
"Sah".
"Sah", ucap saksi, keluarga, dan seluruh undangan yang hadir sesaat setelah Jaka dengan lantangnya mengucap akad.
Ya, hari ini Jaka dan Laras sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Senyum sumringah tampak dari keduanya.
Fotografer segera mengabadikan setiap momen di acara pernikahan itu.
"Selamat ya, Bro. Akhirnya resmi juga, semoga langgeng terus", harap Abimanyu tulus.
"Thank's, Bro. Kapan dong Lo nyusul kita?", tanya Jaka tak berperasaan.
Abimanyu tersenyum tipis, "Nanti lah kalau udah saatnya. Do'ain aja".
"Pasti dong kita do'ain, ya kan sayang?", jawab Laras sambil bergelayut manja di lengan suaminya, Jaka.
"Eh, kita foto dulu yuk. Bu Ratmi mana, Bi? ajakin foto juga", mata Laras celingukan mencari sosok Bu Ratmi.
Abimanyu berpamitan sebentar untuk menemui sang ibu yang baru saja selesai memastikan semua hidangan catering miliknya siap untuk dinikmati para tamu.
"Bu, Jaka sama Laras nunggu kita untuk berfoto bersama", ucap Abimanyu.
Bu Ratmi menganggukkan kepala dan pergi mengikuti langkah kaki Abimanyu setelah ia memberikan instruksi terakhir kepada para karyawannya yang bertugas menyajikan hidangan hari ini.
Beberapa foto pun selesai diambil. Senyum di wajah Jaka dan Laras tidak henti-hentinya tersungging.
"Ibu makasih banyak ya atas kehadiran dan cateringnya. Aku tadi sempat icip-icip dan seperti biasa, masakan ibu selalu the best", puji Laras setelah mereka selesai berfoto
"Syukurlah kalau kamu suka, Nak. Berkah ya buat pernikahannya dan semoga segera diberikan momongan", do'a Bu Ratmi.
Jaka dan Laras tentu saja mengamini do'a tersebut.
"Oh ya Bu, nanti ada sahabat aku yang mau ketemu ibu. Katanya mau berterimakasih langsung untuk catering ibu sekalian mau cek menu lainnya", lanjut Laras.
"Siapa, Nak? boleh saja. Ibu gak kemana-mana kok sampai acara selesai. Ibu ada di sana, ya", tunjuk Bu Ratmi ke sebuah ruangan yang menjadi bilik catering.
Laras mengangguk. Tak lama, perbincangan itu berakhir karena mempelai harus berganti pakaian untuk sesi resepsi.
"Akhirnya sampai juga", gumam Anika setelah berhasil memarkirkan mobil miliknya.
Acara pernikahan Jaka dan Laras dihadiri banyak sekali tamu. Perlu waktu beberapa menit untuk Anika bisa menemukan space parkir.
Sesaat ingatan Anika melayang, mengingat bagaimana Laras menceritakan hubungannya dengan Jaka dan niatan mereka untuk menikah.
Ah, jika mengingat itu, Anika rasanya hampir tak percaya sahabatnya dan teman kampusnya itu akan mengikat janji sehidup semati.
Tetiba saja ingatan Anika mengarah pada Abimanyu. Ya, lelaki baik hati yang juga pernah ia kenal semasa kuliah dulu bahkan dirinya pernah menyimpan perasaan yang dalam pada lelaki itu.
"Apa kabar dia sekarang? mungkinkah dia ada di sini?", Anika bertanya pada dirinya sendiri.
Ia segera menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menyadarkan bahwa saat ini maksud kedatangan dia adalah untuk menemui Laras dan Jaka, bukan bernostalgia dengan masa lalu.
Anika buru-buru turun dari mobilnya. Ia berjalan dengan cepat tanpa memperhatikan sekitar.
Brukk
__ADS_1
Anika menabrak seseorang karena sedari tadi matanya fokus melihat isi tas, mencari-cari di mana gawainya berada.
"Aduh, maaf maaf, Mas, saya tidak sengaja", ucap Anika panik menyadari dirinya menabrak seseorang.
"Tidak apa-apa, Mbak", jawab orang yang ditabrak.
Anika menatap lelaki di depannya yang sedang membersihkan sedikit debu yang menempel di kedua tangannya karena tadi ia menahan diri agar tidak terjatuh di area parkiran.
"A ... Abimanyu", seru Anika terkejut.
Lelaki yang ia panggilan Abimanyu pun mengapa Anika lekat.
"Anika, ya. Kamu Anika kan?", tanyanya tidak kalah terkejut.
Anika tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Ia tak menyangka setelah tiga tahun lebih dirinya bisa bertemu lagi dengan lelaki yang baru saja terlintas dalam ingatannya.
"Apa kabar?", tanya Anika basa-basi.
"Kabarku baik. Kamu sendiri apa kabar?", Abimanyu balik bertanya.
"Seperti yang kamu lihat, kabarku juga baik".
Sesaat ada jeda di antara mereka.
"Eee ... kamu mau masuk?", Abimanyu membuka suara lagi
Anika menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ayo kita sama-sama masuk", ajak Abimanyu.
Suasana di dalam gedung sangat ramai dengan para tamu. Jaka dan Laras pun tampak sibuk bersalaman dan menerima ucapan selamat di pelaminan.
"Itu mereka. Silahkan temuilah mereka dulu", ucap Abimanyu menunjuk ke arah pelaminan.
"Iya, terimakasih, Bi", jawab Anika.
Abimanyu tersenyum tipis dan menganggukkan kepala. Dia melihat Anika yang berjalan memasuki antrian para tamu undangan untuk bisa bertemu dengan kedua mempelai.
Deg ... deg ... deg
Hati Abimanyu berdesir-desir tak karuan semenjak tadi dirinya menyadari bahwa orang yang menabraknya adalah Anika.
"Ah, sial, perasaan macam apa ini?", batin Abimanyu berusaha menenangkan hatinya.
Dia berusaha mengalihkan perasaannya yang tak karuan itu dengan mencari sosok sang ibu di bilik catering.
"Ada apa, Nak?", tanya Bu Ratmi yang sangat tahu betul dengan perubahan raut muka putra kesayangannya itu.
Abimanyu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, "Gak ada apa-apa kok, Bu".
Bu Ratmi melekatkan tatapan kedua mata tuanya, "Kamu yakin baik-baik aja?".
"Iya, Bu", jawab Abimanyu cepat. Ia tidak ingin membuat ibunya khawatir meski ia tahu, kalau sudah berhadapan dengan sang ibu tidak ada yang bisa ia sembunyikan.
__ADS_1
"Bu Ratmi, maaf, ini sahabat yang mau aku kenalkan", tetiba saja Laras masuk ke bilik catering.
Bu Ratmi dan Abimanyu yang tengah duduk akhirnya menoleh bersamaan.
Kedua mata Abimanyu beradu dengan Anika. Gadis itu segera menundukkan sedikit kepalanya untuk menghindari tatapan mata yang saling bertabrakan.
Bu Ratmi menghampiri Laras dan Anika sambil tersenyum ramah.
"Selamat siang, Bu. Kenalkan, saya, Anika. Ibu yang selalu mengirimkan catering ke konveksi Pelangi ya", Anika mengulurkan tangannya dan mencium tangan Bu Ratmi.
Bu Ratmi agak terkejut dengan sikap hormat Anika kepadanya.
"Oh iya, kenalkan, nama ibu Ratmi dan betul catering kami yang menyuplai makanan ke konveksi Pelangi", jawab Bu Ratmi ramah.
"Bu, Anika ini Pemiliki konveksi Pelangi itu lho. Dia katanya mau ngobrol sama ibu untuk tahu menu catering lainnya biar dia bisa variasi menu", Laras ikut nimbrung, menjelaskan maksud Anika menemui Bu Ratmi.
Bu Ratmi mengangguk-anggukkan kepalanya dan mengajak Anika masuk ke bilik catering. Laras tidak ikut karena dia harus segera kembali ke pelaminan untuk menemani suaminya menemui para tamu.
Abimanyu yang sedari tadi diam dan mendengar percakapan ibunya masih tetap ada di sana. Ia lagi-lagi terkejut saat mengetahui jika Anika adalah pemilik konveksi Pelangi. Beberapa waktu lalu dia pernah ke sana mengantarkan orderan catering.
Bu Ratmi tampak asyik berbincang dengan Anika setelah ia memperkenalkan putranya pada Anika.
Bu Ratmi tersenyum saat mengetahui jika Anika dan Abimanyu ternyata saling mengenal.
"Terimakasih banyak Bu untuk semua informasinya. Kalau boleh, mulai pekan depan saya ingin catering ke konveksi divariasikan saja seperti tadi ya, Bu. Biar para pegawai juga gak bosan", kata Anika di akhir perbincangan mereka.
"Baik, nanti ibu siapkan. Jadwal pengirimannya tetap sama ya?".
"Iya, Bu, sama", jawab Anika pendek.
Perbincangan Anika dan Bu Ratmi berakhir ketika seorang pegawai datang dan meminta Bu Ratmi untuk keluar bersamanya.
Suasana di dalam bilik catering sedikit kikuk karena hanya menyisakan Abimanyu, Anika, dan tiga orang karyawan yang itupun sibuk memastikan semua makanan tetap panas dan terisi.
"Mmm ... mungkin sebaiknya kita ke luar", Abimanyu membuka suara.
Anika mengangguk kecil dan mengikuti langkah kaki Abimanyu.
Keduanya kini duduk di antara kursi-kursi tamu yang berjajar di area taman tak jauh dari lokasi gedung utama.
Suasana di area itu tidak terlalu ramai karena para tamu undangan lebih banyak memilih duduk di tempat undangan utama.
"Aku gak nyangka kalau kamu putranya Bu Ratmi. Masakan beliau sangat lezat", puji Anika memulai perbincangan.
Abimanyu tersenyum, "Ya, aku juga tidak menyangka kalau kamu sekarang jadi seorang pengusaha sekaligus mitra ibuku".
"Oh ya, apa kamu datang kemari sendiri? aku dari tadi tidak melihat Rendra", lanjut Abimanyu yang baru mengingat sosok Rendra, suami Anika.
Anika menundukkan kepala, terlihat dia menarik nafas dalam.
"Apa Rendra baik-baik saja?", tanya Abimanyu hati-hati.
Anika mengangkat kepalanya, dia menatap wajah Abimanyu dan berusaha tersenyum.
"Ya, kabar Rendra baik. Dia tidak menemaniku ke sini", jawab Anika.
__ADS_1
Abimanyu mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda ia menerima jawaban Anika.
Perbincangan Abimanyu dan Anika tak lama karena mereka nyatanya sibuk menenangkan hati masing-masing.