
Waktu berlalu begitu cepat, tiga tahun terakhir ini Abimanyu tampak sibuk dengan pekerjaannya. Ya, selepas wisuda, ia dengan cepat mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan IT ternama di Kota Y. Kecerdasan, pengalaman, dan etos kerja yang baik membuat Abimanyu bisa menduduki posisinya sekarang sebagai seorang manajer.
"Hallo, ibu sudah sampai mana? Abi sudah selesai bekerja, setelah ini Abi segera ke stasiun ya jemput ibu", terdengar suara Abimanyu bercakap-cakap dengan sang ibu di telepon.
"Iya, Nak. Mungkin sebentar lagi ibu sampai. Kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut", pesan sang ibu.
"Iya, Bu. Abi segera ke sana ya Bu. Teleponnya Abi tutup dulu", Abimanyu bergegas mengambil kunci mobil miliknya dan segera mempercepat langkahnya ke basement.
"Selamat sore, Bi. Kamu tampak terburu-buru sekali, mau kemana?", dapat Jessi, rekan kantornya.
"Oh ya, sore juga, Jess. Maaf saya duluan ya, ada urusan", jawab Abimanyu cepat. Dia tidak ingin membuang waktu lama untuk menjemput sang ibu.
Jessi tertegun di tempatnya berdiri, "Kenapa sih susah banget deketin kamu, Bi?", gumam Jessi yang hanya bisa menatap bayangan Abimanyu yang sudah hilang di depannya.
Ya, Jessi adalah manajer keuangan di perusahaan yang sama dengan tempat Abimanyu bekerja. Sejak awal mereka bertemu, Jessi memang sudah memiliki rasa kepada Abimanyu. Terlebih Abimanyu adalah lelaki yang juga diidolakan banyak pegawai perempuan di perusahaan tersebut karena selain goodlooking, tentu saja karena dia cerdas dan ramah pada semua orang.
Jam menunjukkan pukul 17.40 saat Abimanyu tiba di stasiun. Hari ini ibunya akan datang ke kota Y untuk bertemu dengan Abimanyu sekaligus pindah karena Abimanyu meminta sang ibu untuk ikut bersamanya di kota ini.
Dari jauh terdengar suara sirine kereta api, pertanda kereta itu akan segera menepi di stasiun. Abimanyu sudah berdiri dari tempatnya duduk, dia memasang wajah sumringah untuk menyambut kedatangan ibunya.
Sebuah kereta menepi, satu per satu penumpang turun dan akhirnya sosok wanita yang Abimanyu tunggu-tunggu pun tampak. Terlihat wajah tua namun meneduhkan itu tersenyum kepadanya. Abimanyu segera berlari kecil menghampiri sang ibu. Ia langsung memeluk dan mencium tangannya, lalu membawakan tas yang di bawa ibunya kesayangannya itu.
"Sudah lama Nak menunggu ibu?", tanya Bu Ratmi, ibunda Abimanyu.
Abimanyu menggelengkan kepala, "Tidak, Bu. Bagaimana perjalanan ibu? Ibu pasti lelah ya. Ah, andai saja ibu mengizinkan aku untuk menjemput ke kampung, ibu tidak perlu kelelahan seperti ini", berondong Abimanyu.
Bu Ratmi tersenyum, "Ibu ndak lelah kok, Nak. Ibu gak mau buat kamu repot. Kamu kan kerja, ibu juga masih sehat dan kuat untuk melakukan perjalanan jauh sendiri", jawabnya tenang.
"Maaf ya, Bu. Kalau begitu ayo kita langsung pulang agar ibu bisa cepat istirahat", jawab Abimanyu semangat.
Bu Ratmi menganggukkan kepalanya, ia berjalan berdampingan dengan sang putra.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan ada banyak hal yang Abimanyu tanyakan. Dari mulai kabar warga di kampung, kondisi kebun milik almarhum sang ayah, pun dengan rumah lama mereka.
"Semuanya sudah ibu titipkan kepada pamanmu, Pakde Bagus. Beliau akan mengurusnya dengan baik", Bu Ratmi mengakhiri ceritanya.
"Syukurlah kalau begitu. Abi merasa lebih tenang. Abi juga senang ibu akhirnya mau tinggal sama Abi di sini", Abimanyu terus mengulas senyum di depan sang ibu.
Tak terasa mobil yang dikendarai Abimanyu sudah sampai di halaman sebuah rumah modern minimalis. Ya, itu adalah rumah yang berhasil Abimanyu beli dengan kerja kerasnya selama ini. Rumah itu memang tidak terlalu besar, tapi sangat terlihat kalau rumah itu begitu terawat dengan baik.
"Ayo Bu, kita turun", Abimanyu membukakan pintu mobil untuk ibunya.
Bu Ratmi turun dan menatap ke sekitar, dia tersenyum, ada rasa bangga dan haru dengan putranya.
"Nak, ibu bangga sekali dengan kamu. Almarhum Bapak pasti juga bangga sama kamu. Andai beliau masih ada di sini, tentu akan semakin lengkap kebahagiaan kita", ujar Bu Ratmi berkaca-kaca, menahan rasa haru bahagia sekaligus sedih.
Abimanyu memeluk sang ibu, dia sangat paham betapa dalamnya cinta kasih ibunya pada almarhum sang ayah. Tapi apa daya, Tuhan lebih menyayangi ayahnya.
"Iya, Bu. Tapi sekarang kita harus benar-benar mengikhlaskan Bapak, ya. Agar Bapak juga bahagia di surga sana. Ibu masih punya Abi. Abi janji akan menjaga dan membahagiakan ibu", ujar Abimanyu sambil menyeka lelehan air mata sang ibu.
Bu Ratmi mengangguk, ia berusaha tersenyum. Keduanya melangkah memasuki rumah.
"Ibu sekarang istirahat dulu saja, Abi siapkan makan malam buat kita", lagi, Abimanyu memapah sang ibu dengan lembut.
Setelah memastikan ibunya beristirahat, Abimanyu segera membersihkan diri, shalat maghrib, lalu dia menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Sedari kecil Abimanyu memang anak yang mandiri, dia sudah terbiasa dengan segala bentuk pekerjaan rumah dan dapur.
"Bu, ayo kita makan malam", Abimanyu mengetuk pintu kamar ibunya.
Bu Ratmi keluar dari kamar masih dengan mengenakan mukena.
"Sebentar ya, Nak. Ibu ambil kerudung dulu".
"Iya, Abi tunggu di meja ya, Bu".
__ADS_1
Tak lama, ibu dan anak itupun menikmati makan malam bersama sambil berbincang kecil.
"Nak, ibu kan biasa beraktifitas ya di kampung. Rasa-rasanya ibu akan bosan kalau hanya diam di rumah saja. Apa ibu boleh membuka usaha di sini? hal ini sudah ibu pikirkan sedari waktu di kampung", Bu Ratmi membuka percakapan setelah selesai makan makan.
"Tentu. Ibu mau usaha apa?".
"Ibu ingin buka usaha catering. Ibu punya sedikit tabungan sebagai modal awal", jawab Bu Ratmi.
Abimanyu tersenyum, "Tabungan ibu tetap disimpan saja, kalau ibu mau buka usaha, nanti biar Abi yang urus, ya".
"Jangan begitu, ibu gak enak sama kamu, Nak. Ibu merepotkan sekali".
"Bu, jangan begitu. Ibu ini kan ibunya Abi. Ibu sama Bapak sudah berkorban banyak hal buat Abi dan Abi gak akan bisa membalas itu semua. Kalau ibu memang ingin membuka catering atau apapun, ibu bilang sama Abi, ya. Abi janji urus semuanya buat Ibu. Abi minta waktu tiga sampai lima hari ya, Bu", Abimanyu menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu.
"Iya, Nak. Tapi kalau permintaan ibu ini merepotkan, jangan ya, Nak", ucap Bu Ratmi.
Abimanyu hanya menjawabnya dengan tersenyum tipis.
.
.
"Sayang, kapan ya baiknya kita kabari Abimanyu tentang rencana pernikahan kita?", tanya Laras yang tengah menikmati makan malam berdua dengan Jaka.
"Nanti aku kontak Abi tuk buat janji bertemu. Gak enak kalau kasih kabar ke dia cuma lewat telepon atau pesan singkat", jawab Jaka lembut.
Semenjak lulus kuliah, Jaka dan Laras bekerja di perusahaan yang sama. Hubungan mereka yang semula hanya teman kampus, lalu teman kantor, kini sudah menjadi sepasang kekasih yang dalam hitungan hari bahkan akan segera berstatus suami istri.
"Iya. Hhhh ... aku masih kasihan sama Abi kalau ingat cerita tiga tahun yang lalu. Andai dua berjodoh sama Anika, kita tentu bisa double date ya, sayang", Laras bernostalgia.
Jaka tersenyum, "Ya kita kan gak pernah tahu rencana Tuhan. Kita aja gak pernah kepikiran kan tuk dekat bahkan sampai mau nikah gini?".
__ADS_1
"Iya ya. Rencana Tuhan itu memang terkadang begitu ajaib", lanjut Laras.
Mereka terus berbincang-bincang, mengenang masa-masa dulu saat di kampus. Sesekali tawa keduanya menggema, mengeratkan kedekatan dan menguatkan perasaan.