaring di atas ranjang pasien.
Bidan itu menutup bagain pinggang ke bawah Olivia dengan selimut, dan menurunkan legging yang dipakainya hingga hutan rimbunnya hampir terlihat.
Olivia tak paham dengan prosedur medis yang dilakukan oleh bidan itu padanya. Sementara Alzam, pemuda itu terus memperhatikan perlakuan sang bidang kepada istrinya.
Bidan itu terlihat menekan bagian bawah perut Olivia dan seolah mendorongnya ke atas, hingga menimbulkan rasa sedikit nyeri di sana.
“Ehm... sudah ada ini,” gumamnya.
Dia lalu meminta Olivia turun dan duduk di depan mejanya.
Olivia nampak berfikir dan mengingat kapan terakhir dia mendapatkan periodesasinya. Namun, belum juga Olivia menemukan jawabannya, Alzam lebih dulu bersuara.
“Bulan lalu,” ucap Alzam cepat.
Olivia menoleh sambil mengernyitkan keningnya, melihat sang suami yang begitu hapal dengan masa haidnya.
“Apa iya sih, Mas?” tanya Olivia.
“Aku yakin. Kamu inget, kamu haid pas dua minggu kita nikahan. Sekarang bisa dibilang kita nikah udah dua bulan. Jadi bener bulan lalu,” jawab Alzam.
“Oh iya bener, Bu bidan. Sekitar tanggal sepuluh bulan lalu,” sahut Olivia.
Bidan itu kemudian mengambil sebuah benda bulat seperti kertas dengan banyak angka, serupa kalender namun bentuknya berbeda jauh.
Dia kemudian mengambil sebuah buku berwarna merah muda dengan sampul bergambar sebuah keluarga kecil yang terdiri dari seorang ayah, seorang putri dan seorang ibu yang sedang hamil besar.
Sang bidan lalu menulis sesuatu di dalam salah satu halamannya.
__ADS_1
“Kandungan ibu sudah masuk usia enam minggu. Jadi wajar kalo ibu mengalami muntah-muntah, terutama di pagi hari,” ucap sang bidan.
Olivia membelalak mendengar perkataan bidan tadi. Otaknya belum bisa mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh wanita di depannya. Sementara Alzam, dia meraih tangan sang istri dan menggenggamnya dengan erat.
“Mas, maksudnya apa sih?” tanya Olivia.
“Sayang, kamu hamil,” jawab Alzam.
“Apa? Ha... Hamil?” pekik Olivia kaget.
“Benar, Bu. Seperti yang saya katakan tadi, usia kandungan Anda belum genap dua bulan. Hal ini wajar kalau Anda mengalami mual muntah, pusing serta lemas, terutama di pagi hari. Itu yang sering orang sebut dengan morning sickness."
"Saya sarankan supaya Anda menjaga pola makan, agar tetap mendapatkan asupan nutrisi. Pastikan hindari bahan makanan yang berbau tajam, atau benda-benda yang dapat memicu reaksi mual Anda. Makan sedikit-sedikit tapi sering. Perbanyak nyemil untuk mengantisipasi perut kosong karena malas makan."
"Satu lagi. Untuk suami, tolong hindari berhubungan badan dulu, sebelum ibu memasuki trimester ke dua akhir. Karena masa sekarang sangat riskan terjadi keguguran akibat aktifitas yang berat dan melelahkan. Saya akan resepkan vitamin untuk Anda. Tolong nanti diminum yang teratur."
"Kemudian, ini adalah buku KIA. Tolong dibawa setiap kali Anda datang untuk pemeriksaan rutin maupun saat ke posyandu terdekat,” jelas sang bidan panjang lebar.
Setelah memberikan arahan tentang apa yang boleh dan tidak kepada Alzma dan juga Olivia, keduanya pun pamit undur diri dan menebus obat di bagian farmasi.
Sejak keluar dari ruang bidan, Alzam terus merangkul pundak sang istri dan memastikan bahwa perempuan itu tidak terjatuh, mengingat konidisnya yang masih lemas karena muntah tadi pagi.
Ditambah kabar bahagia bahwa dirinya akan segera menjadi seorang ayah.
Saat di parkiran puskesmas, Alzam mengambil helm bogo dan memakaikannya kepada Olivia. Namun setelah itu, dia tak langsung memakai miliknya.
Dia melihat ke bawah tepat ke arah perut Olivia yang masih terlihat rata. Alzam kemudian berjongkok dan menghadap tepat di depan perut perempuan itu.
Dengan lembut, dia mengusap perut rata itu dan mengecupnya.
“Sayang, sehat terus yah. Sampai ketemu delapan bulan lagi,” ucap Alzam.
Melihat suaminya yang begitu senang dengan kehamilannya itu, Olivia pun tersenyum hangat dan membelai rambut sang suami yang masih betah memeluk perutnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁