
“Liv, bisa lepasin nggak? Aku mau kerja,” ucap Alzam lirih.
“Oh, oke. Kamu mau duduk di sana kan? Kalo gitu, aku duduk di situ yah,” sahut Olivia.
Gadis itu pun menunjuk sebuah meja, yang berada di dekat tempat yang biasa dipakai Alzam untuk memeriksa pembukuan kedainya.
Pemuda tersebut hanya mengangguk. Mereka pun berpisah. Olivia duduk di meja yang ditunjuknya tadi, sedangkan Alzam masuk ke dalam dan memeriksa persediaan.
Alzam berjalan ke sana kemari, sambil membawa sebuah papan dengan kertas di atasnya. Dia mengecek semua persediaan, mengingat saat ini adalah akhir bulan dan Alzam harus mencatat semua yang habis dan perlu dibeli lagi atau diperbanyak.
Olivia juga sibuk memandangi Alzam. Bola matanya berlarian mengikuti kemana arah gerakan sang suami. Dengan kedua tangan yang menopang pipinya, dia tersenyum sepanjang hari karena bisa sepuasnya melihat sosok pria yang selama ini begitu ia inginkan.
Entah apa yang menjadi daya tarik seorang Alzam untuk Olivia. Awalnya mungkin hanya rasa penasaran saja, karena sikap Alzam padanya yang begitu sopan bahkan saat pertama kali bertemu meski mereka tidak saling kenal, dan kepintarannya dalam memperbaiki mesin mobil.
Untuk beberapa gadis, pria yang pintar otomotif dianggap sangat keren. Mungkin seperti itulah yang dirasakan oleh Olivia kala itu.
Namun, semakin lama rasa penasaran itu berganti dengan rasa kagum, dan rasa ingin memiliki. Rasa ingin terus bersama sang suami, yang meski terus menolak bersamanya, akan tetapi Alzam terkadang menunjukkan sisi lembutnya, seperti saat fitting baju pengantin, dan pagi tadi.
Aku bakalan sabar nungguin kamu, sampe kamu mau ngakuin kalau kamu bener-bener udah mau terima aku di hatimu, Mas, batin Olivia.
Dia sebenarnya sadar, saat Alzam hendak menciumnya. Dia benar-benar terbangun dan sama terkejutnya melihat sang suami, yang tiba-tiba sudah berada sangat dekat dengannya.
Namun, saat mendengar Alzam berkilah, Olivia pun berpura-pura kembali tidur dan melupakan kejadian tersebut.
Bahkan saat Alzam membangunkannya untuk sholat subuh, Olivia yang memang awan tentang kewajiban seorang muslim, menolak dengan terang-terangan ajakan sang suami, karena kesal dengan kejadian sebelumnya.
Namun setelah itu, dia tak tahu jika Alzam pergi keluar dan berjalan-jalan seorang diri. Kalau saja Olivia tahu, pasti dia sudah menyusulnya.
Gadis itu yakin bahwa suatu saat, Alzam pasti akan menunjukkan perhatiannya secara terang-terangan.
Olivia terus memandangi sang suami, hingga para pekerja mulai berbisik membicarakan cara Olivia memperhatikan Alzam. Gadis itu tahu jika dia sedang dibicarakan, akan tetapi Olivia tetap cuek dan tak peduli dengan semua omongan orang lain.
__ADS_1
Yang dia mau hanya menikmati momen saat ini, di mana dirinya bisa memandang sang suami sepuasnya, bahkan saat Alzam sedang bekerja. Pemuda itu terlihat lebih tampan di mata Olivia, saat sedang serius dengan apa yang dilakukannya.
Tiba-tiba, gadis itu melihat sesuatu di siku Alzam. Dia mencoba memicingkan mata dan mengamati hal tersebut.
“Mas, itu...,” ucap Olivia.
Namun terhenti saat Alzam berbalik dan masuk kembali ke dapur. Olivia yang tadi sempat mengangkat tangan pun kembali menurunkannya dan bertopang dagu.
Menjelang tengah hari, Alzam baru selesai mengecek semua persediaan di dapur dan gudang belakang.
Pemuda itu pun kemudian duduk di tempatnya, dan mulai menghitung dan menulis daftar belanjaan. Dia terlihat menyusun sebuah daftar yang kemudian ia kirimkan melalaui pesan chat kepada seseorang.
Tak berselang lama, sebuah dering mengalihkan fokus Alzam. Olivia terlihat mengerutkan keningnya, dan memasang wajah waspada, takut-takut jika yang menelpon adalah lawan jenis.
Alzam pun lalu mengangkatnya dan berbicara dengan orang di seberang. Sementara Olivia bangkit dari duduknya dan hendak menghampiri sang suami.
“Assalamu’alaikum. Abang jaka. Apa kabar, Bang,” sapa Alzam.
Mendengar nama yang disebutkan oleh Alzam, Olivia pun tersenyum tipis dan kembali duduk di tempatnya.
“Cuma ijab qobul kok, Bang. Aku sengaja nggak ngadain resepsi. Yang penting sah aja,” jawab Alzam.
“Gue ikut seneng dengernya. Semoga jodoh lu ama bini lu langgeng, cepet dikasih momongan juga. Samawa deh pokonya,” ucap orang bernama Jaka itu.
“Amiin. Makasih, Bang. Gimana sama pesenan ku tadi? Aman nggak?” tanya Alzam.
Setelah berbasa-basi, kini mereka tengah berbincang soal bisnis. Rupanya, Jaka adalah suplier tetap kedai Alzam yang mengirimkan hampir semua keperluan kedai, mulai dari biji kopi berkualitas berbagai jenis, bahan baku kue, hingga pernak pernik kedai lainnya.
Olivia terus menatap Alzam dari jauh, dengan senyum yang selalu menghias wajahnya. Entah kkenapa, esona Alzam seperti magnet yang kuat untuk Olivia, hingga gadis itu tergila-gila. Bahkan haya melihat cara Alzam berbicara pun sudah membuatnya senang bukan main.
Namun, tatapannya beralih, kala Alzam tak sengaja menoleh ke sebuah arah, dan menghadapkan sikunya tepat ke arah Olivia. Saat itu lah sang istri bisa melihat dengan jelas bahwa lengan suaminya sedang terluka, meski darah sudah tak nampak keluar dari sana.
__ADS_1
Dia lalu bangkit dari duduknya dan mendekati Amy yang berjaga di belakang meja barista. Kebetulan saat itu kedai sedang dalam keadaan ramai, mengingat waktu sudah hampir jam makan siang.
“Hei, kamu. Ada kotak P3K nggak?” tanya Olivia pada mantan murid Nurul itu.
Amy pun menoleh dan melihat istri bosnya sudah berdiri di depan sana.
“Kotak P3K?” Sahut Amy sambil berpikir.
“Americano 1, Espresso 1, muffin blueberry 3!” seru seorang pekerja yang membawa sebuah memo berisi pesanan.
“Cappucino ice 2, black coffee 1, red velvet 2,” Seru seorang lagi yang datang ke meja barista.
“Aduh, Bu bos. Maaf banget, kedai lagi rame. Coba cari di belakang aja deh,” sahut Amy.
Gadis itu pun kembali sibuk membuatkan pesanan dari para pelanggan yang datang. Meski kesal, akan tetpi Olivia tak bisa marah-marah, karena dia tak mau mendapatkan stempel nyonya bos yang galak dari para pekerja Alzam.
Akhirnya, Olivia pun memutuskan untuk membelinya di apotik terdekat, karena situasi di belakang pun sedang sama sibuknya dengan di depan.
Alzam melirik sekilas saat istrinya pergi keluar kedai seorang diri. Akan tetapi, dia tak terlalu memperhatikan dan tetap berbincang dengan suplier tetap yang ada di seberang sambungan.
Tak lama kemudian, pintu kedai kembali terbuka dan ucapan selamat datang dari pegawai terdengar. Nampak seorang wanita mengenakan baju batik memasuki kedai, dengan membawa sebuah buku bersapul batik seperti tempo hari.
“Assalamu’alaikum,” sapanya dengan senyum manis dan ramah.
.
.
.
.
__ADS_1
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁