
Olivia terlihat berjalan dengan perlahan dari arah dapur, dengan membawa nampan berisi dua gelas kopi susu.
Alzam yang melihat sang istri kesusahan pun segera bangun dan menghampirinya. Pemuda tersebut lalu mengambil alih nampan dari tangan Olivia dan membawanya ke arah ruang tamu.
“Ini minumnya, Pah,” ucap Alzam, sambil menyuguhkan minuman tersebut.
“Wah... Momen langka nih. Kopi susu pertama buatan Olivia buat Papah. Ini aman nggak nih? Bisa diminum kan ya?” goda Papah Abi.
“Papah, iiihhh... Ya bisa lah. Ini tuh aman banget. Buatan anak sendiri masa ragu sih. Tega bener,” rajuk Olivia.
Papah Abi dan Alzam terkekeh mendengar keluhan yang keluar dari bibir perempuan tersebut.
Olivia lalu duduk di samping suaminya, dengan lengan yang merangkul mesra lengan Alzam. Begitupun dengan sang suami yang menepuk-nepuk punggung tangan sang istri dengan lembut.
Melihat hal itu, Papah Abi merasa tenang. Dia yakin bahwa Olivia bahagia hidup bersama suaminya yang sederhana, meski saat ini dia tinggal di rumah kecil yang minim akan fasilitas.
Dia pun meminum kopi susu buatan Olivia, yang membuat kedua alisnya berkerut, seolah merasakan sesuatu yang aneh dengan rasanya.
Melihat hal itu pun, Alzam lalu ikut meminum kopi miliknya, dan merasakan bahwa minuman tersebut begitu asin. Sepertinya, Olivia salah memasukkan garam ke dalam kopi, dan bukan gula.
“Ehm, Papah mau tambah krim nggak? Biar aku tambahin yah,” tawar Alzam.
“Eh, emang kita punya krim?” tanya Olivia.
“Ada kok. Aku inget pernah beli. Kamu di sini aja temenin Papah, biar gantian aku yang tambahin krimnya yah,” seru Alzam.
“Oh, oke deh,” sahut Olivia.
Pemuda itu pun lalu membawa kembali dua cangkir berisi kopi asin itu ke dapur, dan membuang isinya, lalu membuat lagi yang baru tanpa sepengetahuan Olivia.
Dia tak mau istrinya malu dan menjadi kapok untuk mencoba. Papah Abi benar-benar merasa beruntung mendapatkan menantu seperti Alzam.
Pemuda itu begitu menyayangi Olivia, bukan hanya dengan harta, akan tetapi perhatian serta perlakuannya terhadap sang putri yang begitu baik.
“Kamu seneng tinggal di sini, Liv?” tanya Papah Abi.
“Seneng dong, Pah. Seneng banget malah. Kenapa emang?” tanya Olivia.
“Nggak papa. Papah cuma nanya aja. Kamu sampe lupa main ke rumah, ternyata di sini asik berduaan yah. Papah tersisih,” rengek Papah Abi.
“Ih, Papah apaan sih. Jelek banget sumpah kalau merajuk gitu. Gantengnya auto ilang. Hahahaha...,” sahut Olivia.
Papah Abi pun ikut tertawa dengan gurauannya sendiri. Tak lama kemudian, Alzam pun kembali dengan membawa dua buah cangkir yang tadi, dan sudah terisi dengan kopi yang baru.
“Diminum, Pah,” seru Alzam.
__ADS_1
“Makasih ya, Zam,” sahut Papah Abi.
“Tadi kok nggak terimakasih sama Oliv, Pah? Papah curang. Sekarang keknya lebih sayang sama Mas Al deh ketimbang anaknya sendiri,” keluh Olivia.
“Ih, Oliv apaan sih? Jelek banget sumpah kalau ngerajuk gitu. Cantiknya auto ilang,” timpal Papah Abi, membalikkan kata-kata putrinya tadi.
Ketiga orang tersebut pun tertawa bersama, di dalam rumah kontrakan sederhana itu.
Saat ditengah obrolan, Olivia tiba-tiba merasa lapar. Dia pun ingat bahwa tadi mereka baru akan membuat nasi goreng, tapi Papah Abi keburu datang, sehingga keduanya pun tak jadi memasak makan malam.
Saat perutnya sudah tak bisa diajak kompromi, Olivia pun menyela obrolan sang suami dengan papahnya.
“Mas, jadi bikin nasgor nggak?” tanya Olivia.
“Astaghfirullahalazim. Aku lupa, Liv. Kamu pasti laperkan? Biar ku buatin dulu yah. Papah juga makan di sini aja ya, Pah,” aja Alzam.
“Aku ikut. Papah duduk di sini dulu atau di sana sambil nonton TV aja. Aku mau belajar bikin nasgor juga,” rengek Olivia.
Alzam nampak bingung. Dia tak enak jika harus membiarkan mertuanya menunggu sendiri, sedangkan mereka sibuk berdua di dapur.
Menyadari hal itu, Papah Abi pun bangun dari duduknya dan berjalan ke dalam.
“Dimana TV nya? Biar Papah nunggu kalian masak sambil lihat bola aja. Ada kan, Zam?” tanya Papah Abi.
“Ada, Pah. Nanti Alzam setelin di saluran premier league. Atau mungkin Papah suka liga yang lain?” tanya Alzam.
“Ada, Pah. Bentar Alzam gantiin dulu,” sahut Alzam.
Pemuda itu pun kemudian mengubah saluran TV ke chanel yang diminta. Setelah sang mertua anteng menonton bola, mereka pun kembali berkutat di dapur untuk memasak makan malam yang sempat tertunda.
Dengan telaten dan sabar, Alzam mengarahkan Olivia untuk melakukan langkah demi langkah cara membuat nasi goreng yang dia tahu, sesuai resep yang pernah diajarkan oleh Bu Aminah.
Olivia pun dengan tekun mempelajarinya, dan mengikuti arahan yang disampaikan oleh sang suami. Cukup memakan waktu lebih lama dari biasanya Alzam memasak hidangan tersebut, namun pemuda itu terus membimbing Olivia hingga perempuan itu selesai memasak.
Kondisi dapur pun begitu berantakan, hanya untuk menyajikan tiga porsi nasi goreng dengan telor mata sapi.
Proses memasak nasi goreng berlalu cukup mulus. Namun, ketika membuat telor mata sapi, mulailah drama di mana Olivia gagal membuatnya karena telur menjadi gosong dan menempel di wajan, sehingga bentuknya berantakan.
“Yah... Kok jelek amat sih telor mata sapinya,” keluh Olivia.
“Nggak papa. Ini masih bisa dimakan kok. Yang ini buat aku aja. Kamu bikin lagi buat kamu sama Papah. Atau biar aku aja?” tawar Alzam.
“Nggak. Biar aku aja. Kali ini pasti bisa,” sahut Olivia.
“InsyaAllah,” ralat Alzam.
__ADS_1
“Iya, InsyaAllah,” sahut Olivia.
Sang koki amatir itu pun kembali memecahkan telur ke atas wajan dengan minyak satu sendok makan.
Setiap kali memecah telur pun akan gaduh, karena Olivia jijik saat jemarinya tertempel cairan putih telur yang masih mentah, sehingga dia pun tidak bisa mendapatkan bentuk kuning telur yang bagus karena pasti pecah saat di tuangkan.
Melihat interaksi dan kondisi kedua anak muda itu, Papah Abi ikut menahan tawa, terlebih saat melihat ekspresi Olivia saat membalik telur yang ada di atas wajan.
Sang putri tampak begitu serius, dengan kedua alis yang hampir menyatu. Hal ini membuat Papah Abi menahan tawanya.
Setelah cukup lama bergulat dengan wajan dan spatula, akhirnya tiga porsi nasi goreng dengan telor mata sapi, siap dihidangkan. Yah, walaupun bukan benar-benar mata sapi, melainkan perpaduan antara telur orak arik dan telur dadar menjadi satu.
Keduanya pun menyiapkan makan malam sederhana tersebut, di atas karpet tipis yang biasa mereka gunakan sebagai alas duduk di depan TV, kemudian ketiganya makan malam bersama-sama.
“Ini anak Papah yang masak?” tanya Papah Abi.
“Iya, Pah. Enakkan masakan Oliv?” tanya Olivia balik.
“Pantes rasanya kek gini,” sahut Papah Abi.
Olivia pun lalu menyendokkan nasi dan menyuapkannya ke mulut. Dia mencoba merasakan rasa makanan tersebut dan mencari kesalahannya
“Enak kok, Pah. Nggak ada yang aneh,” ucap Olivia.
“Siapa yang bilang masakan kamu nggak enak dan aneh sih. Enak kok. Cuman kasian banget ya nasib telurnya. Yang goreng nggak hebat banget,” ejek Papah Abi.
“Biarin, yang penting enakkan?” tanya Olivia.
Semua tertawa. Mereka pun makan dengan kesederhanaan, namun penuh keakraban. Setelah selesai, Papah Abi, Alzam dan Olivia menonton bola bersama hingga pukul sepuluh malam.
Setelah itu, Papah Abi pun pulang karena sudah terlalu malam dan tidak mau menggangu anak serta menantunya itu.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
mampir juga ke novel temen aku ya bestie 😁cek banner di bawah 👇
__ADS_1
terimakasih 😁