
Keesokan harinya sepulang kuliah, Leon menemui Alzam di kedainya. Saat itu, Alzam bahkan hendak pulang dan bertemu istrinya.
“Bang, gue mau ngomong sesuatu ama elu,” ucap Leon sesaat setelah mengucap salam.
Alzma sampai terdiam sejenak dan kemudian meminta Leon untuk duduk terlebih dulu. Tak lupa dia pun meminta pegawainya membawakan dua gelas es kapucino sebagai teman bicara di sore yang cukup terik ini.
“Kamu baru pulang dari kampus?” tanya Alzam.
Pemuda itu hanya mengangguk. Sikap duduknya pun juga terlihat tegang dan kaku, dengan kedua tangan yang ia sembunyikan di bawah meja. Jelas terlihat gurat gugup di wajahnya.
Alzam sampai mengangkat sebelah alisnya karena sangking bingung dengan sikap Leon yang jauh berbeda ini.
“Apa ada masalah, Yon?” tanya Alzam akhirnya.
“Gue mau tanya sesuatu sama elu, karena cuma elu yang tau jawaban dari pertanyaan gue ini, Bang. Gue nggak nyakin kalo nanya sama orang lain,” ucap Leon.
“Tanya apa? Kalo aku bisa, aku usahain buat bantu kamu,” jawab Alzam.
“Gue pernah denger dari Oliv, kalo dulu elu nolak banget buat pacaran sama dia kan? Karena nggak boleh sama agama?” tanya Leon.
Alzam hanya menjawab lewat anggukan kepala, dengan kedua lengan yang terlipat di depan dadanya. Sepertinya dia sedikit tahu kemana arah pertanyaan Leon saat ini.
“Terus, kalo dalam agama kita gimana caranya kita bisa saling mengenal dengan lawan jenis kalau nggak boleh pacaran?” tanya Leon.
“Ini pertanyaannya?” tanya Alzam balik.
“Iya, kenapa emang?” tanya Leon lagi.
“Kenapa nggak tanya pas semalem di pengajian aja? Ngapain nanya sama aku sampe tegang kek gini,” tanya Alzam lagi.
“Tinggal jawab aja susah amat, elah. Gue nggak nanya semalem karena nggak mau kelihatan konyol depan semua jamaah,” jawab Leon.
“Masalah hati mana ada yang konyol sih, Yon. Sah-sah aja kok kalo kita naksir cewek. Cuma caranya aja yang harus bener. Dalam islam, nggak ada yang namanya pacaran. Adanya taarufan,” sahut Alzam.
“Taaruf? Apaan tuh?” tanya Leon.
“Konsepnya sama kek pacaran. Cuma taaruf ini lebih menekankan kepada pengenalan sikap dan kepribadian melalui perantara. Bisa dari pihak keluarga maupun orang yang dirasa memiliki kualifikasi yang baik dalam menilai orang. Jadi nggak ada kontak fisik, lihat muka aja nggak ada. Mentok-mentok cuma bisa lihat fotonya doang, itu pun kalau pihak keluarga mengijinkan,” jelas Alzam.
Leon tampak masih belum jelas dengan penjelasan dari pemuda di depannya. Dia bahkan sampai mengusap dagunya sembari mencerna perkataan Alzam.
Lalu tiba-tiba saja, Leon menggebrak meja di depannya hingga membuat Alzam dan beberapa orang di sekitarnya terkejut dan menoleh ke arahnya.
“Kalo gitu, gue mau taarufan sama Nurul,” ucap Leon.
“Hah?!” pekik Alzam terkejut.
“Iya, gue mau taarufan sama Nurul,” ulang Leon.
Alzam sampe harus meneguk es cappucino yang baru saja diantarkan oleh Abas kemeja keduanya. Dia mencoba meredam keterkejutannya itu terlebih dulu, sebelum menanggapi perkataan sahabat istrinya itu.
“Bentar dulu. Ini Nurul yang kita kenal itu bukan sih?” tanya Alzam memastikan.
“Siapa lagi. Temen gue nggak ada yang namanya Nurul selain dia,” sahut Leon.
__ADS_1
“Ehm... Oke. Sebelumnya aku minta maaf, Yon. Aku kaget banget pas kamu bilang kek tadi. Tapi, kamu serius mau taarufan sama Nurul?” tanya Alzam memastikan.
“Kalo nggak serius, gue mana mungkin sampe nahan malu kek gini cuma buat nanya ke elu, Bang,” jawab Leon.
“Hem... Tapi, kamu tahukan kalo Nurul usianya lebih dewasa dari kamu?” tanya Alzam.
“Tahu. Dia lima tahun di atas gue. Tapi emang nggak boleh yah? Gue denger, nabi aja istrinya beda lima belas tahun nggak papa,” jawab Leon.
“Terus, kamu udah coba tanya pendapat dia?” tanya Alzam.
Leon seketika menggeleng. Alzam pun menghela nafas panjang melihat jawaban dari pemuda di depannya itu.
“Jadi, ini cinta sepihak?” gumam Alzam.
Helaan nafas kembali terdengar dari mulut Alzam. Pemuda itu pun kembali menyedot esnya dan berusaha mencari solusi untuk permasalahan yang tengah dihadapi Leon.
“Mungkin aku bisa bantu sedikit, cuma semua tergantung sama kamu. Tapi sebelum itu, aku mau minta kamu untuk lebih menggiatkan sholat dan belajar bacaan Al-Quran kamu. Sementara itu, Aku dan Olivia akan coba atur waktu buat bilang niatan kamu ini ke Nurul dan keluarganya,” ucap Alzam.
“Jadi, elu beneran mau bantu gue, Bang?” tanya Leon.
“InsyaAllah, aku dan Olivia siap bantu buat jadi perantara taaruf kamu ini. Tapi selebihnya, semua tergantung sama kamu sendiri,” jawab Alzam.
“Makasih, Bang. Makasih banget. Gue jadi sedikit ngerasa lega habis curhat sama elu,” sahut Leon.
Kedua pemuda itu pun kembali berbincang mengenai hal ini. Leon sejujurnya masih ragu akan dirinya sendiri, mengingat masa lalu kelamnya sebelum memutuskan untuk hijrah.
Mereka mengobrol cukup lama hingga Olivia pun menelepon sang suami, karena sudah terlambat pulang dari biasanya. Alzam pun meminta Leon untuk terus semangat mendalami ilmu agama. Setidaknya meski bukan dengan Nurul, dengan siapapun dia berkeluarga, istrinya akan bisa ia bimbing sesuai syariat agama yang benar.
Malam hari, saat Alzam baru selesai mengaji di kamarnya, dia mendekat ke arah sang istri yang sejak tadi terus menyimak lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang dibaca oleh sang suami. Pemuda itu pun lalu menghampiri perempuan tersebut dan mengusap lembut perut Olivia, yang terlihat semakin besar dan membuat pergerakannya terbatas.
Dia mengecup lembut perut buncit itu, sambil membisikkan sesuatu di sana. Olivia dengan penuh perasaan mengusap surai hitam legam sang suami yang nampak masih sedikit basah karena air wudhu.
Pemuda tersebut lalu duduk di tepi ranjang dan mengecup puncak kepala istrinya dalam-dalam.
“Udah laper?” tanya Alzam.
Olivia mengangguk dengan senyum manisnya. Alzam bangun dan mengulurkan tangannya ke arah sang istri.
“Mau makan bihun rebus di ujung jalan nggak?” ajak Alzam.
“Mau,” sahut Olivia antusias.
“Yuk,” seru Alzam.
Keduanya pun bersiap. Olivia tak pernah lupa mengenakan kerudungnya setiap kali hendak keluar rumah atau sekedar menemui tamu yang tiba-tiba muncul di depan rumahnya.
Alzam pun tak pernah lepas memperhatikan sang istri. Saat Olivia merasa dia sudah siap untuk keluar, Alzam tiba-tiba meraih sebuah jaket dari dalam lemari, dan memakaikannya ke tubuh sang istri.
“Angin malam nggak baik buat ibu hamil. Sebaiknya pake jaket biar tetap hangat,” ucap Alzam.
Olivia pun hanya tersenyum, karena mendapatkan perhatian penuh kasih sayang dari suaminya. Keduanya lalu mengendarai motor matic untuk pergi ke ujung jalan perumnas, di mana ada banyak penjual makanan kaki lima di sepanjang jalan, yang ramai setiap malam.
Setelah sampai di sana, Alzam mencarikan tempat duduk untuk sang istri, dan memastikan perempuan hamil itu merasa nyaman. Setelahnya, dia memesankan makanan yang tadi ia tawaran kepada Olivia.
__ADS_1
Setelah memesan seporsi bihun rebus, capcay seafood, serta dua piring nasi putih, Alzam pun kembali ke tempat duduknya menemani sang istri.
“Mas, yang jual cimol di sebelah keknya buka deh tadi,” ucap Olivia.
“Mau cimol juga?” tanya Alzam.
Olivia mengangguk cepat. Alzam pun dengan gemas mengusap-usap puncak kepala sang istri.
“Habis makan, nanti kita mampir beli itu yah,” ucap Alzam.
“Asiikkk... Dede, Ayah baik yah,” ucap Olivia sambil mengusap perut buncitnya.
“Alhamdulillah, Ayah masih dikasih rejeki buat nyenengin anak istri,” sahut Alzam sambil ikut mengusap perut sang istri.
Tak berapa lama, pesanan mereka pun datang. Setelah melewati masa-masa morning sickness yang begitu menyiksa di masa kehamilan awalnya, kini n*fsu makan Olivia sudah kembali dan bisa makan banyak seperti biasa.
Tubuhnya bahkan semakin melar dan membuat wajahnya semakin tembem.
Setelah selesai makan malam yang terbilang banyak, Olivia masih meminta makanan penutup berupa cimol yang dijual di samping warung tenda tempat mereka makan tadi.
Mereka berdua duduk di kursi yang disediakan, sambil menikmati suasana tepi jalan dan memakan jajanan khas bandung itu.
“Liv, tadi siang Leon ke kedai lho,” ucap Alzam.
“Siang? Emang dia nggak ngampus?” tanya Olivia.
“Habis dari kampus maksdunya. Itu lho kenapa aku tadi sore pulangnya telat,” jawab Alzam.
“Ohm... Emang mau ngapain tuh anak ke sana?” tanya Olivia dengan mulut yang penuh akan cimol.
“Dia bilang mau taarufan sama Nurul,” jawab Alzam.
UHUK! UHUK! UHUK!
Seketika, Olivia tersedak bumbu cabai bubuk yang bertaburan di atas cimolnya, hingga matanya berair. Alzam pun segera memberinya air minum agar bisa sedikit meredakan rasa pedihnya.
“Kamu serius sama yang kamu bilang tadi, Mas?” tanya Olivia.
“Serius lah. Emang pernah aku ngomong nggak serius?” tanya Alzam balik.
“What? Gila... beneran dapet hidayah tuh anak,” gumam Olivia.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
__ADS_1