CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Amarah


__ADS_3

“Oliv! Liv! Ada tamu nih. Keluar dulu yuk temuin dia,” panggil Mamah Ros.


Olivia pun seketika bangun dan berjalan ke arah pintu. Dia membukanya dan melihat sang ibu berdiri di sana.


“Tamu siapa sih, Mah? Leon udah dateng?” tanya Olivia.


“Kok Leon sih? Mending nggak usah deket-deket sama cowok itu lagi deh. Percuma, kalau ujung-ujungnya nggak bisa jadi pacar kamu. Malah nikah sama cowok miskin lagi,” sahut Mamah Ros.


“Iiiihhhh! Mamah apaan sih. Leon sama Oliv tuh sahabatan. Mana ada sahabat pacaran. Yang ada jadinya musuh ntar. Lagian Mas Al itu laki-laki baik. Kenapa sih Mamah gitu banget sama suami Oliv?” jawab Olivia.


“Ah, kamu ini banyak jawab! Cepet ganti baju sana, terus temuin tamunya,” seru Mamah Ros.


Wanita itu pun berbalik dan hendak pergi, akan tetapi Olivia kemudian menahan lengan sang bunda agar tak pergi lebih dulu.


“Apa lagi sih?” tanya Mamah Ros.


“Tamunya cewek apa cowok?” tanya Olivia.


“Cowok. Udah sana cepet ganti baju, dandan yang cantik terus turun,” seru Mamah Ros lagi.


Wanita itu pun lalu pergi dari sana meninggalkan Olivia yang masih bingung.


Karena hari sudah semakin siang, akhirnya Olivia pun berganti pakaian, sekaligus bersiap untuk pergi dengan Leon.


Seperti yang pernah dikatakan oleh Alzam sebelumnya, dia harus memakai pakaian yang sopan dan tertutup. Bahkan sekarang, koleksi pakaian seksi dan press body milik Olivia sudah jarang keluar dari lemarinya.


Semuanya sudah tergantikan dengan kemeja lengan panjang atau juga beberapa tunik, yang sesekali dipakai saat berkunjung ke kedai atau rumah mertuanya.


Meski awalnya kesal karena ada orang yang mengomentari penampilannya, namun perlahan seiring dengan perhatian kecil Alzam yang diberikan padanya, membuat Olivia menurut dan mau mengubahnya sedikit demi sedikit.


Seperti kali ini, Olivia memilih sebuah kemeja kotak-kotak hitam putih besar dengan panjang sepaha dan lengan yang ia gulung sesiku, yang dipadu celana jeans biru tua serta sepatu snikers putih.



Make up yang biasa tebal pun sudah ia rubah menjadi polesan bedak tipis dan sapuan lipstik berwarna soft. Rambut panjangnya seperti biasa selalu ia gerai dan menjuntai hingga punggung bawah.

__ADS_1


Tak ada lagi celana ketat, baju ketat, mini, seksi serta dandanan menor yang selalu menjadi ciri khas seorang Olivia, kesan pertama yang dilihat oleh Alzam.


Kini, gadis itu telah berubah menjadi seorang gadis biasa saja, dengan penampilan normal seusianya.


Setelah selesai, Olivia mengirimkan chat kepada Leon, bahwa dia sudah siap untuk berangkat.


Tak lama kemudian, masuklah pesan balasan dari sang sahabat, bahwa dia sedang dalam perjalanan ke rumah Olivia.


Gadis itu pun lalu turun dan menemui tamu yang dikatakan oleh sang ibu terlebih dahulu, sebelum sang sahabat datang. Saat kakinya semakin turun ke bawah dan melangkah mendekati ruang tamu, sayup-sayup ia mendengar sebuah suara yang seperti tak asing. Suara yang sudah sangat lama tidak ia dengar.


Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, saat memori di otaknya kembali memutar ingatan tentang si pemilik suara tersebut. Olivia berjalan perlahan dan semakin mendekat.


Saat dia sampai di perbatasan ruang tengah dan tamu, tubuhnya seketika membeku ketika matanya melihat sosok pemuda, yang sedang dan berbincang akrab dengan ibunya.


Netranya membola, dadanya bergemuruh dan tangan mengepal, akan tetapi tubuhnya kaku seolah tak mau bergerak.


Kehadiran Olivia pun disadari oleh sang tamu, Nathan, dan membuat pemuda tersebut berdiri menyambut kedatangan Olivia.


“Oliv,” panggilnya.


Nampak jelas di wajah pemuda tersebut, bahwa dia sangat senang bisa bertemu dengan Olivia. Namun, berbeda dengan gadis itu. Olivia justru diam dengan ekspresi yang begitu datar.


“Oliv, sapa dong tamunya. Nggak sopan lho diem kaya gitu,” seru Mamah Ros.


Olivia menoleh ke arah sang mamah, dan menatap dengan tatapan bingung.


“Kenapa dia bisa di sini, Mah?” tanya Olivia.


“Ngomong apa sih kamu? Nathan kesini ya mau ketemu kamu lah. Kalian kan pernah pacaran dulu. Jadi, nggak salah dong kalau dia main ke sini,” ucap Mamah Ros.


Mamah Ros nampak bersikap baik pada Nathan, akan tetapi selalu kasar dan pedas setiap kali berhadapan dengan Alzam.


“Lu tunggu di sini!” seru Olivia pada Nathan.


Gadis itu lalu menarik lengan sang bunda dan membawanya ke halaman belakang. Mamah Ros nampak meronta dan mencoba melepaskan tarikan tangan Olivia.

__ADS_1


“Oliv, jangan tarik-tarik Mamah dong,” keluh Mamah Ros.


Sesampainya di taman belakang, Olivia pun melepaskan genggamannya pada lengan sang bunda. Dia berbalik dan berhadapan dengan wanita yang telah melahirkannya itu.


“Mamah jujur deh sama aku. Dia yang datang sendiri ke sini, atau Mamah yang udah undangan dia?” tanya Olivia langsung.


“Kamu ini kenapa sih? Memang apa salahnya kalau Nathan ke sini?” tanya Mamah Ros.


“Jawab aja deh, Mah,” seru Olivia dengan nada yang meninggi.


“Dia dateng sendiri,” jawab Mamah Ros.


“Bohong! Mamah udah bohong sama Oliv. Oliv Kenal banget siapa dia, Mah. Gengsinya tuh tinggi banget. Nggak mungkin dia deketin cewek yang udah nikah, kalau nggak ada yang bilang dia masih punya kesempatan. Apa yang udah Mamah bilang ke dia?” cecar Olivia.


“Kamu itu ngomong apa sih? Nathan nggak tau kalau kamu udah nikah, jadi wajar aja kalau dia mau ngejar kamu lagi setelah balik dari Jerman 'kan,” sahut Mamah Ros berkilah.


“Mah, dia itu selalu ngikutin sosmed aku, sampe aku berhenti main sosmed. Gilanya, dia nggak cuma stalker sosmed aku, tapi juga punya Leon. Dia lihat foto nikahan aku sama Mas Al di medsosnya Leon. Gimana dia nggak tahu kalau aku udah nikah?” ungkap Olivia.


Mamah Ros nampak panik, karena kebohongannya sudah terbongkar dengan cepat.


“Emang salah kalau Mamah undang dia buat dateng ke sini? Lagian, Nathan itu ganteng, baik, yang terpenting dia selevel sama kamu. Mamah juga lihat kamu terlalu diatur sama suami miskin kamu itu. Lihat! Bahkan sekarang aja, penampilan kamu jadi nggak banget gini, beda pas kamu sama Nathan. Itu tandanya, kalau suamimu itu nggak bisa ngimbangin gaya hidup kamu,” cerocos Mamah Ros.


“Mah! Mas Al itu suami aku. Jadi jelas kalau dia mau yang terbaik buat aku. Dia minta aku menutup aurat perlahan-lahan, bukan malah mengumbarnya dan memanggil setan datang. Dia bukan mau mengekang kebebasanku. Dia cuma kasih tahu aku mana yang bener dan nggak. Nggak kayak seseorang yang justru ingin pria lain menikmati tubuh kekasihnya,” ucap Olivia.


Dia melirik ke arah dalam, di mana Nathan telah berdiri tak jauh dari pintu belakang, yang pastinya bisa mendengar percakapan Olivia dan Mamah Ros, yang sejak tadi bernada tinggi.


“Karena Mamah yang udah undang dia buat kesini, jadi silakan Mamah aja yang nemenin dia. Oliv masih ada urusan di luar, nggak ada waktu buat tamu Mamah itu,” pungkas Olivia, dengan tatapan lurus ke arah Nathan.


.


.


.


.

__ADS_1


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁


__ADS_2