
Pagi itu, Alzam mengantarkan Olivia kembali ke rumahnya. Dia pun meminta jadwal kuliah istrinya itu, agar Alzam tahu agenda harian gadis tersebut.
Dari sana, Alzam tahu bahwa hari ini Olivia memiliki tiga mata kuliah hingga jam tiga sore.
Dia pun meminta sang istri untuk pergi ke kampusnya dan menghadiri kuliah tersebut. Awalnya, Olivia tidak mau karena teringat omongan Alzam, yang mengatakan akan ke kedai dan bertemu dengan Nurul.
Namun, setelah beberapa kali dibujuk, Olivia akhirnya mau pergi kuliah, dengan syarat Alzam harus mengantar jemputnya setiap hari.
Pemuda itu tidak keberatan, hanya saja satu-satunya kendaraan yang bisa dia pakai adalah motor matic-nya dan itu pasti akan membuatnya kerepotan. Alzam sama sekali tidak bisa mengendarai mobil, karena dia memang belum pernah memiliki kendaraan roda empat tersebut.
Namun, sifat keras kepala dan suka seenaknya Oliv, membuatnya tak peduli akan kerepotan sang suami, dan tetap meminta Alzam untuk memenuhi syarat yang dia ajukan atau Olivia akan berhenti datang ke kampusnya.
Akhirnya, Alzam pun mengiyakan syarat tersebut, demi masa depan istrinya. Pagi itu, Alzam akan mulai mengantar Olivia ke kampus. Saat ini, pemuda tersebut sedang menunggu sang istri berganti pakaian.
Pemuda itu duduk di ruang tamu, sambil memainkan ponselnya. Tak berselang lama, Olivia turun dengan sudah mengenakan pakaian yang biasa dia pakai ke kampus.
Sebuah rok mini berbahan jeans dan tanktop press body, di balut dengan jaket jeans yang menjadi out fit Olivia pagi ini.
Alzam yang melihat penampilan sang istri yang seperti itu pun, beristighfar berkali-kali dan memijat keningnya.
Dia merasa risih melihat Olivia dengan pakaian seperti itu.
Karena sang suami terus diam dan memalingkan pandangan darinya, Olivia yang saat itu masih berada di bawah tangga pun menghampiri Alzam dan berdiri tepat di depan pemuda tersebut.
“Kenapa sih? Kenapa matanya ditutupin gitu?” tanya Olivia.
Alzam meraih bantal duduk dan mendorongkan tepat ke perut sang istri, agar bagian bawah Olivia yang begitu terbuka sedikit terhalangi.
“Apa setiap ke kampus kamu selalu begini?” tanya Alzam.
“Iya, kenapa emang?” tanya Olivia balik.
“Liv, kamu masih nganggep aku suami mu nggak?” tanya Alzam lagi.
__ADS_1
“Ya masih lah. Kenapa sih? To the point aja deh,” tanya Olivia bingung.
“Bisa ganti sama yang lebih sopan lagi nggak? Seperti kalau kamu ikut aku ke kedai atau ke rumah ibu,” seru Alzam.
“Hah?! Yang bener aja? Yang ada ntar aku diketawain sama temen-temen aku dong. Nggak ah. yang ada aku katain cupu lagi,” tolak Olivia
“Tadi kamu bilang masih anggep aku suamimu kan? Kenapa nggak mau dengerin omonganku sekarang? Liv, kamu itu perempuan yang udah bersuami. Haram buat kamu mengumbar aurat dan diperlihatkan kepada pria lain di luaran sana. Kalau aku mau, aku bakal suruh kamu pakai jilbab juga. Tapi aku ngerti, masih banyak yang perlu kamu persiapkan untuk hal itu. Jadi, aku cuma minta sekarang, perbaiki pakaianmu itu, Liv,” seru Alzam.
Olivia nampak kesal, karena pemuda itu sudah berani mengomentari penampilannya. Dia terlihat tak suka, saat Alzam memintanya merubah penampilan.
“Ck. Ribet amat sih? Cuma mau ke kampus doang juga. Lagian, bukannya cowok itu suka ya kalau ceweknya tampil cantik dan seksi di depan orang lain? Jadi nggak malu-maluin gitu kan?” jawab Olivia.
“Pikiran b*doh macam apa itu, Liv? Laki-laki mana yang mau berbagi perempuannya dengan laki-laki lain? Hanya laki-laki bejad yang bisa bicara seperti itu,” sanggah Alzam.
Seketika, ingatan Olivia kembali ke masa beberapa tahun silam. Masa di mana dia diperlakukan tidak baik hanya karena penampilannya yang kalem dan tertutup.
Sekelebat bayangan itu membuat hatinya kembali sakit, dan jantungnya berdetak cepat. Lingkar matanya memerah dan bibirnya pun bergetar, dengan tangan yang mengepal kuat.
Melihat perubahan ekspresi sang istri, Alzam pun bangun dari duduknya, dan meraih pundak Olivia. Dia mencoba melihat ke dalam manik hitam gadis itu.
Olivia balas menatap Alzam. Genangan telah terkumpul di pelupuk mata, dan seketika lolos ke bawah dengan sekali kedipan mata.
“Iya, aku ganti. Bawel banget!” sahut Olivia ketus.
Gadis itu lalu berbalik dan kembali naik ke atas. Terlihat dia menyeka lelehan di pipinya sambil terus melangkah menuju ke kamar.
Tepat saat itu, Mamah Ros tiba-tiba muncul entah dari mana. Dia menghampiri Alzam dengan kedua lengan terlipat di depan dada. Tatapannya tajam dan menunjukkan ketidak sukaannya dengan sang menantu.
“Udah berani ya kamu ngatur-ngatur anak saya? Baru dua hari kamu jadi suaminya, sudah komentar ini itu tentang yang dilakuin sama Oliv. Kamu tahu nggak, sejak kecil, saya dan Papahnya Oliv, nggak pernah nentang apapun yang diinginkan anak itu. Bahkan, setidak setujunya saya menerima kamu jadi menantu, tetap saya lakuin demi Oliv. Saya nggak terima kalau hidup Oliv jadi terkekang gara-gara punya suami diktator kayak kamu ya,” ucap Mamah Ros dengan penuh penekanan.
“Mah, aku cuma kasih tahu Oliv cara berpenampilan yang baik, sesuai kodratnya sebagai seorang muslimah. Itu aja kok,” sahut Alzam.
“Nggak usah bawa-bawa agama. Kayak kamu orang paling bener aja. Kalau bukan karena Oliv udah tidur sama kamu, kami juga nggak akan setuju sama pernikahan ini. Nggak usah berlagak sok suci kamu di sini,” ucap Mamah Ros.
__ADS_1
Alzam bungkam seketika. Ucapan mertuanya itu bagaikan sebuah tamparan yang mengenainya dengan telak. Dia tak bisa menyangkal, jika pernikahannya dengan Olivia terjadi karena sebuah kesalahan, yang masih dianggapnya adalah sebuah kebenaran.
“Inget ya, masih banyak laki-laki yang mau sama Oliv, meskipun dia udah jadi janda. Jadi, jangan anggap kamu paling hebat karena sudah berhasil menikahi dia, sebab posisimu kapan saja bisa digantikan pria lain. Ingat itu baik-baik,” pungkas Mamah Ros.
Wanita itu lalu pergi dari hadapan Alzam, dan meninggalkan pemuda yang masih diam tertunduk, mendengar semua ucapan dari sang mertua.
Alzam beristighfar berkali-kali, mencoba menenangkan amarah dalam hatinya setelah mendengarkan ocehan dari ibu mertua, yang sejak awal memang tak pernah suka dengan dirinya.
Berikan hamba-Mu ini kekuatan dalam menghadapi setiap cobaan hidup, ya Allah. Ijinkan hamba menjadi suami serta imam yang baik untuk keluarga kecil hamba, ratap alam dalam hati.
Saat Alzam masih merasa kacau setelah mendengar perkataan Mamah Ros tadi, Olivia telah selesai berganti pakaian dan turun ke bawah menghampiri sang suami.
Alzam yang menyadari kehadiran Olivia, menoleh dan melihat penampilan sang istri yang jauh lebih baik dari pada tadi.
Olivia masih memilih memakai celana jeans, dan sebuah kemeja lengan panjang yang menutup hingga pahanya.
“Gimana?” tanya Olivia.
Wajahnya masih nampak cemberut saat menanyakan perihal penampilannya. Namun, Alzam tiba-tiba mengulurkan tangannya dan mengusap lembut surai coklat gelap Olivia, dan membuat gadis tersebuh melebarkan bola matanya menatap sang suami.
“Begini lebih cantik. Ayo berangkat,” ajak Alzam.
Pemuda itu laku melangkah mendahului Olivia yang masih mematung. Gadis itu segera sadar saat suaminya telah menutup kembali pintu depan, dan dia pun segera menyusul Alzam sebelum pemuda tersebut kesal dan meninggalkannya.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
__ADS_1
terimakasih 😁