
"Ini tugas bagianku sudah selesai", Anika menyerahkan hasil pekerjaannya kepada Narendra. Dia bahkan sudah memprint out semua tugas itu
"Makasih, Nik. Padahal aku aja yang print, kamu cukup kasih soft filenya".
"Nanggung, yang penting tugas kelompok kita beres", ucap Anika yang nampak siap bergegas pergi dari hadapan Narendra.
"Tunggu", Narendra menahan langkah kaki Anika.
"Ada apa lagi, Dea?", Anika membalikkan tubuhnya.
"Mmm...apa setelah kuliah nanti kamu sibuk?", tanya Narendra ragu.
"Enggak, kenapa?".
"Bisakah kita pergi bersama?".
Anika mengernyitkan dahinya, "Maksudnya gimana?".
Narendra tampak menarik nafas sejenak, "Kalau kamu gak sibuk dan gak keberatan, aku mau ajak kamu makan di cafe dekat kampus sebagai tanda terimakasih karena kamu mau mengerjakan tugas ini dengan baik".
Anika berpikir sejenak, "Sorry, Dra, aku gak bisa. Lagi pula ini kan tugas kuliah dan ya, sudah seharusnya aku kerjakan. Kamu gak perlu repot berterimakasih seperti itu. Tapi makasih ya untuk tawaran makannya", Anika tersenyum tipis dan berlalu begitu saja dari hadapan Narendra.
Narendra menghembuskan nafasnya kasar, ada sesak di hatinya atas penolakan Anika. Disaat perempuan lain bersusah payah mengejarnya, Anika justru menolak tawaran Narendra begitu saja.
"Ternyata kamu seberani itu, Anika. Tunggu saja, aku pasti bisa mendapatkan hatimu", batin Narendra sendiri.
.
.
"Tumben Bi, lo ajak gue ke taman. Kita udah kek pasangan nge-date aja", seloroh Jaka yang baru saja tiba.
Abimanyu tersenyum tipis, "Ya mau gimana lagi, Jak, bosan juga kalau kita di kosan terus".
Jaka menyeruput espresso ice yang baru saja dibelinya. Dia juga menyodorkan minuman yang sama kepada Abimanyu.
"Iya juga sih. Belakangan ini lo kelihatan sibuk, jadi gue gak berani ngajak lo jalan-jalan, Bi. Kalau dipikir-pikir nih, kita ini sepasang lelaki tampan yang kesepian dan kurang hiburan", celoteh Jaka santai.
Abimanyu tertawa kecil mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Sorry deh gue lagi kejar setoran. Tahu sendiri target hidup gue banyak dan jasa service yang gue buka lagi rame, Jak. Kalau gue sih gak ngerasa kesepian atau butuh hiburan, noh segambreng barang-barang elektronik rusak di bengkel udah lebih dari cukup buat nemenin dan menghibur gue", jawab Abimanyu santai.
"Apaan, barang rusak gitu mana bisa diajak ngobrol atau berbagi perasaan", cibir Jaka.
Lagi, tawa kecil Abimanyu meledak. Kedua sahabat itu memang terkadang absurb sendiri. Mereka sering kali berbincang atau melakukan sesuatu yang tidak berfaedah seperti saat ini.
"Eia, Bi, sorry nih kemarin gue gak sengaja lihat deretan celengan lo di kosan. Biasanya gue lihat cuma ada tiga tuh celengan, tapi kok sekarang nambah. Ada target apalagi nih?", selidik Jaka penasaran.
"Kepo lo, ah", Abimanyu mencibir Jaka.
"Ya sorry, habisnya cuma Lo satu-satunya manusia di dunia ini yang rajin isi celengan disaat orang-orang nabung di bank dan cuma lo juga tuh yang kasih celengan itu label. Pakai ada acara tabungan ibu bahagia lah, tabungan beli rumah lah, tabungan pendidikan lah, nah dua celengan tambahan buat apa lagi, Bi?".
Abimanyu tersenyum tipis, "Itu tabungan nikah dan honey moon".
Jaka tersedak sejenak mendengar jawaban Abimanyu.
"Eh buset, visioner banget sih lo. Kuliah aja belum kelar, udah kepikiran nikah sama honey moon", seloroh Jaka.
"Ya kan gak ada salahnya, Jak kalau gue nabung dari sekarang. Biar nanti kalau udah tiba nih masanya ketemu jodoh, gue tinggal nikahin dia. Gue gak perlu ngerepotin ibu buat mikirin biaya nikahan gue dan ya, gue bisa ajak istri gue nanti honey moon ke tempat yang dia mau", imajinasi Abimanyu.
__ADS_1
Jaka menggeleng-gelengkan kepalanya, "Gue ini antara kagum sama visionernya lo plus bingung juga, Bi. Kuliah belum kelar dan gue lihat selama ini juga gak ada tanda-tanda tuh sinyal jodoh lo. Kerjaan lo ngebengkel terus, kapan nyari jodohnya".
Abimanyu nyengir, "Jodoh gak perlu sibuk dicari, nanti juga nyamperin sendiri", jawab Abimanyu santai sambil menyeruput espresso miliknya.
"Hai, sorry", sebuah suara membuat Abimanyu dan Jaka menoleh bersamaan. Ya, ada Anika yang sudah berdiri di dekat mereka dengan senyum manisnya yang terkembang.
"Oh, hai. Ada apa, Nik?", tanya Abimanyu yang lebih cepat tersadar dengan kehadiran gadis itu.
"Sorry, aku ganggu gak ya?", tanya Anika.
"Enggak kok, ada apa?", Abimanyu mengulang pertanyaannya.
"Duduk sini, Nik", Jaka mengosongkan bangku taman yang tadi dia duduki dan berpindah ke sebelah Abimanyu.
"Makasih. Ini aku udah cek laptopku dan sampai hari ini aman. Jadi aku ke sini mau kasih pembayaran laptopnya", jawab Anika setelah dia duduk berhadapan dengan Abimanyu dan Jaka.
"Syukur lah kalau laptop kamu fit", respon Abimanyu ramah.
"Iya, makasih ya, Bi. Jadi berapa nih biaya servicenya?", tanya Anika.
"Lima ratus ribu", Jaka yang menjawab.
"Ok", Anika mengeluarkan dompetnya dari dalam tas.
"Ish, Jak asal aja kalau jawab. Sorry Nik, gak segitu kok. Sebetulnya kamu gak perlu bayar buat service laptop itu", sergah Abimanyu melihat Anika sudah mengeluarkan dompetnya.
"Lho kok gitu sih, Bi?. Aku kan udah bilang, aku gak mau dikasih gratis. Kamu sampai begadang kan buat service laptop aku. Kita profesional aja, aku butuh jasa kamu dan kamu udah kasih jasa itu ke aku, ya. Nih uangnya", Anika menyodorkan lima lembar uang seratus ribuan.
"Serius, gak usah, Nik", Abimanyu masih mencoba menolak.
"Ck, terima aja kenapa sih Bi. Lagaknya kek gak butuh uang aja. Ingat, tabungan nikah saka honey moon mau diisi apa tuh", seloroh Jaka asal.
"Kalau kamu gak mau terima pembayaran ini, aku kesal dan aku gak mau minta tolong service atau apapun lagi sama kamu", ancam Anika dengan wajah tetap tampak manis.
Abimanyu menarik nafas sejenak, "Ya udah, aku terima pembayarannya, tapi gak lima ratus ribu, cukup tiga ratus ribu aja, Nik".
Anika mengernyitkan dahinya, "Kok jadi turun pembayarannya?".
"Ya masalah laptop kamu gak terlalu akut kok, Nik. Jadi, kamu gak perlu bayar setinggi tadi", terang Abimanyu.
"Ya kalau kamu gak mau tiga ratus ribu, mending gak usah bayar", lanjut Abimanyu lagi.
Anika tersenyum, "Ya udah, nih aku kasih tiga ratus ribu. Makasih ya, Bi".
"Sama-sama, aku terima uangnya ya, Nik. Kalau nanti ada apa-apa lagi sama laptopnya atau mungkin barang elektronik lainnya, kamu bisa kasih ke aku buat service", jawab Abimanyu ramah.
Anika menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dia suka dengan hasil kerja Abimanyu.
"Nah kan, gue dicuekin deh", sela Jaka.
"Eh, sorry, Jak", ucap Anika cepat.
"Lagian juga lo mau nimbrung apa sih, Jak pakai merasa dicuekin segala?", lirik Abimanyu sinis.
"Ya kali apa kek. Gue kan jadi gak enak cuma nonton kalian berdua bahas soal service dan pembayaran. By the way nih, Bi, bisa dong Anika jadi target masa depan lo", lagi, Jaka berceloteh asal.
"Ish, apaan sih lo", Abimanyu mulai kesal dengan mulut Jaka.
"Maksudnya?", Anika bingung.
__ADS_1
Jaka tertawa kecil melihat ekspresi kesal bercampur terkejut dari Abimanyu.
"Ini lho Nik, si Abi dia kan lagi sibuk nabung buat ... ", belum selesai Jaka bicara, Abimanyu sudah menutup mulutnya lebih dulu.
"Sorry ya, Nik jangan dengar apa kata dia. Maklum, jomblo akut bicaranya kemana-mana", terang Abimanyu.
"Ah, tega nih lo", protes Jaka setelah dia berhasil menurunkan tangan Abimanyu dari mulutnya.
"Sekali lagi sorry ya, Nik", Abimanyu merasa tidak enak hati kepada Anika.
Anika tersenyum manis, "Tak apa, Bi. Jaka lucu juga ya orangnya".
"Oh iya dong, gue itu lucu dan apa adanya, gak kayak orang sebelah ini nih, galau", seloroh Jaka dengan kode kedua matanya. Tindakan itu membuat Abimanyu menyikut lagi perut Jaka.
Anika tertawa kecil, "Ya udah, kalau gitu aku pamit duluan, ya. Sorry lho udah ganggu waktu santai kalian berdua dan sekali lagi makasih ya, Abi, Jaka", Anika beranjak dari tempat duduknya dan berlalu diiringi dengan senyum dan anggukkan Abimanyu juga Jaka.
"Ck, tuh mulut ngeselin banget sih, Jak", protes Abimanyu setelah Anika tak terlihat lagi.
"Yaelah, Bi, gue kan cuma kasih saran doang. Gak ada maksud apa-apa. Lagian ya kalau gue perhatikan selama gue kenal sama Anika, dia gadis yang paling cocok buat lo. Dia baik, cerdas, dan gak neko-neko kek kebanyakan cewek lainnya", terang Jaka yang memang sudah mengenal Anika semenjak keduanya aktif di himpunan.
"Ya gue tahu, tapi kan gak perlu juga lo ngomong depan orangnya, Jak", Abimanyu masih kesal.
"Wait, jadi saran plus tebakan gue benar dong. Anika jadi target masa depan lo?", selidik Jaka memasang tatapan mata yang tajam.
"Maksud gue ya gak gitu, Jak".
"Ah udah deh, Bi jangan ngeles mulu. Gue kenal sama lo udah lama, gue tahu lo kek apa. Meskipun baru kemarin-kemarin lo berinteraksi sama Anika, tapi gue yakin, lo punya pandangan khusus kan sama dia".
Abimanyu menarik nafas dalam, dia tidak menyanggah ucapan Jaka tapi juga belum berani membenarkannya. Sejenak Abimanyu terdiam.
"Eh nih bocah malah diam. Hei, Bi", Jaka menyikut lengan Abimanyu.
"Iya, gue masih on kok. Jak, menurut lo, aneh gak sih kalau gue memang yaaaa punya pandangan khusus sama Anika padahal baru kemarin itu gue interaksi sama dia?", tanya Abimanyu serius.
Jaka tersenyum sumringah, "Nah gue suka kalau lo jujur kek gini, Bi. Gak ada yang salah kalau udah berkaitan sama perasaan. Lamanya interaksi gak menjamin apapun, Bi. Apalagi sama Anika, kalau gue pikir-pikir, lelaki mana sih gak tertarik sama dia? seperti yang tadi gue bilang, dia cantik, cerdas, pastinya dia juga baik, dan seperti yang gue bilang, dia gak neko-neko, sederhana tapi istimewa".
Abimanyu mengangguk-anggukkan kepalanya, dia sependapat dengan ucapan Jaka.
"Jujur sama gue, apa lo suka sama Anika?", tanya Jaka serius.
Abimanyu menatap sahabat baiknya itu sejenak, "Menurut lo?".
"Gue yakin, seratus persen Lo suka sama Anika tapi lo masih belum yakin sama perasaan Lo sendiri. Iya kan?".
Abimanyu tersenyum tipis, "Gue takut kalau perasaan gue salah atau gak tepat. Gue gak tahu harus gimana sama perasaan ini, Jak. Kadang gue berpikir kalau ini terlalu cepat, tapi kadang gue juga berpikir kalau dia, ya dia memang pribadi yang gue cari", ucap Abimanyu lirih.
"Gue dukung lo, Bi. Lo gak perlu ragu sama perasaan lo kalau lo yakin perasaan itu lahir dari ketulusan", Jaka menepuk pundak Abimanyu.
"Tumben bijak kata-kata lo, Jak", cibir Abimanyu.
"Ck, ini gue serius, masalah hati gue gak bisa asal ngomong, Bi", jawab Jaka pasti.
"Iya, Jak. Kalau Tuhan menghendaki, gue gak mau sekedar punya ikatan selintas sama Anika, tapi gue mau ikatan itu kuat".
"Maksudnya?", Jaka bingung.
"Sejak gue menyadari ada yang salah sama hati gue, gue gak berpikir buat sekedar dekat sebagai kekasih sama Anika, tapi gue berpikir dia jadi istri gue di masa depan", terang Abimanyu.
"Wwwiihhh gila, visi lo udah melesat jauh ternyata. Sip, gue dukung lo. Gue rasa pemikiran lo udah benar. Kalau udah halal kan jelas ya, bebas mau ngapain juga".
__ADS_1
Abimanyu tersenyum tipis, "Ya, semoga hati gue gak salah dan Tuhan menghendakinya".