
Malam harinya di kediaman Abimana, tampak seorang pria datang bertamu dengan pakaian rapi, dan membawa beberapa shopping bag untuk sang tuan rumah serta nyonya-nya.
Terdengar tawa renyah dari arah ruang tamu, yang diselipi percakapan ringan, yang didominasi oleh pujian dari sang tamu untuk nyonya rumah tersebut.
"Wah... cantik banget pas nempel di kulit Tante. Jadi kelihatan muda kalo pake itu, Tan," puji si tamu yang tak lain adalah Nathan.
“Nathan ini bisa aja. Ini cantik banget lho. Bener-bener kamu itu menantu idaman,” sahut wanita yang tak lain adalah Mamah Ros.
“Tante bisa aja. Ini ngga seberapa kok. Dilihat lagi yang lain, Tan. Masih banyak yang lain lagi lho,” ucap Nathan merendah.
Dalam hati, dia memang ingin terus menyuap Mamah Ros dengan berbagai benda mahal yang menurut wanita itu berkelas, hanya untuk meracuni pikiran wanita paruh baya tersebut agar terus menentang hubungan rumah tangga Olivia.
Dari arah lantai atas, terlihat seorang pria bertubuh gempal dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluh sentimeter, menuruni tangga dengan suara yang mengagetkan kedua orang yang sedang duduk sambil bercengkrama.
“Dari pada kamu kasih barang-barang ini ke istri Oom, lebih baik kamu kasih buat calon mertua kamu aja, biar semakin disayang. Kita udah nggak punya stok anak gadis lagi, Nathan,” seru Papah Abi.
Keduanya pun menoleh dan melihat sang tuan rumah berjalan menghampiri mereka. Mamah Ros bangun dan menyambut suaminya dengan merangkul mesra lengan Papah Abi.
“Nathan ini cuma kasih oleh-oleh dari Jerman aja kok, Pah. Dia ini masih baik aja lho sama kita. Padahal dia udah jadi mantan Olivia. Anak itu bener-bener aneh. Bukannya cari yang kayak gini malah cari yang kere,” ucap Mamah Ros sarkas.
“Mamah tuh yang aneh. Oliv itu dari kecil nggak pernah kurang apapun. Kita selalu bisa kasih semua materi buat dia. Justru karena Alzam, Oliv sekarang mulai mau belajar sholat, mau belajar ngurus suami. Papah juga lihat mereka seneng-seneng aja. Harusnya Mamah itu dukung Oliv supaya jadi wanita yang baik, ini malah bandingin menantunya mulu."
“Kamu juga Nathan, lebih baik kamu nggak usah datang ke sini lagi sambil bawa barang-barang mahal begini. Istri Oom sudah punya banyak koleksi di lemari,” ucap Papah Abi.
Dia lalu melepas rangkulan istrinya dan berjalan keluar.
“Papah mau kemana?” tanya Mamah Ros.
“Jalan-jalan bentar cari angin. Mamah di sini aja temenin tamunya sampe pulang,” jawab Papah Abi.
Pria bertubuh tinggi besar itu pun keluar, dan tak lama kemudian terdengar bunyi mesin mobil yang semakin lama semakin menjauh.
“Si papah mau kemana sih? Ada tamu juga,” gumam Mamah Ros kesal dengan sikap sang suami.
Dia pun lalu duduk kembali dan berbincang dengan Nathan.
“Hehe... Maaf ya, Nathan. Mungkin Oom lagi ada janji main squash sama temen-temennya. Biasalah. Dia emang masih energic banget meskipun udah nggak muda lagi. Jangan masukin omongan Oom tadi ke hati yah. Kamu boleh kok main ke sini terus,” ucap Mamah Ros memberikan pengertian pada tamunya itu.
“Iya, Tante. Nggak papa kok. Omongan Oom tadi emang ada benernya juga. Tapi, aku bakal selalu sempetin buat main kesini, hitung-hitung silaturahmi,” sahut Nathan.
__ADS_1
Diluar, Nathan terlihat tersenyum dengan penuh rendah diri. Akan tetapi dalam hati, dia begitu kesal dengan perkataan ayah dari wanita yang sedang ia coba hancurkan rumah tangganya.
Si*lan. Oom Abi malah dukung mantu kerenya. Gue mesti pepet terus Tante Ros, biar dia bisa ribetin rumah tangga Oliv sama tuh cowok miskin nggak tau diri, batin Nathan.
...☕☕☕☕☕...
Sementara di tempat lain, tepatnya di salah satu rumah di kawasan sebuah perumnas, sepasang suami istri terlihat sedang sibuk menyiapkan makan malam di dapur.
Kali ini, Alzam ingin membuat nasi goreng dengan telor mata sapi. Lagi-lagi, Olivia memintanya untuk mengajari membuat makanan tersebut.
“Agak ribet dari goreng tempe ama tahu lho, Liv. Beneran mau belajar bikin?” tanya Alzam.
“Iya dong. Kan aku pengin jadi istri yang serba bisa,” sahut Olivia penuh keyakinan.
Alzam tak bisa menolak saat melihat semangat sang istri yang begitu ingin belajar. Dia pun mau tak mau mengajari istrinya itu untuk membuat makanan tersebut.
“Ya udah. Sekarang kamu ambil telur sama daun bawang di kulkas. Aku mau siapin wajan sama bumbunya,” seru Alzam.
“Oke, Bos,” sahut Olivia.
Gadis itu pun segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh sang suami kepadanya. Setelah mengambilnya, dia lalu kembali ke dapur dan meletakkannya di sana.
Namun, baru saja Olivia hendak mengangguk, sebuah ketukan membuat fokus keduanya teralihkan.
“Siapa malem-malem ketuk pintu?” tanya Alzam.
“Nggak tahu. Biar aku buka,” ucap Olivia.
Perempuan itu segera berjalan ke arah pintu depan, tanpa menunggu sang suami mengiyakan. Alzam pun mengikutinya untuk melihat siapa tamu yang datang malam-malam begini ke kontrakan mereka.
Olivia terlihat membuka pintu, dan seketika terlihat sesosok tinggi besar yang membelakanginya. Namun, meski belum melihat wajahnya, perempuan itu seolah begitu yakin siapa orang yang ada di depan pintu rumahnya saat ini.
“Papah!” panggil Olivia.
Sontak, orang itu pun berbalik dan terlihatlah senyum yang mengembang di wajah pria tua itu. Papah Abi rupanya pergi mengunjungi kontrakan Olivia dan Alzam untuk melihat bagaimana kondisi sang putri dan juga menantunya.
Olivia serta merta memeluk pinggang ayahnya, dan dibalas dengan dekapan erat dan hangat dari pria paruh baya tersebut.
“Kok kesini nggak bilang-bilang sih?” tanya Olivia.
__ADS_1
“Nih tamunya nggak diajakin masuk dulu?” tanya Papah Abi balik.
“Eh, lupa. Yuk masuk, Pah,” ajak Olivia.
Alzam yang juga ikut ke depan, menyapa sang mertua dan menyalami pria yang sudah membesarkan istrinya itu.
“Assalamu’alaikum, Zam,” sapa Papah Abi.
“Walaikumsalam, Pah. Silakan duduk, Pah. Maaf rumahnya berantakan,” ucap Alzam setelah menyalami sang mertua.
Papah Abi pun duduk di kursi kayu mereka di ruang tamu yang sempit.
“Papah mau minum apa? Oliv bisa bikinin minum lho, diajarin sama Mas Al,” tawar Olivia.
“Oh ya? Kalau gitu, coba bikinin Papah kopi aja. Bisa nggak?” tanya Papah Abi.
“Siap, Pah. Tunggu yah,” sahut Olivia.
Perempuan itu pun lalu pergi ke dapur, meninggalkan ayah dan juga suaminya. Kedua pria beda generasi itu terlihat diam untuk beberapa saat, hingga Alzam memulai perbincangan.
“Maaf ya, Pah. Alzam bukannya manjain Oliv, malah ngajarin dia pekerjaan rumah,” ucap Alzam.
“Bagus itu. Papah malah seneng kalau dia mau belajar jadi istri yang baik. Papah sama Mamah selalu manjain dia sejak kecil. Pasti Oliv udah kenyang banget dengan yang namanya manja-manjaan. Papah justru seneng lihat Oliv ada perubahan yang lebih baik,” jawab Papah Abi.
Pria itu memang orang yang sejak awal mendukung pernikahan dadakan Olivia dengan Alzam. Berawal dari menyimpan kebohongan Olivia, berlanjut dengan perubahan sang putri yang didasari oleh ajakan Alzam.
Keduanya pun kemudian berbincang santai. Papah Abi lebih cenderung mengarahkan obrolan kepada bisnis Alzam saat ini. Sebagai sesama pengusaha, meski beda skala, namun sedikit banyak mereka bisa nyambung dalam obrolan tersebut.
.
.
.
.
ada novel bagus nih, aku mau promo novel temen ku lagi. cekidot ya 👇
Kanaya Khairunnisa terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak bisa ditolaknya dengan abang dari tunangannya sendiri, Kei Hasan. Kehidupan pernikahan mereka tidak berjalan baik karena Kei hanya menjadikan Naya sebagai alat untuk membalas sakit hatinya. Naya yang sedang melaksanakan studi di Perancis harus menelan pil pahit saat mengetahui bahwa sang suami ternyata telah menikah lagi dengan seorang model dan bintang iklan terkenal, Nadia Jefferson. Sang mertua yang sangat menyayangi Naya berusaha untuk menjauhkan Naya dari Kei. Setelah beberapa tahun ternyata takdir malah mempertemukan mereka dalam banyak situasi. Akankah pertemuan demi pertemuan mampu menghangatkan kembali hati Naya yang sempat membeku? Akankah Kei mengungkapkan cinta yang ternyata telah dimilikinya sejak lama? Mari ikuti alur ceritanya.
__ADS_1