CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Episode 4


__ADS_3

"Semalam balik jam berapa ke kosan?", tanya Jaka dengan gaya menginterogasi.


"Jam satu", jawab Abimanyu pendek.


"Ck, lembur terus. Lo gak sayang apa sama kesehatan Lo, Bi. Belakangan ini gue lihat Lo kerja keras banget. Lagi kejar setoran apa gimana?", ledek Jaka yang kini sudah menyeruput kopi hitam miliknya.


Abimanyu enggan menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Dia masih memilih merebahkan tubuhnya di kasur lantai. Rasa kantuk masih memberatkan kedua matanya. Sehabis sholat subuh tadi bahkan Abimanyu memilih untuk tidur lagi. Pagi ini dia terbangun karena interogasi dari Jaka.


"Untung hari ini kita gak ada jadwal kuliah, Bi. Lo bisa puas-puasin tidur di kosan", ucap Jaka lagi.


"Ini jam berapa, Jak?", Abimanyu malah bertanya.


"Jam delapan", jawab Jaka pendek. Dia terlalu fokus menikmati secangkir kopi hitam yang berduet dengan hangatnya gorengan dari warung Mbak Sinta di belakang kosan.


Abimanyu segera mendudukkan dirinya dan bersandar pada dinding.


"Gue mau dong kopinya".


"Dih ini punya gue. Lo buat sendiri", Jaka menarik cangkir miliknya.


"Please, Jak, gue lagi mager nih", ucap Abimanyu lesu.


"Ck, berhubung gue baik hati dan tidak sombong, gue buatkan deh kopi buat Lo. Tunggu jangan kemana-mana", Jaka akhirnya beranjak keluar dari kamar menuju dapur.


Tak lama, Jaka sudah kembali dengan sacangkir kopi hitam yang masih mengepul. Aroma kopi semakin menyeruak kuat di kamar Abimanyu.


"Wah mantap, mata gue cerah sekarang", kata Abimanyu sambil bergaya membelalakkan kedua matanya.


"Nih sekalian makan gorengan. Gue kasihan lihat Lo, Bi. Kalau Lo lagi butuh uang, cerita sama gue, kali aja gue bisa bantu", ucap Jaka hati-hati.


Abimanyu tersenyum, "Thank's, Jak. Ibu di kampung kemarin telepon gue, katanya belum bisa kirim uang bekal karena belum panen. Gue bilang gak apa-apa karena gue masih punya tabungan di sini. Gue sedih, Jak, seharusnya setelah bapak meninggal, gue sebagai anak lelaki satu-satunya yang bertanggung jawab sama hidup gue dan ibu", pandangan Abimanyu menerawang entah kemana.


"Jadi, itu alasan Lo kerja keras sampai tanggal tiap hari?", tanya Jaka.

__ADS_1


Abimanyu menganggukkan kepalanya pelan.


"Gue gak ada pilihan lain, Jak. Saat ini cuma dari kerjaan ini gue bisa menyambung hidup di sini dan bisa nabung sedikit-sedikit. Gue kasihan sama ibu kalau kuliah gue, bekalnya juga harus ibu tanggung sendiri", jawab Abimanyu sendu.


Jaka tersenyum tipis. Ya, bukan kali ini saja mereka berbicara dari hati ke hati. Jaka sangat mengenal sosok Abimanyu. Selain cerdas, sahabatnya itu juga pekerja keras dan sangat bertanggung jawab. Berkali-kali dia cerita bagaimana kelak dia ingin menjadi seorang pengusaha agar bisa membahagiakan ibunya di desa.


Jaka sendiri sebetulnya anak desa, dia juga sama-sama kuliah dengan beasiswa. Bedanya, orang tua Jaka masih lengkap dan secara ekonomi keluarga masih lebih baik dibandingkan dengan Abimanyu. Sedari awal mereka bertemu di kampus sebagai mahasiswa baru, keduanya sudah menjalin hubungan yang baik bahkan memutuskan untuk tinggal di kosan yang sama. Jaka dan Abimanyu selalu saling mendukung dalam segala hal.


"Bi, pokoknya kalau Lo butuh bantuan gue, jangan sungkan, ya. Buat gue, Lo udah kek saudara kandung. Susah senang, kita jalani sama-sama", Jaka berusaha menyemangati Abimanyu.


Senyum tipis terlukis di bibir Abimanyu. Dia merasa beruntung memiliki sahabat sebaik Jaka.


"Thank's, Jak. Oh ya, semalam sepulang dari bengkel, gue ketemu sana Anika", Abimanyu mengganti topik pembicaraan.


"Oh ya? ngapain anak gadis keluyuran malam-malam?", Jaka penasaran.


"Pikiran Lo jangan traveling, Jak. Dia bilang kalau semalam dia kelaparan, jadi gak bisa tidur. Akhirnya dia ngajak gue makan nasi goreng di tenda Mas Cahyo yang dekat klinik depan itu", terang Abimanyu jujur.


"Wih gila, berani juga ya dia ngajak Lo. Gue kira isu soal Anika yang cuek sama lawan jenis itu beneran. Tahunya cuma gosip".


"Gue udah bilang, itu isi kepala jangan traveling dulu. Semalam gue juga emang kelaparan karena sedari pulang kuliah gue gak makan. Gue khawatir Jak kalau biarin Anika makan sendirian, di luar pula, tengah malam lagi", ucap Abimanyu setelah dia menelan habis satu buah gorengan.


Senyum Jaka mengembang, "Tumben Lo peduli sama perempuan, biasanya juga masa bodoh. Jangan bilang kalau Lo suka ya sama Anika", todong Jaka asal.


"Wah jangan asal ngomong. Gue cuma khawatir aja, coba Lo jadi gue, masa iya gak khawatir lihat teman sendiri keluyuran tengah malam dan dia perempuan", jawab Abimanyu membela diri.


Tawa Jaka meledak, "Khawatir sama suka itu beda tipis, Bi. Tapi gak apa-apa, gue dukung kok kalau Lo mau mepet Anika. Dia gadis yang baik, selama gue kenal, gue belum pernah tuh dengar hal buruk soal Anika selain dia cuek sama lawan jenis, itu aja".


"Terserah Lo deh, Jak mau mikir apa. Nyesel gue cerita soal Anika sama Lo", Abimanyu menyeruput lagi kopi miliknya.


"Let's see, Bi. Gue yakin cepat atau lambat Lo pasti ada rasa sama Anika", Jaka masih menggoda Abimanyu.


"Gak akan. Hubungan gue sama dia cuma teman. Kalaupun ada hubungan lain, dia customer gue, udah itu aja", Abimanyu beranjak dari duduknya dan menyambar handuk yang tergantung di balik pintu.

__ADS_1


Lagi, Jaka terkekeh melihat perubahan sikap Abimanyu dan membiarkan sahabatnya itu pergi ke kamar mandi.


"Ck, dasar Abimanyu Adyatama, dikira gue baru kenal sama Lo kemarin apa. Percaya sama kata-kata gue, cepat atau lambat Lo pasti suka sama Anika", ucap Jaka sendiri.


.


.


"Nik, semalam Lo beneran jadi cari makan keluar?", tanya Laras yang baru turun dari lantai atas. Dia baru selesai menjemur cuciannya.


"Tahu ah", jawab Anika malas. Rupanya dia masih kesal karena semalam Laras enggan menemaninya mencari makanan di luar.


"Ya ampun, Nik, sorry semalam gue milih tidur. Asli, gue capek banget. Lo tahu sendiri gue kemarin balik ke kosan jam berapa. Rapat di himpunan itu menguras energi dan pikiran gue, jadi gue ngantuk berat", terang Laras yang kini merasa bersalah.


"Iya, aku ngerti. Udah gak perlu dibahas, Ras. Lagian aku marah cuma bercanda kok", jawab Anika santai.


"Ih, kamu jago akting ya, Nik. Aku udah kacau nih lihat kamu manyun dari pagi", Laras mencubit lengan Anika.


"Awww, sakit, Ras", Anika mengaduh dan berusaha membalas cubitan Laras. Kini kedua sahabat baik itu tertawa lepas.


"Semalam kamu makan sendirian dong Nik di luar?", tanya Laras setelah dia bisa mengendalikan tawanya.


"Enggak. Semalam aku makan sama Abimanyu", jawab Anika polos.


"What? kok bisa? jangan bilang kalau kamu janjian sama dia?", selidik Laras.


"Enggak kok. Aku gak sengaja ketemu sama dia. Semalam dia baru balik dari bengkel dan kelaparan juga kek aku. Ya udah aku ajakin aja makan bareng di tenda Mas Cahyo", terang Anika.


"Wah ada kemajuan. Akhirnya sahabat aku ini bisa juga jalan bareng laki-laki", seloroh Laras yang mendapat cubitan lagi dari Anika.


"Sakit, Nik", Laras mengusap bekas cubitan Anika di bahunya.


"Ya lagian, komentar kamu asal sih".

__ADS_1


"Dih, bukan asal, ini kenyataan. Bagus deh kalau kamu bisa jalan sama Abimanyu, sebuah keajaiban", Laras masih menggoda Anika.


"Pikiran kamu jangan kemana-mana, Ras. Kejadian semalam itu gak seperti yang kamu bayangkan", Anika meninggalkan Laras yang masih terkekeh karena ceritanya.


__ADS_2