
Hai, ini nomorku. Aku sudah di taman dekat fakultas, ya.
Abimanyu membaca sebuah pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.
"Jak, gue pamit duluan ya. Anika udah kirim pesan nih", Abimanyu menunjukkan layar ponselnya kepada Jaka.
"Ok, sorry gue gak ikut ya, Bi. habis ini gue ada janji ketemu sama seseorang", jawab Jaka.
"Sip, sampai ketemu di kosan", Abimanyu pamit.
Dia mempercepat langkahnya karena tak ingin membuat Anika menunggunya terlalu lama.
Dari kejauhan Abimanyu bisa melihat seorang gadis berkerudung biru sedang duduk di bangku yang ada di dekat pohon cemara. Wajah gadis itu menunduk, dia tampak serius membaca buku yang ada di tangannya.
"Sorry, nunggu lama", sapa Abimanyu membuat pandangan Anika beralih padanya.
Anika tersenyum tipis, "Tak apa, aku belum lama tiba di sini".
Abimanyu memilih duduk di bangku yang ada di seberang Anika.
"Ini laptopku. Aku gak tahu masalahnya apa tapi laptop ini sering shut down sendiri dan suka muncul bunyi aneh kek alarm", terang Anika tanpa banyak basa-basi. Dia segera mengeluarkan laptop kesayangannya dari dalam ransel.
Abimanyu mengambil laptop itu, dia memeriksa sekilas tampilan luar laptopnya lalu mencoba menyalakannya.
Tak lama, masalah yang diceritakan Anika terjadi.
"Ok, nanti aku coba cek. Apa kamu butuh cepat laptop ini?".
"Mmm...tidak juga, tapi paling lama aku harap satu minggu bisa selesai", jawab Anika.
"Akan aku usahakan", janji Abimanyu.
"Terimakasih karena sudah mau membantuku. Oh ya, kita sudah kuliah beberapa semester tapi baru kali ini aku tahu kalau ada teman sejurusan yang jago service laptop padahal kita kuliah bukan di jurusan teknik atau IT, ya", Anika tertawa kecil begitupun dengan Abimanyu.
"Ya ini juga karena kebutuhan, biar bisa tetap kuliah di sini dan kebetulan sewaktu SMA aku sering membantu pamanku di desa memperbaiki berbagai alat elektronik, pamanku teknisi yang membuka jasa perbaikan barang. Jadi, sedikit-sedikit aku belajar darinya", terang Abimanyu. Anika tampak mengangguk-angguk kecil.
"Maksud kamu, jasa service ini jadi usaha sampingan kamu, ya? wah kamu hebat, jarang sekali ada mahasiswa yang mau ambil kerjaan seperti ini sambil kuliah", ucap Anika kagum.
__ADS_1
Abimanyu tersenyum tipis, "Aku tidak seluar biasa itu".
Sejenak, Anika dan Abimanyu terlibat perbincangan ringan. Mereka nampak tertawa bersama saat menceritakan hal-hal lucu yang pernah mereka alami selama kuliah. Entah kenapa, Anika dan Abimanyu cepat sekali mengakrabkan diri bahkan Abimanyu merasa sudah berteman lama dengan Anika padahal selama kuliah, baru kali ini mereka sengaja bertemu dan berbincang lebih banyak.
"Anik", terdengar teriakan dari suara yang sudah tak asing di telinga Anika. Ya, itu teriakan Laras yang nampak melambai-lambaikan tangannya dari jauh.
Anika membalas lambaian tangan Laras sambil mengajaknya untuk mendekat. Laras terlihat berlari kecil ke arah Abimanyu dan Anika yang masih duduk di bangku taman fakultas.
"Hah, aku sedari tadi cuma telepon kamu, gak diangkat-angkat. Ternyata kamu di sini", ujar Laras agak ngos-ngosan.
"Oh sorry, Ras, ponsel aku silent", jawab Anika setelah dia melihat ada delapan panggilan dari Laras.
"Kebiasaan deh, Nik. Kalau disilent itu ponsel pakai mode getar juga dong biar ketahuan kalau ada panggilan masuk", protes Laras yang duduk tanpa permisi di samping Anik lalu menyeruput jus yang ada di tangannya.
"Ya, maaf", ujar Anik pendek.
Abimanyu memilih diam melihat perbincangan kedua teman wanitanya itu.
"Eh sorry ya, Bi. Aku datang langsung sambar Anik", ucap Laras saat dirinya sadar bahwa ada Abimanyu di sana.
"Tak apa, Ras", jawab Abimanyu pendek.
"Tanya apa, Ras?".
"Soal Narendra, dia tuh beneran dekat sama Si Ayu apa gimana?", tanya Laras to the point.
Abimanyu yang mendapatkan pertanyaan seperti itu hanya merengut, "Wah sorry, Ras kalau soal itu aku jujur gak tahu".
"Masa sih? ah, kamu kan teman sekelasnya. Kelihatan kali dia sama Ayu kek mana di kelas", ujar Laras bersikukuh.
Abimanyu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Sorry, aku beneran gak tahu dan gak pernah mau tahu juga sih urusan orang lain, apalagi urusan kek begitu", lagi, Abimanyu menjelaskan.
"Yah, sayang banget nih aku gak dapat info yang akurat", keluh Laras.
"Emangnya kenapa sih Ras sibuk amat cari tahu soal Narendra?", tanya Anika yang sedari tadi diam mendengarkan pertanyaan-pertanyaan Laras pada Abimanyu.
"Oh, itu, enggak kenapa-kenapa, Nik. Aku cuma penasaran aja soalnya berita ini kenceng banget di anak-anak", jawab Laras beralasan.
__ADS_1
"Hampir aja aku keceplosan, lupa ada Anika di sini", bisik hati kecil Laras.
"Oh, efek gosip anak-anak. Kamu masih gak berubah, Ras, doyan sama berita-berita kek begitu, gak penting", jawab Anika.
"Biarin, buat kamu gak penting, tapi kalau buat aku, ini penting banget.Soal Narendra gitu loh", Laras merespon ucapan Anika dengan ekspresi genit.
Anika menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Laras. Ya, Narendra memang terbilang populer di lingkungan teman-teman seangkatan dan bahkan di lingkungan adik tingkat. Lelaki itu selain cerdas, dia juga agak pendiam, wajah tampannya yang berpadu dengan sikap pendiamnya itu membuat Narendra terlihat cool dan banyak digandrungi teman-teman wanita Anika juga Laras. Anika sendiri tidak terlalu mengenal Narendra karena mereka berbeda kelas dan sangat jarang bertemu. Kalaupun bertemu, tidak lebih dari berpapasan di sekitar lingkungan kampus.
"Sorry ya, Bi, Laras suka ngaco", Anika melirik ke arah Abimanyu yang sedari tadi diam di tempat duduknya.
"Tak apa, Nik. Oh ya karena laptop kamu sudah aku ambil, jadi aku permisi duluan, ya", Abimanyu bersiap untuk beranjak pergi.
"Ok, makasih ya, Bi", jawab Anika dengan senyumnya yang terlihat cerah. Abimanyu mengangguk sebagai jawaban.
"Ras, aku pamit duluan ya", kali ini Abimanyu menyapa Laras yang masih sibuk menghabiskan jus miliknya.
"Ok, Bi, kalau ada kabar-kabar seputar Narendra jangan lupa kasih tahu aku, ya", pesan Laras sebelum Abimanyu berlalu.
"Dasar kamu, Ras, obses banget sih sama Narendra", Anika geleng-geleng kepala, masih tak percaya dengan sikap Laras.
"Biarin, mumpung janur kuning belum melengkung, Nik. Udah ah, aku mau ke sekre himpunan dulu ya, Nik ada rapat bentar lagi sama Pak Ketua Divisi. Kamu mau ikut?", Laras merapikan penampilannya.
"Enggak, Ras. Aku masih mau di sini", jawab Anik.
"Ok, kalau gitu aku pergi dulu ya, Nik. Bye", ujar Laras setengah berteriak. Anik melambaikan tangan kepada Laras sebagai jawaban.
Ya, Laras memang termasuk anak yang aktif berorganisasi, sama seperti Anika. Tapi hari ini Anika tidak ada kepentingan untuk datang ke himpunan, jadi dia memilih menghabiskan sisa waktunya di taman fakultas bersama buku yang tadi tertunda ia baca.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore dan Anika masih juga duduk di bangku yang sama. Seseorang datang tanpa disadari oleh Anika.
"Boleh aku ikut duduk di sini?", tanya pemilik suara itu.
Anika yang sedang fokus dengan bukunya segera mengangkat kepala. Dilihatnya Narendra sudah berdiri di depannya.
"Oh, ya, silahkan", jawab Anika.
Narendra tersenyum, dia memilih duduk di bangku depan Anika lalu mengeluarkan laptop dan sebuah buku catatan lengkap dengan penanya.
__ADS_1
Setelah itu suasana kembali sunyi. Tak ada suara dari Narendra maupun Anika. Keduanya nampak fokus dengan urusannya masing-masing. Anika sendiri tidak berinisiatif untuk mengajak Narendra berbincang, begitupun dengan Narendra. Dia hanya berkutat dengan laptop dan catatannya, entah apa yang sedang ia kerjakan.
Selama beberapa semester, ini kali pertama Anika bertegur sapa dengan Narendra bahkan ini pun kali pertama mereka duduk sedekat itu.