
Malam hari menjelang adzan isya, Leon tiba di kedai Alzam dengan menggunakan sepeda motor, sesuai dengan yang diminta oleh Olivia. Alzam mencoba agar kehadiran Leon di majlis taklim itu tidak terlalu mencolok dengan datang menggunakan mobil sport mewah milik pemuda tersebut.
“Assalamu’alaikum,” sapa Leon ketika masuk ke dalam kedai.
“Waalaikumsalam,” jawab seluruh orang yang mendengar.
“Silakan duduk, Kak. Mau pesan apa?” tanya salah seorang pegawai Alzam.
“Gue nyari owner sini. Bang Alzam ada?” tanya Leon.
“Oh, Pak bos lagi pergi sama istrinya. Nanti juga balik lagi. Tunggu aja, Kak,” jawab si pegawai tersebut.
“Oke. Kalau gitu bikin coffee latte ya,” pesan Leon.
“Hangat atau dingin, Kak?” tanya si pegawai.
“Hangat aja. Sama croissant satu deh,” sahut Leon.
“Baik, Kak. Tunggu sebentar,” seru si pegawai.
Sekitar setengah jam menunggu sambil menikmati kopi dan juga snacknya, Leon akhirnya melihat Alzam yang berjalan bersama seorang perempuan berhijab dan masuk ke dalam kedai.
Dia hampir tersedak begitu menyadari bahwa perempuan yang memakai gamis itu adalah sang sahabat.
“Hahahaha... Liv, ini beneran elu? Ya ampun. Gue kira tadi Bang Alzam bareng sama Nurul. Hahaha... Luar biasa. Sejak kapan lu jadi kek gini? Perasaan kemarin masih ajeg,” sindir Leon.
Akan tetapi tawanya seketika terhenti dan menjadi kaku, saat melihat sesuatu yang aneh pada diri sang sahabat.
“Eh, Leon. Udah lama? Maaf ya, tadi aku sama Oliv habis cari makan dulu,” sapa Alzam.
“Oh iya, nggak papa kok, Bang. Maaf tadi aku keceplosan sangkin kagetnya lihat Oliv,” sahut Leon.
“Lain kali jangan kek gitu lagi. Kasihan Oliv. Bentar ya. Aku mau sholat isha dulu. Ayo, Liv,” ajak Alzam.
Olivia hanya berjalan mengikuti sang suami tanpa menegur sahabatnya. Leon seketika merasa ada hal serius yang sudah terjadi tadi.
Alzam kelihatan baik-baik aja, tapi Olivia kenapa murung gitu? batin Leon.
Pemuda tersebut kembali menikmati minumannya sambil menunggu Alzam dan Olivia selesai sholat. Setelah itu, Alzam pamit kepada pegawainya dan menyerahkan kedai kepada mereka.
“Jangan lupa bersih-bersih sebelum tutup, dan pastikan semuanya sudah mati sebelum kalian keluar. Kunci pintu rapat-rapat,” seru Alzam.
__ADS_1
Dia lalu berjalan ke arah parkiran di mana sepeda motornya berada. Jelas terlihat jika pasangan tersebut seolah sedang saling menjaga jarak.
Olivia yang biasanya begitu manja di depan sang suami, kini justru diam. Bahkan saat tadi Leon mengejek perempuan itu soal penampilan barunya, Olivia sama sekali tak bereaksi.
Fix, ini pasti ada yang nggak beres sama mereka, batin Leon.
Leon mengendarai motornya tepat di belakang Alzam. Jika biasanya Olivia akan melingkarkan lengannya di pinggang sang suami, akan tetapi kali ini, dia sangat menjaga jarak dengan pemuda tersebut. Olivia bahkan hanya memegangi ujung bawah jaket Alzam dan tak berani memeluk suaminya seperti biasa.
Setibanya di rumah sang mertua, Olivia segera turun dan menyalami Alzam. Tanpa sepatah kata pun, dia lalu berbalik dan berjalan masuk ke rumah kecil bercat putih itu.
Leon masih terus mantau kondisi sambil mengikuti kemana Alzam akan membawanya pergi.
Setelah sampai di tempat kajian Padepokan Pemuda Hijrah, barulah Leon tahu apa alasan pasangan tersebut mengajak dirinya pergi di malam minggu.
“Ayo masuk,” ajak Alzam.
“Lu serius ngajakin gue ke tempat beginian, Bang?” tanya Leon.
“Semuanya butuh proses, Yon. Cepat atau lambat, kamu juga harus memulainya. Bukannya kamu bilang sendiri ke Oliv, kalau kamu udah nggak n*fsu lagi pergi klubing? Mending ngumpul sama aku di sini,” Jawab Alzam.
Sudah kepalang tanggung. Leon pun tak enak jika tiba-tiba pergi begitu saja setelah baru saja sampai di tempat.
Dalam ceramahnya, sang ustadz menjelaskan bahwa berusaha adalah wajib, akan tetapi berserah akan hasil yang dicapai kepada Allah, adalah lebih utama.
“Tidak ada orang yang menginginkan sebuah kegagalan. Semua orang berusaha, pasti ingin mendapatkan kesuksesan. Akan tetapi, berserah pada ketentuan Allah akan hasil yang dicapai, itu lebih utama. Karena Dia Maha Tahu, apa yang baik untuk umatnya."
“Belum tentu yang kita harapkan, adalah yang terbaik untuk kita. Belum tentu yang ingin kita segerakan, adalah yang paling penting untuk kita. Maka dari itu, kita wajib berusaha, dan senantiasa bertawakallah hanya kepada Allah,” ucap sang ustadz.
Sesi tanya jawab pun dibuka. Berbeda dengan Olivia, Leon lebih suka diam dan nampak tak acuh terhadap penjelasan yang diberikan, baik dalam kuliah maupun pada kajian malam hari ini. Dia bahkan terlihat tak acuh dan terus menguap sejak tadi.
Setelah kajian selesai, para pemuda tersebut tidak lantas pergi dan pulang ke rumah masing-masing. Mereka lanjut saling sharing pengalaman, sambil menikmati wedang bajigur beserta kacang rebus dan juga mendoan.
Hal ini sudah menjadi kebiasaan di majlis taklim ini, setiap selesai melakukan kajian rutin. Biasanya mereka akan memesan kudapan tersebut di warung yang ada di ujung jalan dengan memakai uang kas yang selalu dikumpulkan setiap minggu.
Leon yang belum terbiasa dengan suasana seperti itu pun memilih untuk duduk di ujung, sambil sesekali menyahuti pemuda lain yang menyapanya.
Alzam tampak bercengkerama dengan mereka terlebih dahulu, sebelum akhirnya dia bergabung dengan Leon, duduk memisahkan diri dengan yang lain.
Segelas bajigur pun di minumnya, dan seketika badannya terasa hangat di malam yang begitu dingin ini.
“Gimana, Yon? Pengalaman pertama ikut kajian kan?” tanya Alzam.
__ADS_1
“Lumayan. Cara neranginnya cukup jelas. Nggak kek bayangan gue. Ustadznya juga gaul ternyata. Tau istilah-istilah yang lagi populer saat ini. Hehehe...,” jawab Leon.
“Hehehe... Bener-bener. Emang bener kata Oliv, kalau kamu itu kelihatannya doang nggak merhatiin, ternyata paham banget sama yang dijelasin,” sahut Alzam.
“Hahaha...Si*lan tuh anak. Suka banget buka kartu gue sama elu, Bang,” kelakar Leon.
Namun mendengar hal tersebut, Alzam tiba-tiba diam dan tawanya terdengar begitu terpaksa.
Dia emang terlalu terbuka sama aku, batin Alzam.
Leon pun segera menyadari perubahan ekspresi di wajah Alzam. Dia melihat pemuda tersebut tiba-tiba murung dan kembali meneguk minumannya.
“Lu ada masalah ya sama Oliv?” tanya Leon langsung.
Alzam seketika menoleh dan menatap lurus ke arah pemuda di sampingnya.
“Apa sejelas itu? Padahal aku udah coba bersikap biasa aja lho,” sahut Alzam.
Dia kembali meneguk bajigurnya hingga tersisa sedikit di dalam gelasnya.
“Gue emang baru kenal elu, Bang. Tapi gue kenal Oliv sejak kecil. Gue tau setiap kali dia ada masalah tuh kek gimana, gue ngerti banget,” ucap Leon.
Alzam membuang pandangannya ke depan, dengan helaan nafas yang terdengar begitu berat.
“Kalau kamu kenal Oliv sejak kecil, berarti kamu tahu semua tentang Oliv dong?” tanya Alzam.
Leon tak lantas menjawab. Dia memilih melakukan hal yang sama dengan Alzam, membuang pandangan ke depan dengan punggung yang bersandar di dinding, sambil meneguk bajigurnya.
Alzam lagi-lagi menghela nafas panjang sebelum akhirnya membuka suara tentang apa yang sedang terjadi di antara dirinya dengan sang istri.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
__ADS_1