
“Kalian ada main di belakang ku ya?” terka Olivia.
“Maaf ya, Liv...,” sahut Alzam.
“Tuh kan, kamu gitu,” rengek Olivia menyela omongan Alzam yang bahkan belum selesai.
“Dengerin dulu dong, Sayang. Belum juga selesai ngomong,” seru Alzam.
“Makanya cepetan bilang apaan? Jangan kebanyakan intro deh,” keluh Olivia.
Alzam lagi-lagi menghela nafas panjang karena sikap posesif sang istri, yang terus berprasangka buruk pada sahabatnya, Nurul.
“Maaf ya, aku nggak bilang dulu ke kamu soal Nurul yang juga ikut pengajian itu. Dia emang udah dari dulu ikut majlis taklim An-nisa. Kebetulan kamu mulai tanya-tanya soal agama, makanya aku punya ide buat ajakin kamu masuk kelompok pengajian,” jawab Alzam.
“Tapi nggak harus yang sama kayak Nurul juga kan?” keluh Olivia.
Alzam mendekat dan meraih kedua tangan sang istri.
“Oliv, kamu inget nggak waktu pertama kali sholat jamaah di masjid kampus atau mushola yang ada di rumah Papah Mamah mu? Kamu sadar nggak kalau kamu kelihatan ragu dan seolah nggak pede. Kamu kayak takut kelihatan nggak bisa, padahal itu wajar karena emang kamu baru belajar. Kamu sadar itu nggak?” tanya Alzam.
Olivia diam. Alzam pun kembali berucap.
“Kenapa aku ajakin kamu ketempat pengajiannya Nurul, karena seenggaknya kamu udah kenal dia, meskipun belum deket banget. Tujuanku supaya kamu di sana punya temen yang bantu kamu buat membaur. Pas aku minta tolong Nurul, dia seneng banget lho, Liv. Dia tuh pengen temenan sama kamu. Kamunya aja yang curigaan mulu sama dia,” jelas Alzam.
“Aku bukannya curigaan, Mas. Aku tuh dari dulu nggak pernah suka kalau ada orang yang berusaha dapetin apa yang jadi milik aku. Kamu itu milik aku, Mas. Semuanya. Diri kamu, hati kamu, perhatian kamu, apapun yang di kamu itu punya aku. Aku nggak mau ada orang yang bisa dapetin itu juga. Aku nggak mau,” ungkap Olivia.
Melihat ketakutan di mata sang istri, membuat hati Alzam terasa sesak. Selama ini, gadis di depannya hanya sedang berusaha mempertahankan apa yang dia yakini adalah miliknya.
Dari apa yang diucapkan Olivia, Alzam merasa ada sesuatu di masa lalu, yang membuat gadia itu bersikap posesif pada dirinya. Bahkan sekedar menyapa lawan jenis saja, Olivia bisa sangat marah dan balik melabrak orang tersebut.
Dia pun mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi sang istri. Wajahnya begitu lembut terasa di ujung jarinya. Alzam menatap lekat mata Olivia, seraya menyelami kegundahan hati gadis tersebut.
__ADS_1
“Maaf, karena aku belum bisa membuatmu yakin bahwa hanya ada kamu saat ini di hati ku. Maaf, karena udah buat kamu takut seperti ini,” ucap Alzam.
Waktu seolah terhenti. Keduanya membeku di tempat. Olivia yang merasakan hangat dari tangan Alzam, yang menjalar ke sekujur tubuhnya, mencoba bersikap setenang mungkin, meski jantungnya berdegup tak menentu, terlebih saat ditatap begitu dalam oleh suaminya.
Pandangan Alzam turun, ke arah bibir pucat Olivia yang tak tersapu lipstik. Jakunnya naik turun, seolah begitu sulit menelan ludahnya saat ini.
Ada dorongan dari dalam yang menyerunya untuk memberikan ketenangan batin kepada sang istri, dengan kontak fisik yang lebih intim. Namun, akalnya menolak dan mencoba menghindar.
Namun, baru saja dia mengedipkan mata, tiba-tiba ucapan Abas siang tadi teringat kembali di benaknya.
Benar. Olivia itu istriku. Apa salahnya kalau aku menyentuh istri ku sendiri, batin Alzam.
Dia mengatakan kepada Olivia, bahwa dia akan mencoba menerima gadis itu sebagai istri, dan memintanya memulai bersama menjalani kehidupan rumah tangga ini.
Akan tetapi hingga sekarang, dia belum pernah memberikan nafkah batin kepada istrinya. Alzam selalu menghindar, karena sejatinya dia pun belum siap untuk menjamah tubuh seorang gadis, sekalipun keduanya sudah halal.
Namun kali ini, meski setengah ragu, akan tetapi Alzam mencoba untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Bagaimanapun juga, Olivia berhak mendapatkannya
Dia kembali menatap bibir ranum itu. Bibir yang pernah ia rasakan manisnya, saat menginap di rumah Ibu Aminah dulu. Jakunnya bergerak naik turun menelan salivanya.
Tanpa terasa, bibir keduanya beradu. Sebuah kecupan lembut namun terasa bergetar, terasa di kulit masing-masing. Beberapa saat, keduanya diam. Tiba-tiba, Olivia mulai membuka mulutnya.
Gadis itu mencoba mengambil inisiatif, karena sang suami nampak masih sangat amatir perihal hal intim seperti itu. Olivia menuntun Alzam, untuk saling menyesap bibir masing-masing, atas dan bawah, hingga semuanya basah oleh liur.
Dengan nakalnya, Olivia menjukurkan lidah, dan masuk menerobos deretan gigi putih Alzam. Pemuda itu seolah kepayahan, saat mengimbangi permainan istrinya.
Dia sampai mendorong pundak Olivia, dan membuat pagutan keduanya terurai. Nafas Alzam tersengal, seolah semua oksigen di sekitarnya habis.
Wajahnya merona, dan hawa panas menjalar di sekujur tubuhnya. Mata keduanya kembali saling tatap. Entah kenapa, Olivia seketika tertawa melihat reaksi Alzam, yang terlihat kepayahan saat berciuman. Hal itu pun membuat Alzam malu dan ikut menertawakan dirinya.
“Maaf, yah. Aku payah banget masalah kayak gini,” ucap Alzam.
__ADS_1
“Tapi aku suka. Itu artinya, aku jadi yang pertama buat kamu,” sahut Olivia.
Keduanya tersenyum. Alzam tak mempermasalahkan dia orang ke berapa yang merasakan bibir gadis itu, mengingat betapa bebasnya hidup Olivia sebelum bertemu dengannya.
Dia tak ingin memojokkan istrinya hanya karena masa lalu. Yang terpenting baginya, saat ini dan untuk seterusnya, hanya ada dia satu-satunya yang ada di hati Olivia.
Alzam kembali mendekatkan wajahnya ke arah Olivia. Gadis itu pun balas mendekat. Ciuman mereka pun berlanjut. Alzam terlihat sedikit berusaha, setelah sempat diajari oleh istrinya tadi.
Meski masih kaku, namun gadis itu terus mencoba mengimbangi permainan Alzam. Tangannya melingkar di leher sang suami, dan sesekali merem*s rambutnya, membuat ciuman mereka semakin dalam.
Tangan Alzam mulai tak bisa tenang. Dia mengusap punggung Olivia, hingga membuat piyama gadis itu terangkat. Ujung jemarinya merasakan hangatnya kulit sang istri yang terbuka, dan membuat gair*hnya semakin naik.
Tanpa terasa, tangannya telah masuk menelusup di balik kemeja, dan mulai meraba di area belakang sana. Alzam semakin turun membelai pinggang Olivia, dan tanpa sengaja menyentuh gundukan kenyal yang masih terbalut bra.
Seolah tersengat aliran listrik, Alzam merasakan geleyar-geleyar aneh di sekujur tubuh, yang seketika membangkitkan kawan kecilnya di bawah sana.
Alzam merasa sudah tak bisa mengendalikan dirinya. Dia pun lalu menarik diri dan menatap lekat wajah Olivia dengan tatapan mata yang telah sayu.
Alzam bersusah payah menelan salivanya, sesaat setelah ciuman mereka terurai.
“Apa aku boleh...,” tanya Alzam menggantung.
.
.
.
.
Boleh apaan bang? 🤭
__ADS_1
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁