
Beberapa hari berlalu, sang kyai selalu memberikan jeda waktu tiga hari untuk setiap tugas yang diberikan kepada Leon. Yang pertama adalah baca al-quran, kedua adzan, ketiga hafalan surat pendek minimal Al-Fatihah dan tiga qul (An-nas, Al-alaq, dan al-Ikhlas),yang keempat adalah praktek sholat dzuhur, yang keempat adalah tanya jawab mengenai pemahaman Leon tentang peran laki-laki terhadap perempuan.
“Apa pertanyaan bapak tempo hari sudah ada jawabannya?” tanya sang kyai.
“Ehm... Jujur, saya sudah coba bertanya kepada teman, ustadz, dan juga bahkan ayah saya akan peran dari seorang laki-laki terhadap perempuan, dan jawabannya semua berbeda-beda,” ucap Leon.
“Kalau menurut Nak Leon sendiri bagaimana?” tanya Ayah Nurul.
Leon diam. Dia tak yakin dengan jawaban yang dia simpulkan dari beberapa sumber yang sudah didapatkan.
“Bismillahi rohman nirrohim. Sepemahaman saya, peran seorang laki-laki adalah untuk melindungi perempuan, baik ketika di dunia maupun di akhirat. Laki-laki harus bisa menahan n*fsu demi tidak merugikan hidup perempuan. Laki-laki juga harus bisa membimbing perempuan, agar mereka selamat ketika di akherat nanti. Tapi, perempuan di sini saya rasa tidak sebatas kepada pasangan hidup saja, melainkan orang tua, adik, kakak dan saudara perempuan lainnya.” Leon terus mengutarakan pendapatnya tentang jawaban yang telah pemuda itu simpulkan.
Setelah selesai mendengarkan jawaban Leon, Ayah Nurul tak lagi bertanya, melainkan sang istri yang kemudian menanyakan sesuatu.
“Maaf, Nak Leon. Apa orang tua Nak Leon sudah tahu tentang niatan Nak Leon ini?” tanya Ibunda Nurul.
“Kalau untuk niatan menikah sih belum. Tapi saya sudah bilang kalau ada seorang gadis yang sedang saya taksir. Mereka berdua tidak terlihat melarang. Papah dan Mamah bahkan ingin melihat seperti apa gadis yang sudah membuat saya tiba-tiba berpikir untuk berkeluarga,” jawab Leon.
“Apa mereka tidak keberatan dengan usia kalian yang terpaut lima tahun?” tanya Ibu Nurul lagi.
“Mereka juga sama seperti Pak kyai, yang tidak terlalu memikirkan soal perbedaan usia. Sejak dulu, Papah sama Mamah malah khawatir kalau selamanya saya bakal malas membicarakan soal pernikahan. Bahkan saat Oliv nikah, Papah selalu menyindir saya kapan mau nyusul,” jawab Leon.
“Lalu semisal iya kalian menikah, apa kuliahmu tidak terganggu? Bagaimana dengan pekerjaan?” tanya Ibunda Nurul.
“Bu, rejeki itu sudah ada jalannya. Tidak usah khawatir masalah itu. Lagi pula, keluarga Nak Leon mungkin tidak mau cepat-cepat. Setidaknya tunggu sampai Nak Leon lulus dulu,” sanggah Ayah Nurul.
“Kalau begitu, apa tidak terlalu lama, Pak? Bukannya sekarang Nak Leon baru semester tujuh. Setidaknya butuh satu semester lagi kan, Nak?” tanya Ibu Nurul.
“Bu, lagipula belum tentu mereka akan jadi menikah. Sekarang ini Leon hanya sedang mencoba belajar lebih baik. Soal jodoh, rejeki dan maut, cuma Allah yang tahu,” timpal Ayah Nurul.
Mendengar perdebatan tersebut, Leon seolah perlu meluruskan masalah yang menjadi awal perdebatan tersebut.
“Ehm... Maaf, Pak kyai, Bu nyai. Saya sepertinya perlu menyela perbincangan ini. Kalau masalah pekerjaan, saya kan pernah bilang kalau sepulang kuliah, saya biasa membantu ayah saya bekerja, dan itu diupah. Alhamdulillah, upahnya itu cukup untuk biaya hidup sehari-harinya. Jadi soal itu, tidak ada masalah,” ucap Leon.
Keduanya pun terlihat diam dan menghentikan perdebatan.
“Ehem... Benar kan, Bu. Semua sudah ada jalannya. Tidak perlu mempermasalahkan masalah itu,” ucap Ayah Nurul.
Setelah mengatakan hal tersebut, tak lama kemudian Leon pamit pulang karena ada keperluan lain.
Sang ulama pun berpesan untuk datang lagi tiga hari kemudian. Namun, dia tak mengatakan apa yang harus Leon lakukan untuk pertemuan selanjutnya. Pemuda tersebut pun bingung akan hal itu.
Namun, dia tak bisa bertanya lebih banyak karena Ayah Nurul tak mau memberitahukannya, dan hanya berpesan bahwa Leon harus datang lagi nanti.
...☕☕☕☕☕...
__ADS_1
“Baru pulang lu, Yon?” tanya Olivia.
Perempuan itu saat ini sedang duduk bersandar di head board, sambil berbincang dengan sahabatnya di telepon.
“Baru pulang dari kantor bokap gue. Sejak tau gue naksir cewek, bokap jadi makin banyak aja kasih kerjaan ke gue. Dianya malah jalan-jalan mulu sama nyokap. Nggak tau apa kalo gue juga banyak tugas,” gerutu Leon.
“Dih sih bocah. Nggak usah ngeluh. Entar elu juga bakal pegang semua kerjaan bokap lu. Anggep aja ini latihan. Betewe, bapaknya si Nurul ngasih tugas apa lagi ke elu?” tanya Olivia penasaran.
“Kagak ada,” jawab Leon.
“Hah? Udahan berarti tesnya? Terus hasilnya?” cecar Olivia.
“Au ah. Bingung gue. Tadi pas pulang, Pak kyai cuma bilang tiga hari nanti dateng lagi. Tapi pas aku iseng tanya tugasnya apa lagi, dia bilang nggak ada tugas, cuma minta gue buat dateng doang,” jawab Leon.
“Kok gitu?” tanga Olivia lagi.
“Ya nggak tau. Gue juga bingung,” sahut Leon.
“Berarti belum ada kepastian dong?” tanya Olivia.
“Ya belum lah. Udah ah, gue mau mandi, mau tidur. Capek gue. Mana besok suruh mimpin rapat lagi,” ucap Leon.
“Emang bokap lu jalan-jalan ke mana sama Tante Dewi?” tanya Olivia.
“Wah... Jangan-jangan ke luar negeri. Yon, minta oleh-oleh dong sama bonyok lu. Bilang buat calon cucu ponakan gitu. Hehehe...,” ucap Olivia.
“Iya entar kalo udah tau mereka pergi ke mana. Dah ya, gue tutup dulu. Assalamu’alaikum.” Leon pamit.
“Waalaikumsalam,” sahut Olivia.
Panggilan pun berakhir. Alzam nampak sudah duduk di tepi ranjang sambil memegangi segelas susu khusus ibu hamil di tangannya. Sejak tadi dia bersabar menunggu sang istri selesai bertelepon dengan sahabatnya.
“Minum dulu susunya,” seru Alzam.
“Makasih, Mas,” sahut Olivia.
Perempuan itu pun menghabiskan susunya hingga tandas. Alzam lalu kembali menyodorkan air putih kepada Olivia untuk membilas sisa susu yang tertinggal di dalam mulut sang istri.
Setelah selesai memastikan istrinya meminum susunya, Alzam pun naik ke tempat tidur. Olivia yang sejak tadi duduk bersandar, kini turun dan berbaring menyamping menghadap sang suami.
Sementara Alzam, pemuda tersebut berbaring menyamping dan tangan yang menumpu kepalanya dengan siku tertekuk ke atas.
Dengan lembut, Alzam membelai surai Olivia yang sudah nampak menghitam dibagian atasnya, karena sudah tumbuh semakin panjang.
“Mas, sebenernya orang tuanya si Nurul setuju apa nggak sih sama niat taaruf nya Leon?” tanya Olivia.
__ADS_1
“Ehm... Bentar deh. Bukannya Leon emang lagi taarufan sama Nurul yah sekarang?” tanya Alzam balik.
“Kapan? Orang setiap kesana juga urusannya sama bapaknya mulu. Emang pernah gitu dia jalan bareng berdua sama Nurul?” tanya Olivia balik.
Sebuah cubitan di hidung pun akhirnya di dapat Olivia, karena sang suami gemas mendengar jawaban dari sang istri.
“Kamu kira taarufan sama kek pacaran? Jalan berdua, makan berdua, nonton berdua, gitu? Yang ada setan nanti masuk, jadinya malah maksiat,” jawab Alzam.
“Oh... Gitu. Lah emang yang namanya taaruf itu bukannya saling kenal mengenal ya, Mas?” tanya Olivia lagi.
“Iya bener. Tapi bukan hanya antara dua orang itu saja, melainkan dengan semua keluarganya juga. Gitu, Bundanya Dede,” jawab Alzam sambil mencolek ujung hidung Olivia, yang semakin tenggelam karena pipinya yang tembem.
“Ya kan mana aku tahu. Kita aja nggak gitu,” sahut Olivia.
“Iya, kamunya yang ngebet banget mo nikah ma aku kan. Sampe pake cara curang,” timpal Alzam.
“Hehehe... Ho'oh. Aku nya cinta banget sih sama kamu,” sahut Olivia.
Keduanya pun tersenyum. Alzam dengan lembut membawa Olivia masuk ke dalam pelukannya dan mengecup puncak kepala sang istri.
“Ehm... Tapi, kalo nggak gitu, nggak bakalan kaya gini juga yah,” ucap Alzam.
“Emang kamu pilih kaya gini apa nggak?” tanya Olivia.
“Pilih kaya gini lah. Anget,” jawab Alzam sambil mengeratkan pelukannya.
Olivia terkekeh dan Alzam pun ikut terkekeh juga.
“Eh, tapi kalo diinget-inget, aku juga dulu pernah di tes lho sama Bapaknya Nurul,” ucap Alzam.
Hal itu sontak membuat Olivia melepas pelukannya dari sang suami, dengan kening yang berkerut sempurna.
“Apa? Jadi kamu juga pernah taarufan sama Nurul?” pekin Olivia.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
__ADS_1