
Keesokan paginya, Olivia bangun dengan badan yang terasa remuk. Sakit menjalar di sekujur tubuhnya, terutama area intinya yang mungkin saja telah robek, oleh kejantanan sang suami.
Sayup-sayup ia mendengar suara mengaji, yang selalu ia dengar setiap pagi menjelang subuh. Siapa lagi kalau bukan sang suami yang sedang mengisi waktu disela sholat malamnya dan waktu subuh.
Dia terlebih dulu bangun dan mandi wajib saat sang istri masih terlelap kelelahan akibat baku hantam semalam.
Olivia berusaha bangun dengan terus memegangi selimutnya dengan erat, karena kini dia masih dalam keadaan telanjang bulat. Gaun malam yang dipakainya telah terlempar entah kemana, dan membuatnya polos tanpa sehelai benang pun.
Melihat pergerakan dari arah ranjang, membuat Alzam menyudahi kegiatan mengajinya. Dia menyimpan kembali kitab suci itu di atas rak buku, dan buru-buru menghampiri sang istri.
Olivia terlihat kesusahan bergerak. Bahkan untuk sekedar duduk di atas tempat tidur pun begitu sulit karena area pangkal pahanya yang begitu nyeri.
“Kamu udah bangun, Sayang?” tanya Alzam.
Pemuda itu duduk di tepi ranjang dan merangkul pundak sang istri. Dia menopang tubuh perempuan yang telah menyerahkan kegadisannya semalam itu dari belakang, agar Olivia bisa bersandar di lengannya.
“Aku nggak telat sholat subuh kan, Mas?” tanya Olivia.
“Nggak kok. Belum adzan juga,” sahut Alzam.
Dia melihat sang istri meringis menahan sakit, dengan mencoba memposisikan diri senyaman mungkin. Alzam menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Olivia dan menyematkannya di belakang telinga.
“Maaf ya, aku udah bikin kamu sakit,” ucap Alzam.
Olivia diam. Dia yakin bahwa saat ini Alzam telah mengetahui kebohongannya. Pasti ada bercak darah yang tertinggal di atas sprei, yang menandakan selaput darahnya baru saja robek.
Sebelumnya Olivia mengatakan pada Alzam bahwa pemuda itu telah tidur dengannya dan merenggut kesuciannya di malam itu, saat kejadian di apartemen Leon.
Semalam, mereka telah melakukannya, dan sudah pasti Alzam mengetahui bahwa dirinya masih virgin. Olivia takut jika Alzam akan marah padanya.
Melihat sang istri diam, Alzam pun meraih dagu perempuan itu dan mengarahkan wajah Olivia agar menatap suaminya.
“Apa kau menyesal?” tanya Alzam.
Dia merasa bersalah karena telah membuat sang istri kesakitan. Dia bahkan takut Olivia menyesal, karena telah menyerahkan dirinya pada Alzam.
Namun pandangan Olivia kembali turun, seolah tak mau berlama-lama melihat ke dalam bola mata sang suami. Hal ini membuat hati Alzam semakin sakit.
“Baiklah. Kalau kamu menyesal, aku janji nggak akan...,” ucap Alzam.
“Bukan gitu,” sela Olivia.
__ADS_1
Alzam pun seketika diam dengan kening yang mengerut dan mata memicing, mencari jawaban di mata sosok perempuan yang sudah menguasai hatinya itu.
Dia diam menunggu istrinya kembali melanjutkan kata-katanya.
Olivia terlihat menautkan kesepuluh jemarinya. Alzam tau kebiasaan ini. Gerakan ini muncul saat gadis itu merasa ragu untuk mengungkapkan sesuatu.
“A... aku... aku udah.... bohong sama kamu... mas,” ucap Olivia terbata.
Alzam mmebolakan matanya dengan kedua alis yang terangkat.
“Bohong? Maksud kamu?” tanya Alzam.
“Kita... kita dulu nggak pernah tidur bareng. A... aku... aku udah jebak... kamu. Aku lakuin itu karena pengin dapetin kamu. Sekarang kamu udah tahu kalau aku masih virgin sampe tadi malem. Kamu pasti benci banget kan karena terpaksa nikah sama aku,” ungkap Olivia.
Lapisan bening bahkan telah muncul di matanya. Wajahnya tertunduk. Dia benar-benar tak berani melihat ekspresi apa yang saat ini ditunjukkan oleh Alzam.
Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Bukannya marah, Alzam justru memeluknya dengan erat, sembari mencium puncak kepala dalam-dalam.
Hal itu membuat Olivia membeku. Dia tak tahu maksud sikap Alzam ini. Dia hanya diam dan menunggu penjelasan dari sang suami. Dalam hati, dia berharap bahwa Alzam benar-benar menerimanya, akan tetapi dia tak mau berpikir terlalu tinggi.
Tangan kekar yang semalam telah menjamahnya, kini mengusap surai coklat gelap itu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, membuat hati Olivia menghangat.
“Nggak ada yang perlu dimaafkan, Liv. Sejak awal, aku malah mengira hanya mendapatkan barang sisa orang. Maaf karena mungkin perkataan ku ini kasar. Aku berusaha meneguhkan hatiku untuk menerima kamu apapun kondisinya. Aku sejak awal sudah meng-judge kamu sudah lama tidak virgin, bahkan sebelum malam itu. Tapi tadi malam, aku benar-benar bahagia, karena rupanya akulah yang pertama,” ucap Alzam.
Pemuda itu kembali menciumi pelipis Olivia, dan kembali mengusap lembut surai perempuan itu.
“Istriku benar-benar gadis baik. Kamu bisa menjaga kesucianmu, bahkan dalam kondisi pergaulan bebas yang begitu liar seperti dulu,” pungkasnya.
Olivia mendongak, mencoba memastikan bagaimana rupa sang suami saat ini. Saat kedua mata mereka beradu pandang, sebuah senyum mengembang di bibir Alzam, membuat hati Olivia semakin terasa sejuk.
“Kamu... kamu nggak marah sama aku, Mas?” tanya Olivia memastikan.
“Ngapain harus marah? Orang b*doh mana yang akan marah saat mengetahui istrinya masih suci di malam pertamanya?” tanya Alzam.
“Jadi... ka... kamu beneran nggak marah?” tanya Olivia lagi seolah dia belum yakin.
“Oliv sayang, dengerin aku. Aku nggak marah. Aku malah bersyukur karena kamu udah jaga diri kamu baik-baik sampai percaya sama aku buat jadi yang pertama. Kamu tahu, aku semakin sayang sama kamu. Sayang ini bahkan udah tumbuh berkali-kali lipat dari sebelumnya. Maaf kalau aku kedengaran picik karena begitu mentingin masalah virgin, tapi ini jujur dari hatiku,” jawab Alzam.
Olivia diam. Sayup-sayup terdengar isakan dari arah gadis itu. Dia lalu memeluk pinggang Alzam dengan erat dan menangis dipelukan sang suami.
“Aku takut kamu bakalan marah sama aku karena udah boong. Aku takut banget, Mas. Aku takut banget,” ucap Olivia.
__ADS_1
Dengan penuh kasih sayang, Alzam menepuk punggung sang istri dan mencoba menenangkan tangisan perempuan itu.
“Udah jangan mikir macem-macem yah. Aku sayang kamu, dan kamu sayang aku. Itu udah cukup. Aku nggak marah sama kamu, oke,” seru Alzam.
Cukup lama Olivia meluapkan rasa kelegaan dalam hatinya dengan tangisan, hingga kumandang adzan menggema ke penjuru perumnas, tempat kontrakan mereka berada.
Alzam menggendong Olivia ke kamar mandi dan membiarkan gadis itu membersihkan dirinya. Setelah itu, mereka sholat subuh berjama’ah lalu mengerjakan aktifitas paginya, yaitu bersih-bersih dan menyiapkan sarapan.
Pagi ini, Alzam meminta Olivia duduk tenang, karena melihat istrinya itu nampak kesulitan untuk berjalan. Dia setengah menyalahkan diri sendiri, akan tetapi juga merasa bangga karena sudah berhasil menggagahi istrinya.
Kali ini, Olivia memilih menurut, karena memang dia masih merasa nyeri dipangkal pahanya. Jangankan beraktifitas, sekedar berjalan ke kamar mandi saja butuh perjuangan.
Cara jalannya pun terlihat aneh karena rasanya ada yang mengganjal di bawah sana.
Alzam bahkan menyarankan Olivia untuk libur kuliah dulu hari ini, akan tetapi perempuan itu tak mau, dengan alasan harus menyerahkan laporan sekaligus presentasi tertutup dengan dosen pembimbing.
Pemuda itu pun tak bisa melarang, meski dia khawatir dengan kondisi sang istri yang sudah pasti belum baik-baik saja. Akhirnya, dia meminta Olivia agar tidak banyak bergerak jika memang tidak diperlukan selama di kampus.
.
.
.
.
Hai bestie, aku mau promoin novel temen ku lagi nih, cekidot 👇
Kejadian masa lalu membuat Hasna harus bertemu dengan pria dingin yang menurutnya begitu menakutkan.
Namun, pada akhirnya dia sendiri yang malah terjebak dengan pesona pria dingin itu.
Bima, seorang asisten pengusaha muda yang cukup terkenal. Dia adalah si genius perusahaan Walton.Corp yang terkenal dengan sikap dingin dan tegasnya.
Dengan sikap dinginnya, Bima seolah membangun dinding besar yang kuat untuk tidak bisa orang lain menyentuhnya.
Namun, masa lalu Tuannya telah mempertemukan dia dengan gadis manis yang siap menggoyahkan hatinya yang beku.
"Aku masih menunggu gadis di masa laluku"
Kata yang membuat seorang Hasna mundur dan melupakan perasaanya pada pria dingin yang dia cintai itu. Bima yang telah menolak perasaannya secara terang-terangan, bahkan sebelum Hasna sempat mengungkapkannya.
__ADS_1
Kisah cinta dengan masa lalu yang rumit..