CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Pesan pernikahan


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, dan Olivia tak mendengar suaminya menyinggung perihal teman barunya, yang ternyata adalah Nathan.


Hal itu membuat dia bisa sedikit bernafas lega, meski tak dipungkiri Olivia pun masih menerka-nerka apa rencana Nathan sebenarnya mendekati Alzam saat itu.


Hari ini, Olivia memiliki jadwal pengajian mingguan di majlis taklim An-nisa, sehingga dia membawa jilbab segi empat yang pernah dibelikan oleh Alzam tempo hari dan menyimpannya di dalam tas.


Saat pulang kuliah, Alzam mengantarkan sang istri ke tempat pengajian. Ketika hendak masuk ke halaman, Olivia lebih dulu mengeluarkan kerudung segi empat yang ditekuk menjadi bentuk segitiga.


Setelah itu, dia memakainya di kepala dan kedua ujung bagian depannya hanya ia sampirkan ke bahu. Bahkan rambut depannya masih bisa terlihat, apa lagi bagian belakang yang lebih panjang dari pada jilbabnya.


Hal itu bisa dilihat oleh semua orang yang lewat, termasuk para jamaah yang baru saja sampai, karena Olivia memakainya tepat di depan gerbang. Namun, gadis itu terlihat tak peduli dengan pandangan sinis orang lain.


Melihat sang istri yang mengenakan jilbab meskipun belum sempurna, membuat hati alzam berdesir. Ada perasaan aneh yang menjalar di hatinya, dan membuatnya ingin melakukan sesuatu pada sang istri. Dia bahkan sampai membuang pandangannya dan berusaha menghindar dari menatap Olivia.


“Aku masuk dulu, Mas,” pamit Olivia.


Gadis itu seperti biasa akan mencium punggung tangan suaminya sebelum mereka berpisah.


“Ehm... Kamu ngaji yang bener yah,” sahut Alzam kaku.


“Assalamu’alaikum,” salam Olivia.


“Waalaikumsalam,” sahut Alzam.


Gadis itu pun lalu berjalan masuk ke dalam halaman. Saat istrinya sudah menjauh, barulah Alzam menoleh dan melihat Olivia yang berjalan membelakanginya. Sebuah senyum tipis muncul dari garis bibirnya, dengan wajah yang merona.


“Ehem!” sebuah suara deheman terdengar dan membuat Alzam menoleh mencari sumber suara tadi.


Saat dia melihat ke sisi lain pagar, dia melihat Nurul yang baru saja memarkirkan motornya di teras berkanopi, yang memang disediakan sebagai tempat parkir jamaah.


“Ciehhh... Yang segitunya banget liatin istrinya,” goda Nurul.


“Apaan sih, Nur. Biasa aja kali,” sanggah Alzam.


Wajah pemuda itu masih tampak merona akan pesona sang istri, ditambah tersipu malu karena terpergok memandangi istrinya sendiri dari jauh.


“Oliv cantik ya kalau pake jilbab,” ucap Nurul.

__ADS_1


“Iya, cantik,” sahut Alzam seketika.


PPPPFFTTTT!


Nurul pun sontak menahan tawanya, mendengar sahutan dari sahabatnya itu.


Hal tersebut pun membuat Alzam semakin salah tingkah, dan memutuskan untuk segera pergi dari sana.


“Aku ke rumah ibu dulu, Nur. Assalamu’alaikum,” salam Alzam.


“Waalaikumsalam. Hehehe.. Alzam... Alzam. Kayak ABG jatuh cinta aja,” kekeh Nurul melihat temannya pergi setelah berhasil ia goda.


Dia pun lalu berjalan memasuki tempat pengajian.


Di dalam sana, Nurul melihat Olivia yang memilih tempat duduk di samping dan tak ada yang duduk di kursi sebelahnya.


Dia pun masuk dan mengambil tempat duduk di kursi kosong tersebut tepat di samping Olivia.


“Assalamu’alaikum, Liv” sapa Nurul.


“Nggak papa kok, Liv. Asal kamu nggak nganggep aku saingan lagi, itu udah sangat baik kok,” jawab Nurul.


Olivia mencebik kesal mendengarkan jawaban dari Nurul, yang menurutnya sok kalem. Beberapa saat kemudian, kursi semakin penuh seiring dengan semakin dekatnya waktu pengajian dimulai. Para jamaah pun hampir seluruhnya hadir mengingat waktu sudah semakin sore.


Kali ini, sesuai yang dikatakan Umi Fifit pekan lalu, bahwa Umi Afiyah yang akan mengisi tausiah pada kesempatan sore hari ini. Tak lama setelahnya, muncullah sosok baru, sosok wanita yang bisa dikatakan sudah tidak muda lagi, namun masih tetap enerjik dan berpenampilan bak muslimah kekinian, dengan gamis berpola dan juga hijab yang berwarna cerah.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” slam Umi Afiyah.


Seluruh jamaah menjawab serempak salam dari sang ulama wanita tersebut. Beliau lalu menyampaikan muqodima, atau kata-kata pembuka sebelum masuk ke materi utama.


Kali ini, sang ustadzah menyampaikan nasehat pernikahan, karena kebetulan ada seorang jamaah yang akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini.


“Dalam hidup berumah tangga, perlu adanya rasa saling memiliki, mencintai dan menghargai, barulah bisa mencapai suatu keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Sebgaia seorang perempuan muslim, kita wajib mengikuti apa yang diucapkan oleh suami kita."


“Karena begitu pentingnya peran suami dalam biduk rumah tangga, maka penting bagi kita untuk memilih pasangan hidup yang baik. Dalam hukum Islam, semua sudah diatur baik dalam Al-quran maupun hadits-hadits Rasulullah.


“Seperti yang disabdakan oleh Nabi kita Muhammad SAW, bahwa wanita dinikahi karena empat perkara. Yang pertama karena hartanya, ke-dua keturunannya, ke-tiga kecantikannya, dan yang ke-empat adalah agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.

__ADS_1


“Meski dalam hadits ini disebutkan tentang perempuan, akan tetapi hal ini pun juga perlu menjadi pertimbangan bagi kaum perempuan dalam memilih suami. Dalam Hadist ini sangat jelas bahwa Rasulullah menganjurkan agar kita memilih pasangan berdasarkan keimanannya, serta ketakwaannya terhadap Allah."


“Karena barang siapa yang taat akan aturannya, maka dia pun akan berhati-hati dalam menjalani hidup. Dia akan menghargai istrinya, menyayanginya, dan melindunginya. Dia pun tak akan pernah mengasari istri dan berbuat dzalim."


“Oleh karena itu, beruntunglah kita semua yang memiliki pasangan hidup yang seiman, karena dia bisa bersama dengan kita menggapai syurganya Allah."


“Itu yang pertama, yaitu memilih pasangan hidup. Yang kedua adalah saling terbuka dengan pasangan. Dalam menjalani suatu hubungan rumah tangga, perlu adanya komunikasi antara suami istri, yang bisa meminimalisir kesalah pahaman."


“Menurut kata-kata orang di masyarakat, tidak ada rumah tangga yang seratus persen mulus. Hal itu memang benar adanya. Akan tetapi, jika kita saling terbuka dan mencoba menyelesaikan masalah bersama dengan kepala dingin dan hati yang tenang, maka rintangan seperti apapun akan bisa dilewati."


“Yang ke-tiga adalah sabar. Kita semua tau bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Oleh karena itu, kita selain mau menerima kelebihannya, pun juga harus mau menerima kekurangannya. Diawal-awal masa pernikahan, pasti ada saat dimana kita akan kaget dengan sisi lain dari pasangan yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Dalam hal inilah, kesabaran kita diperlukan."


“Yang ke-empat, hubungan suami istri. Seperti yang tertuang dalam surat Al Baqarah ayat 223 yang artinya 'istri-istri mu adalah ladang bagimu. Maka datangilah ladang mu kapan saja dengan cara yang kamu sukai, dan utamakanlah yang baik untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemuinya, dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman'"


“Pada ayat ini dikatakan bahwa suami diperbolehkan berhubungan badan dengan istrinya dengan cara apapun, akan tetapi perlu digaris bawahi bahwa hal itu juga harus sesuai dengan tuntunan agama. Laki-laki dilarang menggauli istrinya lewat belakang, atau saat istrinya sedang datang bulan. Dan sebagai perempuan, kita pun harus mau memenuhi kewajiban tersebut selama tidak menyimpang."


“Dan yang ke-lima, sebagai seorang istri, kita tidak boleh menghina, membandingkan dan bahkan merendahkan suami kita, baik secara verbal maupun perbuatan. Karena bagaimanapun, laki-laki adalah pemimpin bagi kita kaum perempuan seperi yang tertuang pada surat an-nisa ayat 34."


"Tugasnya begitu berat, yaitu menuntun kita kepada jalan yang benar, menjadi pelindung dari panasnya api neraka, memenuhi kebutuhan sandang pangan papan kita, memberi nafkah batin serta memberi ketenangan bagi istrinya."


“Oleh karenanya, sebagai muslimah yang baik, jagalah rumah tangganmu, ciptakanlah jannah di rumah kalian masing-masing dengan pasanganmu. Jangan sampai menyulut api perpecahan diantara kalian." jelas Umi Afiyah panjang lebar.


Setelah itu seperti biasa, sang ustadzah akan memberikan kesempatan pada para jamaah untuk bertanya.


Olivia, si serba ingin tau, mengangkat tangan tinggi-tinggi dan bersiap melancarkan pertanyaannya.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁

__ADS_1


__ADS_2