CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Dua garis


__ADS_3

Di lain tempat, terlihat seorang wanita tengah duduk berjongkok sambil memeluk lututnya di dalam kamar mandi. Nampak sesuatu tergeletak tak jauh darinya, yang terus ia pandangi dengan tatapan aneh.


Sebuah benda berbentuk batang panjang seukuran jari tangan dan tipis, dengan salah satu ujung berwarna biru serta terdapat dua garis merah di ujung lainnya.


Tatapannya begitu nanar menatap alat tes kehamilan itu, yang menunjukkan bahwa dirinya saat ini tengah mengandung.


Dari tatapan matanya, bisa ditebak jika saat ini dia tengah kebingungan. Kabar yang harusnya menjadi berita bahagia, namun seolah seperti bencana untuknya.


Apa yang sekarang musti gue lakuin? Nggak mungkin Nathan bakal mau nerima anak ini. Tapi aborsi itu beresiko. Gimana kalo ada yang tahu dan tersebar ke publik? gumamnya dalam hati.


Dialah Mia, kekasih gelap Nathan yang selama beberapa tahun ini menjalin hubungan diam-diam dengan sang pebisnis muda itu.


Berawal dari hubungan semalam, berlanjut hingga Mia semakin menaruh perasaan pada pria tersebut. Karena emosi sesaat ketika dia marah mengetahui Nathan masih mencoba mengejar Olivia lagi, dia nekad melakukan hubungan badan dengan pria itu tanpa pengaman, hingga akhirnya dia pun sekarang hamil.


Namun, ketika dia sudah mendapat apa yang dia mau, Mia mulai kebingungan. Dia tak tau harus memilih apakah bertahan dengan anak itu, atau menyerah dan menggugurkan anak tersebut.


Pikirannya kalut. Dalam hati dia tidak yakin bahwa Nathan akan menerima anak itu, dan bisa saja dia justru akan mengelak atas apa yang telah ia perbuat, lalu semuanya hanya akan berakhir dengan nama baik Mia yang tercemar, hingga keluarganya pun akan mengusirnya dari perusahaan.


Namun menggugurkan pun tak mungkin. Mia bukan wanita jahat yang dengan mudahnya membunuh nyawa tak berdosa, terlebih itu adalah anak yang dikandungnya sendiri.


Di tengah kebingungannya, dia mendengar sebuah dering dari ponselnya, yang menyadarkannya dari pikiran kalutnya.


Mia dengan lemas bangun dan meninggalkan benda bergaris merah tersebut di lantai kamar mandi, sementara dirinya keluar dan mencari ponselnya.


Dari layar benda pipih tersebut, dapat dilihat bahwa sang asisten lah yang melakukan panggilan di pagi hari ini.


“Halo, kenapa, Sil,” tanya Mia lemas.


“Maaf, Bu. Ada berita tentang Anda dan wakil direktur X departemen store yang tersebar di internet. Sekarang pasti sudah masuk ke berita utama di televisi,” tutur sang asisten, Silvina.


“Apa?” tanya Mia yang terkejut mendengar ucapan dari sang asisten.


Wanita itu lalu berjalan ke arah meja dan meraih remote TV di atas sana. Dia pun menyalakan layar datar yang tertanam di dinding itu dan mencari siaran berita yang tayang pagi ini.


Berkali-kali dia mengganti saluran dan mencari siaran berita lainnya, dan rupanya berita tentang hubungan antara dirinya dan Nathan telah tersebar serta menjadi viral di masyarakat.


Mia lemas. Dia pun sampai terduduk di tepi ranjang, dengan mata yang menatap layar datar itu dengan nanar. Bahkan panggilan dari sang asisten tak ia hiraukan sama sekali.

__ADS_1


Dalam berita tersebut, nampak berkali-kali rekaman CCTV apartemennya, yang menunjukkan bahwa Nathan dan dirinya masuk ke dalam apartemen hingga semalaman, lalu baru keluar di keesokan harinya.


Mau menyangkal pun tak bisa, karena kejadian yang tertangkap terjadi berulang ulang-ulang dan bukan hanya sekali. Akan tidak masuk akal jika mengatakan bahwa kebetulan Nathan menginap di sana karena sesuatu hal.


Baru saja dia mendapati dirinya hamil dan tak tau harus berbuat apa, kini dia kembali dihadapkan dengan kenyataan, bahwa hubungannya dengan Nathan terekspos media.


Dering ponsel kembali terdengar, dan lagi-lagi mengagetkan Mia. Dia melihat nama ayahnya di sana. Mia seketika menegang. Dengan susah payah dia menelan salivanya, dan mencoba meraih ponsel itu dengan takut-takut. Dia seolah tahu apa yang akan ayahnya katakan di saluran tersebut.


“Ha... Halo, Pah,” sapa Mia.


“Pulang sekarang juga!” seru suara di seberang.


Panggilan sekerika dimatikan bahkan sebelum Mia sempat menjawab.


Habis sudah. Nggak ada jalan buat putar balik lagi, batin Mia.


...☕☕☕☕☕...


Di rumah sakit, Olivia tampak telah bangun. Kondisinya lebih baik dari sebelumnya dan tidak terlihat gemetar ketakutan seperti kemarin. Hanya saja, dia selalu minta ditemani oleh sang suami, di manapun dan kapanpun, sehingga Alzam harus tetap siaga di sampingnya.


Hanya bersama Alzam lah Olivia bisa merasa tenang dan tak mengkhawatirkan apapun. Pemuda itu bisa memahaminya, mengingat baru kemarin kejadian mengerikan itu menimpa sang istri. Sudah pasti trauma nya masih membekas. Hanya saja Olivia berusaha mengatasi ketakutannya, dengan bergantung pada suaminya.


Bahkan setiap kali ada perawat atau dokter yang masuk, Olivia pasti akan memeluk erat lengan Alzam, seolah takut melihat orang asing.


“Mas, aku mau pulang aja. Di sini banyak orang asing. Aku takut,” ucap Olivia.


Alzam dengan telaten menyuapi sang istri, yang memang butuh asupan nutrisi lebih mengingat saat ini dia sedang hamil, ditambah dia tengah memulihkan diri.


“Tunggu beberapa hari lagi, sampai kamu bener-bener sehat yah,” bujuk Alzam.


“Tapi, Mas. Aku...,” elak Olivia.


“Liv, inget. Ada si kecil di sini. Kamu nggak boleh egois. Tahan sebentar lagi, sampe kamu bener-bener sembuh baru boleh pulang yah,” seru Alzam.


Pemuda itu bahkan menyentuh perut rata Olivia dan mengusapnya dengan lembut, membuat hati perempuan itu menghangat.


Dengan perlahan, Olivia meraih kepala sang suami dan mengusap rambut legam itu dengan lembut.

__ADS_1


“Makasih ya, Mas. Karena kamu udah dateng dan nolongin aku. Kalau nggak...,” ucapan Olivia terhenti di udara.


Hal itu membuat Alzam mengangkat kepalanya dan menatap lekat kedua bola mata sang istri. Senyum terulas di bibir pemuda itu dan dengan lembut tangannya membelai pipi ibu hamil itu


“Liv, lupain kejadian kemarin kalau kamu emang nggak mau inget. Aku juga nggak akan maksa kamu buat bersaksi di kantor polisi atau pengadilan kalau kamu nggak siap,” ucap Alzam.


“Jadi, dia udah ditangkep?” tanya Olivia.


“Ehm... Dia dibawa Leon ke kantor polisi. Tapi buktinya masih kurang buat jeblosin dia ke penjara. Terlebih, aku nggak mau identitas kamu terekspos dan akan jadi hal buruk buat kamu nantinya,” ucap Alzam.


Olivia diam. Dia tahu bahwa jika identitasnya terungkap, media pasti akan menyerbu dan mencoba mengorek semua informasi tentang dirinya. Bahkan hal yang tak berkaitan dengan kasus tersebut pun akan dibawa-bawa keluar ke publik, hingga tak ada lagi privasi di hidupnya.


Namun tiba-tiba, Olivia teringat akan sesuatu yang sempat Nathan ucapkan sebelum beraksi menyerangnya.


“Mas, apa mobil Nathan masih di kampus? Apa anak buah Leon masih ngejaga di sana?” tanya Olivia.


“Ada apa? Kenapa kamu nanyain itu?” tanya Alzam balik.


“Aku inget, kalau di dashboard ada kamera yang akan merekam semua kejadian di dalam sana. Dia mau nunjukin ke kamu vidio itu, saat dia berhasil perkosa aku. Mungkin itu bisa dijadiin bukti. Kamu juga bisa blur wajah aku kan biar nggak kelihatan. Kamu juga bisa minta pengacara buat bikin perjanjian kerahasiaan identitas korban kan?” ucap Olivia.


“Emang bisa kayak gitu juga yah?” tanya Alzam.


“Yang ngurus si Leon kan? Coba deh kamu tanya ke dia dan kasih tahu rekaman tadi,” seru Olivia.


Alzam pun kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Leon, lalu memberitahukan apa yang tadi dikatakan oleh sang istri.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁

__ADS_1


__ADS_2