
Sejak mengetahui kehamilan Olivia, Alzam langsung memberitahukan hal bahagia itu kepada Bu Aminah dan kedua adiknya. Mereka bertiga pun lalu pergi ke rumah Alzam dan menengok ibu hamil itu.
Olivia sangat senang mendapat kunjungan dari mertua dan kedua iparnya yang begitu perhatian padanya.
Mereka pun ikut bergembira dengan kabar tersebut. Namun, Olivia tak mau memberihukan kabar gembira ini kepada orang tuanya, terlebih kepada mamahnya. Dia sampai berdebat dengan Alzam akan hal itu, yang berujung dengan tangisan Olivia.
Sejak hamil, perempuan itu menjadi lebih sensitif. Manjanya pun semakin menjadi-jadi pada Alzam.
Karena tak mau sang istri terlalu stres, akhirnya Alzma hanya bisa menutupi kemauan istrinya untuk merahasiakan kabar bahagia itu dari orang tuanya.
Morning sickness benar-benar menyiksa perempuan itu setiap pagi. Alzam sampai menyarankan Olivia untuk cuti kuliah selama satu semester, paling tidak sampai dia melahirkan anak mereka.
Akan tetapi, Olivia menolak dan memaksa untuk terus berangkat ke kampus. Dia tak mau kehamilannya menjadi beban, dan berusaha kuat menjalani aktifitas sehari-harinya.
Akhirnya, Alzam lagi-lagi hanya bisa menuruti kemauan sang istri, selama Olivia bisa membatasi aktifitasnya dan berjanji untuk tidak akan terlalu capek dan stres.
Pagi ini seperti biasa, Olivia akan berangkat ke kampus sedikit lebih siang dari biasanya, karena dia harus menghadapi rutinitas melelahkan dan menguras tenaga setiap pagi, yaitu muntah.
Perempuan yang sudah memutuskan untuk merubah penampilannya dan mencoba istiqomah itu, akhir-akhir ini juga terlihat selalu pucat saat berangkat kuliah, membuat Leon penasaran dan akhirnya tak tahan untuk bertanya.
“Lu sakit, Liv?” tanya Leon.
“Ehm... gue? Kagak. Gue sehat-sehat aja. Kenapa emang?” tanya Olivia balik.
“Nggak papa sih. Cuma gue lihat dari kemarin-kemarin, elu kek kelihatan pucet gitu. Kirain sakit,” jawab Leon.
“Oh... Itu. Ini gara-gara gue muntah terus tiap pagi,” sahut Olivia.
“Itu namanya elu sakit, Liv. Udah periksa ke dokter belum?” tanya Leon khawatir.
“Udah kok. Cek lab sekalian malah,” jawab Olivia.
“Terus apa kata dokter?” tanya Leon.
“Kata dokter sih nggak papa, tapi kata bidan gue hamil,” jawab Olivia.
“What the fu*ck?! Are you pregnant? Seriously?” pekik Leon kaget.
“Biasa aja kali kagetnya. Lebay lu ah,” sahut Olivia.
“Lu beneran hamil? Hamil?” tanya Leon memastikan, sambil menirukan ibu hamil yang sedang mengelus perut besarnya.
__ADS_1
“Iya, gue hamil. Hampir dua bulan,” sahut Olivia.
Perempuan itu pun ikut mengelus perutnya sendiri, seolah tengah memeluk janin yang ada di dalam sana.
“Anak Bang Alzam?” tanya Leon.
Kali ini, Olivia tak menjawab, akan tetapi memukul kepala Leon dengan buku tebal yang ada di tangannya.
“Aaawww... Sakit, Liv. Semena-mena lu mah,” keluh Leon.
“Lagian pertanyaan lu nggak ada bobotnya sama sekali. Ya iyalah anak Mas Al. Emang anak siapa lagi? Gila aja lu mikirnya,” sahut Olivia kesal.
“Hehehe... Tokcer ye laki lu. Dua bulan dah ada hasil. Paten deh,” ucap Leon.
“Jelas lah. Orang dua-duanya bibit unggul. Nggak asal tanem sana sini kek elu,” jawab Olivia.
“Sekate-kate. Gue juga bibit unggul. Lihat aja entar kalo gue udah nikah,” sahut Leon.
“Cieeehhh... Yang udah punya planing nikah. Ame siapa lu mau nikah? Kesian amat bini lu dapet bekas banyak orang. Hahaha...,” kelakar Olivia.
Perempuan itu terus tertawa. Namun, tawanya tiba-tiba melamban dan berganti dengan kaku, saat melihat sang sahabat tak berekasi sama sekali dengan guyonannya.
Mereka baru saja sampai di lobi gedung perkuliahan, dan Leon memilih duduk di salah satu anak tangga yang ada di teras lobi tersebut.
“Haah...,” Terdengar helaan nafas panjang dari mulut pemuda itu.
Hal itu sontak membuat Olivia semakin kebingungan. Ibu hamil itu pun lalu duduk di samping Leon, sambil terus memperhatikan sahabatnya itu.
“Gue nggak tau, kenapa akhir-akhir ini kek ngerasa hina banget hidup gue. Selama ini apa yang gue lewatin tuh sia-sia. Kek ada penyesalan, tapi mau puter balik udah ketinggalan jauh banget,” ucap Leon.
Olivia melongo mendengar perkataan aneh yang keluar dari mulut sahabatnya itu. Dia sampai berkedip beberapa kali, karena masih tak yakin bahwa saat ini sang sahabat sedang berkata serius.
Gila. Nih anak lagi kenapa sih? Tumben amat dia jadi sok serius gini. Wah... Pengajiannya jangan-jangan sukses besar nih, batin Olivia.
Olivia tak mau mendebat sahabatnya lagi, karena saat ini Leon tidak dalam kondisi normal seperti biasanya. Dia tak mau celetukan jahilnya justru membuat perasaan pemuda itu semakin tak karuan, mengingat betapa sensitifnya Leon saat ini.
“Ke kelas aja yuk. Panas nih. Kalo gue pingsan, lu mau tanggung jawab ke laki gue?” ajak Olivia.
“Iya. Iya. Yuk lah masuk,” sahut Leon.
Keduanya pun masuk ke dalam gedung dan berjalan menuju ke kelas mereka.
__ADS_1
...☕☕☕☕☕...
Di suatu tempat, di mana seorang pria sedang duduk di balik meja kerjanya, dalam ruangan yang begitu mewah dan rapi dengan banyak dokumen yang ada di atas mejanya yang besar.
Dia terlihat sedang memeriksa sebuah dokumen saat itu, ketika tak lama kemudian ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk.
Awalnya, dia hanya melirik sekilas ke arah ponselnya tersebut dan seketika meraihnya, begitu melihat siapa yang mengiriminya pesan.
Air mukanya seketika berubah saat melihat pesan yang dikirimkan orang itu, yang tak lain berupa potret dari seseorang. Di sana, nampak seorang perempuan sedang bersama pria, dimana pria tersebut mengusap perut perempuan itu dan mengecupnya dengan lembut.
BRAAAKKK!
“Brengs*k!” makinya.
Ponsel yang ada di tangannya ia lempar sembarangan, hingga terbanting ke lantai dan hancur. Dia terlihat marah setelah melihat foto tersebut.
“Oliv hamil? Nggak! Oliv nggak boleh hamil!” gumamnya.
Tangannya mengepal kuat dengan wajah yang merah padam. Urat di keningnya bahkan begitu jelas menonjol dengan warna kehijauan.
AAARRRRGGHHHHHHH!!!!
Teriak orang yang tak lain adalah Nathan itu sekencang-kencangnya. Dia tak menyangka jika Olivia akan hamil secepat ini. Dia marah sampai semua yang ada di atas meja dilemparnya hingga berserakan di lantai.
Aku harus bisa pisahin mereka secepatnya. Aku nggak terima kalah sama cowok miskin itu. Awas kamu Olivia. Kamu pasti bakal balik lagi sama aku dan akan jadi mainanku lagi, batin Nathan.
HAHAHAHAHA... HAHAHAHA...
Setelah mengamuk, Nathan tertawa begitu mengerikan. Suaranya bahkan menggelegar menggema di dalam ruangan kedap suara itu. seringainya benar-benar menyiratkan sebuah kelicikan dengan tatapan matanya yang begitu mengancam.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
__ADS_1