
Setelah pagi yang begitu menyejukkan hati, dengan diawali kejadian yang sempat membuat gairah sepasang suami-istri, Alzam dan Olivia meningkat, kini keduanya kembali ke kesibukan masing-masing.
Olivia meminta Alzam langsung mengantarkannya ke kampus, karena Olivia memang sudah membawa baju ganti dan buku kuliahnya ke rumah sang mertua kemarin, sejak keluar dari rumah pagi itu.
Karena masalah Mamah Ros yang tiba-tiba mengundang Nathan ke rumah, membuat Olivia malas untuk kembali ke sana, terlebih jika harus mendengar omelan dari sang mamah.
Saat berada di parkiran, mereka bertemu dengan Leon, yang hari itu tidak membawa mobil melainkan memakai motor balapnya.
Dia pun parkir di parkiran khusus sepeda motor, dan berhenti di samping Alzam yang juga baru saja sampai.
“Hai, Liv,” sapa Leon.
“Tumbenan amat lu pake motor, Yon? Ada angin apa nih?” tanya Leon.
“Lagi pengin aja. Nggak boleh emang?” jawab Leon.
“Dih, nih anak. Ditanya baek-baek jawabnya ngegas. Jurus pepet lu gagal yah. Hahahaha...,” kelakar Olivia.
“Wah, nih anak kalo ngomong sekate-kate. Bukannya dukung temen lu biar berhasil malah ngeledek,” Keluh Leon.
“Iya deh, iya. Gue do’ain banget kok elu bisa dapetin tuh cewek. Good luck ye. Tapi keknya, lu mesti tobat dulu deh, Yon. Hahaha...,” ejek Olivia.
“Dih, nih anak. Mentang-mentang ada suaminya, seenak jidat bener kalo ngomong,” gerutu Leon.
Dia kesal melihat tingkah Olivia yang dari tadi mengejeknya terus, karena sepertinya dia belum bisa mendekati Nurul.
Sementara Alzam, pemuda itu hanya bisa memperhatikan interaksi kedua sahabat itu dengan senyum tipis, tanpa tau apa yang sedang mereka bahas.
Meski awalnya dia sedikit khawatir akan hubungan pertemanan keduanya, namun dia berusaha mempercayai Olivia, dan tak mau membatasi pertemanan yang sudah terjalin bahkan sebelum bertemu dengan dirinya.
Terlebih, Leon yang terlihat tidak memiliki perasaan lain kepada Olivia, dilihat dari cara mereka bercanda dan berdialog.
Alzam pun kemudian pamit, dan menitipkan Olivia pada Leon, sambil menyematkan beberapa kata ancaman agar pemuda tersebut tak berbuat macam-macam pada istrinya.
Leon hanya bisa mengiyakan, karena dia pun tak terlalu mengenal Alzam. Yang dia tahu dari cerita Olivia, bahwa suami sahabatnya itu adalah pemuda yang taat agama, dan menganggap setiap hal itu harus dipirkan masak-masak sebelum dilaksanakan.
__ADS_1
Setelah mendengarkan ocehan tak berfaedah dari kedua sahabat itu, Alzam pun berpamitan dengan sang istri untuk kembali menuju ke kedai.
Karena sudah menjadi kebiasaan, Olivia selalu mencium punggung tangan sang suami, setiap kali hendak berpisah maupun baru bertemu kembali. Hal itu membuat Leon terbengong, melihat sikap Olivia yang berubah penurut meski hanya di depan Alzam saja.
Ditambah ucapan salam yang seolah sudah fasih diucapkan oleh gadis itu, membuat Leon benar-benar takjub dan mulai menerka bahwa Olivia jatuh cinta sungguhan pada pemuda tersebut, dan bukan hanya sekedar obsesi.
Setelah kepergian Alzam, gadis itu mengajak sahabatnya untuk pergi ke kelas mereka, karena kuliah akan segera dimulai.
Di jalan menuju kelas, Leon tiba-tiba saja menarik lengan Olivia. Dia mengajak gadis tersebut bersembunyi di balik sebuah dinding, yang berada tak jauh dari sebuah koridor yang berada di lantai tiga gedung kampus Nusa Bangsa, atau tepat di sekitar ruang kelas yang akan mereka tuju.
Olivia sampai memukul pundak Leon, karena pemuda itu tiba-tiba saja menarik lengannya hingga Olivia membentur dinding tempat mereka sembunyi.
“Sssttt! Bisa diem nggak!” seru Leon pada sang sahabat.
Olivia pun mencoba melongokkan kepalanya, melihat sesuatu yang sedang diperhatikan diam-diam oleh Leon.
“Lu liat apaan sih? Jangan bilang kita ngumpet di sini gara-gara korban PHP lu lagi,” ucap Olivia sambil mengintip di balik pundak Leon.
Namun, pemuda itu segera meletakkan telapak tangannya tepat di wajah Olivia, dan mendorongnya hingga gadis itu memukul lengan Leon keras-keras.
“Brengs*k! Tangan bau lu seenak jidat aja nemplok di muka gue woi!” keluh Olivia.
Netra Olivia membulat sempurna mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Leon. Dadanya kembali bergemuruh, dan seketika dia menyingkirkan Leon dari hadapannya.
Olivia pun mencoba melihat ke arah yang mereka hindari, dan matanya semakin membola saat melihat orang yang berdiri jauh di sana.
Benar saja, nathan, sang mantan pacar sudah berada di sana, seolah sengaja menunggu kedatangan Olivia. Dengan mengenakan kemeja berwarna cerah, dan celana jeans gelap, ditambah tubuhnya yang jangkung dengan paras blasteran, membuat keberadaannya di sana menjadi perhatian para mahasiswa yang berlalu lalang.
Hanya Olivia yang merasa muak melihat wajah tampan idaman para kaum hawa di dalam negeri itu. Tangannya mengepal kuat dengan kuku jari yang bahkan menggores kulitnya. Gadis tersebut hendak melangkah keluar namun segera dicegah oleh Leon.
“Mau ngapain lu, Liv?” tanya Leon khawatir.
“Gue mau usir tuh cowo dari sini. Bikin mata gue sakit aja,” sahut Olivia penuh emosi.
“Lu mending pergi dulu deh dari sini, Liv. Kemana kek, ke kedai suami lu atau apa gitu. Dari pada nongol di depan dia,” seru Leon.
__ADS_1
“Tuh cowok nggak bisa terus-terusan di diemin. Gara-gara nyokap gue, dia jadi kek dapet dukungan lagi buat ngerusak hidup gue yang udah tenang ini,” jawab Olivia kesal.
“Gue paham, Liv. Tapi kalau elu yang nongol, gue yakin bukannya pergi, dia malah bakal terus ngejar elu. Mending lu jangan nongol dulu deh. Percaya sama gue,” seru Leon yang makin khawatir, karena Olivia yang semakin emosi.
“Terus mau sampe kapan gue ngumpet kek gini? Gue nggak mau ya ruang gerak gue terbatas cuma gara-gara cowok itu. Gue mesti usir dia supaya nggak gangguin gue lagi,” ucap Olivia yang kembali hendak melangkah keluar dari tempat persembunyian.
“Liv, lu jangan ke sana. Biar gue. Gue aja yang urus tuh cowok. Lu diem-diem aja di sini dan tungguin gue,” ucap Leon kembali menahan Olivia.
Pemuda itu pun menawarkan diri menjadi tameng Olivia, untuk membuat Nathan pergi dari tempat tersebut.
Olivia diam, dan melihat kesungguhan di mata sahabatnya itu. Memang sejak dulu, Leon lah yang paling tahu masalah Olivia dengan sang mantan pacar, bahkan kedua orang tua gadis itu pun tidak tahu menahu masalah tersebut, karena Olivia tak ingin keduanya khawatir dan cemas.
Namun siapa sangka, sikap sang mamah yang menolak pernikahannya dengan Alzam, justru membawa kembali Nathan ke dalam kehidupan Olivia, yang telah susah payah ia tata.
Setelah menawarkan diri untuk mengusir Nathan, Leon pun kembali mengawasi sekitar dan mengamati situasi. Dia melihat seorang mahasiswi yang sedang berjalan ke arahnya, dengan membawa secangkir kopi yang dibeli dari cafetaria di lantai bawah.
Leon pun menghadang si mahasiswi tadi dan dengan pesonanya, Leon berhasil meminta kopi tersebut. Dia lalu menoleh ke arah Olivia dengan mengerlingkan sebelah matanya.
Dia meraih sesuatu dari saku jaketnya yang ternyata sebuah masker. Di masa pandemi seperti saat ini, semua orang selalu sedia benda kesehatan tersebut, minimal satu di saku atas tas mereka. Leon pun kemudian memakai masker tersebut dan bersiap mengerjai Nathan.
Dia tak mau targetnya menyadari siapa dirinya, karena bagaimana pun saat kejadian di masa lalu, Leon secara terang-terangan menghajar Nathan hingga babak belur atas apa yang pemuda itu lakukan terhadap Olivia.
Setelah siap dan masker telah terpasang, Leon kemudian berjalan santai ke arah Nathan sambil menyesal kopi di tangannya. Sesekali, dia melirik ke arah targetnya, lalu kemudian kembali berpura-pura tak melihatnya di sana.
Hingga saat dia berjalan tepat melewatinya, Leon berpura-pura menabrak Nathan dan sengaja menumpahkan seluruh kopi ke pakaian pemuda tersebut.
“Shiiiittttt!” umpat Nathan saat kopi itu menyiram bajunya.
.
.
.
.
__ADS_1
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁