
"Nik, jam segini masih on aja. Gak ngantuk apa", ujar Laras yang terbangun dari tidurnya karena haus.
Laras melirik jam di dinding kamar, sudah pukul sebelas malam tapi sahabat sekaligus teman sekamarnya itu masih berkutat dengan laptop miliknya yang dipinjam Anika untuk membuat makalah.
"Dikit lagi, Ras, nanggung nih. Lusa tugas ini kan harus kelar", jawab Anika tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Laras menguap, "Gila ya semangat belajar kamu, gak ada kendor-kendornya", ujar Laras setelah dia meneguk segelas air yang baru diambilnya dari dispenser di samping Anika.
"Ya mau gimana lagi, Ras. Selain tugas ini mepet, Narendra juga ngeselin banget ngasih bahan yang susahnya minta ampun", keluh Anika.
Laras tersenyum tipis, "Akal-akalan dia doang sih itu".
"Akal-akalan gimana, Ras?", Anika mengalihkan pandangannya menatap Laras yang sudah merebahkan diri lagi di kasur.
"Tahu ah, aku ngantuk. Aku bobo lagi ya, bye Anika", Laras memilih mengabaikan pertanyaan sahabatnya itu.
"Dih dasar, suka gak nyambung deh", lagi, Anika mengeluh.
Sebenarnya kedua mata Anika sudah terasa berat. Beberapa kali dia meregangkan tubuhnya untuk mengurangi rasa pegal yang semakin menjalar karena sudah hampir lima jam dia berkutat di depan laptop. Anika bahkan sudah menghabiskan delapan gelas teh manis sebagai dopping kerja lembutnya malam ini.
Dddrrtt...dddrrtt...drrtt
Ponsel Anika bergetar, muncul nomor tak dikenal di layar.
"Ck, siapa sih nomor asing nelepon jam segini", Anika hanya melirik ponsel miliknya tanpa berniat mengangkatnya.
Tak lama, panggilan itu berakhir lalu ponselnya kembali bergetar. Lagi, panggilan masuk dari nomor asing sebelumnya.
Meskipun malas, Anika akhirnya mengangkat telepon itu.
"Hallo, Anika", terdengar sapaan seorang laki-laki di seberang sana.
"Siapa nih?", tanya Anika pendek.
"Sorry ganggu malam-malam. Ini Narendra", jawab si penelepon.
Anika menghela nafas berat, "Oh, ada apa telepon tengah malam begini?".
"Mmm...gak ada apa-apa sih, aku cuma mau cek tugas kelompok kita, apa ada kesulitan?".
Anika melirik layar laptop di depannya, "Ya lumayan ribet juga bahan yang kamu kasih. Tapi aku bisa kok selesaikan tugas ini, sebentar lagi juga kelar".
Narendra tersenyum di balik ponselnya, "Syukur deh kalau semua bisa kamu garap. Pokoknya kalau kamu perlu bantuan, jangan sungkan kontak aku ya. Aku siap sedia 24 jam buat kamu".
Anika mengernyitkan dahinya, ia heran dengan ucapan Narendra.
"Ok, makasih tawarannya. Kalau gak ada hal penting lain, aku tutup ya teleponnya, nanggung dikit lagi nih makalah selesai".
__ADS_1
"Ok, makasih, Nik".
Telepon itu pun berakhir.
Anika kembali berkutat dengan laptop dan tumpukan buku di sebelahnya. Meskipun matanya sudah semakin berat, tapi dia tidak ingin menyerah, malam ini tugas kuliahnya harus selesai, begitu komitmen Anika.
Sementara itu, Narendra masih saja mengulas senyum selepas menelepon Anika. Meskipun hanya telepon biasa dan terbilang singkat, tapi bagi Narendra ini kali pertama dirinya bisa berbincang-bincang dengan Anika.
Narendra dan Anika memang kuliah di jurusan yang sama tapi tidak satu kelas. Narendra menyadari keberadaan Anika setelah dirinya ikut bergabung di organisasi jurusan dan entah sejak kapan, Narendra tertarik pada sosok Anika.
Dia sering mengamati Anika tanpa diketahui, memperhatikan bagaimana Anika membawa dirinya dalam pergaulan di kampus dan organisasi. Narendra melihat sesuatu yang berbeda dari diri gadis itu. Sesuatu yang ia sendiri tidak tahu pasti, tapi sesuatu itu membuatnya menaruh hati pada Anika.
"Aku harap setelah ini ada kesempatan untuk lebih dekat denganmu", ujar Narendra sambil menatap foto Anika yang beberapa waktu lalu dia ambil diam-diam saat Anika menghadiri rapat pengurus himpunan.
Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Anika akhirnya benar-benar menyelesaikan tugas kuliahnya. Dia menyeret dirinya ke kamar mandi untuk gosok gigi, lalu terlelap di samping Laras yang sudah jauh masuk ke dalam mimpi.
.
.
"Nik, bangun", Laras mengusap lembut bahu Anika. Gadis itu tidur lagi selepas sholat subuh dan kini masih betah memejamkan matanya di atas kasur.
"Mmmhh...apa sih, Ras? aku masih ngantuk nih", jawab Anika malas. Dia menarik selimutnya hingga menutupi kepala.
"Ck, bangun dong Nik, ini udah mau jam sembilan lho. Di bawah ada Abimanyu tuh nganterin laptop kamu", terang Laras yang masih berjuang membangunkan Anika.
Laras menghembuskan nafasnya kasar. Dia benar-benar menyerah membujuk Anika untuk bangun. Laras paham, Anika pasti semalam begadang habis-habisan karena tidak seperti biasanya Anika seperti ini.
Laras akhirnya turun ke lantai bawah. Di ruang tamu terlihat Abimanyu tengah duduk dengan sebuah tas laptop di pangkuannya.
"Sorry ya, Bi. Anika semalam begadang akut, gak tahu tuh dia tidur jam berapa, tadi habis subuh tidur lagi dan sekarang masih ngantuk berat", terang Laras sambil menyajikan segelas teh di meja.
Abimanyu tersenyum tipis, "Tak apa, Ras. Oh ya makasih tehnya dan laptop ini aku titip sama kamu, ya", Abimanyu menyerahkan tas laptop di tangannya.
"Ok, jadi berapa biaya servicenya, Bi?", tanya Laras yang sudah menerima laptop itu.
"Gak usah bayar, Ras", jawab Abimanyu pendek.
"Lho kok gitu? jangan gitu, Bi. Kamu kan udah kerja mati-matian nih buat benerin laptopnya Anika. Doi pasti juga nanya nanti biaya servicenya".
Abimanyu tersenyum, "Cek aja dulu, kalau masih ada masalah boleh kasih ke aku lagi. Urusan bayar-bayar nanti deh, gampang".
"Ok deh kalau gitu, nanti aku bilang sama Anika. Oh ya, tehnya dihabisin. Jarang-jarang lho seorang Laras mau menyajikan teh spesial kek gini", ujar Laras sambil bergaya.
Abimanyu tersenyum, dia mengangguk dan menyeruput teh buatan Laras.
"Makasih, Ras. Mantap juga teh spesialnya", puji Abimanyu tulus.
__ADS_1
Senyum Laras mengembang, "Iya dong, buatan Laras gitu lho", ujar Laras bangga.
"Eia Bi, boleh tanya sesuatu?", lanjut Laras.
"Apa?".
"Kamu kan cowok ya, menurut kamu, Anika itu gimana sih?".
Abimanyu mengernyitkan dahinya, "Pertanyaan macam apa itu?".
"Ck, aku serius. Aku penasaran aja gitu, Bi gimana sih sosok Anika di mata laki-laki? secara ya, dari awal kuliah sampai sekarang aku dekat sama Anika, dia gak pernah dekat atau cerita soal laki-laki manapun. Kadang aku bingung, apa iya dia gak pernah tertarik gitu sama laki-laki? padahal nih setahu aku, yang ngincer dia tuh banyak. Aku khawatir sama sahabat baikku itu", terang Laras panjang lebar.
Abimanyu tersenyum tipis, sejenak dia terdiam, mencoba meresapi ucapan Laras.
"Aku gak bisa jawab apa-apa, Ras karena ya aku juga interaksi sama Anika baru kemarin itu waktu dia mau service laptopnya", jawab Abimanyu jujur.
"Hmm...iya juga sih, tapi nih Bi kalau sekilas aja. Di mata kamu Anika itu kek gimana sih?", Laras tetap memaksa bertanya.
Abimanyu menarik nafas dalam, "Dia gadis yang baik daaannn ...", ucapan Abimanyu menggantung.
"Dan apa, Bi?", Laras penasaran.
"Ehm...dan buat apa kamu tanya hal kek gitu sama Abimanyu, Ras", suara yang tak asing lagi di telinga Laras membuat Laras terkejut.
"Eh, Anik, udah bangun", jawab Laras dengan cengiran kikuknya.
"Kamu tuh kurang kerjaan banget sih tanya-tanya soal aku ke orang lain", ujar Anika ketus. Dia mendudukkan dirinya di samping Laras.
"Sorry, Nik. Aku gak ada maksud apa-apa kok, cuma yaaaa biar ada obrolan aja gitu sama Abimanyu", Laras ngeles.
Anika mencubit lengan Laras sampai membuat pemiliknya mengaduh kesakitan.
"Maaf ya, Bi.Laras suka absurb", Anika melirik ke arah Abimanyu yang sedari tadi melihat kedatangannya.
"Tak apa, Nik", jawab Abimanyu dengan seulas senyum manisnya.
"Laptop aku udah selesai ya? makasih ya, Bi. Jadi berapa biaya servicenya", Anika mengalihkan fokus pembicaraan di ruangan itu.
"Cek dulu aja, Nik. Soal pembayaran, nanti bisa dibicarakan kalau kamu udah cek laptopnya. Masa garansi", jawab Abimanyu.
Anika mengangguk kecil, "Ok, aku cek dulu dan kalau semuanya aman, kamu jangan sungkan bilang biaya servicenya ya. Aku gak mau lho harga teman apalagi gratisan karena kamu udah kerja keras kan buat service laptop ini".
Lagi, Abimanyu tersenyum, "Ok".
Perbincangan pun berlanjut, sesekali diwarnai tawa karena tingkah Laras yang terkadang konyol di depan Abimanyu juga Anika.
"Ya, kamu gadis yang cantik dan menarik", batin Abimanyu menatap wajah cerah dan senyum manis Anika di hadapannya.
__ADS_1