CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Melihat rumah


__ADS_3

“Oliv dan aku ada rencana mau latihan tinggal mandiri, Pah,” ungkap Alzam.


“Apa?!” pekik Mamah Ros.


Wanita itu bahkan sampai langsung tersedak oleh makanan yang ada di mulutnya, setelah mendengar perkataan dari menantu miskinnya itu.


“Pelan-pelan makannya, Mah. Nih kamu minum dulu,” seru Papah Abi.


Dia memberikan minum kepada sang istri, yang nampak tersiksa karena tersedak makanan yang tak sengaja masuk ke saluran pernafasannya, hingga membuat wajah serta matanya merah hingga berair.


Olivia dan Alzam saling pandang. Pemuda itu tau bahwa sang istri takut keinginannya akan ditolak, karena melihat reaksi Mamah Ros yang begitu terkejut dan seolah tak setuju.


Dia pun mengulurkan tangan dan menggenggam jemari sang istri, yang masih memegangi alat makannya.


Mereka menunggu Papah Abi dan Mamah Ros bisa kembali mendengarkan apa yang akan mereka sampaikan lebih lanjut.


Setelah Mamah Ros merasa lebih tenang, Pappah Abi kembali kepada kedua anak muda di depannya.


“Zam, Liv, kalian udah pikir mateng-mateng soal yang kamu bilang tadi?” tanya Papah Abi.


“Kita udah pikirin mateng-mateng kok, Pah. Kita berdua ingin belajar hidup mandiri. Kalau bergantung dengan orang tua terus, berarti aku masih belum bisa bertanggung jawab penuh atas keluargaku sendiri,” jelas Alzam.


“Emang kamu udah yakin bakal mampu ngidupin Oliv, ngimbangin gaya hidupnya? Jangan sampai kamu bawa-bawa Oliv buat hidup susah dan melarat kayak kamu yah,” sahut Mamah Ros sarkas.


“Aku nggak keberatan kok. Lagian, aku yakin kalau Mas Al bakalan bertanggungjawab penuh sama hidup aku, keselamatan aku dunia akherat, nggak cuma dunia aja yang mati juga nggak bakal dibawa,” sanggah Olivia.


Mendengar pembelaan sang putri atas suaminya, membuat Mamah Ros diam, dan hanya menahan kesal, karena Olivia semakin lama semakin menentang setiap perkataan yang keluar dari mulutnya.


“Lalu, apa kalian sudah dapat tempatnya?” tanya Papah Abi.


“Kita baru minta ijin sama Papah dan Mamah dulu. Setelah Papah Mamah ngijinin, baru nanti kita cari sama-sama tempatnya,” jawab Alzam.


“Apartemen di kawasan mana? Atau mau beli rumah di komplek mana? Emangnya kamu mampu cari tempat tinggal?” tanya Mamah Ros sinis.


“Ehm... Kita...,” jawab Alzam gagu.


Dia ragu untuk menjawabnya, dan melihat ke arah Olivia. Gadis itu pun seketika paham apa yang membuat suaminya ragu untuk berucap.


“Kita belum tahu. Lihat aja nanti,” jawab Olivia tenang.

__ADS_1


“Ya sudah, kalau memang itu yang kalian inginkan. Karena bagaimanapun juga, kalian sudah berumah tangga dan memang sudah sewajarnya untuk latihan hidup mandiri. Tapi, Papah cuma mau ingatkan, kalau nanti kalian butuh sesuatu, bilang saja sama kami. Bagaimanapun kami ini orang tua kalian juga. Jangan pernah sungkan ya,” ucap Papah Abi.


“Iya, Pah. Terimakasih,” sahut Alzam.


Semuanya pun kembali hening dan menikmati sarapan masing-masing. Setelah selesai, Olivia dan Alzam pamit pergi. Gadis itu kali ini membawa tas yang agak besar, untuk membawa beberapa setel pakaian gantinya saat berada di rumah mertua.


...☕☕☕☕☕...


Hari-hari berlalu. Semenjak mereka berdua meminta ijin untuk tinggal sendiri, Alzam pun sudah mencari kontrakan yang layak untuk ditinggali, dan tidak terlalu kecil untuk tempat tinggal mereka berdua.


Setelah beberapa hari mencari, kini Alzam yang sedang menjemput Olivia pulang kuliah, berencana membawanya untuk melihat tempat tersebut.


“Kita mau kemana, Mas?” tanya Olivia.


Dia terus memperhatikan jalan yang dilalui mereka saat ini, dan itu adalah jalan yang baru pernah mereka lewati.


“Ada deh. Kejutan,” ucap Alzam.


“Apaan sih. Pake acara rahasia-rahasiaan segala,” keluh Olivia, sambil memukul kecil punggung suaminya.


Alzam hanya terkekeh mendapat serangan tak berarti dari Olivia.


Setelah berkendara sekitar lima belas menit dari kampus Nusa Bangsa, mereka berbelok ke jalan kecil yang menuju ke sebuah perumnas. Di sana, nampak berjejer rumah-rumah minimalis dengan bentuk yang hampir sama satu sama lain.


Rumah itu terlihat seperti baru saja di cat, begitu juga pacarnya. Alzam terlihat turun dan membuka gembok yang ada di pagar rumah tersebut.


“Mas, ini rumah siapa?” tanya Olivia.


“Ini rumah kita. Aku nemuin rumah ini ada tulisan 'disewakan' di pagarnya. Jadi, aku coba cari yang punya dan ternyata beneran ini disewain. Biaya sewanya juga lumayan murah. Kita bisa bayar tahunan. Setahun cuma enam juta. Tapi, biaya listrik sama air kita bayar sendiri,” jawab Alzam.


Gerbang pun telah di buka. Pemuda itu lalu kembali ke arah sepeda motor dan menuntunnya masuk.


“Yuk, kita lihat-lihat,” ajak Alzam.


Alzam lalu melangkah masuk disusul oleh Olivia. Dia menjagang motornya, lalu menggandeng tangan sang istri untuk berjalan ke arah rumah tersebut.


Pemuda itu membuka kunci pintu depan, dan memutar handel perlahan. Dia membuka lebar-lebar pintu tersebut hingga terlihatlah bagian dalamnya.


“Yuk, masuk,” ajak Alzam.

__ADS_1


Olivia pun menoleh ke dalam dan melihat kondisi ruangannya di sana. Memang sempit, bahkan dibanding kamar tidurnya, ruang tamu ini sangat kecil. Hanya muat diisi kursi berukiran kecil, dan itu pun pasti penuh sesak.


Mereka kemudian masuk ke dalam, dan terlihat sebuah kamar dengan jendela yang menghadap langsung ke halaman depan. Di depan kamar, ada sebuah ruangan yang kosong yang langsung berbatasan dengan dapur, tempat cuci dan juga kamar mandi.


Di antara dapur dan tempat cuci, ada sebuah pintu yang menghubungkan ke halaman belakang, di mana bisa digunakan untuk menjemur pakaian.


“Gimana? Emang sih kalau dibandingkan sama ruang tamu rumah kamu, rumah ini lebih kecil dari itu. Tapi menurutku, ini lebih baik dari pada kontrakan dua petak,” ucap Alzam.


“Yah, aku tadi sempet kaget juga sih. Rumah ini emang kecil. Tapi, semoga dengan cinta, kita bisa menjadikan tempat ini tempat ternyaman, tempat kita kembali setelah seharian lelah di luaran, tempat kita bisa bercerita, tawa bersama. Asal sama kamu, aku akan suka,” sahut Olivia.


Alzam tersenyum tipis ke arah sang istri. Dia mengusap lembut puncak kepala Olivia, dan memeluknya.


“Makasih ya, kamu udah mau ngertiin kondisi aku,” ucap Alzam.


“Sama-sama, Mas,” sahut Olivia.


Gadis itu mendongak sambil masih melingkarkan lengannya di pinggang sang suami. Senyumnya mengembang seiring pandangan mereka yang beradu.


“Jadi, kapan kita pindah?” tanya Olivia antusias.


“Kita perlu beli beberapa perabotan dulu. Kita bahkan tak punya kasur untuk tidur,” ucap Alzam.


“Terus, kapan dong belanjanya?” tanya Olivia lagi.


“Gimana kalau akhir pekan ini aja. Nunggu kamu libur, baru kita belanja semua perabot yang diperlukan. Tapi, aku nggak janji bisa beli yang semuanya, apa lagi yang harganya mahal,” jawab alzam.


“Nggak papa. Yang penting fungsinya sama. Lagian, mahal-mahal juga takutnya nggak muat sama rumah kecil ini kan,” ucap Olivia


 “Iya juga sih,” sahut Alzam.


Keduanya pun terkekeh. Mereka kembali melihat-lihat kondisi rumah tersebut, sambil merancang akan seperti apa rumah itu mereka tata dan atur.


.


.


.


.

__ADS_1


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁


__ADS_2