CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Narasumbernya ketemu


__ADS_3

Malam hari, di atas kasur sempit di kamar tidur yang juga tak lebih dari tiga kali tiga meter, sepasang insan tengah bergumul dan bermandikan peluh.


Suara-suara erangan, rintihan dan desaaaahan penuh nikmat, menggema di seluruh ruangan tersebut.


“Maasss... aaaaaahhhh,” panggil Olivia disela desaaaaahannya.


Alzam terus memacu miliknya keluar masuk liang kenikmatan yang terus menghisap miliknya.


Pinggulnya naik turun, menghentakkan miliknya, dan terus menabrak dinding rahim sang istri.


Dada Olivia berguncang, membuat dua gundukan kembar itu bergoyang kesana kemari, membuat pemandangan yang sungguh indah. Kedua tangannya mencengkeram kuat lengan kekar Alzam dan kepalanya mendongak ke atas dengan mulut menganga.


Sesekali, Alzam mencium bibir itu, atau sekedar mengecupnya, menyalurkan h*srat yang semakin menuju puncak.


Alzam terus memacu miliknya semakin cepat, hingga Olivia semakin keras mendesaaaaah di bawah kungkungannya. Perempuan itu merasakan sesuatu akan meledak di bawah sana, hingga dia meremaaaaas spres yang ada di sekelilingnya.


“Mas... Aaaaaaahhhhh... Aku...,” ucap Olivia.


“Iya, Sayang. Kenapa... Aaaaarrrrgghhhhh...,” sahut Alzam.


Olivia tak bisa menjawab. Rasanya semakin nikmat. Akhirnya dorongan kuat pun keluar seiring dengan h*srat Olivia yang sudah sampai ke puncak. Dia tak tahu sensasi apa ini, yang jelas sesuatu baru saja keluar dari miliknya.


Namun, pacuan Alzam tak melambat sedikitpun, dan semakin membuat Olivia berguncang hingga akhirnya pemuda tersebut mengerang cukup keras dan menghentakkan beberapa kali miliknya ke dalam.


Sesuatu yang hangat terasa mengalir di dalam milik Olivia, menyemai rahim subur perempuan itu.


Keduanya saling pandang. Nafas masih tersengal dan peluh pun bercucuran.


Olivia mengangkat tangannya dan meraih pelipis sang suami. Dengan lembut, perempuan itu mengusap sisa keringat yang masih muncul di sana.


Alzam mendekat dan mengecup kening sang istri yang juga terasa basah oleh keringat.


“I love you,” ucap Alzam.


“Ehmm... I love you,” sahut Olivia.


Setelah merasa miliknya sudah tak tegang lagi, Alzam pun menarik dirinya dan berbaring di samping sang istri.


Ranjang mereka yang sempit membuat Alzam dan Olivia berbaring dengan posisi saling miring atau berpelukan. Setelah bercinta kali ini, keduanya memilih untuk saling berpelukan agar terasa semakin mesra.


“Aku kasar nggak tadi?” tanya Alzam.


Olivia menggeleng. Rasanya masih malu untuknya membicarakan hal intim yang baru saja mereka lakukan.


Alzam mengusap lembut pundak sang istri dan mengecup puncak kepala perempuan itu.


“Masih kerasa sakit nggak?” tanya Alzam lagi.


“Dikit,” jawab Olivia singkat.


Dia terus bersembunyi di dalam dekapan sang suami, yang begitu hangat dan nyaman.


“Aku juga masih sakit. Dikit sih, banyakan enaknya. Hehehe...,” sahut Alzam terkekeh.


“Emang kamu sakit apanya, Mas? Bukannya cuma ngejebol aja yah? Sakitan aku kali. Sampe perih banget,” ucap Olivia.


“Sakit tahu. Mau lihat? Nih ku kasih lihat,” sahut Alzam sambil meraih sesuatu dari balik selimut.


Olivia seketika memekik dan menutup matanya dengan kedua tangan, melihat sang suami ingin menunjukkan senjata pusaka kepadanya.


“Jorok! Iiihhhh...mesum banget sih. Malu tau,” keluh Olivia.

__ADS_1


Alzam lagi-lagi terkekeh melihat reaksi Olivia yang baginya begitu lucu. Dia pun kembali meraih tubuh sang istri dan memeluknya erat, bahkan kakinya pun ikut melilit pinggang sang istri.


“Hehehe... Maaf, maaf. Habisnya kamu imut banget sih kalo lagi malu gini. Jadi seneng isenginnya,” ucap Alzam.


“Rese!” gerutu Olivia sambil memukul dada bidang sang suami.


“Iya, maaf. Tapi beneran lecet lho. Aku lihat sendiri. Terus juga perih,” ungkap Alzam.


“Masa sih? Kok bisa?” tanya Olivia.


“Kan sempit, Sayang. Penuh perjuangan lho aku jebol gawang kamu. Dikira gampang,” sahut Alzam.


“Iya, percaya. Sampe keringetan kan. Hihihi...,” ucap Olivia.


Perempuan itu balik menggoda suaminya dengan lelucon mesum ala suami istri. Alzam sampai gemas dan mencubit pipi tembem perempuan itu.


“Nakal ya. Udah berani kamu hem? Hem?” sahut Alzam.


Pemuda itu pun meraih pinggan Olivia dan menggelitiki perempuan itu hingga dia tertawa terpingkal-pingkal. Selimut yang tadi menutupi tubuh polos mereka pun tersibak dan membuat keduanya kembali terlihat telanj*ng sambil bercanda di atas kasur.


Tawa Olivia terdengar memenuhi ruangan tersebut dengan nafasnya yang tersengal-sengal karena gelitikan sang suami.


“Mas, stop. Udah dong. Hahahaha...,” rengek Olivia.


Melihat Olivia yang kembali berada di bawahnya dengan tubuh yang tak tertutup sehelai benang pun, membuat h*sratnya yang tadi sudah turun kembali naik.


Dia pun kembali membungkam bibir sang istri dengan ciuman mesra. Olivia pun melingkarkan lengannya di leher sang suami dan membalas ciuman hangat yang lama kelamaan menjadi panas.


Tangan Alzam mulai bergerak mengusap setiap inci kulit Olivia yang mulus dan putih. Rem*san nakal ia daratkan di gundukan sintal istrinya, sambil sesekali memilin ujung mungil yang masih belum menonjol keluar.


Olivia pun semakin gelisah dan menggelinjang berada di bawah kendali Alzam yang semakin hari semakin nakal.


Des*han dan erangan lirih kembali menggema di seluruh ruangan kamar dan membuat g*irah keduanya semakin memuncak.


Panggilan manja Olivia semakin membuat h*srat Alzam naik dan membuatnya mempercepat gerakan. Hingga tak perlu waktu lama, keduanya kembali mengalami pelepasan yang begitu hebat, hingga menggetarkan seluruh tubuh.


Alzam kembali rubuh di atas tubuh sang istri, sementara Olivia memeluk erat tubuh kelar suaminya sambil mengatur nafas yang begitu tak beraturan.


“Mas, berat,” keluh Olivia saat nafasnya berangsur normal.


Alzam pun bangun dan mengambil celana boxer-nya.


“Aku mau ke kamar mandi. Mau ikut nggak?” tanya Alzam.


“Kamu duluan aja. Aku masih capek,” jawab Olivia.


“Perasaan aku yang gerak deh. Kamu kan cuma diem,” sahut Alzam.


“siapa bilang? Aku juga capek digoyang kamu,” timpal Olivia.


Keduanya terkekeh dengan obrolan vulgar mereka. Alzam pun berbalik dan meninggalkan sang istri, lalu membersihkan dirinya di kamar mandi.


Setelah selesai, Alzam kembali naik dan melihat sang istri masih bangun dan memainkan ponselnya. Dia lalu naik dan bergabung dengan sang istri.


“Kirain udah tidur,” ucap Alzam.


“Aku lagi cari sesuatu. Dari kemarin belum ketemu juga,” jawab Olivia.


“Apaan sih?” tanya Alzam.


“Ada tugas individu buat wawancara pengusaha muda kek gitu-gitu lah biasa. Buat motivasi mahasiswanya biar lebih mau terjun langsung ke dunia bisnis,” jawab Olivia.

__ADS_1


“Ehm... Gitu. Emang kriteria narasumbernya gimana? Apakah dari bidang usaha tertentu? Skala usaha yang sudah maju? Atau gimana?” tanya Alzam lagi.


“Nggak sih. Nggak ada kriteria yang kek gitu banget. Intinya cuma pengusaha muda aja di segala bidang,” jawab Olivia.


Perempuan itu menjawab sambil ibu jarinya menggulir layarnya naik turun, mencari sesuatu yang menjadi bahan bahasannya dengan sang suami.


“Harus muda ya? Kisaran umur berapa?” tanya Alzam.


“Ehm... Tiga puluhan lah,” jawab Olivia lagi.


“Kenapa nggak aku aja?” tanya Alzam.


Sontak Olivia menghentikan aktifitas ibu jarinya, dan menoleh ke arah sang suami. Dia mengerutkan kening seolah berusaha mencerna perkataan pemuda tersebut.


Tak lama kemudian, kerutan di keningnya mengendur dan matanya membulat.


“Oh iya! Kenapa nggak kepikiran yah?” ucap Olivia.


“Tuh kan lupa sama suaminya sendiri. Jahat,” keluh Alzam.


“Iya, aku lupa kalau punya suami the best. Kapan bisa wawancara, Mas?” tanya Olivia langsung.


“Emang deadline kapan?” tanya Alzam balik.


“Akhir minggu ini,” jawab Olivia.


“Ya udah sekarang aja, biar bayarannya langsung,” jawab Alzam.


“Hah? Bayaran? Bayaran apa? Masa mau peritungan sama istrinya sendiri sih?” tanya Olivia bingung.


“Hehehe...,” Alzam tertawa dengan seringai jahilnya.


Sontak Olivia pun menyilangkan kedua lengannya di depan dada, dan memundurkan dirinya sedikit dari sang suami.


“Kamu nggak capek apa? Kita udah dua kali lho tadi. Aku belum tidur, besok ada kuliah...,” cerocos Olivia.


Alzam tiba-tiba mendekat dan meraih punggung istrinya, dia memeluk Olivia dan menyandarkan tubuh perempuan itu pada dirinya.


“Aku cuma becanda, Liv. Aku juga capek kali. Soal bayaran mah besok juga bisa. Hehehe...,” sahut Alzam dengan tawa jahilnya.


“Ih... Sebel!” keluh Olivia dengan sebuah pukulan kecil yang mendarat di dada Alzam.


“Tidur yuk. Udah malem. Kamu juga udah nemu narasumbernya kan?” ajak Alzam.


“E'eh. Eeeehhmmm...,” sahut Olivia dengan semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami.


Keduanya pun berbaring dan tidur bersama, dengan Olivia yang masih telanjang di balik selimutnya.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


mampir ke novel keren temen aku yuk 👇


__ADS_1


__ADS_2