
“Mas, aku mau pindah dari sini,” ucap Olivia.
“Apa karena Mamah?” tanya Alzam.
Olivia masih diam.
“Atau, karena mantan kamu yang udah balik?” lanjutnya.
Olivia seketika menoleh ke samping, tepat dimana wajah Alzam berada saat ini. Bahkan, hembusan nafas hangat pemuda itu pun terasa menerpa pipinya. Namun, Olivia kembali membuang muka dan menundukkan kepalanya.
Melihat reaksi sang istri, Alzam pun mengerti kegundahan hati Olivia.
“Kamu masih suka sama dia?” tanya Alzam.
Olivia langsung menggeleng cepat.
“Kamu masih ada rasa sama dia?” tanya Alzam.
Olivia kembali menggeleng.
“Jadi, kenapa kamu mau pindah?” tanya Alzam lagi.
“Mas, kamu lihat sendiri kan tadi gimana sikap Mamah ke kamu. Dia semakin keterlaluan sama kamu, Mas. Apa lagi sejak orang itu tiba-tiba dateng lagi dan nurutin semua yang Mamah mau. Aku nggak mau kamu terus-terusan dihina sama orang tua aku sendiri, Mas,” jelas Olivia.
“Kamu malu sama kondisi aku?” tanya Alzam.
Olivia pun mengurai pelukan sang suami dan berbalik menghadap wajah Alzam. Matanya beradu dengan netra hitam suaminya.
“Mas, aku sama sekali nggak malu sama kamu. Aku nggak pernah masalahin status sosial kamu. Aku nggak peduli sama semua itu. Tapi lihat Mamah. Aku nggak mau kamu semakin terluka karena kata-kata kasar Mamah,” ucap Olivia panjang lebar.
“Kamu tahu kan aku orang miskin. Kalau pun kita pindah, paling aku cuma mampu nyewa kontrakan kecil dua atau tiga petak. Kamu mau hidup susah sama aku?” tanya Olivia.
“Aku nggak peduli sama semua itu, Mas. Yang aku mau cuma hidup tenang berdua sama kamu. Udah,” jawab Olivia.
“Kamu serius?” tanya Alzam memastikan.
“Aku serius, Mas. Apa ada ekspresi becanda di muka aku sekarang?” sahut Olivia.
Mendengar jawab dari sang istri, Alzam pun tersenyum. Tangannya terulur dan mengusap pipi Olivia. Dengan tatapan yang begitu teduh, dia berucap pada istrinya.
__ADS_1
“Oke, kita akan pindah dan mulai hidup baru di tempat lain. Aku janji, biarpun kita hidup jauh dari kata mewah, aku akan biarin kamu kesusahan,” ucap Alzam.
“Aku rela kok susah bareng kamu, Mas,” sahut Olivia.
“Tapi aku nggak rela,” ucap Alzam, sambil menoel hidung Olivia, dan membuat gadis itu pun mengerutkan hidungnya.
Senyum seketika muncul di wajah yang tadi sempat terlihat begitu emosi dan tegang.
“Kita mulai sama-sama, kita bangun sama keluarga kecil kita ya, Mas,” ajak Olivia.
Alzam pun mengangguk.
Olivia memeluk sang suami dan menyandarkan semua beban pikirannya sejenak di sana. Mencoba mencari sandaran, saat hatinya terasa panas karena perkataan sang bunda yang terus memojokkan suaminya.
Begitu pun Alzam, yang mencoba terus bersabar atas hinaan yang selalu dia dapat dari sang ibu mertua.
Setelah puas berpelukan, meski Olivia tak ada puasnya memeluk Alzam, namun waktu sudah semakin malam dan pemuda itu pun belum mandi.
Akhirnya, mau tak mau Olivia melepaskan Alzam, dan membiarkan sang suami membersihkan dirinya, kemudian setelah itu mereka sholat isha berjama’ah di dalam kamar.
Malam itu, Olivia bahkan sampai mogok makan gara-gara sang bunda masih terus duduk di ruang tengah, dengan Papah Abi yang duduk membaca macbook-nya.
Dia pun meminta sang asisten rumah tangga mengantarkannya ke lantai atas, tepatnya di kamar mereka.
...☕☕☕☕☕...
Keesokan harinya, pagi hari seperti biasa Olivia dan Alzam bergabung di meja makan untuk sarapan bersama kedua orang tua Olivia. Meski gadis itu masih sangat kesal karena kejadian semalam, namun Alzam terus membujuknya untuk tetap menghormati mereka berdua.
Pemuda itu pun berkata bahwa dia akan segera mencarikan kontrakan untuk tempat tinggal baru mereka, setelah mendapat ijin dari Papah Abi. Olivia pun akhirnya menurut dan ikut sarapan, hanya untuk meminta persetujuan sang ayah akan kepindahan mereka.
Sepiring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi telah siap di piring semua orang. Olivia dengan telaten dan sudah nampak mahir dalam melayani suaminya di meja makan.
Papah Abi merasa tenang, karena selama hampir sebulan pernikahan mereka, Olivia terus bersikap baik dan tenang. Bahkan, Alzam pun sudah mulai menebar senyum saat bersama gadis itu.
Papah Abi sadar jika sebelumnya Alzam dengan sangat terpaksa menikahi putihnya. Namun melihat perkembangan ini, dia benar-benar tenang, karena telah menyerahkan anak semata wayangnya pada pemuda biasa yang jauh dari bayangan sebelumnya.
Ditambah, dia sering mendengar keluhan dari sang istri, bahwa Olivia sekarang bergaul dengan para pekerja di rumah tersebut, semenjak menikah dengan Alzam.
Papah Abi pun penasaran dan mencari waktu saat Olivia menemui mereka semua.
__ADS_1
Hatinya benar-benar terenyuh kala melihat sang putri dengan wajah basah, berjalan ke arah mushola belakang sambil memeluk mukenah dan juga sajadah. Dia pun semakin mengikutinya dan betapa terharunya pria tua itu, kala menyaksikan sang putri memakai mukenah itu dan mengikuti sholat fardhu berjamaah di sana.
Semenjak melihat hal tersebut, dia tak pernah lagi menganggap serius keluhan sang istri atas kedekatan Olivia dengan para pekerjanya, karena baginya selama itu hal positif, tak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Hari ini kamu kuliah, Liv?” tanya Papah Abi.
“Iya pah. Aku juga mau sekalian ijin buat nginep di rumah mertuaku sampe hari senin,” jawab Olivia.
“Betah banget sih kamu di sana? Kayak nyaman aja,” seloroh Mamah Ros.
“Nyaman itu datengnya dari hati, Mah. Biarpun mewah tapi hati kita terus kesel, dongkol, gedeg ama yang serumah, mana ada nyaman-nyamannya,” sahut Olivia.
Gadis itu terlihat bicara dengan santainya, sambil menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.
“Sudah sih, Mah. Bagus kan kalau Olivia mau bergaul dengan keluarga suaminya. Semakin akrab semakin bagus,” sahut Papah Abi.
“Papah nih, sama aja. Sama-sama nggak mau ngertiin Mamah,” gumam Mamah Ros kesal.
Lagi-lagi, sang suami tak mendukung dirinya sama sekali. Hal ini membuatnya mencari dukungan sendiri di luar sana, salah satunya dengan menghadirkan Nathan kembali di hidup Olivia, berharap anak perempuannya bisa kembali ke jalan yang diinginkan oleh wanita paruh baya tersebut.
“Ehm... Pah, kita ada satu hal lagi yang mau di bahas. Tapi kayaknya, nggak enak kalau bicarain sambil makan,” ucap Alzam mengawali.
“Apa itu, Zam? Ngomong aja. Lagian, kita juga jarang kumpul kecuali kalau pas waktu sarapan aja. Papah pulang malem, kamu juga pulang malem. Sama-sama udah capek. Jadi, ngomong aja sekarang,” sahut Papah Abi.
“Oliv dan aku ada rencana mau latihan tinggal mandiri, Pah,” ungkap Alzam.
“APA?!”
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
__ADS_1