
“Aku pasti akan selalu ada buat kamu. Jadi, kita ubah pelan-pelan yah,” ucap Alzam.
Olivia mengangguk cepat, namun wajahnya kembali tertunduk. Matanya semakin panas dan lelehan bening tak bisa lagi dia bendung.
Selama ini, dia selalu berjuang sendiri agar tak dipandang remeh oleh orang lain. Bahkan, dia rela merubah dirinya menjadi apa yang menurutnya orang lain suka.
Sang sahabat Leon pun tak bisa berbuat banyak, karena pada dasarnya dia juga awam akan masalah moral, apalagi agama. Pemuda itu justru selalu berpikir praktis dan tak pernah menganggap sesuatu secara serius, bahkan untuk perkara hubungan satu malam dengan banyak gadis yang ditemuinya.
Namun kini, muncul seorang Alzam, laki-laki biasa dari keluarga biasa-biasa, mampu menyentuh hati Olivia, dan memberikan rasa nyaman dan aman pada diri gadis tersebut.
Meskipun dengan cara yang salah dalam mendapatkan pemuda itu, namun Olivia bersyukur bisa menjadi istrinya, walau Alzam masih merasa terpaksa menerimanya.
Air matanya semakin deras mengalir, membuat isakkan muncul dari bibir Olivia. Alzam yang menyadari bahwa sang istri tengah menangis pun, berjongkok di hadapan gadis tersebut dengan bertumpu pada sebelah lututnya.
Dengan lebut, dia menangkup wajah sang istri, dan mengusap lelehan bening di sana dengan ibu jarinya.
“Kamu pasti mikir aku konyol banget kan?” tanya Olivia di tengah isaknya.
Namun, Alzam menggeleng pelan.
“Ini bukan sebuah kekonyolan, melainkan ketidak tahuan dan kurangnya bimbingan. Sekarang, kamu punya aku. Aku imammu. Aku yang bertanggung jawab atas dirimu, dunia dan akhirat mu. Jadi, kita mulai semua lagi dari awal yah?” ucap Alzam.
Olivia mengerutkan keningnya dengan perkataan Alzam barusan. Dia tak paham maksud dari kalimat terakhirnya.
“Maksud kamu?” tanya Olivia.
Alzam menarika nafas dan menghembuskannya terlebih dahulu, sebelum menjawab pertanyaan singkat yang terlontar dari bibir istrinya. Seolah hendak mengambil keputusan besar, dia bahkan mengawalinya dengan membaca bismillah sambil memegangi tangan sang istri.
“Bismillahirrahmanirrahim. Olivia, jujur aku pernah sangat benci sama kamu, dan bahkan sampai beberapa hari yang lalu pun aku masih membenci pernikahan kita. Tapi setiap malam, aku selalu berdoa pada Allah, agar aku bisa menjadi imam yang baik buatmu. Dan sekarang, setelah mendengar ceritamu, aku rasa ini bukanlah sebuah kesalahan."
"Aku semakin percaya jika apa yang digariskan oleh Allah, selalu ada hikmah dibaliknya. Kita dipertemukan, tak lebih untuk saling melengkapi. Jadi, aku ingin kita mulai lagi semuanya dari awal. Kita sama-sama bangun rumah tangga kecil kita ini, untuk saling mencintai, melengkapi, membimbing, dan saling mengerti satu sama lain. Apa kamu mau, menerima pemuda penuh kekurangan seperti ku ini, Liv?” ungkap Alzam panjang lebar.
Olivia terdiam. Dia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ada harapan besar dalam hatinya saat mendengar perkataan Alzam tadi, namun dia tak mau terlalu melambungkan angannya, karena dia pun belum jelas dengan maksud perkataan sang suami.
__ADS_1
Dengan setengah keraguan, Olivia pun memberanikan diri untuk memperjelas perkataan Alzam.
“A... Apa ini, sebuah lamaran?” tanya Olivia
“Anggap aja begitu. Jadi, apa kamu mau nerima suami serba kekurangan mu ini?” tanya Alzam lagi.
Olivia kembali berkaca-kaca. Dengan penuh keyakinan, dia mengangguk mantap dengan air mata yang kembali terjatuh.
Alzam tersenyum tipis. Dalam hatinya, dia mencoba berdamai dengan keadaan, dan berniat menerima Olivia sepenuh hatinya sebagai istri yang telah dipilihkan oleh Allah untuknya.
Dia berdiri dengan bertumpu pada kedua lututnya, dan memeluk tubuh sang istri, membawanya ke dalam dekapan hangat yang pertama kali ia berikan pada Olivia.
Gadis itu semakin terisak, karena akhirnya dia bisa mendapatkan hati Alzam, meski semua berawal dari sebuah obsesi dan rasa ingin memiliki yang begitu besar.
Namun, seiring berjalannya waktu, Olivia merasa bahwa Alzam adalah sosok yang berbeda. Pemuda itu selalu memperlakukan Olivia dengan baik dan penuh hormat. Tak ada sekalipun dia merendahkan martabat gadis tersebut walau sebenci apapun dia Alzam padanya, dan justru menuntunnya ke jalan yang seharusnya ia lalui.
Olivia memeluk Alzam dengan erat, sedangkan pemuda tersebut mencoba menenangkan perasaan sang istri yang sedang berkecamuk.
Dengan lembut, dia mencium puncak kepala sang istri, dan terus menepuk-nepuk punggung gadis itu dengan perlahan.
...☕☕☕☕☕...
petang harinya, setelah mereka memutuskan untuk memulai kembali dari awal, dan Alzam sudah bersedia membuka hatinya untuk sang istri, keduanya justru menjadi canggung.
Sejak lepas sholat ashar tadi, Olivia yang biasanya akan mengganggu Alzam, justru kini diam, dengan berpura-pura bermain ponsel.
Sementara Alzam, pemuda itu memilih untuk membaca buku yang dibawanya dari rumah Bu Aminah.
Barulah saat adzan maghrib berkumandang, Alzam mengajak Olivia sholat maghrib berjama’ah di paviliun belakang tepatnya di sebuah mushola kecil, tempat biasanya para asisten rumah tangga, satpam dan tukang kebun serta supir sholat.
Awalnya Olivia ragu, namun sang suami terus membujuknya, dan akhirnya Olivia pun mau meski ada rasa malu yang menghinggapi hatinya.
Olivia dan Alzam sudah lebih dulu mengambil air wudhu sebelum keluar kamar, dan mengenakan pakaian bersih untuk sholat. Sementara Olivia, gadis itu masih memeluk sajadah serta mukenah yang tempo hari dibelikan oleh Alzam dengan harga yang terbilang mahal.
__ADS_1
Sesampainya di mushola, semua orang nampak sudah menunggu Alzam, yang sudah biasa menjadi imam sholat, sejak dia tahu bahwa para pekerja di rumah tersebut selalu melakukan sholat berjamaah di sana.
Mereka hanya bisa melakukan sholat berjamaah saat maghrib dan subuh saja, mengingat pekerjaan mereka yang lumayan banyak dan waktu istirahat yang berbeda-beda.
Mengingat jauhnya jarak antara rumah keluarga Abimana dengan masjid terdekat, maka sang Tuan rumah membangunkan sebuah mushola kecik untuk tempat beribadah para pekerjanya.
Namun kali ini, semua nampak terkejut dengan kehadiran seseorang yang sebelumnya sama sekali tak pernah terlihat mendekat ke ke tempat itu.
Ya, Olivia yang berjalan di belakang Alzam, menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana.
Alzam tahu, bahwa saat ini Olivia pasti malu karena dilihat oleh semua pekerjanya. Dia pun lalu berdiri di samping Olivia dan menjelaskan kepada semuanya.
“Maaf, Bapak-bapak dan Ibu-ibu semua. Mulai hari ini, istri saya akan ikut sholat berjamaah di mushola ini setiap maghrib dan subuh, seperti yang biasa kita lakukan. Saya harap, semuanya tidak keberatan,” ucap Alzam.
Bi Ijah dan Bi Marni nampak terharu dengan perubahan dari anak majikannya itu. Mereka pun mendekat dan menuntun gadis tersebut untuk masuk ke dalam musholla.
Olivia pun mulai memakai mukenahnya. Wajah cantik itu, entah kenapa selalu terlihat semakin cantik dan membuat hati Alzam berdegup tak menentu, kala terbalut atasan mukenah yang menutup mahkota sang istri.
Alih-alih menatap kecantikan istrinya, Alzam justru cepat-cepat menghadap ke arah lain dan beristighfar menenangkan hatinya yang bergemuruh.
Setelah merasa lebih baik dan semuanya sudah siap, Alzam pun mulai memposisikan dirinya di depan dan memulai sholat. Untuk pertama kalinya, ada rasa bangga di hatinya karena sudah membuat Olivia sedikit demi sedikit mau merubah kebiasaannya.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
__ADS_1