CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Maaf


__ADS_3

“Jadi gitu? Oliv nggak ada cerita apapun lagi ke elu, Bang? Misal kelakuan Nathan pas mereka masih pacaran atau apa gitu?” tanya Leon setelah mendengarkan cerita dari Alzam.


Pemuda itu hanya menggeleng pelan. Dia pernah mengatakan pada Olivia bahwa dia sama sekali tak mau tau tentang masa lalu perempuan itu. Akan tetapi saat mendengar langsung penuturan sang istri, entah kenapa tiba-tiba ada rasa panas di dalam dadanya.


Terlebih, melihat Olivia yang sampai menangis saat membicarakan mantannya itu.


“Gue pernah denger dari Oliv, dia bilang kalo elu nggak peduli sama masa lalunya. Elu juga terima semisal dia udah nggak virgin sejak awal. Terus, kenapa pas Oliv ngakuin ke elu kalau mantannya masih ngejar-ngejar dia, elu malah jadi kek gini? Bukannya elu juga bilang kalo yang penting buat elu, di hati Oliv sekarang cuma ada elu, Bang? Apa itu cuma omong kosong lu doang?” tanya Leon.


Alzam tertunduk. Dia sadar bahwa apa yang dilakukan saat ini sudah melenceng dari apa yang pernah dia katakan pada Olivia. Rasa bersalah pun seketika menjalari hatinya. Dia teringat kembali betapa sulitnya Olivia saat hendak mengatakan semua itu padanya tadi.


“Itu belum semuanya, Bang. Gue nggak ada hak buat ngungkapin semua ke elu karena ini privasi Oliv. Gue tau Oliv dari kecil kek gimana. Gue tau setiap hal yang pernah terjadi sama dia. Gue tau semuanya, Bang. Tapi, gue nggak mau bilang ke elu karena gue ngehargain Oliv."


“Gue cuma minta sama elu buat pegang kata-kata lu yang udah lu ucapin ke Oliv. Dia tuh kek landak. Kuat di luar, tapi rapuh di dalam. Kelihatannya aja bar-bar, tapi kalo elu lihat baik-baik, dia itu lemah, Bang. Dia nggak sekuat itu."


“Oliv berani ngakuin kalo Nathan itu mantannya yang sampe sekarang masih ngejar dia ke elu, itu butuh perjuangan yang besar. Gue berkali-kali minta dia buat jujur ke elu, karena gue kira elu itu beda. Tapi kalo emang elu nggak bisa nerima Oliv apa adanya, mending nggak usah naikin angan-angan dia lebih tinggi lagi kalo akhirnya dijatuhin juga,” ucap Leon panjang lebar.


“Aku nggak maksud gitu, Yon. Wajar nggak sih kalo aku cemburu? Aku emang pernah ngomong kalau aku nggak peduli sama masa lalunya. Aku juga bilang ke dia, mau mantannya ngejar-ngejar dan minta balikan sekalipun, kalo di hati Oliv cuma ada aku, kalo cinta dia cuma buat aku, itu udah cukup. Tapi, manusiawi nggak sih kalo aku marah pas denger ada laki-laki yang ngarepin istri ku? Aku tau kedengarannya semua kata-kata yang udah aku ucapin ke Oliv kek omong kosong, tapi aku juga nggak bisa pura-pura nggak sakit ati, Yon,” sanggah Alzam.


“Gue tau dan amat sangat paham kok, Bang. Ini juga manusiawi. Justru aneh kalo elu sampe nggak cemburu sama sekali. Cuma yang gue minta, jangan kelamaan diemin tuh anak. Kesian, Bang. Oliv butuh elu sekarang buat ngadepin Nathan dan juga mamahnya. Coba deh elu tahan ego lu, tahan emosi lu buat dengerin semuanya sampe tuntas. Jangan bikin usaha dia buat jujur ke elu jadi sia-sia,” timpal Leon.


Alzam kembali diam. Bahkan sampai malam pun, pemuda itu masih saja diam, merenungi perkataan yang diucapkan oleh Leon.


Hingga majlis taklim itu sepi, dan hanya tinggal beberapa pemuda saja di sana, Alzam terlihat masih betah duduk di tempat itu.


Kalau bukan karena tukang bajigur yang sedang mengambil gelas-gelasnya datang dan menegur pemuda tersebut, Alzam mungkin masih akan tetap diam di tempat dan enggan untuk pulang.


“Mas Alzam nggak pulang? Udah malem lho, Mas. Entar istrinya nyariin lho,” ucap si tukang bajigur.

__ADS_1


“Hehehe... Iya, Pak. Ini juga mau pulang. Makasih udah ingetin,” sahut Alzam.


Bener apa kata bapak ini. Aku udah jadi suami. Kepala keluarga. Nggak seharusnya aku bersikap kek gini setiap kali ada masalah. Oliv pasti nungguin aku pulang. Mungkin aja dia malah lagi nangis sekarang. Aku mesti balik, batin Alzam.


Pemuda itu pun kemudian pamit kepada teman-temannya yang lain, yang berencana akan bermalam di sana, mengingat mereka semua masih lajang.


Alzam melajukan kendaraannya dan segera pulang menuju ke rumah ibunya.


Sesampainya di sana, sebagian lampu yang ada di rumah nampak padam. Hanya lampu teras depan dan samping yang masih menyala dengan terang.


Alzam meraih kunci rumah sang ibu yang masih ia pegang sampai saat ini, dan terkumpul bersama kunci motornya. Dia membuka pintu tersebut dengan perlahan, agar tak mengganggu istirahat penghuni yang lain, mengingat ini sudah hampir tengah malam.


Dia menuntun sepeda motornya masuk ke dalam rumah dan kembali mengunci rapat-rapat pintu tersebut.


Saat sampai di depan pintu kamarnya, Alzam nampak berdiri sejenak, mencoba mengatur nafas dan debaran di dadanya. Dia mencoba menenangkan diri terlebih dulu, dan membuang pikiran negatif yang sejak sore menguasai dirinya.


Bahkan kalimat istighfar pun berkali-kali ia ucapkan demi menekan emosinya, sebelum menemui sang istri yang saat ini sendirian di dalam kamar.


Alzam pun berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Dalam remangnya cahaya lampu yang berasal dari teras samping, ia melihat sang istri yang tengah berbaring dengan posisi menyamping, membelakangi pintu.


Olivia terlihat seolah tertidur, namun saat Alzam semakin mendekat, dia menyadari bahwa tubuh perempuan itu tampak berguncang pertanda sang istri saat ini sedang terisak.


Pemuda tersebut pun lalu naik ke atas tempat tidur, dan memeluk tubuh sang istri dari belakang, membuat Olivia seketika terdiam dengan menahan nafasnya.


Alzam membenamkan wajahnya di tengkuk Olivia, dan semakin mengeratkan pelukannya pada perempuan itu.


“Maafin aku ya, Liv. Aku udah kek cowok brengs*k yang bisanya cuma omong kosong doang,” ucap Alzam.

__ADS_1


Olivia masih diam, meski sesenggukan masih terdengar jelas dari posisi Alzam saat ini.


“Jujur, aku marah, aku cemburu, aku nggak terima kalau ada laki-laki lain yang mau ngerebut istriku, milikku. Aku nggak rela,” imbuhnya.


Pemuda tersebut semakin erat memeluk Olivia dan terus bersembunyi di lebatnya rambut sang istri.


Mendengar pengakuan yang keluar dari mulut suaminya, membuat dada Olivia kembali sesak.


“Maaf,” ucapnya lirih.


Alzam menggeleng cepat.


“Aku yang harusnya minta maaf, karena nggak menghargai usaha kamu buat jujur ke aku. Maaf yah. Maafin kau udah buat kamu nangis sendirian kek gini. Maaf... Maaf... Maaf...,” sahut Alzam.


Kata maaf berkali-kali ia ucapkan, seolah begitu menyesalnya Alzam karena telah menumpahkan air mata istrinya, hanya karena kecemburuannya akan Nathan.


Permintaan maaf Alzam membuat Olivia kembali tak mampu menahan gemuruh dalam dadanya, dan seketika membuat matanya kembali berurai air mata.


Alzam semakin erat memeluk tubuh sang istri, sambil sesekali mengecupi puncak kepala perempuan tersebut.


.


.


.


.

__ADS_1


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁


__ADS_2